
Sesampainya di Jakarta Sya dan Radit langsung ke rumah Mama Riana. Kenapa? Karena ini permintaan dari beliau. Dan seperti biasa mereka di jemput oleh Pak Agus, supir pribadi keluarga Radit.
" Kamu nggak papa kan langsung ke rumah Mama? " Tanya Radit kepada Sya.
" Ya nggak papa Mas, kok kamu ngomong gitu. Mama Riana kan juga Mama aku juga. " Jawab Sya seraya tersenyum.
Sedangkan Kendra saat ini masih terlelap di pangkuan Sya. Mungkin karena terlalu lelah.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Mama Riana, Radit tidak melepaskan genggaman tangannya dari Sya.
" Kok aku sayang banget ya sama kamu. " Ujar Radit tiba-tiba.
Sya langsung menatap ke arah Radit.
" Mas lagi gombalin aku nih ceritanya? " Tanya Sya seraya terkekeh kecil.
" Kok gombal sih, aku serius sayang. " Jawab Radit tidak terima dengan jawaban yang Sya berikan.
" Iya Mas, aku percaya. Jangan ngambek gitu dong, kamu jadi semakin mirip Kendra. " Ujar Sya tersenyum.
Radit hanya memanyunkan bibirnya persis seperti Kendra saat sedang merajuk.
...~~~...
Sesampainya di rumah orang tua Radit, terlihat Mama Riana sudah ada di depan teras menunggu kedatangan anak, menantu, dan cucunya itu.
" Assalamu'alaikum Ma. " Ujar Sya kepada Mama Riana.
" Wa'alaikumsalam sayang. Kendra bobok ya, ya udah langsung dibawa ke kamar aja biar dia bisa istirahat. " Ujar Mama Riana memegang bahu Sya mengarahkan untuk langsung ke kamar.
" Kamu sehat kan? Mama sama Ayah kamu gimana kabarnya. " Tanya Mama Riana seraya berjalan beriringan dengan menantunya itu.
" Alhamdulillah Mama sama Ayah sehat Ma. Oo iya, ada salam juga dari mereka. " Ujar Sya kepada Mama Riana.
" Alhamdulillah kalo gitu dan wa'alaikumsalam. " Jawab Mama Riana seraya tersenyum
Sedangkan Radit hanya berdiri cengo di depan pintu masuk, sebelum akhirnya mengucapkan sesuatu.
" Ma? Ini anak Mama nggak ditanyain sama sekali? " Tanya Radit kepada Mama Riana.
" Oo iya Mama lupa kalo ada kamu, udah sini masuk. Mama sama Sya mau bawa Kendra ke kamar dulu. " Jawab Mama Riana tanpa rasa bersalah.
Radit hanya menatap Mamanya sebal. Sejak ada Sya perhatian Mamanya itu lebih sering dia berikan kepada menantunya itu, yang berarti istri Radit. Tapi meski begitu Radit menyukainya.
Sesampainya di kamar Radit, Sya meletakkan Kendra agar bisa tidur lebih nyaman. Mama Riana yang melihat itu seketika merasa terharu dengan perhatian Sya kepada cucunya itu.
" Sya, terima kasih ya kamu sudah mau menerima anak Mama sebagai pendamping hidup kamu. Terima kasih juga karena kamu memperlakukan Kendra seperti anak kamu sendiri. Mama nggak tau gimana caranya untuk membalas kebaikan kamu. " Ujar Mama Riana dengan wajah bahagia yang terlihat jelas.
" Mama kenapa ngomong gitu, Sya sayang ko sama Kendra. Bahkan salah satu alasan kenapa Sya mau menikah dengan Mas Radit itu karena Kendra. " Jawab Sya seraya menatap Mama Riana.
" Mama bersyukur bisa mendapatkan menantu sebaik kamu sayang. " Ujar Mama Riana.
" Sya lebih bersyukur karena bisa mempunyai Mama mertua sebaik Mama. Dulu Sya pernah takut kalo Sya bakal punya mertua yang galak. Tapi ternyata Alhamdulillah Sya punya Mama mertua sebaik Mama. " Ujar Sya seraya tersenyum manis.
