Baby... I Love You

Baby... I Love You
Dimana?



Bunda Maureen


Ya sudah kalau Pak Radit tidak mau memberitahu alamat rumah Anda. Lagian tidak penting-penting amat kok buat saya.


Radit yang membaca balasan pesan dari Sya hanya terbengong kaget. Yang ada di pikirannya saat ini adalah " Bagaimana bisa seorang Radit diabaikan oleh wanita. Dan ini baru saja terjadi untuk pertama kalinya dalam hidup Radit. Entah kenapa egonya merasa sedikit tersentil dengan pengabaian dari Sya."


" Kamu pikir kamu itu siapa bisa berbicara seperti itu kepadaku. Dan apa tadi dia bilang? Aku tidak penting? Benar-benar gadis ini." Ujar Radit dalam hati.


Radit memutuskan untuk menelfon Maureen, namun yang terjadi justru Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi.


" Apa-apaan ini, setelah berbicara seperti itu dia mematikan ponselnya dengan seenaknya." Radit melemparkan ponselnya keatas sofa dengan kesal dan duduk dikasur.


Namun baru beberapa saat dia terduduk, Radit kembali ke arah sofa dan mengambil ponselnya. Dalam hati Radit bingung, haruskah dia mengirimkan pesan untuk memberitahukan alamat rumahnya sedangkan tadi saja dia sendiri yang menolak untuk berkirim pesan.


" Arghhhh... Sudahlah, dia sendiri yang bilang kalau ini semua tidak penting. "


Radit kembali melemparkan ponselnya ke arah sofa dan menarik selimut untuk tidur.


.


.


.


Berbeda dengan Radit yang sedang uring-uringan hanya karena panggilan telfonnya tidak diangkat.


Sya saat ini sedang movie marathon film horor yang sejak bulan lalu belum sempat dia tonton di bioskop. Sya sedikit kesal kepada Radit yang menolak memberikan alamat rumahnya. Padahal dia hanya merasa tidak enak jika menolak permintaan Kendra untuk bermain bersama besok. Tapi ya sudahlah, toh yang menggagalkan rencana ini bapaknya Kendra sendiri. Jadi jika nantinya Kendra bertanya kenapa Sya tidak jadi ke rumah mereka, itu semua salah Pak Radit.


Memang apa susahnya jika harus mengirimkan alamat rumah lewat pesan. Kenapa harus ngotot meminta video call, sedangkan saat ini sudah tengah malam. Pada akhirnya Sya memutuskan untuk men non aktifkan ponselnya. Biar saja, sekarang dia hanya ingin menyelesaikan film ini, dan besok berencana untuk bangun siang. Libur 2 hari dalam seminggu memang harus dia manfaatkan dengan sebaik mungkin.


.


.


.


Pagi ini suasana di rumah Mama Riana sepi seperti biasa. Kendra sudah sibuk bermain bersama Grey. Sedangkan Radit belum terlihat keluar dari dalam kamar. Mama Riana sendiri saat ini sedang memasak nasi goreng untuk sarapannya. Walaupun di rumah ini ada lebih dari 5 asisten rumah tangga, namun urusan dapur tetap harus dia yang menghandlenya jika itu untuk keluarga. Kecuali jika memang Mama Riana sedang sibuk.


Tiba-tiba Kendra datang kedapur.


" Oma, Kendla mau maem susu sama seleal." Ujar Kendra dari belakang Omongan.


" Tunggu sebentar ya sayang. Oma nyelesain masak dulu oke. Sekarang Kendra duduk dulu di meja makan, nanti Oma siapin." Jawab Mama Riana.


" Oke Oma, Kendla tunggu sambil nonton Upin Ipin yah." Kendra langsung berlari keruang keluarga untuk menyalakan televisi sambil menunggu Oma nya membuatkan sereal untuknya.


Tidak lama kemudian Mama Riana datang dengan semangkuk sereal yang disiram susu putih dan segelas susu strawberry.


" Ini serealnya, dimaem dulu ayo." Ujar Mama Riana mengalihkan perhatian Kendra dari televisi.


" Sebental Oma." Jawab Kendra.


" No, harus sekarang." Jawab Mama Riana dengan lembut.


Kendra langsung menurut untuk memakan serealnya.


