Baby... I Love You

Baby... I Love You
Menantu Sesungguhnya



Sarapan pagi ini berlangsung begitu hangat. Ditambah dengan kehadiran Sya yang membuat suasana lebih ramai karena gadis itu dapat dengan mudah membaur bersama keluarga Radit. Jangan lupakan juga celotehan lucu dari Kendra. Selalu ada saja tingkah Kendra yang membuat mereka semua tertawa.


Jika biasanya Kendra duduk disebelah Ayahnya, makan kali ini dia hanya mau duduk disebelah Sya. Tentu saja itu membuat Radit hanya bisa mendengus pelan.


"Bagaimana jika nantinya aku benar menikah sama Maureen? Pasti setiap hari dia hanya akan disabotase sama Kendra. " Ujar Radit dalam hati.


Sepertinya Radit lupa jika niat awalnya ingin menikah dengan Sya karena ingin menjadikan sebagai Bunda Kendra. Dia sendiri juga yang bilang jika tidak membutuhkan Sya bersikap sebagai istri nantinya. Lalu kenapa baru begini saja Radit sudah iri kepada anaknya karena Sya yang sepertinya benar-benar tidak peduli kepadanya?


Setelah selesai sarapan Sya dan dan Mama Riana langsung membereskan bekas makan ke dapur. Tidak dicuci karena memang sudah ada asisten rumah tangga yang akan mencucinya.


Sedangkan Radit, Kendra, dan Papa Riyan saat ini sedang duduk santai diteras belakang dimana ada taman dan kolam renang disana.


" Kamu serius kan sama Sya? " Tanya Papa Riyan tiba-tiba. Kendra tentu saja asik bermain bersama Grey dan beberapa robot-robotan miliknya.


" Maksud Papa gimana? " Radit justru balik bertanya. Sebenarnya dia paham dengan maksud dari ucapan Papanya. Hanya saja dia ini Papa sendiri yang memperjelas maksud dari ucapannya itu.


" Kamu pacaran sama Sya kan? Dan Papa harap hubungan kamu dengan Sya itu serius hingga menikah nantinya. Papa sudah capek liat kamu menduda seperti ini. " Papa Riyan berkata dengan raut wajah serius namun nada bicara yang terdengar seperti mengejek.


" Nggak usah ngejek deh, emang aku mau jadi duda gitu. " Jawab Radit dengan suara sedikit ketus. Sebenarnya Radit biasa saja dengan ejekan Papanya ini. Hanya saja Papa Riyan tidak akan berhenti mengejeknya jika Radit belum terlihat kesal.


" Hahaha... " Papa Riyan hanya tertawa melihat Radit yang kesal.


" Jadi gimana? Kapan kamu mau lamar Sya ke orang tuanya. " Tanya Papa Riyan kembali serius.


" Mau lamar gimana sih Pa, aku sama Maureen aja belum pacaran. Status kita masih sebatas karyawan dan bos. Aku ditolak sama Maureen. " Jawab Radit pelan.


" Ditolak? Hahaha... Bisa-bisanya seorang Radit ditolak cintanya." Kembali Papa Riyan mulai mengejek Radit.


" Bukan ditolak cintanya. Aku belum cinta sama Maureen. " Jawab Radit santai.


" Lah kok gitu sih? Terus kalo kamu nggak cinta sama Sya dan nggak nyatain perasaan, terus gimana bisa kamu ditolak? " Papa Riyan semakin bingung dengan anaknya ini. Terlihat seperti patah hati karena ditolak oleh Sya, tapi dia sendiri tidak mencintai gadis itu. Jadi ini ditolak yang bagaimana?


" Aku bukan nyatain perasaan Pa. Lebih ke langsung nglamar dia buat jadi ibu sambungnya Kendra." Jawab Radit menjelaskan. Radit memang tidak mau berbohong mengenai alasan dia melamar Sya.


" Kamu ini memang benar laki-laki yang tidak berperasaan. Setidaknya Papa merasa jauh lebih baik dari kamu dalam memperlakukan seorang wanita." Jawab Papa Riyan dingin. Papa Riyan memang terkenal dingin diluar sana, namun saat sedang bersama keluarga dia akan menjadi pribadi yang hangat dan humoris.


Radit hanya diam saja tidak menanggapi ucapan dari Papa Riyan. Dia juga membenarkan ucapan Papanya itu. Dia laki-laki yang tidak berperasaan.


Tiba-tiba Mama Riana dan Sya datang dengan membawa jus buah dan beberapa cemilan.


