
Tidak seperti Radit yang pagi ini sibuk karena akan berangkat ke Semarang. Sya justru terbangun dari tidurnya yang nyenyak dengan mood yang bagus, tidak ada suara alarm yang mengganggu tidurnya karena Sya sudah terbangun lebih dulu.
" Nah bangun pagi gini kan enak, bisa buat nasi goreng dulu. Sekali-kali kompor digunain buat masak yang lain. Jangan masak air terus. " Ujar Sya bergumam sendiri.
Tadi setelah sholat shubuh Sya memutuskan untuk membuat nasi goreng karena kebetulan masih ada sisa nasi kemarin yang belum basi dan masih memiliki banyak waktu luang untuk memasak.
" Buat agak banyakan aja kali ya sekalian buat Pak Didin." Sya memang tidak jadi makan nasi setelah kemarin memasaknya karena lebih memilih untuk beli sate dan lontong untuk makan malamnya kemarin malam. Masih ingat kan Pak Didin penjaga kosan Sya?:)
Walaupun sangat jarang memasak, namun rasa masakan Sya tidak bisa diragukan lagi enaknya. Setiap orang yang sudah mencicipi masakan Sya pasti akan berkata enak, termasuk Pak Didin dan Dita yang sering Sya berikan hasil masakannya. Mungkin Sya mewarisi bakat memasak dari Mama Farida, begitu kata Ayahnya. Mama Farida adalah juru masak terhebat dirumah mereka. Tanpa Mama Farida semua akan hilang stamina karena kelaparan.
Setelah hampir setengah jam berkutat dengan masakannya, ternyata jam masih menunjukkan pukul 06.00. Masih terlalu pagi untuk sarapan. Sya memutuskan untuk mandi terlebih dahulu, baru setelahnya sarapan.
10 menit. Ya cukup 10 menit saja Sya mandi. Tidak seperti kebanyakan perempuan yang suka berlama-lama di kamar mandi, Sya justru mandi dengan cepat.
Masih dengan baju rumahan miliknya, Sya mengambil piring untuk diisi nasi goreng dan dia berikan ke Pak Didin.
" Selamat pagi Pak Didin. " Sapa Sya yang melihat Pak Didin didalam posnya ternyata sedang menyeduh kopi digelasnya.
" Selamat pagi juga neng Sya, wahhh... ada nasi goreng nih. Bikinan Mbak Sya kan? Pasti enak. " Pak Didin membalikkan tubuhnya dan langsung melihat Sya yang membawa nasi goreng ditangannya.
" Iya ini buat sarapan Pak Didin. Dimakan ya Pak. " Sya memberikan nasi goreng itu ke Pak Didin.
" Mbak Sya libur kerja hari ini? Kok tumben pagi-pagi begini udah masak." Ujar Pak Didin seraya menerima sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi diatasnya.
" Saya nanti kerja kok Pak, kebetulan aja tadi bangun lebih pagi, jadilah saya masak nasi goreng. Ya udah saya masuk kedalem lagi ya Pak. Oo iya, kurang-kurangin minum kopi kalo belum sarapan Pak, nggak baik buat lambung." Ujar Sya kepada Pak Didin. Sedangkan yang dinasehati hanya membalasnya dengan senyum.
" Terimakasih ya Mbak."
" Sama-sama Pak."
Sya kembali kekamarnya untuk sarapan lebih dulu. Setelah itu baru ganti baju kantor dan sedikit merias wajahnya agar tidak terlihat terlihat pucat.
" Saya berangkat dulu ya Pak. " Ujar Sya kepada Pak Didin seraya membunyikan klakson motornya.
" Hati-hati Mbak." Pak Didin membukakan pintu gerbangnya.
.
.
Setibanya di kantor Sya mendudukan dirinya di kursi kubikelnya. Hari ini teman-temannya belum datang, karena memang masih pagi, masih setengah jam lagi jam kerja dimulai.
Saat sedang asik bermain game cacing di ponselnya, tiba-tiba sebuah notif pesan masuk terpampang diatas layar.
ting...
Direktur Galak
Pagi Maureen. Kamu sudah sarapan?
"Apa begini cara seorang teman menyapa temannya? Kenapa formal sekali." Ujar Sya dalam hati.
