
" Kamu pasti lupa ya sama aku. Aku Jero. kita pernah ketemu ditempat arisan Mamaku dan Tante Riana. " Ujar Jero seraya tersenyum ramah.
" Hehehe... Maaf, tapi aku netep lupa. " Ujar Sya tersenyum dengan tidak enak hati.
Jero mengambil ponselnya, dan memperlihatkan sebuah foto yang memperlihatkan mereka berdua.
" Ini lho, masih nggak inget? "
" Ooo... Iya sekarang aku inget. Kamu lagi ngapain disini? " Tanya Sya seraya tersenyum ramah. Sya ingat kalo foto itu diambil sekitar 2 bulan yang lalu. Tapi Sya tidak ingat jika itu foto saat dirinya menemani Mama Riana arisan.
" Akhirnya kamu inget juga. Eehh btw kamu kesini sama siapa? " Jero sadar jika ada orang lain lagi diantara mereka. Ingin tidak menganggapnya ada tapi Jero dapat merasakan jika orang tersebut melihatnya dengan tatapan yang begitu intens. Hal ini tentu saja membuat Jero merasa sedikit tidak nyaman.
" Ooo ini, kenalin ini Pak Radit, bos aku di kantor. " Ujar Sya seraya tersenyum. Dia tidak menyadari jika wajah Radit saat ini sudah sangat tidak enak dipandang.
Radit yang mendengar perkataan Sya itu seketika melebarkan matanya tanda keberatan.
" Apa tadi katanya, aku bosnya? Ya memang benar aku bosnya di kantor. Tapi bukankah lebih baik dia memperkenalkan aku sebagai kekasihnya, informasi ini seperti jauh lebih baik dari pada informasi jika aku bosnya. " Gerutuan Radit ini tentu saja tidak dia sampaikan secara langsung, hanya dia katakan di dalam hati.
" Perkenalkan, saya Jero Pak. " Ujar Jero seraya mengulurkan tangannya.
" Maaf, tangan saya kotor. Dan jangan panggil saya bapak. Saya bukan bapak kamu. Sepertinya umur kita juga tidak berbeda jauh. " Jawab Radit dengan senyum yang dia paksakan.
" Oo Iya, kalo gitu saya panggil apa? Ngomong-ngomong usia saya 27 tahun. " Jero mencoba untuk akrab dengan Radit.
" Nggak ada yang nanya. " Gumam Radit pelan yang tidak bisa didengar oleh Sya dan Jero.
" Pak Radit ngomong apa si? Kok pertanyaan Jero nggak dijawab? " Tanya Sya kepada Radit. Pasalnya Jero seperti sedang menunggu jawaban dari laki-laki yang sedang duduk di depannya ini.
" Eehh tadi kamu tanya apa? " Tanya Radit sok polos, seolah dia memang tidak mendengar pertanyaan Jero.
" Katanya Jero panggil bapak apa? " Tanya Sya lagi. Jero hanya berdiri kikuk menunggu jawaban dari Radit. Sepertinya Jero sadar jika laki-laki yang merupakan bos Sya ini tidak menyukai keberadaannya.
" Panggil Radit saja. Kita cuma beda 3 tahun kok. " Jawab Radit santai dan kembali melanjutkan makannya.
Jero yang merasa tidak nyaman berbicara dengan Sya karena keberadaan Radit membuatnya memutuskan untuk berpamitan.
" Eehh Sya. Aku udah ditunggu sama temen-temen. Boleh nggak aku minta nomer kamu? Sebagai teman aja. " Ujar Jero kepada Sya.
" Oo.. boleh kok, bentar ya. " Sya mengambil ponselnya yang ada didompet.
" Eekhhemmm. " Radit sengaja berdehem agak keras untuk memberikan kode kepada Sya agar tidak memberikan nomor ponselnya. Tapi sepertinya kode itu tidak ditangkap sama sekali oleh Sya. Karena terlihat Sya masih biasa saja dan terkesan tidak peduli dengan Radit.
" Oke, makasih ya. Btw aku duluan Sya. Duluan juga Pak Radit. " Ujar Jero masih tetap memanggil Radit dengan sebutan Pak. Sya hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya.