" Waowww.. stlobely." Wajah Kendra langsung sumringah begitu melihat ada buah kesukaannya dinampan yang dibawa oleh Sya.


" Cuci tangan dulu sayang, kamu abis pegang Grey kan? " Ujar Sya kepada Kendra. Tadi Sya memang sempat dikenalkan dengan kucing lucu kesayangan milik Kendra itu.


" Oke Dunda." Kendra langsung menuruti perintah Sya, dengan cepat dia berdiri dan masuk untuk mencuci tangannya.


" Tumben banget langsung nurut, sama aku yang Ayahnya aja dia nggak pernah begitu. Harus adu argumen lebih dulu. " Ujar Radit menggerutu.


" Kamu walaupun Ayahnya tapi sifatnya sebelas duabelas kayak Kendra. " Jawab Mama Riana.


Radit hanya mencebikkan bibirnya. Sedangkan Sya pura-pura tidak mendengar pembicaraan antara ibu dan anak itu.


Kendra kembali dengan membawa mangkok kecil yang ternyata berisi susu kental manis. Dia duduk disebelah Sya.


" Kok makannya pake susu kental manis? " Tanya Sya kepada Kendra.


Sya hanya tersenyum melihat Kendra yang makan strawberry dengan lahap sambil sesekali menyipitkan matanya karena keasaman.


" Kamu kerja di Kantor sudah berapa lama Sya? " Tanya Papa Riyan kepada Sya yang duduk di sebelah Kendra sambil melihat pemandangan taman. Sedangkan Radit saat ini sudah mulai sibuk dengan ponselnya lagi, bukan mengerjakan tugas kantor namun bermain game.


" Sudah hampir 4 bulan Om. " Jawab Sya tersenyum.


" Kamu panggil Mamanya Radit aja Mama, kenapa panggil saya Om? " Ujar Papa Riyan menggoda Sya.


" Hehe.. Iya Pa. " Jawab Sya malu.


" Kamu asalnya dari mana sih? Bukan asli Jakarta kan? " Tanya Papa Riyan.


" Iya Pa, Sya dari Jogja. Tapi dulu kuliah di Bandung. Baru tinggal di Jakarta waktu udah kerja. " Jawab Sya.


" Wah berarti udah mandiri dari dulu dong ya." Ujar Papa Riyan memuji.


" Papanya Sya itu dosen peternakan lho Pa. " Ujar Mama Riana tiba-tiba.


" Oo ya? Dimana? Dulu juga Papa sempet kuliah di Jogja waktu S 1." Ujar Papa antusias.


" Iya, Dosen di Universitas *** Pa. " Jawab Sya.


" Papa dulu punya sahabat deket disana, namanya Dodi Subroto. Lost kontak udah beberapa tahun ini karena HP Papa hilang." Ujar Papa Riyan.


Sya yang mendengarnya terkejut.


" Ayah Sya juga namanya Dodi Subroto." Ujar Sya.


" Wahhh.. Jadi kamu anaknya Dodi? " Ujar Papa Riyan juga terkejut.


" Tapi kan nama Dodi Subroto juga banyak Pa." Jawab Sya.


" Coba Papa liat foto Ayah kamu."


Sya mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto keluarga.


" Wahh... Ma, coba lihat sini." Ujar Papa Riyan memanggil Mama Riana.


" Apa sih Pa teriak-teriak." Mama Riana menghampiri Papa Riyan.


" Coba lihat ini foto siapa? " Papa Riyan memberikan ponsel Sya kepada istrinya itu.


" Lho, ini fotonya Mas Dodi sama Farida kan? Tunggu-tunggu, ini kok ada foto Sya? " Mama Riana bingung melihat ada Sya diantara kedua sahabat lamanya itu.


" Iya, Sya anaknya Dodi ternyata." Ujar Papa Riyan tertawa kecil. " Dunia memang sempit ya, sejauh apapun kita lost kontak nyatanya ketemu lagi. Dan ini anaknya sendiri malah selama ini sama kita. " Ujar Papa Riyan tertawa.


Sya hanya tersenyum bingung dengan fakta baru yang benar-benar mendadak dia ketahui ini.


" Jadi Maureen anaknya Om Dodi? " Ujar Radit dalam hati. Dulu waktu kecil dia pernah bermain kesana. Namun ingatannya samar karena memang sudah lama sekali.


" Wahhh ini berarti memang Sya mantu kita yang sesungguhnya." Ujar Mama Riana semakin bahagia. Papa Radit hanya tertawa.


Menantu sesungguhnya?