
" Sayang, baju kerja aku mana? " Teriak Radit dari dalam kamar.
Ya, hari ini adalah hari pertama Radit dan Sya kembali berangkat kerja setelah kurang lebih 2 minggu mereka cuti pernikahan..
" Sebentar Mas, aku lagi gantiin baju Kendra dulu. " Ujar Sya menjawab teriakan Sya. Tadi sebenarnya Sya sudah memilihkan setelah kemeja dan celana untuk Radit, tapi masih Sya letakkan di walk in closet Radit.
Hening, tidak terdengar lagi jawaban dari Radit.
" Sebentar ya sayang, Bunda mau ambilin baju buat Ayah dulu. Kendra duduk disini tunggu Bunda sebentar ya. " Ujar Sya kepada Kendra, bocah kecil yang saat ini terlihat sangat tampan itu menganggukkan kepalanya.
Sya yang sedang menggantikan seragam sekolah kepada Kendra, segera menghampiri Radit.
Saat masuk kamar terlihat Radit duduk diatas ranjang masih dengan handuk putih yang membalut tubuhnya dari pusar hingga lutut.
" Baju aku sayang. " Ujar Radit kepada Sya seraya menampilkan senyum manisnya. Padahal jika dipikir-pikir Radit itu sudah pernah menduda kurang lebih 3 tahun, dan dia terbiasa melakukan apapun sendiri. Pakaian kerja pun dia biasa memilihnya sendiri. Tapi sekarang, rasanya Radit ingin apapun Sya yang menyiapkannya. Radit ingin mendapat perhatian Sya lebih kepadanya.
" Sebentar Mas aku ambilin dulu. " Ujar Sya seraya masuk ke dalam walk in closet. Tapi ternyata Radit mengikutinya masuk juga.
" Loh Mas kok ikut kesini, ini bajunya. " Sya memberikan baju yang memang sudah dia siapkan tadi.
" Pakein yank. " Ucap Radit yang membuat Sya mengerutkan matanya. Namun seketika wajahnya memerah menyadari jika Radit sedang menggodanya.
" Mas apaan sih, udah gede juga. Emang Mas itu Kendra yang harus di pakein bajunya. " Jawab Sya seraya menahan tawanya.
" Issh, serius sayang. Pakein ya. " Tiba-tiba saja Radit membuka handuknya dan seketika membuat Sya terkejut dan refleks memejamkan matanya.
" Mas, jangan gitu dong. Mas nggak malu buka handuk di depan cewek. " Ucap Sya masih dengan menutup mata.
" Hahaha... Ngapain malu, lagian ceweknya kan juga kamu sayang, istri aku sendiri. " Jawab Radit seraya tertawa. Padahal Radit sendiri sudah memakai celana boxsernya.
" Tapi kan Mas.... "
" Mesum nih pikiran istri aku, orang aku udah pake celana. Siapa juga yang mau telanjang depan kamu. " Ujar Radit memotong ucapan Sya dengan santai.
" Bohong nih pasti. " Ujar Sya tidak percaya dengan ucapan Radit.
" Enggak sayang, mana pernah aku bohong. Sekarang buka mata kamu dan liat sendiri aku bohong atau nggak. " Radit menggenggam tangan Sya lembut.
" Beneran? " Tanya Sya memastikan, dia masih tidak percaya dengan ucapan Radit.
" Beneran sayang. " Jawab Radit seraya terkekeh geli. Padahal Sya sudah melihat semua yang ada pada dirinya, kenapa masih malu-malu seperti ini. Batin Radit dengan gemas.
Secara perlahan Sya membuka matanya untuk memastikan kalau ucapan Radit itu benar.
" Tuh bener kan, aku udah pake celana sayang. " Ujar Radit menggoda Sya.
Ya Sya memang bisa melihat kalau Radit sudah memakai celana boxer. Tapi tetap saja kan, hanya kain itu yang menutupi tubuhnya, sedangkan bagian lainnya terpampang tepat di depannya. Dada bidang yang selalu membuat Sya salah tingkah itu tidak tertutup apapun.
" Sekarang bantu aku pake baju ya. " Radit mengedipkan satu matanya kepada Sya.
" Ya udah... Mas pakai dulu ini celananya, baru aku yang pakein kemejanya. " Ujar Sya memberikan celana bahan berwarna hitam kepada Radit dengan gugup.
Kali ini Radit menuruti ucapan Sya, dia memakai celananya sendiri. Baru setelahnya meminta Sya memakaikan kemejanya.
" Kalo begini berarti anak aku jadi dua yah, bayi kecil Kendra sama bayi besar Radit. " Ujar Sya saat memasang kancing kemeja Radit.
