Baby... I Love You

Baby... I Love You
Dedek Bayi



2 hari setelah akad nikah dan resepsi dilaksanakan, keluar Radit kembali pulang ke Jakarta karena mereka ada pekerjaan mendadak. Sedangkan Radit, Sya, dan Kendra masih stay di Jogja. Mereka itu ingin menikmati suasana Jogja lebih lama. Bertandang ke tempat-tempat wisata yang sebelumnya belum pernah mereka kunjungi. Dan selama itu pula, Kendra selalu meminta untuk tidur di tengah-tengah antara Sya dan Radit. Tentu saja Sya dengan senang hati mengabulkan permintaan Kendra. Sangat berbeda dengan Radit, laki-laki itu terus saja ngedumel sepanjang malam, dan tentu saja Sya dan Kendra abaikan.


Bahkan pernah suatu malam Radit memindahkan Kendra tidur di kasur bawah yang dia tempati di kamar Sya. Dan Radit yang tidur diatas memeluk Sya yang tidak sadar jika suaminya itu dengan teganya memindahkan Kendra. Jadilah tengah malam Kendra terbangun, dengan kencang dia memukul wajah Radit dan menariknya untuk pindah ke bawah seraya menangis, sampai semua orang rumah terbangun karena mereka pikir terjadi sesuatu dengan Kendra. Karena tidak biasanya juga Kendra menangis begitu keras. Menyadari apa yang Radit lakukan kepada Kendra, Sya langsung memarahi laki-laki tersebut. Sedangkan orang tua Sya, Fardan dan juga Asti hanya tertawa melihat kelakuan Radit yang seolah sedang bersaing dengan Kendra mendapatkan Sya. Kenapa mereka tidak tidur satu ranjang? Itu karena ranjang Sya terlalu sempit jika ditiduri bertiga.


" Mas ih, ngalah kenapa sih sama anaknya. " Ujar Sya dengan cemberut. Tangannya masih mengelus memenangkan Kendra yang berada di pangkuannya dan saat ini masih sesegukan karena menangis meski matanya sudah terpejam lagi.


" Hehe, aku nggak nyangka kalo Kendra bakal bangun. Aku kira dia bakal tidur sampai pagi seperti biasa. " Jawab Radit seraya menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Saat ini tangannya sedang ikut membantu Sya menepuk-nepuk pantat Kendra agar kembali tidur. Ada sedikit rasa bersalah dihati Radit saat mengetahui Kendra nangis sampai sebegitunya karena ulahnya. Jadilah sejak saat itu Radit selalu mengalah kepada Kendra. Atau kalau tidak Radit yang memaksa Sya tidur dibawah bersamanya. Tapi tetap saja, Kendra akan terbangun dan kembali tidur di tengah-tengah mereka. Entah sejak kapan Kendra jadi begitu terikat dengan keberadaan Sya.


.


.


.


Saat ini Asti dan Fardan juga masih di Jogja. Asti sudah keluar dari pekerjaannya, dia memutuskan untuk ikut tinggal bersama Fardan yang sedang ada proyek di Bali.


" Pagi As, udah baikan sekarang? " Tanya Sya kepada Asti yang saat ini sedang duduk di meja makan sembari memakan buah apel. Tadi Sya mendengar dari Mama Farida kalo Asti mual-mual lagi seperti pagi hari sebelumnya.


" Iya udah nggak papa kok, kalo udah siangan gini dan minum air putih anget rasanya udah agak mendingan. " Ujar Asti tersenyum. Memang sejak mengetahui kehamilannya Asti menjadi lebih cepat lelah dan setiap pagi mengalami morning sickness. Padahal saat belum mengetahui tentang kehamilannya ini dia baik-baik saja.


" Semangat pokoknya. " Ujar Sya kepada Asti.


" Btw, kamu udah ngelakuin itu belum sama Mas Radit? " Tanya Asti kepada Sya.


" Ha? Ituan apa? " Tanya Sya bingung.


" Malam pertama. " Jawab Asti to the point.


Blushhh, pipi Sya seketika memerah mendengar pertanyaan Asti.


" Kenapa? Kamu malu? Dulu aja waktu aku nikah kamu tanya-tanya tentang malam pertama aku sama Mas Fardan. Ya sekarang gantian aku tanya dong. " Ujar Asti seraya tertawa kecil.


" Haha, ternyata gini ya perasaan kamu waktu aku tanya malam pertama. Tapi emmm, aku belum melakukan itu kok sama Mas Radit. Kamu tau sendiri aku masih halangan. " Ujar Sya kepada Asti.


