Baby... I Love You

Baby... I Love You
Kecemasan



Sepeninggalnya Mama Riana ke ruang NICU bersama si baby, 30 menit kemudian Dokter Lilis keluar dari ruang operasi. Segera saja Radit dan Papa Riyan berdiri dari duduknya untuk menghampiri Dokter Llilis.


"Gimana keadaan Sya Dok?" Tanya Radit kepada Dokter Lilis.


Dokter Lilis tersenyum kearah Radit.


"Alhamdulillah Ibu Sya sudah melewati masa kritisnya karena tadi sempat mengalami pendarahan. Dan untungnya rumah sakit memiliki stok golongan darah yang sama dengan Ibu Sya. Nanti Ibu Sya akan kami pindahkan ke ruang rawat, mungkin dalam 2 jam Ibu Sya akan tersadar dari tidurnya saat ini." Ujar Dokter Lilis menjelaskan.


Radit yang mendengar penjelasan dari Dokter Lilis langsung merasa lega bukan main. Sya tidak meninggalkannya, wanitanya itu tidak meninggalkan dia, Kendra dan baby.


Mengenai baby, Radit teringat kalau dia belum mengadzani putranya itu. TIba-tiba rasa bersalah lanagsung menyelusup ke dalam hatinya. Ayah macam apa Radit ini, kenapa bisa dia melupakan anaknya sendiri.


"Ya Allah maafkan hamba hampir saja lalai menjaga titipan dari-Mu. " Ujar Radit di dalam hati.


"Papa, Radit izin ke ruang NICU dulu ketemu baby." Ujar Radit meminta izin kepada Papa Riyan.


"Iya, adzani dulu anak kamu. Biar Papa yang disini menjaga Sya." Jawab Papa Riyan. Beliau merasa sangat bersyukur akhirnya Radit sadar dengan kesalahnnya karena telah mengabaikan anaknya sendiri.


Setelah mendapat izin dari Papa Riyan, buru-buru Radit pergi untuk mencari ruangan NICU dimana putranya berada sekarang. Tadi bahkan Radit belum melihat wajah anaknya sama sekali. Kenapa dia bisa menjadi sebodoh ini? Pikiir Radit.


"Sus, ruangan NICU dimana ya?" Tanya Radit kepada seorang suster yang lewat di dekatnya.


" Tinggal belok kiri saja Pak, ruangan yang ke 3. Di depan pintu ada tulisannya kok." Jawab si suster dengan ramah.


"Terima kasih ya sus." Setelahnya Radit langsung berlari kearah yang sudah diberitahukan oleh suster tadi.


Langkah Radit memelan saat melihat Mama Riana yang sedang berdiri menatap sebuah ruangan dari jendela kaca yang transparan.


"Ma..." Panggil Radit lirih.


Mama Riana menatap Radit sekilas.


"Tadi baby nangis kenceng banget kayaknya dia sedih karena Ayahnya enggak mau liat dia." Ucap Mama Riana dengan suara datar tanpa melihat kearah Radit. Hal ini membuat Radit menjadi semakin merasa bersalah.


"Ma, maafin Radit, Radit tau kalau Radit salah." Jawab Radit dengan suara lirih.


"Bukan kepada Mama kamu harus minta maaf. Kamu harus minta maaf sama baby." Ujar Mama Riana.


"Radit mau adzani baby." Ujar Radit memberitahu niatannya kepada Mama Riana.


Mama Riana hanya menganggukan kepalanya, beliau tidak mau sama sekali menatap kearah Radit.


Radit yang melihat sikap Mama Riana kepadanya sama dengan apa yang dia lakukan pada baby tadi membuatnya merasa sangat sedih. Ternyata begini rasanya di abaikan, tidak enak sama sekali. Dan tadi Radit melakukan itu kepada putranya yang bahkan baru lahir ke dunia kurang dari 2 jam.


Kenapa dia bisa sampai melakukan hal bodoh seperti tadi. Apa otaknya ini menjadi tidak waras karena rasa cemasnya kepada Sya?


Akhirnya mau tidak mau Radit membiarkan Mama Riana mengabaikannya. Yang harus dia lakukan saat ini adalah mengadzani putra keduanya yang baru saja lahir itu.


