
" Wehhh, Sya akhirnya lo berangkat juga. Gue kira setelah nikah sama Pak Direktur dan jadi nyonya Santoso lo bakal resign dari Kantor. " Ucap Dian heboh begitu melihat Sya masuk kedalam ruangan mereka.
" Iya Sya, gue kira setelah nikah lo bakal resign. " Sambung Leo tiba-tiba.
Sedangkan Tio hanya menatap Sya dengan tatapan sendunya, dia sudah mencoba untuk mengikhlaskan karena biar bagaimana pun Sya sudah menikah dan sah menjadi istri laki-laki lain, bahkan istri bosnya sendiri. Ya meskipun sulit, ini memang harus dia lakukan. Walaupun kadang ada sedikit rasa penyesalan di hatinya saat memikirkan apakah mungkin jika dulu dia cepat menyatakan perasaan kepada Sya sekarang mereka akan menjadi sepasang kekasih atau bahkan suami istri. Tapi ahh sudahlah, ini hanya khayalannya saja.
" Enggak dong, aku udah minta sama Pak Radit biar bisa tetep kerja sama kalian di kantor ini. " Jawab Sya bahagia.
" Beneran lo di ijinin buat ngantor? Aahhh gue nggak sabar liat perut lo bakal mlendung karena tekdung akibat perbuatan Pak Direktur super dingin dan cuek itu. Semoga anak lo mukanya aja yang kayak Pak Radit, sifat dinginnya jangan." Ujar Dian mulai menghayal.
Mendengar ini tentu saja membuat perasaan Tio yang belum benar-benar pulih menjadi semakin sakit. Ini semakin memperjelas jika perjuangannya mendapatkan Sya memang benar-benar sudah gugur.
" Hehe, aamiin doain aja. Tapi kalo aku hamil berarti aku harus resign dari kantor. " Ujar Sya menjawab ucapan Dian.
" Kok gitu? Kenapa? " Tanya Leo kepada Sya.
" Heem, kenapa? Kok malah resign sih. Padahal aku udah bayangin itu semua. " Tambah Dian.
Sedangkan Tio masih tetap dengan diamnya, dia hanya menyimak setiap ucapan dari teman-temannya kepada Sya.
" Iya, itu perjanjian yang udah aku sepakati sama Mas Radit. Tadinya sehabis nikah aku disuruh resign dari kantor, tapi ya karena aku nggak mau, jadilah keluar perjanjian ini. " Ujar Sya memberikan penjelasan.
" Tapi kalo lo resign bakal sering kesini kan? " Tanya Dian.
" InshaAllah, tapi ya mestinya sering sih. Jelas aku bakal kangen sama kalian semua. " Jawab Sya seraya tersenyum.
" Eehmm, aku mau tanya. Di kantor pada tau nggak kalo aku nikah sama Pak Radit? " Tanya Sya kepada teman-temannya itu. Pasalnya Sya merasa tidak ada perubahan perlakuan kepada dirinya saat bertemu dengan karyawan lain. Semua masih terasa seperti biasa, Sya menyukainya namun juga sedikit bingung.
" Nggak ada yang tau sih kayaknya. Setau gue yang di undang Pak Radit cuma gue, Leo, Mas Tio, Mbak Lisa terus dua temen kos lo itu. " Jawab Rida.
Sya akhirnya bisa bernafas lega, memang ini yang dia inginkan. Sebenarnya dia tidak bermaksud menutupi pernikahannya dengan Radit, tapi dia juga merasa bersyukur kalo memang benar karyawan lain tidak mengetahui.
Perbincangan mereka selesai tanpa ada sedikitpun suara yang keluar dari mulut Leo. Laki-laki itu benar-benar hanya menyimak percakapan mereka sampai selesai tanpa ada niat bergabung.
Dan ya, sekarang mereka sudah mulai sibuk dengan pekerjaan masing-masing, begitu juga dengan Sya. Selama 2 minggu ini ternyata semua pekerjaannya di handle oleh 3 orang temannya itu. Sya merasa sangat berterima kasih.
Namun belum ada 2 jam mereka mulai bekerja, tiba-tiba saja ada sebuah pengumuman yang mengharuskan mereka berkumpul di aula gedung perusahaan yang biasa mereka gunakan untuk mengumumkan jika ada sesuatu hal yang penting atau kalau ada event perusahaan yang mengharuskan semua karyawan hadir.
" Kok tumben di suruh kumpul begini ya. Emang perusahaan mau ngadain apa. " Ujar Dian bergumam sendiri, namun suaranya yang cukup keras membuat semua orang yang ada di ruangan itu mendengarnya.
