Baby... I Love You

Baby... I Love You
Masih dedek bayi



Sya datang dengan membawa segelas susu strawberry kesukaan Kendra. Sya menoleh ke arah Asti yang hanya membuat tanda peace dengan jari telunjuk dan tengahnya.


" Hehe, aku cuma bilang kalo di perut aku ada dedek bayi kok, terus tiba-tiba aja Kendra bilang pengen punya dedek bayi juga. Ya udah aku kasih tau aja kalo suruh minta sama kamu dan Mas Radit. " Ujar Asti menjelaskan dengan santai.


" Awas ya kalo Kendra sampe bilang ke Mas Radit, kamu yang harus tanggung jawab ya As. " Ujar Sya kesal.


" Lah kok aku? kan yang istri Mas Radit kamu. Aku kan istrinya Mas Fardan, dan sekarang juga di perut aku udah ada dedek bayinya kok. " Jawab Asti sok polos.


" Tau ah, males ngomong sama kamu. "


Asti hanya mengangkat bahunya cuek seraya tersenyum mengejek. Sya bilang dia males ngomong dengannya, tapi kita tunggu 15 menit yang akan datang. Sudah pasti Sya akan kembali berbicara dengannya.


Sedangkan Kendra seolah lupa dengan permintaannya saat melihat susu strawberry yang Sya bawa. Dengan segera dia meminumnya dan menghabiskannya hanya dalam beberapa tegukan saja.


" Udah habis Bunda. " Ujar Kendra memberitahu Sya.


" Pinternya anak Bunda. " Sya mengelus lembut rambut Kendra.


" Bunda, pelut Bunda ada dedek bayinya kayak perut Tante Asti? " Tanya Kendra dengan polos.


Sya menatap Asti yang sedang menahan senyum pura-pura tidak melihat.


" Nggak ada, pelut Bunda belum ada dedek bayinya sayang. " Jawab Sya dengan halus.


" Bayi apa? " Tanya sebuah suara tiba-tiba. Bisa tebak itu suara siapa?


" Kendra pengen punya adek bayi Mas. " Jawab Asti spontan yang membuat Sya langsung mendelik kesal kearahnya.


" Kendla mau punya adek bayi sepelti di pelut Tante Asti Ayah. " Jawab Kendra menatap polos kearah Radit.


Radit yang mendengar ucapan Asti dan Kendra langsung mengulum senyum tertahan.


Sedangkan Sya hanya terdiam di tempatnya tidak berani menatap kearah Radit.


" Kendra mau punya adek bayi kan? " Tanya Radit kepada Kendra. Dia mendekat dan berdiri tepat dibelakang Sya.


" Ganti baju dulu sana Mas, baju kamu basah keringetan. " Ujar Sya kepada Radit. Pasalnya saat ini badan berkeringat Radit sedikit menempel ke lengan Sya.


" Nanti dulu sayang, aku mau nyelesain urusan aku sama Kendra. " Jawab Radit santai.


Sya hanya bisa menghela nafas pelan.


" Bener Kendra mau punya adek bayi? " Tanya Radit sekali lagi yang langsung mendapat anggukan dari sang putra.


" Oke, kalo gitu nanti Ayah buatin. " Jawab Radit santai yang justru membuat Sya langsung memelototkan matanya kaget.


" Mas apaan sih. " Ujar Sya dengan kesal.


" Apa sih sayang, ini urusan aku sama Kendra. Kamu diem dulu ya. " Ujar Radit seraya tersenyum penuh arti.


Sedangkan Asti sedang menikmati adegan menyenangkan yang sedang dipertontonkan oleh keluarga baru di depannya ini. Senyum tidak pernah lepas dari bibir Asti. Dia ingat saat bagaimana Sya meledek dirinya mengenai malam pertama, padahal Sya sendiri belum menikah. Dan ini adalah waktu pembalasan yang tepat. Ujar Asti seraya tertawa dalam hati.


" Benelan Ayah? " Tanya Kendra kepada Radit.


" Heem, beneran dong. Emang Ayah pernah bohong sama Kendra? " Ujar Radit menjawab pertanyaan Kendra.


" Pelnah, Ayah bilang nggak mau nakalin Kendla sama Bunda lagi. Tapi Ayah nakal sama Kendla. " Jawab Kendra dengan polos.


Radit dibuat gelagapan mendengar ucapan Radit. Berbeda dengan Asti dan Sya yang saat ini sudah tertawa lepas karena kekalahan Radit itu.


" Mau. " Jawab Kendra cepat.


" Mau berapa? " Tanya Radit yang langsung mendapat pelototan tajam dari Sya. Bagaimana bisa Radit bertanya mau berapa sedangkan 1 saja mereka belum pernah memprosesnya. Memangnya yang akan hamil dan melahirkan itu siapa? Kenapa Radit tidak bertanya kepada dirinya saja. Benar-benar laki-laki menyebalkan. Untung saja dia mencintainya.