" Nggak papa dong, aku suka kok jadi bayi besar kamu. " Ujar Radit mencolek dagu Sya.
" Jangan cemberut sayang, kan ini sama aja cari pahala buat kamu. " Ujar Radit seraya mengecup bibir Sya cepat. " Aku belum dapet ciuman kamu dari pagi. "Ujar Radit menambahkan.
Sya hanya bisa tersenyum malu dengan perlakuan Radit.
" Mas ihh. " Ujar Sya menepuk dada Radit pelan.
Radit hanya terkekeh geli melihat Sya yang sedang malu-malu itu.
" Udah selesai, aku ke Kendra dulu dia pasti udah lama nunggunya, Mas langsung ke meja makan aja. Aku udah bikinin kopi sama sandwich. " Ujar Sya seraya tersenyum manis.
" Kamu sendiri belum siap-siap kan. Biar aku aja yang bantu Kendra bersiap. " Ujar Radit kepada Sya.
" Ya udah, kalo gitu nanti langsung ke meja makan aja. Aku ganti baju dulu bentar lagi turun kok. "
Saat ini Sya memang masih menggunakan baju biasa, setelah mandi dia terlebih dahulu menyiapkan sarapan untuk Radit dan Kendra. Baru setelahnya membangunkan Kendra dan memandikanya membantu bersiap untuk sekolah.
Setelah 10 menit bersiap dengan pakaian kerjanya, Sya turun ke lantai 1. Dia mendapati Radit dan Kendra sudah duduk manis di meja makan. Radit dengan ponsel yang tidak pernah tertinggal sedangkan Kendra dengan coco melon di iPadnya.
" Selamat pagi semua, wahh udah pada asik aja ya. Bunda udah laper nih. Sarapan dulu yuk. " Ujar Sya kepada anak dan suaminya.
" Ayo, Kendla juga udah lapel. " Ujar Kendra seraya mematikan video yang sedang dia tonton. Kemudian menatap antusias kepada Sya.
" Mas... " Sya memanggil Radit yang masih bekutat dengan ponselnya.
" Ya? " Tanya Radit kepada Sya.
Sya hanya menatapnya dan melirik kepada Kendra. Barulah Radit paham jika sekarang waktunya untuk sarapan. Segera saja Radit mematikan ponselnya.
Sya segera menyiapkan sandwich di piring kedua orang tersayangnya itu. Sarapan pagi ini seperti biasa diwarnai dengan celoteh lucu dari Kendra yang membuat suasana rumah menjadi ceria.
" Let's Go. " Ujar Kendra dengan semangat 45nya.
Radit menggendong Kendra membawanya ke mobil. Kali ini Radit memilih untuk tidak menggunakan supir karena dia ingin menikmati waktu bersama keluarga.
Setelah mengantarkan Kendra ke sekolahnya, Radit dan Sya langsung menuju Kantor. Sya sedikit deg-degan karena sekarang statusnya adalah istri dari Direktur perusahaan. Sya tidak mau kalau nantinya perlakuan karyawan lain akan berubah kepadanya. Dia lebih menyukai dimana tidak banyak orang yang mengenalnya. Karena bagaimana pun Sya tidak merasa nyaman jika nantinya mereka memperlakukannya dengan spesial.
" Kok kamu pake rok? " Tanya Radit tiba-tiba.
Sya langsung saja menatap dirinya sendiri. Memang sejak tadi dia memakai rok, kenapa Radit baru bertanya sekarang?
Saat ini Sya memang menggunakan rok pensil hitam sebatas lutut dilengkapi dengan blouse lengan panjang berwarna biru langit. Dan sebelumnya pun Sya sering memakai style seperti ini.
" Aku emang dari tadi pake rok Mas. " Jawab Sya menatap bingung Radit.
" Aku nggak suka kalo kamu pakai rok pendek di luar rumah. Lain kali pake celana panjang aja ya sayang. " Ujar Radit dengan lembut.
" Kenapa Mas? kan biasanya aku pakai seperti ini. " Tanya Sya kepada Radit.
Jika ingin protes kenapa tidak dari dulu kan? Kenapa baru sekarang.
" Aku nggak suka kaki kamu terekspos dan diliatin laki-laki lain. " Jawab Radit kalem.
" Kenapa Mas baru protesnya sekarang? " Sya tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
" Karena dulu aku belum ada hak atas kamu. Kalau sekarang beda lagi, kamu sudah jadi istri aku dan aku sudah memiliki hak atas kamu. " Jawab Radit seraya menatap lembut Sya.