" Enggak, aku juga nggak tau. Tadi Pak Radit nggak bilang apa-apa sama aku. " Jawab Sya. Ya memang karena Sya sendiri pun tidak tau mengenai pemanggilan semua karyawan ke ruang aula.
" Ya udah sekarang kita kesana aja. " Ajak Tio, ini adalah kalimat pertama yang baru saja Tio keluarkan hari ini sejak kedatangan Sya.
Namun karena memang Tio pribadi yang tidak banyak bicara jadilah diamnya Tio itu hal yang biasa dan tidak membuat Sya, Dian, dan Leo merasa ada yang berbeda dengan laki-laki itu.
Mereka berempat segera mematikan komputer masing-masing agar bisa segera pergi ke ruang aula. Ternyata sesampainya di sana sudah ada banyak orang yang sampai. Sya dan Dian mengambil posisi duduk di kursi belakang dekat pintu masuk.
Hingga tidak berapa lama kemudian Radit masuk dengan wajah datar dan dinginnya seperti biasa. Laki-laki itu bisa langsung menyadari dimana belahan jiwanya itu berada, dia menatap sekilas kearah Sya dengan tatapan lembutnya. Tentu saja tidak ada yang menyadarinya kecuali Tio yang memang sedari tadi memperhatikan Radit dan Sya sejak kedatangan Direkturnya itu.
" Ekhemm, selamat pagi semuanya. " Ucap Radit begitu dia berdiri di depan microphonenya.
" Selamat pagi Pak." Jawab semua karyawan serentak.
Sya tidak ada bayangan apapun di pikirannya saat ini, dia hanya ingin tau apa yang akan Radit informasikan kepada mereka.
" Sebelumnya maaf karena sudah mengganggu jam kerja kalian, tapi tenang saja, hari ini akan saya berikan upah lembur untuk semua karyawan tanpa terkecuali. " Ujar Radit yang tentu saja membuat semua karyawannya heboh karena merasa senang dengan ucapan yang Radit berikan.
" Sekarang tolong diam. " Ucap Radit datar. " Disini saya hanya ingin memberikan informasi yang saya pikir ini penting untuk kalian ketahui. " Ujar Radit menambahkan.
Semua menjadi hening mendengar ucapan dari Radit.
" Seperti yang kalian tau, saya adalah seorang duda yang mempunyai seorang anak laki-laki. " Ucap Radit kemudian menjeda ucapannya.
Sya yang mendengar ucapan Radit mulai bisa menebak apa yang akan Radit lakukan. Sekarang Sya hanya bisa mengikuti mau suaminya itu, biar bagaimana pun selama itu demi kebaikan mereka bersama Sya tidak mau membantah keputusan Radit.
" Dan sekarang saya akan memberitahukan bahwa saya sudah menikah lagi, dengan seorang wanita cantik dan baik yang saat ini berada diantara kalian. " Ucap Radit. Lagi-lagi dia memotong ucapannya lagi.
Terdengar suara bisik-bisik yang menebak siapakah gerangan yang bisa menaklukkan Direktur mereka yang super dingin itu.
Di belakang Sya bisa merasakan kalau saat ini tangannya berkeringat dingin karena gugup. Sedangkan Dian dan Leo sudah mengulum senyum tidak jelas. Berbeda lagi dengan Tio ya tetap mempertahankan wajah datarnya.
" Wanita dari divisi akutansi 2 yang dulu pernah menolak lamaran saya mentah-mentah. Wanita yang membuat saya merasa jatuh cinta setiap hari dan tergila-gila dengannya. Wanita yang sangat sabar menghadapi tingkah saya yang sangat posesif. Wanita yang mau menyayangi dan mencintai anak saya seperti anaknya sendiri. Wanita yang mau menerima saya apa adanya. Wanita yang mau menerima masa lalu saya. Wanita yang ternyata sudah saya kenal bahkan sejak dia masih bayi. Sayang, saat ini sudah waktunya dunia tau jika kamu adalah pemilik hatiku yang sebenarnya. Kemarilah istriku Maureen Calisya Putri. " Ucap Radit seraya menatap mesra kearah dimana Sya duduk saat ini. Tidak lupa senyum tipisnya terukir di wajah tampannya.
Semua karyawan wanita justru langsung terfokus dengan wajah tampan Radit yang saat ini sedang menyunggingkan senyum langkanya. Mereka seolah lupa jika saat ini Radit sedang memperkenalkan istrinya yang membuat mereka serentak patah hati berjamaah.