
Malam harinya Mama Riana dan Papa Riyan datang ke rumah Radit dan Sya untuk merayakan ulang tahun Kendra dan Radit. Mereka membawa banyak hadiah untuk Radit dan Kendra.
Mama Riana juga membawa 2 kue ulang tahun. Seperti biasa untuk Radit kue cokelat sedangkan untuk Kendra kue strawberry.
"Selamat ulang tahun cucu Oma yang ganteng, sekarang udah besar aja udah punya adek juga. Semoga panjang umur, selalu sehat dan bahagia." Ujar Mama Riana seraya mencium kedua pipi dan dahi Kendra.
"Terima kasih Oma." Jawab Kendra seraya tersenyum manis.
"Selamat ulang tahun ya Abang." Seperti biasa Papa Riyan akan mengatakan secara singkat, namun di akhir beliau tetap memberikan kecupan di puncak kepala Kendra.
Sekarang giliran Radit yang mendapat ucapan dari Mama Riana.
"Selamat ulang tahun anak Mama, nggak terasa kamu sekarang udah dewasa, udah punya istri dan 2 anak. Padahal rasanya baru kemarin Mama gendong kamu." Ujar Mama Riana. "Semoga panjang umur dan sehat selalu. Semoga kamu bisa jadi suami dan Ayah yang baik untuk Sya dan anak-anak kamu." Tambah Mama Riana, tidak lupa di ciumnya dahi Radit.
"Terima kasih Mas." Jawab Radit dengan lembut.
"Selamat ulang tahun Dit." Ujar Papa Riyan seraya menepuk pelan bahu Radit.
"Terima kasih Pa."
Sya yang sedang menggendong baby Rendra seraya melihat momen itu begitu terharu menyaksikan hangatnya keluarga ini. Mendadak Sya menjadi rindu dengan Mama Farida dan Ayah Dodi.
"Abang mau hadiah?" Tanya Mama Riana kepada Kendra.
Mendengar kata hadiah tentu saja Kendra menjadi sangat antusias.
"Mau Oma, Abang mau hadiah." Jawab Kendra dengan semangat.
Mama Riana mengambil beberapa paper bag untuk Kendra dan memberikannya untuk bocah tampan itu.
"Ini buat Abang." Ujar Mama Riana.
"Terima kasih Oma." Jawab Kendra senang.
Kendra langsung membuka hadiah yang Mama Riana berikan. Ternyata sepasang sepatu roda, mobil remot yang selama ini Kendra inginkan dan juga masih banyak lagi.
"Abang suka?" Tanya Mama Riana kepada Kendra.
Kendra menganggukkan kepalanya.
"Suka, Abang suka banget Oma. Terima kasih." Jawab Kendra seraya mencium pipi Mama Riana.
"Buat aku hadiahnya mana Ma?" Ujar Radit menagih kado bagiannya.
Mama Riana dan Sya menggelengkan kepalanya gemas.
"Udah sebesar ini masih juga minta kado?" Tanya Mama Riana kepada Radit.
Mendengar Mama Riana mengatakan itu Radit langsung mencebikkan bibirnya.
"Memangnya orang dewasa tidak boleh meminta hadiah? akan boleh saja." Jawab Radit santai.
Mama Riana mengambilkan paper bag yang di dalamnya terdapat kotak kecil.
"Ini buat kamu." Ujar Mama Riana.
Radit menerimanya dan menatap paper bag di tangannya itu.
"Kok kecil?" Tanya Radit dengan tidak sopan.
Sya yang mendengar Radit mengatakan itu refleks menarik telinga laki-laki itu.
"Harusnya kamu bersyukur Mas, kamu ini nanti malah jadinya ngajarin Kendra buat enggak menghargai pemberian orang." Ujar Sya kesal. Bagaimana bisa Radit mengatakan itu setelah mendapatkan hadiah dari Mamanya sendiri?
"Hahaha... Ayah telinganya di jewel Bunda, pasti Ayah nakal ya." Ujar Kendra seraya tertawa bahagia melihat raut wajah memelas yang Radit tampilkan saat ini.
"Iya, emang kurang aja Radit ini." Mama Riana ikut menarik telinga Radit yang sebelah.