Sepeninggalnya Jero dari meja Sya dan Radit, tidak ada lagi percakapan yang terjadi diantara keduanya. Sya memilih untuk melanjutkan makannya karena jam istirahat kantor sebentar lagi akan habis. Sedangkan Radit diam karena mood dia berantakan dengan ketidakpekaan Sya. Bagaimana bisa dia memberikan nomor ponselnya kepada laki-laki lain dihadapan kekasihnya sendiri.
Bukan tanpa alasan Sya memberikan nomor ponselnya kepada Jero. Hanya saja sepertinya Sya lupa jika saat ini dia sudah menjalin hubungan dengan Radit. Atau justru karena Sya yang menganggap jika Radit adalah laki-laki dewasa yang tentu saja tidak akan cemburu dengan hal remeh seperti ini.
Selesai makan Sya beranjak untuk mencuci tangannya. Begitu juga dengan Radit yang izin untuk ke kamar mandiri terlebih dahulu.
Radit masih tidak habis pikir dengan Sya. Tapi Radit juga tidak mau mengakui kalau sebenarnya dia cemburu melihat Sya berinteraksi dengan Jero, dan ini mereka justru saling tukar nomor ponsel.
" Katanya perempuan itu makhluk peka. Lah ini nggak ada peka-pekanya sama sekali. " Gerutu Radit didepan cermin. Untung saja saat ini kondisi toilet sedang sepi.
Setelah menyelesaikan urusannya dikamar mandi, Radit kembali ke tempat dimana Sya berada. Dapat terlihat saat ini Sya sedang mengoleskan lipstik dibibirnya.
"Udah selesai Pak? Yuk balik ke kantor, bentar lagi jam istirahat udah habis kayaknya. " Ujar Sya yang masih tidak sadar dengan perubahan mood Radit. Karena setau Sya, Radit sebenarnya memang orang yang pendiam. Mungkin dia lelah karena sedari tadi sudah terlalu banyak berbicara dan gombal. Jadi Sya tidak ambil pusing dengan diamnya Radit kali ini.
" Nggak papa, kan kamu sedang pergi sama bos kamu. Jadi nggak akan ada yang berani memberikan sangsi kepada kami kecuali saya. " Jawab Radit cuek.
" Kok Pak Radit gitu sih? " Tanya Sya bingung. Radit hanya mengangkat bahunya sebagai jawaban.
" Pak? "
" Pak Radit marah ya? Kenapa? " Tetap tidak ada jawaban. Hal ini tentu saja membuat Sya bingung. Apa salahnya sampai membuat Radit mendiamkannya seperti ini.
" Pak Radit. " Ujar Sya sedikit keras. Namun Radit tetap diam seraya memainkan ponselnya.
Sepertinya ada yang Sya lupakan, tapi apa ya? Sya masih terus berpikir kemungkinan penyebab sampai Radit mendiamkannya.
Setelah berpikir keras, pada akhirnya Sya sadar kalo sedari tadi dia melakukan kesalahan dengan memanggil Radit dengan sebutan Pak, padahal sudah berulang kali Radit mengingatkan jika dia tidak suka dipanggil Pak disaat mereka hanya berdua seperti ini.
" Mas Radit, maaf aku lupa kalo dari tadi aku manggil kamu Pak. Maafin ya, jangan ngambek gitu. Biasanya kalo aku lupa kan kamu selalu ngingetin. Tapi kenapa dari tadi diam aja? " Tanya Sya kepada Radit. Pertanyaan Sya ini seketika berhasil mengalihkan perhatian Radit dari ponselnya. Radit mengangkat kepalanya namun tetap diam hanya memandang kearah Sya tanpa ada suara keluar dari bibirnya.
Sya tentu saja merasa semakin serba salah. Tapi disisi lain juga Sya merasa jika kesalahannya tidak sebesar itu sampai harus membuat Radit mendiamkannya seperti ini.
Padahal penyebab Radit mendiamkannya bukanlah itu, terlalu sepele jika Radit mendiamkan Sya hanya karena masalah panggilan saja.
" Kita balik ke kantor. "
Ujar Radit seraya beranjak dari duduknya dan berjalan kearah kasir untuk membayar makanan mereka tanpa menunggu Sya tersadar dengan ucapan Radit.