Baby... I Love You

Baby... I Love You
Tangis Sya



" Astagfirullah... Mas... Kamu kenapa? " Sya tidak bisa lagi membendung air matanya yang memang sedari tadi dia tahan karena cemas memikirkan Radit yang tidak ada kabar.


Radit tersenyum mencoba untuk menenangkan Sya.


" Tidak apa-apa sayang, sudah jangan menangis. " Ujar Radit kepada Sya.


Radit melepaskan rangkulannya di bahu Andre dan berjalan dengan tertatih ke arah Sya. Segera saja Sya berjalan cepat dan menghambur ke pelukan Radit.


" Mas tidak apa-apa sayang, ini hanya luka kecil. Kamu jangan menangis begini nanti dedek bayi ikutan sedih. " Radit balas memeluk Sya yang masih menangis. Meskipun sebenarnya kakinya sedikit sakit dan kepalanya juga agak pusing, Radit tetap berusaha berdiri untuk menenangkan Sya.


" Ayo kita masuk. " Ujar Radit kepada Sya, kemudian menoleh kepada Andre. " Ndre, tolong ambilkan paperbag di kursi belakang " Ujar Radit kepada Andre. Dan asistennya itu langsung menganggukkan kepalanya.


Sya tetap membantu Radit berjalan meskipun suaminya itu sedikit melarangnya. Dengan hati-hati Sya mendudukkan Radit di sofa ruang tamu.


" Mas kenapa bisa begini? " Tanya Sya masih dengan air mata yang menetes meskipun tidak sederas tadi karena Radit berhasil membuat Sya sedikit tenang.


" Mas akan cerita kalo kamu udah berhenti nangis sayang. Mas nggak mau kalo kamu malah kenapa-napa kalo nangis terus, udah ya cup dulu dong." Ujar Radit seraya menatap lembut Sya.


Sya menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya.


" Tadi waktu Mas pulang, di tengah jalan nggak sengaja ada kucing yang lewat. Akhirnya Mas banting setir dan nabrak pohon. Dan ya ini, dahinya luka sedikit saya kakinya memar. Tapi Mas beneran nggak papa kok." Radit mencoba untuk menceritakan sesimpel mungkin agar tidak membuat Sya semakin cemas.


Tapi tetap saja, mendengar cerita Radit, tanpa bisa di cegah air matanya kembali menetes.


" Husshh, udah Mas bilang jangan menangis sayang. Mas nggak papa. " Ujar Radit seraya mencium puncak kepala Sya.


" Hikss... Tapi Mas luka begitu. " Ujar Sya semakin terisak.


Radit kembali merengkuh Sya kedalam pelukannya lagi. Radit membiarkan Sya agar bisa menangis hingga tenang dengan sendirinya.


Andre yang dari tadi berdiri di depan pintu di beri kode Radit untuk meletakkan paperbagnya dan ayam tepungnya di meja dan mempersilahkannya untuk pulang.


Andre yang paham pun langsung melaksanakan perintah Radit.


Sepeninggalnya Andre, Sya masih saja menangis meski tidak terlalu sesenggukan seperti tadi.


Hingga 15 menit kemudian tangis Sya terhenti.


" Udahkan? Jangan nangis lagi sayang, aku jadi ikut sedih. " Ujar Radit tersenyum lembut.


Sya menganggukkan kepalanya.


" Kamu udah makan? " Tanya Radit kepada Sya agar bisa mengalihkan pembicaraan.


Sya menggeleng pelan kepala, dia tau kalau Radit paling tidak suka kalau Sya sampe telat makan.


Radit yang melihatmu jawaban yang Sya berikan langsung menghela nafas pelan.


" Minum susu? " Tanya Radit lagi.


" Udah, tapi sedikit. " Jawab Sya seraya menunjuk segelas susu yang masih ada di meja.


Sedikit yang Sya katakan itu memang benar-benar sangat sedikit. Bahkan dari sisa susu di gelas pun Radit bisa tau kalau Sya hanya meminumnya seteguk saja.


" Ya udah, sekarang makan dulu yuk. Mas juga laper, soalnya belum makan. Tadi Mas beli Ayam goreng tepung kesukaan Kendra. " Ujar Radit kepada Sya.