Sya mengangguk seraya tersenyum mendengar wejangan yang Mama Riana berikan.
" InshaAllah Ma, Sya akan bertahan sekuat mungkin untuk mempertahankan rumah tangga Sya bersama Mas Radit. " Jawab Sya.
" Mungkin awal pernikahan sampai 5 tahun pertama, pernikahan tidak berjalan semulus yang kalian bayangkan. Akan ada berbagai masalah yang datang. Tapi karena itulah kita harus bisa melewati semua, dengan begitu untuk kedepannya kita akan mendapat kemudahan. "
Nasihat yang Mama Riana berikan ini hampir sama dengan nasihat yang Mama Farida berikan kepada Sya tadi sebelum dia dan Radit berangkat ke Jakarta.
" Iya Ma, doakan semoga Sya dan Mas Radit bisa melewati segala ujian dalam rumah tangga kita nanti. "
" Sayang... " Terdengar suara Radit yang memanggil.
" Kok lama banget sih, aku udah laper. " Ujar Radit seraya menyembulkan kepalanya dari balik pintu yang memang tidak tertutup dengan rapat.
" Halah biasanya juga makan sendiri. " Balas Mama Riana.
" Sekarang kan udah punya istri Ma, ya jelas beda dong. Ayo sayang, temenin aku makan. " Ujar Radit dengan tengilnya. Mama Riana hanya memutar matanya seraya beranjak keluar dari kamar putranya itu.
" Iya Mas, ini bentar lagi aku turun. Aku mau cuci muka sama ganti baju dulu. " Jawab Sya.
" Lah kamu mau kemana? " Tanya Radit yang melihat Sya seperti akan keluar dari kamar. Untuk apa coba? sedangkan kamar mandi saja ada di dalam kamar.
" Mau ambil baju aku di koper. " Ujar Sya menjawab.
Sya memang tidak membawa apapun saat pulang, namun selama mereka di Jogja, Radit membelikannya banyak pakaian baru yang sekarang dia bawa ke Jakarta.
" Kenapa harus ambil baju di koper sayang? Buka aja lemari aku, disitu ada beberapa baju perempuan kok. " Ujar Radit kepada Sya.
Sya berpikir mungkin itu baju-baju milik Rida yang sengaja di simpan di lemari kamar Radit. Namun betapa terkejutnya Sya saat mengetahui itu semua adalah baju-baju baru.
" Loh, ini baju baru semua Mas? Punya Mbak Rida? " Tanya Sya kepada Radit.
" Bukan lah sayang, itu baju punya kamu semua. "
" Kok bisa punya aku sih? " Tanya Sya masih tidak paham.
" Ya bisa, kan aku yang beli. " Jawab Radit dengan santai.
Sya menatap ke arah lemari, ada berbagai macam pakaian wanita di lemari itu. Di mulai dari baju tidur, baju santai, sampai dress pun ada. Dan jumlahnya juga tidak sedikit, bahkan lebih banyak dari baju yang saat ini ada di kosannya.
" Mas beli ini semua buat apa? Kan kita juga nggak tinggal disini Mas. " Ujar Sya kepada Radit.
" Ya nggak papa, jadi kalau kita nginep sini kamu nggak usah repot-repot bawa baju ganti lagi. " Radit menjeda ucapannya " Lagian nggak cuma ini kok, di rumah kita juga aku udah beliin lebih banyak dari ini. " Ujar Radit dengan santainya seolah tidak ada beban sama sekali.
" Tapi ini pakaian bermerk semua Mas, pasti mahal kan. " Ujar Sya seraya memperhatikan merk-merk pakaian yang dibelikan oleh Radit.
Sya bukannya norak, tapi dia biasanya sangat jarang membeli barang branded jika tidak benar-benar membutuhkan. Karena menurutnya produk lokal pun banyak yang bagus dan harganya juga tidak terlalu menguras kantong.
" Nggak papa sayang. Uang aku juga kurangnya nggak seberapa kalo cuma buat beliin kamu baju. " Jawab Radit dengan tengilnya.
Sya yang mendengar ucapan Radit hanya bisa mengelus dadanya untuk sabar. Radit yang sombong ternyata sedang memulai aksinya.