
" Bunda, Abang ada pekeljaan lumah dali Miss Lula... " Ujar Kendra kepada Sya.
Ya, seperti rutinitas hari-hari biasanya. Setiap malam seperti ini Sya, Kendra dan Radit berkumpul di ruang keluarga untuk bertanya mengenai kegiatan Kendra selama di sekolah. Dan bocah tampan itu akan bercerita dengan begitu antusias mengenai kegiatannya di sekolah. Kendra akan menceritakan hal-hal seru mengenai teman-temannya yang mengajaknya bermain atau saat Kendra mendapat pujian dari Miss Lula karena sikap baiknya selama di sekolah. Selama ini tidak pernah ada laporan buruk mengenai perbuatan Kendra di sekolah. Dan saat ini Kendra sedang memberitahu Sya kalau dia memilih PR dari guru yang mengajarnya.
" Ooo ya, PR apa Bang? " Tanya Sya kepada Kendra. Ibu muda itu begitu antusias jika Kendra memiliki PR yang di berikan gurunya. Entah kenapa setiap melihat perkembangan Kendra yang semakin pintar saat mengerjakan tugas-tugas sekolahnya, Sya menjadi merasa sangat bangga. Tidak terasa kalau putranya itu sudah semakin besar.
" Abang di suluh menggambal anggota kelualga yang ada di lumah. " Ujar Kendra memberitahukan tugasnya kepada Sya.
" Tugasnya buat kapan? " Tanya Sya kepada Kendra.
" Buat besok. Sebental, Abang ambil pewalna sama kotak pensil. " Kendra berlari menuju kamarnya untuk mengambil peralatan yang akan dia gunakan mengerjakan tugas sekolahnya.
" Pelan-pelan Bang. Jalan aja. " Ujar Sya saat melihat Kendra yang berlari menaiki tangga.
" Iya Bunda... " Terdengar jawaban dari Kendra.
Sya tersenyum melihat Kendra yang begitu semangat untuk mengerjakan tugasnya.
Sya beranjak mendekat kepada Radit yang tengah fokus dengan pekerjaannya.
" Mas.... " Ujar Sya memanggil Radit.
" Hemmm... " Hanya deheman yang Radit berikan sebagai jawaban, Laki-laki yang saat ini sedang berwajah dingin dan datar itu sepertinya belum menyadari kalau istrinyalah yang memanggilnya.
" Tau ahh... Males ngomong sama Mas. " Jawab Sya jutek.
Mendengar nada marah dari Sya, Radit langsung mengalihkan pandangannya dari laptopnya. Kemudian tersenyum saat melihat Sya yang sedang cemberut dengan bibir yang sedikit maju.
" Iya, kenapa sayang? " Tanya Radit seraya menatap Sya lembut. Radit mengalihkan laptop yang sedang dia gunakan untuk bekerja dari pangkuannya ke meja yang ada di sampingnya.
" Nggak jadi... " Jawab Sya cuek.
Melihat Sya yang sepertinya marah, Radit langsung meminta maaf. Radit sadar kalau dia tanpa sengaja mencueki istrinya itu.
" Maaf sayang, janji Mas nggak akan ngulangin lagi. " Ujar Radit kepada Sya.
Sebenarnya Sya ingin menjawab ucapan Radit itu, tapi berhubung Kendra sudah kembali dengan membawa peralatan sekolahnya. Sya mengurungkan niatnya untuk menjawabnya.
" Bunda... ini sudah Abang bawa semua. " Ujar Kendra seraya menunjukkan barang bawaannya kepada Sya.
" Pinter, ya sekarang Abang kerjain dulu PRnya. Ngomong-ngomong Abang perlu bantuan enggak? " Tanya Sya kepada Kendra.
Kendra menggelengkan kepalanya.
" No, Abang bisa sendili. Nanti Bunda jadi yang nilai aja ya. " Jawab Kendra seraya tersenyum. Bocah tampan itu langsung merakit meja lipatnya dan mulai pekerjaannya menggambar anggota keluarga.
Radit hanya menatap interaksi ibu dan anak itu dengan senyuman yang tidak pernah lepas dari bibirnya. Begitu pula dengan Sya, wanita itu tersenyum saat melihat Kendra yang sudah mulai fokus dengan pekerjaannya.
" Masih marah? " Bisik Radit lirih di telinga Sya. Pasalnya Sya memang masih duduk di sofa, tepatnya di sampingnya.