Setelah meminta izin kepada suster penjaga dan mengganti pakaiannya dengan jubah steril, Radit masuk kedalam ruang NICU dimana putranya berada. Mendadak Radit merasa sangat gugup. Padahal ini bukan pertama kalinya Radit mengadzani anaknya.


Saat akan mengadzani putranya itu, Radit menoleh melihat kearah jendela. Terlihat Mama Riana yang sedang melihat kearahnya. Wajahnya sudah tidak sedingin tadi, ada tatapan lembut yang terpancar dimatanya.


Betapa menakjubkannya saat Radit adzan tiba-tiba si baby membuka matanya. Ini semakin memperjelas ketampanan yang Allah SWT berikan. Wajahnya sangat mirip Kendra saat bayi dulu.


" Haaii baby... Ini Ayah. " Ujar Radit memperkenalkan dirinya kepada putranya.


Putranya hanya menatap lugu ke arah Radit.


" Haii anak sholeh, kamu yang sehat-sehat ya. Sebentar lagi Ayah bawa kamu ke tempat Bunda. Kamu pasti kangen sama Bunda kan. Pengen mimik susu enggak? Nanti kita minta ke Bunda. " Ujar Radit lirih. " Oo iya, nanti kamu juga bakal ketemu sama Abang. Namanya Abang Kendra, sekarang dia lagi ada di rumah. Sampai lupa Ayah belum telfon Abang kamu. " Tambah Radit. Entah apa saja pembicaraan random yang dia katakan kepada si baby. Radit hanya ingin lebih lama bersama putranya ini.


Namun tetap saja, Radit harus keluar dari ruangan NICU setelah tugasnya mengadzani sang putra selesai.


Radit keluar untuk menemui Mama Riana. Begitu Radit keluar, Mama Riana langsung memberinya sebuah pelukan.


" Terima kasih karena kamu segera sadar kalau ada nyawa baru yang membutuhkan kehadiran kamu. " Ucap Mama Riana dengan suara lirih.


"Maafin Radit Ma, Radit khilaf. " Jawab Radit dengan suara yang terdengar sangat menyesal.


"Jangan di ulangi lagi. Biar bagaimana pun baby membutuhkan kamu. Kamu tidak boleh egois dengan hanya memperhatikan Sya. Mama tau kalau kamu sedang sedih dan kalut. Tapi tetap saja kamu tidak boleh mengabaikan tanggung jawab kamu sebagai seorang Ayah. " Ujar Mama Riana menasehati Radit.


Radit hanya menganggukkan kepalanya. Setelah melepaskan pelukan mereka, Mama Riana dan Radit menatap kearah ruangan dimana baby berada.


"Dedek mukanya kayak kamu sama Kendra. Enggak ada Sya.nya sama sekali. " Ujar Mama Riana seraya terkekeh geli.


"Iya dong Ma, kan gen keluarga Santoso emang paling kuat. Di tambah Sya cinta banget sama aku. Otomatis aja baby jadi mirip aku. " Jawab Radit dengan sangat percaya diri.


" Udah ada nama belum buat baby? " Tanya Mama Riana kepada Radit.


" Sudah ada dong, tapi aku akan kasih tau nanti kalau Sya udah sadar. "Jawab Radit seraya tersenyum.


Hening... Mereka terlalu larut dengan ketampanan si baby.


" Mama udah kasih kabar keluarga yang ada di Jogja? " Tanya Radit kepada Mama Riana.


"Udah, mungkin mereka bakal sampe nanti malam." Jawab Mama Riana.


Tiba-tiba Mama Riana teringat sesuatu.


" Kendra? Bukankah tadi Kendra melihat Sya saat pendarahan? Bagaimana kabar Kendra sekarang Radit, jangan sampai Kendra sampai trauma nantinya. " Ujar Mama Riana mengingatkan.


Seketika saja Radit teringat bagaimana ekspresi cemas Kendra tadi, wajahnya pucat, tapi tidak ada air mata yang menetes di wajahnya.


" Astagfirullah, Radit sampai lupa mengabari Kendra. "


Dengan segera Radit menghubungi telefon rumah. Dia sangat cemas dengan keadaan Kendra saat ini. Semoga semuanya akan tetap baik-baik saja.