" Bunda Sya nanti jadi main kesini nak? " Tanya Mama Riana kepada Kendra. Dia kemarin malam tidak sengaja mendengar percakapan Kendra saat video call bersama Sya.


Mama Riana terdiam cukup lama.


" Bagaimana kalau kita yang main kerumah Dunda." Ujar Mama Riana.


" Sepelti kemalin? " Tanya Kendra.


" Iya, kita main kerumah Bunda Sya, tapi Kendra jangan bilang-bilang sama Ayah ya." Jawab Mama Riana.


" Oke Oma. Sekalang kelumah Dunda? " Tanya Kendra berteriak dengan antusias.


" Nanti, kalau Kendra udah selesai maem. Habis itu kita siap-siap." Jawab Mama Riana tersenyum.


" Tapi alamat Sya dimana yah, aku sendiri tidak tau nomer ponselnya, gimana mau minta alamat rumah Sya." Ujar Mama Riana dalam hati. " Minta kepada Radit? Sepertinya tidak. Siapa yang tau alamat rumah Sya yah."


Setelah berpikir cukup lama, Mama Riana ingat jika kemarin Sya kehujanan dan ikut mobil Radit berangkat dan juga pulangnya. Itu berarti pasti Andre yang disuruh Radit untuk mengantarkan motor Sya.


Tut... tut... tut...


" Assalamu'alaikum, Halo Ndre." Sapa Mama Riana begitu panggilan teleponnya diangkat oleh Andre.


" Wa'alaikumsalam, selamat pagi buk. Ada apa ya? Tumben ibu pagi-pagi menghubungi saya." Jawab Andre bingung.


" Tidak ada apa-apa Ndre, saya cuma mau minta alamat rumah Sya.".Ujar Mama Riana langsung pada inti pertanyaannya.


" Alamat rumah Mbak Sya? Kalau saya boleh tau, buat apa ya buk? " Tanya Andre pada Mama Riana.


" Saya mau kesana sama Kendra. Tapi kalau bukan Radit yang bertanya sendiri sama kamu, jangan beri tau dia ya. Lagian saya kesana hanya main, tidak ada maksud apa-apa." Jelas Mama Radit.


" Baik Buk. Mbak Sya tinggal dikosan...... " Andre menjelaskan alamat rumah Sya.


" Terimakasih ya Ndre, kalau begitu saya tutup dulu telfonnya. " Ujar Mama Riana.


" Baik Bu, sama-sama."


Mama Riana langsung memutuskan sambungan telfonnya.


" Kendra, ayo kita siap-siap ke tempat Bunda Sya." Ujar Mama Riana.


" Siapp Oma." Kendra langsung beranjak dari duduknya dan memasukkan Grey ke kandangnya.


.


.


.


Pukul 10.30 Radit baru terbangun dari tidurnya. Dia langsung membuka jendela dan pintu balkon kamarnya. Duduk dikursi yang memang sudah ada sejak dulu. Menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya. Menikmatinya aroma nikotin yang terkandung didalamnya. Sebenarnya sudah sejak dulu Radit berniat untuk berhenti merokok, namun masih sulit rasanya. Rokok dan alkohol masih menjadi pelampiasannya disaat dia sedang banyak masalah yang mengganggu pikirannya.


Setelah menghabiskan satu batang rokok, Radit langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Rasa segar terasa saat air dingin mengalir di tubuhnya. Radit menyudahi acara mandinya saat tubuhnya mulai terasa dingin.


Setelah berganti dengan pakaian rumahan yang santai, Radit turun kebawah untuk sarapan sekaligus menemui Kendra yang dia yakin pasti sudah menunggu kedatangan Sya dari pagi. Radit ingat jika dia belum memberikan alamat rumah Mamanya ini kepada Sya. Dicarinya ponsel yang dia lempar ke sofa tadi malam. Ternyata tidak ada satupun notif pesan dari Sya. Dengan kesal dia melempar ponselnya lagi dan turun ke bawah.


Tidak dia temukan keberadaan Kendra dan Mamanya. Grey juga tertidur dengan nyaman dikandangnya.


" Kemana Kendra dan Mama, kenapa tidak ada dimanapun." Gumam Radit pelan.