
" Kalo kamu panggil saya Mas juga mau nggak? " Tanya Radit yang berhasil membuat Sya terkejut karenanya.
" Eehhh...? " Sya bingung dengan maksud ucapan dari Radit.
" Nggak jadi." Jawab Radit cepat. " Tadi Mama Minta kamu main kerumah, kamu belum sarapan kan? Kita kerumah Mama aja sekarang." Ujar Radit kepada Sya, Radit tadi malam memang tidak jadi pulang kerumahnya sendiri karena Kendra yang masih merajuk. Jadilah dia menginap lagi dirumah Mamanya, toh hari ini juga dia tidak ke kantor. Dan tadi sebelum dia berangkat kekosn Sya memang Mama Riana sempat berpesan kepada Radit untuk mengajak Sya ke rumahnya
" Oo gitu ya, ya sudah saya mandi dulu Pak." Sya akan berbalik kembali kembali kekamarnya untuk mandi. Tidak mungkin bukan dia pergi dengan pakaian seperti ini. Lagian mau menolak juga dia tidak enak dengan Mama Riana dan juga Radit yang sudah repot-repot menjemputnya dikosan.
" Tidak usah, kita hanya sarapan saja. Tidak usah terlalu formal sampai harus berdandan segala."Ucapan tegas dari Radit ini sudah seperti perintah mutlak, dan laki-laki dihadapannya ini tentu tidak akan mau menerima penolakan.
" Tapi Pak.... " Sya masih ingin dengan keinginannya untuk mandi terlebih dahulu.
" Maureen... " Ya sudah. Panggilan itu menjadi akhir dari segala usaha Sya yang sia-sia.
" Ayo Dunda, kata Oma tadi Oma masak ayam kecap buat Kendla. Eehh buat Dunda juga kok. Kita bagi dua, Ayah yang tidak usah." Ujar Kendra membelai pipi Sya.
" Mana bisa gitu. Ayah juga mau lah. Enak aja Ayah nggak dibagi." Kendra dan Radit memang sangat menyukai Ayam kecap buatan Mama Riana. Tidak heran jika mereka akan menghabiskan porsi makan yang besar jika sudah makan dengan lauk itu.
" Tidak boleh. Ayo Dunda." Kendra mengajak Sya untuk berjalan masuk kearah mobil Radit.
Sedangkan Radit hanya bisa berdecak kesal. Dia tidak akan bisa menang jika lawannya adalah Kendra. Tentu saja senjata andalan putranya itu merajuk dan menangis. Dan sepertinya perang dingin Kendra kepadanya sudah mulai mode on.
" Ayah cepat. Pintuna telkunci. Kendla sama Dunda mau masuk mobil." Teriakan dari Kendra membuat Radit langsung melangkahkan kakinya kearah mobil yang memang dia parkirkan diluar kosan Sya untuk memudahkannya keluar komplek.
Begitu pintu terbuka Kendra langsung masuk kedalam mobil, begitupula dengan Sya.
" Kamu kenapa ikut dibelakang? pindah depan. " Ujar Radit kepada Sya.
Saat Sya akan beranjak dari duduknya, tiba-tiba tangannya ditahan oleh Kendra.
" No, Dunda duduk sama Kendla. Ayah menyetil saja sendili." Ujar Kendra kepada Radit. Sya hanya tersenyum melihat Ayah dan anak ini yang sepertinya sedang tidak akur.
Lagi-lagi Radit hanya bisa menghela nafas pelan. Kendra yang sedang seperti ini sangat menyebalkan menurut Radit. Tapi mau bagaimana lagi, sebagai seorang Ayah dia harus mengalah kepada putranya ini. Dan juga, dia harus menjaga image didepan Sya agar tidak kehilangan wibawanya.
Radit masuk kedalam mobil dan mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Berbeda dengan Radit yang kesepian karena duduk dan menyetir sendiri tidak ada yang mengajaknya berbicara. Di bangku belakang terdengar gelak tawa dari Kendra dan Sya. Kendra terlihat bahagia dengan lagu anak-anak yang dinyanyikan oleh Sya hingga akhirnya mereka menyanyi bersama. Melihat pemandangan itu dari kaca spionnya, tentu saja tanpa dapat dicegah hatinya menjadi menghangat. Kendra terlihat seperti benar-benar membutuhkan sosok Sya sebagai Bunda dihidupnya.
Tidak lama kemudian, mobil sudah memasuki arena perumahan elit. Dapat Sya lihat jika rumah-rumah yang dia lihat saat ini sangat besar dan mewah. Begitupula dengan rumah bercat putih dengan sedikit aksen emas pada pilarnya yang ada dihadapannya saat ini, saat mobil mulai memasuki gerbang sebuah rumah yang ternyata letak rumahnya agak jauh dari gerbang utama, membuat Sya begitu takjub dan langsung men-sholawatinya dalam hati.