" Udah seminggu dan kamu masih halangan? " Tanya Asti lagi.


" Hehehe, sebenarnya hari ini udah selesai, tapi aku takut. Aku nggak mau bilang sama Mas Radit dulu, biar dia sendiri aja yang sadar. " Jawab Sya dengan polosnya.


" Hahaha, kamu itu.... " Belum selesai Asti menyelesaikan ucapannya, terdengar teriakan yang memanggil Sya.


" Bunda.... Bunda dimana.... " Ya teriakan Kendra, bocah kecil itu baru bangun dari tidurnya, sedangkan Radit sudah ada di taman belakang berolahraga bersama Ayah Dodi dan Fardan. Mama Farida tadi sedang keluar entah kemana. Mungkin ke warung sebelah.


" Sebentar ya As, aku liat Kendra dulu. " Ujar Sya seraya beranjak dari duduknya.


tap... tap... tap... Sya menaiki tangga dengan cepat.


Ceklek....


Terlihat Kendra yang masih rebahan.


" Anak Bunda udah bangun sayang. " Ujar Sya seraya tersenyum lembut kepada Kendra.


Bocah itu hanya mengangguk membalas ucapan Sya. Tangannya menjulur ke depan meminta untuk Sya gendong.


Sya langsung meraihnya kedalam gendongannya.


" Mau susu? " Tanya Sya kepada Kendra.


Sya keluar dari kamar dan turun ke bawah dengan Kendra yang ada di gendongannya. Kemudian mendudukannya di kursi makan di depan Asti.


" Pagi ganteng, tadi malem boboknya nyenyak enggak? Ayah Radit nggak nakal lagi kan? " Tanya Asti kepada Kendra seraya tersenyum geli mengingat kejadian beberapa malam yang lalu. Kejadian yang membuat semua orang tertawa geli ditengah malam.


" Ayah udah nggak nakal. Tapi Kendla masih malah sama Ayah. " Jawab Kendra dengan lucunya.


Asti dan Sya yang mendengar ucapan Kendra langsung tertawa, wajah bocah kecil itu terlihat bete saat mengingat kejadian itu.


" Cucu Mbah Uti udah bangun ya, udah mimik susu belum? "


Tanya Mama Farida saat masuk ke ruang makan. Diciumnya pipi Kendra yang putih chubby itu.


" Lagi Sya buatin Ma. " Jawab Asti.


" Oo gitu, kalau kamu sudah minum susu belum sayang? udah nggak mual lagi kan? Udah enakan perutnya? " Tanya Mama Farida kepada Asti.


" Udah baikan kok Ma, tapi Asti belum minum susu. Nanti sebentar lagi. " Jawab Asti tersenyum.


" Ya udah, tapi susunya jangan lupa di minum ya, biar dedek bayi di perut kamu sehat. " Ujar Mama Farida yang di angguki oleh Asti.


" Pelut Tante Asti ada dedek bayinya? " Tanya Kendra saat mendengar ucapan Mama Farida.


" Iya, di perut tante ada dedek bayinya. " Jawab Asti seraya tersenyum.


" Mana-mana, Kendla mau liat dedek bayinya. " Ujar Kendra seraya turun dari kursinya, kemudian mendekat kearah Asti.


" Jadi, dedek bayinya itu ada di perut. Ada disini. " Ujar Asti seraya mengusap perutnya. " Coba sini Kendra dengerin, kira-kira dedeknya lagi apa yah. "


Kendra menurut, dia mendekatkan telinganya kearah perut Asti.


" Dedek sedang apa? " Tanya Asti tersenyum.


" Sedang main sepak bola. " Jawab Kendra dengan polos.


Tentu saja Asti langsung tertawa mendengar ucapan dari Kendra.


" Kendla juga mau punya dedek bayi. " Ujar Kendra tiba-tiba.


" Oo iya? Beneran Kendra mau punya adek bayi? " Tanya Asti kepada Kendra yang masih menempelkan telinganya diperut Asti yang sudah sedikit membuncit itu.


" Heem. "


" Kendra minta sama Ayah sama Bunda. " Ujar Asti tersenyum.


" Minta sama Ayah Bunda? " Tanya Kendra dengan polos.


" Heem. "


Kendra terdiam sejenak, dan kemudian dia berteriak....


" Bunda, Kendla mau punya dedek bayi yang sepelti di pelut Tante Asti. "


Sya yang baru saja membuat susu untuk Kendra langsung terdiam di tempatnya, dia tau ini ulah siapa. Tentu saja kakak ipar tersayangnya, dia menghasut Kendra untuk ingin memiliki adik.