"Iya ampun-ampum, aku kan cuma bercanda. Lepasin dong yank, Ma lepasin dong. Malu di liatin Kendra." Radit memegang telinganya agar Mama Riana dan Sya tidak lagi menariknya.
Mendengar Radit sudah meminta maaf, Mama Riana dan Sya melepaskan tangannya dari telinga Radit.
"Perempuan di keluarga Santoso emang ganas-ganas." Ucap Radit lirih namun masih bisa Sya dengar.
"Apa tadi Mas bilang?" Tanya Sya kepada Radit.
Radit menolehkan kepalanya kearah Sya dan menampilkan senyum manisnya.
"Apa sih sayang, kamu kok hari ini marah-marah terus. Aku enggak ngomong apa-apa. Tadi aku cuma bilang wahh ini pasti kado dari Mama bagus, itu doang kok." Ujar Radit memberikan alasan.
Sya memang sejak tadi kesal kepada Radit, bagaimana tidak, Radit bilang dia hanya akan melakukannya sekali, tapi yang terjadi justru berkali-kali. Sampai-sampai Kendra menangis karena Radit tidak juga membukakan pintu kamar. Sudah Sya bilang kalau Kendra pasti akan mencarinya jika bangun.
"Udah buka dulu hadiahnya. Itu Mama sama Papa patungan buat beli hadiah kamu." Ujar Papa Riyan kepada Radit.
Radit mengerutkan dahinya, tumben sekali untuk beli hadiahnya saja Mama dan Papanya sampai harus patungan.
Radit langsung membuka paper bag yang ada di tangannya. Membuka kotak yang sudah di hafal dari packagingnya. Sebuah jam tangan, dan Radit tau harganya memang tidak main-main.
"Waoww.." Ucap Radit begitu melihat jam tangan yang Mama Riana dan Papa Riyan berikan untuknya.
"Terima kasih Ma, Pa." Ujar Radit kepada orang tuanya.
"Masih mau bilang kecil?" Ujar Mama Riana menyindir Radit.
"Ya kan memang bentuknya kecil." Jawab Radit santai.
Tiba-tiba saja baby Rendra yang ada di gendongan Sya menangis keras mengejutkan semua orang.
"Loh, kenapa nangis dek?" Ujar Sya kepada putra kecilnya itu.
Namun baby Rendra tetap menangis.
"Ini pasti cucu Opa pengen hadiah juga, tenang Opa sama Oma juga beliin buat adek kok." Ujar Papa Riyan seraya mengambil alih baby Rendra dari gendongan Sya.
Papa Riyan menunjukkan sebuah paper bag kepada baby Rendra, dan mendadak baby Rendra langsung terdiam saat melihatnya.
"Hahaha, ternyata bener cucu Oma pengen hadiah juga ya." Ujar Mama Riana seraya mencium pipi baby Rendra.
Setelah berbincang sebentar dan makan malam bersama, Mama Riana dan Papa Riyan berpamitan untuk pulang. Dan mendadak Kendra juga ingin ikut Oma dan Opa nya. Kendra bilang dia kangen dengan Grey, kucingnya yang tinggal bersama Mama Riana dan Papa Riyan.
Begitu Mama Riana dan Papa Riyan pulang, Sya dan Radit langsung ke kamar. Sya menidurkan baby Rendra di keranjang bayinya.
"Bersih-bersih dulu Mas." Ujar Sya mengingatkan Radit.
Tentu saja Radit langsung mengikuti perintah dari Sya. Terlebih dahulu Radit meletakkan hadiah yang Mama Riana dan Papa Riyan berikan di meja.
Sya yang tadi baru melihat jam baru milik Radit sekilas mengambilnya untuk melihatnya lagi. Memang jam yang orang tua Radit berikan ini terlihat mahal dan berkelas. Merek jam ini Radit miliki beberapa.
Iseng-iseng Sya mengambil kuitansi pembayaran yang ternyata masih ada di dalam kotaknya.
"Astaghfirullah..." Seketika Sya menutup mulutnya karena saking terkejutnya.
Tertera sebuah angka dengan 9 digit nol di belakangnya. Bagaimana bisa jam tangan bisa semahal ini. 2 Milyar? Berapa banyak lembaran uangnya?