" Sudah sampai." Ujar Radit kepada Sya.
Sya turun dengan gugup, pasalnya dia tidak menyangka jika bosnya itu ternyata sekaya ini. Namun dia berusaha untuk bersikap biasa saja. Orang tuanya tidak pernah mengajarkannya untuk bersikap rendah diri.
Baru saja turun dari mobil tiba-tiba pintu terbuka, terlihat Mama Riana dengan pakaian rumah yang tetap terlihat elegan. Berbeda dengannya yang kalau dirumah hanya menggunakan celana boxer gombrong dan kaos oversize, tidak berbeda jauh dengan penampilannya saat ini.
" Ma, yang anak Mama aku lho bukan bukan Maureen. " Ujar Radit menggerutu kepada Mamanya.
" Kamu kan udah sering, gantian dong sama calon mantu Mama." Jawab Mama Riana santai.
Sebenarnya Sya ingin bertanya mengenai dirinya yang dipanggil calon mantu. Namun Sya malu untuk bertanya, sehingga dia hanya bisa mempertahankan ekspresi seperti tidak terjadi apa-apa. Ini maksudnya apa? Sya merasa gagal paham dengan ucapan Mama Riana. Sedangkan Radit juga terlihat tidak terganggu dengan ucapan Mamanya yang menyebut Sya sebagai calon mantu.
Namun tanpa sepengetahuan Sya, sebenarnya Radit merasa sangat grogi, terlebih ekspresi Sya yang seperti biasa, tidak membantah ataupun bertanya apa maksud ucapan Mama.
Sya langsung dibawa menuju ruang makan, ternyata disana sudah duduk seorang laki-laki paruh baya namun masih terlihat gagah karena tidak adanya lemak jahat yang ada ditubuhnya. Ini siapa ya? tanya Sya lebih kepada diri sendiri.
" Pa, kenalin nih calon mantu." Ujar Mama Riana. Sekarang Sya tau jika laki-laki didepannya itu suami Mama Riana, dan sudah pasti dia adalah Papanya Radit.
" Saya Sya Om." Ujar Sya menyalami Papa Riyan.
Papa Riyan memperhatikan Sya sejenak, hal ini tentu saja membuat Sya sedikit salah tingkah.
" Ini calon istri kamu anak SMA Dit? " Ucapan Papa Riyan seketika membuat Radit yang sedang minum air putih langsung tersedak.
" Ukhuuk.. Ukhuuk.. Papa.. Ukhuukk. Apaan si." Radit memencet hidung mancungnya yang terasa perih.
" Kamu lebay banget, timbang ditanya gitu doang langsung keselek." Ejek Papa Riyan kepada Radit.
" Saya sudah kerja kok Om, umur saya juga sudah 23 tahun, sudah lulus SMA dari 5 tahun lalu." Entah harus merasa senang atau sedih yang harus Sya rasakan saat Papa Riyan menyebutnya sebagai anak SMA.
" Papa ini, Sya tuh karyawan di kantor kita, dia kerja dibagian akutansi diperusahaan utama kita." Ujar Mama Riana kepada Papa Riyan.
" Oalahh, Papa kira tuh kamu masih SMA lho, abis mukanya kayak anak remaja gitu. Polos." Ujar Papa Riyan seraya tertawa kecil.
" Hehehe... Makasih Om, saya anggap itu pujian." Ujar Sya juga tertawa kecil.
" Duduk duduk.. Ayo makan dulu Sya. " Ujar Mama Riana kepada Sya.
Setelah Sya, Kendra dan Mama Riana juga duduk, tiba-tiba Papa Riyan mengeluarkan celetukannya yang membuat Radit semakin shok.
" Kok kamu mau sama Radit sih Sya? Dia kan udah tua. Pasti kalau kalian lagi jalan bareng di Mall tidak akan ada yang mengira kalau kalian itu sepasang kekasih. Kamu bakal dikira lagi jalan sama Om kamu. " Ujar Papa Riyan seraya tertawa terbahak-bahak.
Tentu saja Radit yang mendengarnya langsung kesal.
" Nggak usah lebay deh Pa, umur aku sama Maureen juga cuma beda 7 tahun doang." Ujar Radit kesal.
" Iya cuma beda 7 tahun, tapi muka kamu tuh kayak udah 40 tahun karena jarang tersenyum." Jawab Papa Riyan mengejek.
Sebenarnya Radit sangat tampan, tidak terlihat jika usianya sudah kepala 3, dan dengan Sya pun dia terlihat sangat cocok. Hanya saja Papa Riyan senang jika menjaili anaknya yang hidupnya terlalu serius ini.