" Masih... " Jawab Sya singkat.
" Jangan gitu dong yank, nanti dedek bayinya jadi ikut ambekan nantinya. " Ujar Radit seraya terkekeh geli menggoda Sya.
" Mas ihh... bete nihhh.. " Sya mencubit kecil pinggang Radit.
" Mas, kamu kan di kantor udah capek kerja. Kenapa di rumah juga masih ngurusin pekerjaan. Nanti kalau kamu kecapean terus sakit gimana? " Jawab Sya sekaligus bertanya.
Radit terdiam sejenak mendengar ucapan Sya. Tiba-tiba hatinya menjadi menghangat. Ternyata istrinya itu sedang menghawatirkan dirinya.
Radit tersenyum menatap Sya.
" Doain aja biar aku sehat terus. Sebenarnya aku juga nggak mau bawa pekerjaan ke rumah. Tapi mau gimana lagi, ini udah hampir deadline soalnya. " Jawab Radit memberikan pengertian. " Janji, kalau nggak kepepet aku nggak akan bawa pekerjaan ke rumah kok. " Ujar Radit menambahkan.
Sya menatap Radit lembut.
" Jangan capek-capek ya Mas. Aku khawatir. " Ujar Sya.
Sebenarnya Sya sadar kalau tanggung jawab Radit memanglah besar. Tapi tetap saja, melihat banyaknya pekerjaan sangat suami setiap harinya membuat Sya cemas akan kesehatan Radit.
Saat Sya dan Radit sedang saling bertatap penuh kelembutan, Kendra bertanya kepada Sya.
" Bunda... Gambal abang bagus enggak? " Tanya Kendra.
Refleks Sya langsung mengalihkan perhatiannya kepada Kendra untuk melihat hasil gambaran bocah tampan itu.
Terlihat gambar seorang ibu, ayah, dan 2 anak. Yang lebih besar Sya tau kalau itu gambar diri Kendra sendiri. Tapi gambar anak laki-laki yang lebih kecil dari Kendra itu siapa? Sya tidak mengetahuinya.
" Yangg ini siapa? " Tanya Sya kepada Kendra.
Kendra melihat gambar yang di tunjuk oleh Sya.
" Itu dedek bayi kalo udah kelual dali pelut Bunda. " Jawab Kendra santai.
" Kok Abang gambarnya dedek bayi cowok, bukannya Abang pengennya dedek bayinya cewek? " Tanya Sya kepada Kendra.
" Ya iya, Abang pengen adek cewek. Tapi yang ini cowok dulu. " Ujar Kendra memberikan jawaban atas pertanyaan yang Sya ajukan itu.
Sebenarnya bulan ini usia kandungan Sya sudah menginjak 6 bulan. Kemarin saat periksa kandungan kata dokter Saat memasuki usia kehamilan 6 bulan, janin biasanya memiliki berat tubuh kurang lebih 660 gram dengan panjang sekitar 34 cm. Berat dan panjang ini akan bertambah setiap minggunya, begitu pula dengan pertumbuhan dan perkembangan organ-organ tubuhnya.
Sya dan Radit merasa bahagia saat melihat bagaimana rupa anak mereka saat di USG. Tapi Radit dan Sya sepakat untuk tidak mencari tau jenis kelamin anak mereka. Biarlah ini menjadi surprise saat lahir nanti.
Tapi tiba-tiba saja Kendra memberikan prediksinya kalau adik bayi yang ada di perutnya itu adalah laki-laki.
Sya menatap ke arah Radit yang juga sedang melihat gambar Kendra.
" Emang Abang yakin banget kalo adek bayinya cowok? " Akhirnya Radit mengeluarkan suaranya dengan bertanya kepada Kendra.
Lagi-lagi Kendra menganggukkan kepalanya.
" Tapi kalo ini cewek gimana? " Tanya Radit sekali lagi.
" Ya enggak papa, tapi ini adek bayinya cowok kok. Kalau yang cewek itu nanti setelah adek bayi yang cowok kelual dari pelut Bunda. " Ujar Kendra masih kekeh dengan jawabannya.
Sya dan Radit saling berpandangan. Mereka saja masih merahasiakan jenis kelamin dedek bayinya. Tapi Kendra justru dengan mudahnya mengatakan kalau dedek bayinya laki-laki.
Jadi apakah benar jika nanti saat lahir adik bayi di perut Sya itu memang laki-laki?