" Ehmm, Kendla mau... " Kendra menghentikan ucapannya dan mengangkat kesepuluh jari tangannya kemudian mulai menghitung. Setelah hitungan ke sepuluh Kendra menjawab dengan lantang. " Kendla mau dedek bayi 7 aja Ayah, nggak usah banyak-banyak. " Jawab Kendra lagi-lagi dengan polos tanpa mengetahui kalau ucapannya itu bisa membuat Sya serangan jantung mendadak. Apa-apaan ini, dedek bayi 7 itu sedikit? Itu banyak ya Tuhan. Kalo sedikit itu 1 atau 2. Ujar Sya dalam hati.


Radit dan Asti tentu saja lagi-lagi langsung tertawa mendengar jawaban polos dari Kendra.


" Hahaha... Ya ampun, Kendra kamu lucu banget sih nak. Semoga aja dedek bayi di perut Tante lucu kayak kamu. " Ujar Asti seraya mengelus perut buncitnya.


" Yakin mau 7? Nggak kurang? " Tanya Radit dengan jahilnya. Melihat ekspresi Sya yang menatapnya memelas terlihat sangat lucu.


" Nanti kalo kulang Kendla minta tambah lagi. Sekalang Kendla mau punya dedek bayi 7 dulu. " Jawab Kendra penuh keyakinan.


" Tapi Ayah sama Bunda buatinnya satu satu yah. Ehhm, kalo nggak langsung 2 boleh lah. " Ujar Radit kepada Kendra. Ucapannya ini sangat tidak masuk akal menurut Sya. Bagaimana bisa Radit berkata seperti itu kepada Kendra.


" Satu satu? " Tanya Kendra tidak paham.


" Iya, besok kan Kendra udah masuk TK kecil, nah itu Ayah sama Bunda buatin 1. Nanti kalo Kendra udah TK besar Ayah sama Bunda buatin 1 lagi. Begitu terus setiap Kendra naik kelas Ayah sama Bunda buatin 1 dedek bayi. " Jawab Radit seraya tersenyum manis.


Sedangkan Asti lagi-lagi hanya bisa tertawa mendengar jawaban tidak masuk akan yang Radit berikan kepada Kendra.


" Mas, kamu apaan sih, jangan ngajarin Kendra yang enggak-enggak deh Mas. " Ujar Sya dengan kesal.


" Aku nggak ngajarin sayang. Aku cuma memberikan Kendra pemahaman. " Jawab Radit dengan santai. " Gimana, Kendra mau nggak? " Tanya Radit kepada Kendra.


" Kendla mau Ayah. " Jawab Kendra bahagia.


" Tapi ada syaratnya. " Ujar Radit kepada Kendra.


" Syalat? Syalat apa? " Tanya Kendra bingung.


" Kendra harus mau bobok sendiri seperti biasa. Biar nanti bisa cepet Ayah sama Bunda buatin dedek bayinya. " Ujar Radit seraya mengangkat sedikit alisnya menatap kearah Sya yang wajahnya sudah semakin memerah.


" Tapi benelan nanti di peyut Bunda ada dedek bayinya? " Tanya Kendra memastikan.


" Heem... Kendra juga harus berdoa supaya dedek bayi mau dateng ke perut Bunda. " Ujar Radit kepada Kendra.


" Heem, nanti Kendla mau bobok sendili. " Jawab Kendra yang membuat Radit bahagia.


" Sayang kita bisa secepatnya memproses pembuatan dedek bayi buat Kendra. " Bisik Radit di telinga Sya. Namun masih bisa di dengar oleh Asti. Wanita itu saat ini langsung mengulum senyumnya.


" Apaan sih Mas, aku masih halangan. Lagian Kendra kalo tidur sendiri disini mau tidur dimana coba. " Jawab Sya dengan gugup.


" Nggak Mas, Sya bohong. Dia tadi cerita kalo dateng bulannya udah selesai. " Ujar Asti yang membuat Sya rasanya ingin menenggelamkan dirinya di palung terdalam agar bisa menghilang dari hadapan Radit saat ini.


" Jadi kamu udah selesai halangan? Kenapa nggak bilang sama aku? " Tanya Radit dengan datar.


" Ya.. ya.. kenapa aku harus bilang sama kamu? " Tanya Sya semakin gugup.


" Tentu saja karena aku mau minta hak sebagai suami. " Jawab Radit santai.


" Nggak bisa, kan Kendra tidur sama kita. " Jawab Sya cepat.


" Gampang, nanti aku titipin Kendra biar tidur sama Ayah dan Mama. " Ujar Radit seraya memperlihatkan senyum seringai nya.


Baiklah, sekarang Sya merasa sudah mati kutu di tempat. Kita lihat saja apa yang akan terjadi nanti malam.