
Saat ini Sya dan juga Radit sudah ada di Rumah Sakit, sesampainya disana ternyata Sya sudah pembukaan 5. Tinggal menunggu sebentar lagi baby girl yang mereka nanti akan segera hadir di dunia.
“Minum dulu sayang.” Ujar Radit seraya memberikan air putih kepada Sya. Terlihat dahi Sya berkeringat dan wajahnya sesekali meringis menahan sakit. Radit benar-benar merasa tidak tega melihat Sya yang kesakitan seperti ini.
Sudah ke 3 kali Radit menemani istrinya melahirkan. Saat Audrey melahirkan Kendra dulu, hari kelahiran Kendra memang sudah Radit dan Audrey pilih. Tidak ada kejadian menegangkan juga saat itu, semua berjalan dengan lancar. Saat kelahiran Rendra, seperti yang kita tau kalau Sya mengalami musibah yang menakutkan karena istrinya itu pendarahan dan hampir koma. Dan saat ini, Sya memilih untuk melahirkan secara normal. Dan inilah kali pertama Radit melihat wanita kontraksi menjelang melahirkan.
“Mas, mendingan kamu ganti kaos lengan panjang deh. Takutnya nanti aku cakar-cakar tangan kamu.” Ujar Sya kepada Radit.
“Enggak papa pakai ini aja, setidaknya dengan kamu cakar Mas, Mas bisa merasakan sedikit dari rasa sakit yang kamu rasakan.” Jawab Radit seraya menggenggam telapak tangan Sya.
Sya tersenyum simpul.
“Abang Kendra sama Mas Rendra nggak rewel kan Mas di tinggal sama Mbak Tinah doang? Aku khawatir Mbak Tinah kerepotan ngurus mereka berdua.” Ujar Sya kepada Radit. Ditengah rasa sakit dari kontraksi di perutnya Sya masih memikirkan anak-anak yang mereka tinggal di rumah hanya bersama asisten rumah tangga mereka.
“Enggak, mereka kan anak baik sayang.” Jawab Radit.
Flashback
“Mas, bisa kamu ambil perlengkapan baby yang sudah kita siapkan dan masukkan ke dalam mobil?” Ujar Sya kepada Radit.
“Haa?” Radit benar-benar tidak paham.
“Kayaknya adek sebentar lagi lahir, jadi kita ke rumah sakit sekarang.” Ujar Sya dengan lembut.
Mendengar itu…
“Kamu mau lahiran sekarang?” Tanya Radit dengan begitu terkejut.
Mendengar suara Ayahnya yang berbicara dengan keras, Kendra dan Rendra langsung menolehkan perhatiannya kepada sang Ayah. Terlihat Kendra dan Rendra sedikit ketakutan karena sebelumnya mereka tidak pernah melihat Radit seperti ini. Mbak Tuti yang ada di dapur pun langsung tergopoh-gopoh keluar begitu mendengar Radit mengatkan kalau Sya akan segera melahirkan.
“Tenang Mas, mungkin ini baru pembukaan awal. Sekarang cepet ambil tas keperluan baby di kamar. Aku tunggu disini.” Ujar Sya kepada Radit.
“Mbak Sya mau melahirkan sekarang?” Tanya Mbak Tinah kepada Sya.
Sya tersenyum.
“Kayaknya sih gitu Mbak, soalnya kontraksinya udah mulai sering.” Jawab Sya. Kemudian perhatiannya teralihkan kepada kedua malaikat kecilnya yang saat ini tengah mentap Sya dengan pandangan yang sulit diartikan, terutama Kendra.
“Abang sama Mas sini deketan sama Bunda. Bunda mau ngomong sesuatu.” Ujar Sya memanggil ke 2 anaknya.
Kendra dan Rendra mendekat kearah Sya.
“Dengerin Bunda ya sayang. Ayah sama Bunda mau ke rumah sakit karena sebentar lagi adek kalian bakal lahir. Jadi, selama Bunda dan Ayah masih disana, Abang sama Mas di rumah sama Mbak Tinah dulu ya, besok kalau adeknya udah lahir Abang sama Mas boleh jengukin ke rumah sakit.” Ujar Sya memberikan penjelasan kepada putra-putranya.
Kendra dan Rendra menganggukan kepalanya.
“Tapi Bunda nggak papa kan?” Tanya Kendra kepada Sya.
Sya tersenyum lembut.
“Bunda nggak papa kok. Abang sama Mas doain Bunda dan adek biar bisa kuat ya.” Ujar Sya seraya mengelus kepala kedua putranya.
Tidak lama kemudian Radit turun dengan membawa perlengkapan baby dan Sya. Dengan tergesa Radit membawa tasnya ke mobil yang sudah stand by bersama supir pribadi Radit.
