
" Dunda, kapan kita pelgi ke pasal malam lagi? Kendla pengen naik bianglala, kemalin kan Kendla nggak jadi naik. " Kendra memanyunkan bibirnya yang membuatnya semakin terlihat menggemaskan.
Ya, saat ini Kendra sedang video call dengan Sya, tentu saja ada Radit juga di belakang bocah kecil itu. Dan sekarang Kendra sedang memprotes karena dia tidak jadi naik bianglala. Padahal seperti yang kita ketahui, bukan Kendra tidak jadi naik, hanya saja belum sampai 5 menit bianglala berputar Kendra sudah tertidur pulas. Mungkin Kendra tidak mengingatnya.
" Seinget Bunda Kendra jadi naik bianglala kok, tapi Kendranya langsung tidur. Kalau nggak percaya coba tanya Ayah. " Jawab Sya dengan gemas. Rasanya ingin sekali Sya meremas pipi Kendra seperti memainkan squishy.
" Benal Ayah? " Tanya Kendra kepada Radit yang hanya di balas deheman olehnya.
" Apa Ayah? Iya atau enggak. Kok Ayah malah jawab hemm sepelti suala sapi." Tanya Kendra tidak paham. Pasalnya Radit seperti sedang sibuk dengan dunianya sendiri bersama laptopnya hingga tidak memperhatikan pembicaraan antara Sya dan Kendra.
Sya yang mendengar jawaban Kendra langsung tertawa terbahak-bahak. Bagaimana mungkin laki-laki tampan dan hot daddyable seperti Radit disamakan dengan sapi. Yang ada sapinya malah minder ngeliat Radit.
" Apa? " Tanya Radit dengan wajah yang terlihat jelas sedang bingung.
" Kendra tanya Mas, bener nggak kalo kemarin dia tuh udah naik bianglala tapi malah ketiduran waktu bianglala baru aja muter. " Ujar Sya menjelaskan kepada Radit. Seketika Radit paham dengan arah pembicaraan mereka. Pasalnya dari selesai makan malam Kendra selalu membahas bianglala.
" Ooo itu. Iya Kendra kemarin udah naik bianglala eeh malah tidur. " Ujar Radit kepada Kendra.
" Tapi Kendla nggak inget. " Jawab Kendra dengan wajah polosnya.
" Ya mana Kendra inget. Kan Kendra aja udah nahan ngantuk banget. "
Mendengar jawaban Radit membuat Kendra tampak terdiam seperti sedang berpikir. Sedangkan disebrang sana Sya sedang menikmati obrolan antara Ayah dan anak ini.
" Tapi tetep aja Kendlanya nggak inget Ayah. Belalti besok kita ke pasal malem lagi bial Kendla inget. " Ujar Kendra berbicara serius kepada Radit.
" Hahaha..... " Sya dan Radit dengan kompak tertawa melihat wajah Kendra yang sangat menggemaskan ini. Wajah seriusnya terlihat sangat imut menurut mereka.
" Kenapa Ayah sama Dunda malah teltawa, Kendla selius lho ini. Malah nih Kendla mau malah." Kendra melipat kedua tangannya seraya menatap kesal kearah Radit. Kendra merasa bahwa saat ini dia sedang serius. Tapi kenapa kedua orang dewasa ini justru menertawakannya saat ini.
" Duhh anak siapa sih ini pengen Bunda bawa pulang rasanya. " Ujar Sya dengan gemas. Saat ini Sya masih tidak bisa menghentikan tawanya. Melihat Kendra marah justru semakin membuatnya terlihat lucu.
" Kok anak Ayah lucu banget sih. " Radit mencium pipi Kendra untuk menggoda bocah itu agar tersenyum kembali.
" Ishhhh... " Kendra mencoba untuk mendorong dada Radit namun tidak membuat sedikitpun tubuh Radit bergeser dari tempatnya.
" Jangan ngambek dong, nanti gantengnya anak Ayah ilang. Sekarang Kendra mau apa? " Ujar Radit mencoba untuk membujuk Kendra.
" Mau ke pasal malam naik bianglala. " Jawab Kendra senang.
" Oke, besok kita ke pasar malam naik bianglala. " Ujar Radit mengalah.
" Holee... Dunda besok kita ke pasal malam lagi naik bianglala. " Ternyata Kendra tidak melupakan jika saat ini dia sedang video call bersama Sya.
