
Direktur Galak
Kode mau minta gaji ya?
Lah, siapa yang mau minta gaji? Orang emang itu alasannya aku makan disini. Tapi kalo gaji mau dinaikin ya aku nggak akan nolak sih.
" Boleh Pak kalo memang bapak berkenan menaikkan gaji saya. Saya bakal terima dengan senang hati. " Ujar Sya membalas pesan dari Radit.
Setelah membalas pesan dari Radit, Sya memasukkan ponselnya kedalam pouch make up yang hanya berisi bedak dan lipstik yang dia bawa. Tidak lupa juga selembar uang 50 ribuan.
" Eehh besok kita liburan yuk, suntuk tau weekend dirumah doang. Ke pantai atau ke Dufan gitu." Ujar Dian memberikan usulan.
" Ke Dufan? kayak bocah cilik aja lo. Masa kecil kurang bahagia lo ya." Ujar Leo menimpali perkataan Dian. Entah kenapa selalu saja ada bahan yang bisa membuat antara Leo dan Dian terjadi keributan. Jodoh baru tau rasa.
" Iihh gue mah nggak ngajak elo. " Jawab Dian jutek. " Gimana Sya? Mas Tio juga, mau kan? " Ujar Dian bertanya dengan penuh harapan.
" Aku sih ngikut aja. Kalo Sya ikut ya aku ikut." Jawab Tio seraya memakan Ayam goreng tepungnya.
" Lah kok jadi aku Mas? " Tanya Sya dengan bingung.
" Laa iya dong, kalau nanti Dian, Leo, dan aku ikut tapi kamu nggak ikut ya aku nanti jadi nyamuknya mereka berdua. Kalau ada kamu kan setidaknya aku ada temennya. Dan kalo kamu sama Leo nggak ikut, masa aku berdua doang sama Dian, nggak asik ah, nggak seru. Iya nggak Di? "Ujar Radit bertanya kepada Dian.
" Betul Mas, nggak asik kalo kita cuma berdua aja." Jawab Dian.
" Jadi gimana Sya? " Tanya Tio kepada Sya.
" Eehmmm... Gimana ya, kalo besok kayaknya aku nggak bisa deh." Jawab Sya dengan tidak enak.
" Emang kamu besok ada acara apa? " Tanya Tio penasaran.
" Besok tuh Mas Fardan pulang dari Bali, dia bakal ke Jakarta dulu sebelum seninnya pulang ke Jogja. Aku paling seharian bakal sama dia. Jangan besok ya. Weekend depan aja gimana? Kalau itu aku pasti bisa kok." Ujar Sya menjelaskan alasannya.
Ke tiga temannya itu memang sudah tau jika Sya memang memiliki seorang kakak laki-laki yang saat ini bekerja sebagai Arsitek di Bali.
" Oohh ya? Ihh gue pengen ketemu deh sama Mas Fardan. Kenalin sama gue dong." Ujar Dian kepada Sya. Dian terdengar antusias saat Sya bilang jika kakak laki-lakinya itu akan ke Jakarta. Dian sudah pernah melihat Fardan dari foto di galeri Sya. Dan saat itu juga Dian merasa jika dia tertarik dengan paras tampan nan teduh milik laki-laki yang tidak lain adalah kakak teman sekantornya itu.
Tio yang melihat Dian dengan sikap centilnya hanya menggelengkan kepalanya. Sedangkan Leo langsung terdengar mendenguskan nafasnya.
" Mana mau kakak Sya sama cewek bobrok macam lo." Ujar Leo santai.
" Kenapa lo yang sewot? Cemburu lo?. Lagian asal lo tau aja, banyak kok yang suka sama gue. Bahkan nggak hanya karyawan di kantor ini. " Jawab Dian ketus. Selalu saja Leo berhasil membuat emosinya naik ke ubun-ubun.
" Mana ada gue cemburu sama lo. Paling yang suka sama lo juga karena nggak tau gimana bobroknya lo." Leo masih tidak mau mengalah dari Dian.
Baru saja Dian akan membalas pernyataan Leo, mulutnya sudah ditutup oleh Sya dengan telapak tangannya.
" Huusshh... Udah, berantemnya dipending dulu buat nanti di kantor. Jangan disini, malu tuh diliatin orang. Kalian tuh kayak anak kecil aja sih." Ujar Sya menasehati Dian dan Leo.