" Pagi juga Pak Radit. Iya, saya sudah sarapan." Sya ikut membalas pesan Radit dengan bahasa formal juga.
ting...
Direktur Galak
Kenapa masih pake 'saya', jangan terlalu formal. Bukankah kita sekarang teman?
Sya masih merasa terkejut dengan perubahan Radit yang menurutnya sangat drastis itu.
" Saya ngikut Pak Radit aja deh. Dan ya, sekarang kita memang teman. " Jawab Sya membalas pesan Radit.
ting...
Bisa nggak kamu panggil saya Radit saja jika diluar kantor. Saya merasa tua jika kamu memanggil saya Bapak.
Lah dari awal memang dipanggil Bapak kan? Kenapa sekarang baru protes. Satu lagi, Pak Radit memang sudah tua kan? Ya walaupun Sya akui jika wajah Radit itu terlihat maskulin seperti anak muda. Sya tersenyum sendiri dengan pemikirannya itu.
" Tapi sekarang saya masih ada di area kantor Pak, jadi saya panggil seperti biasa saja." Ujar Sya membalas pesan Radit.
ting...
Direktur Galak
Tapi di chating kita hanya berdua, dimana pun kamu dan saya berada juga tidak akan ada orang yang tau.
Baru saja Sya akan membalas pesan Radit, Tiba-tiba...
Doorrrrr.....
Sya mengusap dadanya karena tekejut dengan kedatangan Dian dan Leo yang tiba-tiba masuk dan mengagetkannya dari belakang.
" Dian ihh... Aku kaget." Ujar Sya dengan wajah lucunya.
"Hahah... Muka lo lucu banget Sya, ya ampun." Dian terkekeh keras melihat ekspresi terkejut Sya.
" Malah ketawa." Batin Sya sedikit jengkel.
" Lo jadi perempuan kalo ketawa jangan keras-keras napa." Ujar Leo menoyor kepala bagian belakang Dian.
" Apaan sih Yo, sakit ih." Dian mengusap kepala bagian belakang yang ditoyor oleh Leo.
" Jangan panggil gue Yo. Nama gue Leo bukan Aryo."
Ujar Leo.
" Terus gue panggil lo jadi Le gitu? Lo kan lebih tua dari gue." Ujar Dian semakin berbicara melantur.
" Lah apa hubungannya sama lo yang lebih muda? Aneh lo." Leo bingung dengan maksud perkataan Dia. Artinya apa? Ujar Leo dalam hati.
Lah ini kenapa jadi Dian sama Leo yang berantem? Ujar Sya bingung sendiri. Kan seharusnya dia yang kesel karena dikagetin.
" Tauk, tanya Mbah Google sana." Dian langsung beranjak ke kursi di kubikelnya.
" Le itu kalau di bahasa Jawa panggilan anak laki-laki dari orang yang lebih tua yang artinya sama dengan nak. Kalau anak perempuan biasanya dipanggilnya Nduk." Ujar Sya menjelaskan kepada Leo.
" Oo gitu. Lucu juga ya ternyata." Ujar Leo tersenyum mendengar penjelasan dari Sya.
" Lucu apanya deh." Ujar Sya bingung.
Tanpa mereka sadari ternyata sedarii tadi ada seseorang yang sedang melihat interaksi mereka. Bisa kalian tebak siapa orangnya? Ya benar, Radit. Setelah perjalanan 1 jam lebih 5 menit di pesawat, Radit mengirimkan pesan kepada Sya. Dan karena tidak ada lagi balasan darinya Radit memutuskan untuk memantau dari kamera CC tv yang sudah terhubung ke ponselnya.
Terlihat jika Sya sedang berbincang dengan teman laki-lakinya yang Radit sendiri tidak tau wajahnya seperti apa karena membelakangi kamera. Sya terlihat sangat akrab dengan orang dilayar ponselnya itu.
Entah mengapa ada perasaan tidak suka yang menyusup di hatinya saat melihat mereka sangat akrab.
.
.
.
*Maaf ya kalo beberapa hari ini waktu upnya tidak teratur. Aku lagi sibuk dengan beberapa hal lain:) Jadi cuma nulis sesempetnya aja.
Terimakasih buat semua dukungan kalian 💞*