" Iya sayang. " Jawab Sya dengan halus.
" Sama Kendra aja panggil sayang. Tapi sama aku nggak pernah tuh. " Ujar Radit tiba-tiba.
" Apaan sih Mas. " Sya mencoba untuk mengode Radit jika saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk membahas hubungan asmara mereka karena adanya Radit di antara mereka.
" Iya sayang Iya. " Ujar Radit memahami maksud dari kode yang Sya berikan.
" Iya sayang Iya. " Baru saja Sya selesai memberitahu Radit, ternyata Kendra sudah mulai menirukan ucapan Ayahnya kepada Sya. Seketika Kendra tertawa cekikikan sendiri melihat raut wajah kaget Sya.
" Mata Bunda emang gitu Bang, kalo lagi marah atau kaget pasti matanya jadi besar karena melotot. " Radit ikut mengejek Sya.
Pada akhirnya Sya juga ikut tertawa saat melihat keduanya tertawa.
" Kendra ini udah malem loh? Belum ngantuk emangnya? " Tanya Sya kepada Kendra.
" Belum Dunda, Kendla belum ngantuk. " Jawab Kendra dengan ceria.
" Dia kalo lagi video call sama kamu walaupun udah ngantuk juga bilangnya enggak. " Ujar Radit menambahkan.
Setelah video call lama, akhirnya Kendra menyerah. Bocah kecil itu sudah tidak bisa menahan kantuknya. Namun sebelum tidur, seperti biasa dia akan meminta susu strawberrynya. Baru setelahnya menggosok gigi dan mencuci kaki. Sebuah kebiasaan yang Radit tanamkan sejak Kendra sudah mulai bisa jalan.
" Udah tidur Kendra nya. " Ujar Radit kepada Sya. Ya sejak tadi Kendra memang melarang Sya untuk mematikan sambungan video call mereka. Seperti sepasang kekasih yang menunggui salah satunya untuk tidur.
" Ya udah, berarti video call nya aku matiin ya Mas. "
" Enak aja, dari tadi aja kamu cuma ngobrol sama Kendra. Sebenarnya yang pacar kamu Kendra atau aku sih. Giliran Kendra aja ditungguin sampe tidur. Akunya baru ngobrol sebentar udah langsung mau dimatiin aja video callnya. " Ujar Radit ngambek.
Sya tertawa melihat raut wajah Radit yang seperti Kendra saat sedang ngambek. Bisa-bisanya dia ngambek dan nggak inget umurnya udah tua. Ngambek karena hal sepele lagi.
" Iihhh, cemburu kok sama anaknya sendiri. Emang nggak ada orang lain lagi yang bisa Mas cemburuin. " Ujar Sya seraya tertawa geli.
" Ada lah. Banyak yang aku cemburuin. Salah satunya si Pajero itu. Dan lagi, siapa itu temen kamu yang duduknya dipojokan? " Ujar Radit sinis.
" Yang dipojokan mana sih Mas, kamu ada-ada aja deh kalo ngomong. " Sya bingung dengan maksud ucapan Radit. Laki-laki yang duduk dipojokan? Siapa?
" Iihh sok-sokan lupa ya kamu. Yang ngasih kamu coklat sama susu itu loh. " Ujar Radit menjelaskan.
" Ooo, itu Mas Tio. Kenapa jadi laki-laki yang duduk dipojokan. " Sya selalu merasa lucu dengan setiap julukan-julukan yang Radit berikan asal kepada teman-temannya.
" Ya kan kubikel dia emang ada dipojokan. " Ujar Radit santai.
" Kamu kenapa cemburu sama Mas Tio? " Tanya Sya kepada Radit.
" Karena aku tau kalo dia suka sama kamu. "
" Darimana Mas tau? Kan Mas nggak pernah ngobrol atau ketemu Mas Tio. " Ujar Sya memancing.
" Tapi kan aku selalu lihat kegiatan kamu di kantor dari CC TV. Dan cara dia memperlakukan kamu itu udah jelas kalo dia suka sama kamu. " Jawab Radit semakin kesal.
" Makanya jangan selalu memantau aku. Panas sendiri kan jadinya. " Ujar Sya mengejek.
" Biarin. "
" Hahaha... jangan ngambek dong. Kan akunya nggak suka sama Mas Tio. " Ujar Sya membujuk Radit.
" Hhmmm. "
" Mas, I Love You. "