Sebenarnya Radit tidak sedang memiliki nafsu untuk makan, tapi jika tidak seperti ini Radit yakin Sya juga tidak mau makan.


Sya melirik ke ember putih dengan gambar seorang kakek berkaca mata. Siapa pun pasti tau isi di dalamnya.


" Tapi Kendra udah bobok Mas. " Ujar Sya kepada Radit.


" Itu apa? " Tanya Sya seraya melirik paperbag kecil yang ada di samping ember Ayam.


Radit tersenyum, hampir saja dia melupakan itu. Diraihnya paperbag di meja.


" Ini hadiah buat kamu sayang. " Ujar Radit kepada Sya.


" Hadiah? " Tanya Sya bingung. Padahal baru minggu lalu Radit memberikan sebuah sepatu flatshoes, tapi sekarang suaminya itu sudah memberinya hadiah lagi.


" Iya, buka aja. " Radit memberikannya kepada Sya.


Sya menerimanya dan mulai membukanya. Dia langsung terkesima melihat sebuah gelang yang begitu cantik.


" Cantik banget Mas, ini buat aku? " Tanya Sya kepada Radit.


" Iya, ini buat istri Mas tercinta. " Jawab Radit seraya tersenyum manis. " Kamu suka sayang? " Tanya Radit kepada Sya.


Sya menganggukkan kepalanya antusias.


" Iya suka, makasih Mas. " Tatapan penuh cinta Sya perlihatkan kepada suaminya itu.


" Sini Mas bantu pakaikan. " Ujar Sya kepada Radit.


Sya mengulurkan pergelangan tangannya kepada Radit untuk memasangkannya.


" Terimakasih karena tangan ini sudah dengan ikhlas merawat aku dan Kendra. " Ujar Radit seraya mencium tangan Sya.


Sya menjadi tersipu dengan perlakuan yang Radit tunjukkan itu.


" Sama-sama Mas. " Jawab Sya dengan pipi memerah karena malu.


...~~~~...


Selesai makan malam Radit dan Sya kembali ke kamar mereka. Radit sudah membersihkan diri, dan tentu saja dengan bantuan istri cantiknya itu.


" Mas kenapa tadi nggak ngasih kabar ke aku? Aku dari sore khawatir nungguin kamu. " Ujar Sya dengan nada merajuknya.


Lagi-lagi Radit mencium puncak kepala Sya. Tangannya juga aktif mengelus perut buncit sang istri.


" Dedeknya kok belum gerak-gerak ya yank. " Ujar Radit mengalihkan pembicaraan.


" Nggak usah ngalihin pembicaraan, aku tetap mau denger alasan kenapa Mas enggak ngabarin aku waktu tadi kecelakaan. " Ujar Sya dengan nada menuntut.


Radit yang mendengar Sya ngambek justru tertawa kecil karena istrinya itu semakin menggemaskan jika menggembungkan pipinya dengan bibir mengerucut.


" Jangan ketawa ihh, aku mau denger penjelasan dari kamu. " Ujar Sya kepada Radit.


" Sayang, dengerin Mas. Mas tuh nggak ngasih kabar kamu karena Mas nggak mau kamu khawatir. Dan kalau tadi Mas ngasi tau kamu, Mas yakin kamu pasti bakal syok dan nangis. Mas nggak mau kalo kamu sampe nangis tanpa ada Mas di samping kamu. " Ujar Radit menjelaskan dengan lembut.


Sya mencoba untuk mencerna ucapan suaminya itu. Memang yang Radit katakan itu ada benarnya juga. Kalau tadi Radit memberitahunya, Sya yakin dia tidak hanya menangis, bisa saja dia akan langsung jatuh cinta.


" Ya udah, untuk kali ini aku maafin. Tapi lain kali nggak boleh begini. Mas harus kasih aku kabar apapun yang terjadi. Dan jangan ulangi lagi. Aku nggak bisa membayangkan kalo Mas sampe kenapa-napa. " Ujar Sya kepada Radit.


Radit menganggukkan kepalanya.


" Iya sayang. InsyaAllah Mas akan selalu kasih kamu kabar apapun yang terjadi. " Ujar Radit kepada Sya.


" Sekarang mau peluk. " Ujar Sya dengan manja.


Tentu saja Radit tidak akan menolak kesempatan emas ini bukan?