Tio yang sudah terbiasa dengan perkelahian antara Tom and Jerry nya kantor ini hanya menggelengkan kepalanya seraya terkekeh kecil.
" Mas Tio juga kenapa malah ketawa gitu." Ujar Sya bingung.
" Lucu aja mereka. Setiap hari kerjaannya berantem terus. Nanti kalo kalian tiba-tiba jodoh terus nikah gimana? Masih tetep berantem gini ya." Tio masih menggelengkan kepalanya heran melihat tingkah kedua orang dewasa didepannya itu.
" Gue nggak bakal nikah sama Leo." Ujar Dian sewot setelah mendengar perkataan Tio.
Sya hanya bisa menggelengkan kepalanya yang pusing melihat perdebatan antara Leo dan Dian yang tadi sudah sempat mereda kembali tersulut lagi.
" Mas Tio sih bikin bahan bakar lagi buat mereka." Ujar Sya menyalahkan Tio.
Tio hanya tertawa kecil.
" Udah yuk kita tinggalin aja, kita balik ke kantor. Belum sholat dzuhur juga kan kita." Ujar Tio kepada Sya.
Sya menanggukan kepalanya seraya membereskan barang bawaannya yang hanya satu pouch kemudian berdiri dari duduknya.
" Kalian masih mau berantem? Lanjutin aja terus. Aku sama Sya balik ke kantor duluan." Ujar Tio menyadarkan kedua Tom and Jerry itu.
Leo dan Dian seketika menghentikan perdebatan mereka. Jika mereka masih tetap melanjutkan perdebatan ini, maka bukan hal yang tidak mungkin jika Tio benar-benar meninggalkan mereka. Secara tadi saat berangkat kesini merekalah yang nebeng di mobil Tio.
.
.
.
Di mobil Sya kembali membuka ponselnya. Terlihat ada beberapa pesan dari Radit.
Direktur Galak
*Baik, bulan depan gaji kamu saya naikkan 50%.Tapi jangan sampai karyawan lain tau. Karena kalau mereka sampai tau, kamu sendiri yang tanggung akibatnya.
Kamu belum pulang ke Kantor?
Jangan lama-lama diluar. Dan kalau bisa jangan hanya berdua dengan teman laki-laki kamu.
Ya sudah, saya ada kunjungan anak cabang sehabis makan siang. Kamu nanti pulangnya jangan bawa motor ngebut-ngebut. Bye.. See You*.
Sya merasa geli sendiri membaca pesan dari Radit. Lagian dia hanya bercanda saja tentang meminta kenaikan gaji itu. Kalau pun naik gaji, Sya juga tidak ingin kalo hanya sendirian. Disini kan dia bekerja bersama tim. Kalau gaji naik satu, ya otomatis semua timnya juga ikut naik gaji kan?
Dan apa ini? Jangan keluar hanya berdua dengan teman laki-laki? Kenapa dia merasa jika Radit terlihat seperti laki-laki yang prosesif terhadap pasangannya.
Sya memutuskan untuk membalas satu persatu pesan dari Radit.
Saya hanya bercanda soal meminta kenaikan gaji itu Pak. Tolong jangan dimasukkan ke hati. Saya sadar diri kalo saya baru kerja disini kurang lebih sebulan. Jadi tidak mungkin saya lancang meminta kenaikan gaji.
Baik Pak, saya memang pergi keluar tidak hanya berdua dengan teman laki-laki. Ada banyak laki-laki disini.
Saya memang tidak berani membawa motor terlalu ngebut. Bapak tenang saja.
Setelah membalas pesan dari Radit, Sya kembali menyimpan ponsel itu di pouchnya.
Dan tanpa sepengetahuan Sya. Disebrang sana Radit sedang tersenyum membaca pesan dari Sya. Entah kenapa Radit merasa kalo Sya sedang menuruti kata-katanya. Yang memang secara tidak langsung merupakan perintah darinya untuk Sya.
Walaupun pada kenyataannya Sya hanya berkata tentang apa yang memang di lakukan. Tidak ada niat sedikit pun di hatinya untuk menuruti perkataan Radit selain yang menyangkut perusahaan.
Memang siapa Radit sampai membuat Sya harus menuruti semua perkaannya?