“Titip anak-anak ya Mbak.” Ujar Sya kepada Mbak Tinah. Sedangkan Radit, laki-laki itu seperti kehilangan fokusnya.
“Mas, santai Mas jangan panik gitu aku nggak papa kok.” Ujar Sya menenangkan Radit.
Setelah mobil Sya dan Radit keluar dari rumah, Kendra mendekati Mbak Tinah.
“Mbak Tinah, Bunda bakalan baik-baik aja kan?” Tanya Kendra kepada Mbak Tinah.
“Iya Bang, Bunda dan adek pasti baik-baik aja.”
“Sayang, kamu yakin mau lahiran normal? Caesar lagi aja ya, aku nggak sanggup liat kamu kesakitan begini.” Ujar Radit kepada Sya. Saat ini Sya sudah mengalami pembukaan 8, dan rasa sakitnya tentu saja semakin bertambah.
“Enggak Mas, aku pengen normal aja. Kata dokter Lilis juga nggak papa kan.”Jawab Sya yang masih bisa tersenyum untuk menangkan Radit.
Radit hanya bisa pasrah dengan keputusan Sya. Dia hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk istrinya.
“Baiklah, tapi janji sama kau kalau kamu akan baik-baik saja sayang.” Ujar Radit seraya mengusap lembut rambut Sya yang sudah basah akan keringat.
“Aku janji, kalau aku dan baby akan baik-baik aja.” Jawab Sya.
Ada rasa lega dihati Radit saat mendengar Sya mengatakan itu. Ya, Radit percaya kepada Sya. Istri dan anaknya pasti akan baik-baik saja.
Setelah setengah jam berlalu, akhirnya pembukaan Sya mencapai 10. Dokter Lilis dan 2 perawat lainnya bersiap membawa Sya ke ruang bersalin. Sungguh Radit merasakan perasaan takut yang luar biasa.
Dokter Lilis mulai memberikan intruksi kepada Sya untuk mulai mengejan. Dengan sekuat tenaga Sya mengejan untuk bisa membawa putrinya ke dunia. Sungguh, sebuah rasa sakit yang luar biasa Sya rasakan saat ini. Dan karena rasa sakitnya inilah yang membuat Sya tanpa mengaja melukai lengan Radit meskipun kuku-kukunya sudah dia potong sebelumnya.
“Ayo semangat Bu Maureen, kepala babynya sudah mulai terlihat.” Ujar Dokter Lilis menyemangati Sya.
“Sayang, kamu pasti bisa. Semangat, sebentar lagi princess kita bakal bersama kita.” Ujar Radit sambil sesekali menyeka keringat di dahi Sya.
Entah sudah berapa kali Sya mengejan, pada akhirnya saat sebuah dorongan panjang…
Oweekk…
Oweekk…
“Seperti hasil di USG, selamat babynya perempuan Bu, Pak.” Ujar Dokter Lilis.
Princess yang Sya dan Radit nantikan lahir ke dunia. Sya tersenyum dan menangis bahagia saat mendengar tangisan putrinya. Begitu pula dengan Radit yang menangis bahagia.
“Terima kasih…Terima kasih…Kamu berhasil sayang.” Radit menciumi wajah pucat pasi istrinya.
Tapi tiba-tiba Sya memejamkan matanya.
“Sayang…sayang…Hey Maureen. Jangan bercanda.” Radit begitu terkejut melihat Sya yang memejamkan matanya.
Dokter Lilis yang melihat itu dengan sigap mengecek kondisi Sya.
“Tenang Pak Radit, Ibu Maureen hanya kelelahan. Sebentar lagi juga akan siuman setelah kondisinya mulai pulih.” Ujar Dokter Lilis berusaha untuk menenangkan Radit.
Radit menghela nafas lega kemudian menciumi wajah Sya lagi.
“Permisi Pak Radit, babynya sudah di bersihkan dan siap di adzani. Biar Ibu Sya kami bersihkan dulu.” Ujar seorang suster kepada Radit.
Radit menganggukan kepalanya.
“Sayang, Mas tinggal sebentar untuk adzani princess kita. Kamu cepatlah bangun.” Bisik Radit di telinga Sya, kemudian mengecup bibir pucat itu sebelum dia keluar dari ruangan bersalin.
.
.
.
Maaf ya kalau feel mengenai melahirkan agak kurang. Aku udah nulis sebisanya, maklumi ya karena aku sendiri belum pernah liat orang melahirkan selain dari video waktu pelajaran Biologi, apalagi ngerasaain lahiran😂
Jangan lupa kritik dan sarannya ya, kasih tau aku kalau ada typo😍
Jangan lupa juga baca Laras for Dani dong🤗
Terima Kasih 😘💕