Baby... I Love You

Baby... I Love You
Ternyata Andre...



" Kamu sebenarnya dari mana Sya? " Tanya Tio tiba-tiba.


" Eemmm... Aku... " Sya bingung harus menjawab apa pertanyaan Tio itu. Mau bilang ada urusan keluarga juga tidak mungkin karena teman-temannya tau kalau keluarga Sya ada di Jogja semua. Dan disini dia sendirian." Eemm.. itu.. aku tadi tuh. Adalah pokoknya, tapi aku nggak bisa cerita. " Jawab Sya pada akhirnya. Tidak ada alibi yang dia temukan di otaknya saat ini. Jadi inilah jawaban yang paling tepat untuk menjawab pertanyaan Tio.


" Oo gitu, ya udah nggak papa kalo kamu nggak mau cerita. Tapi kamu udah makan siang kan? Takutnya nanti kamu sibuk sama kepentingan kamu itu sampai lupa makan siang. " Ujar Tio dengan suara halusnya. Meski penasaran, tapi Tio tidak ingin memaksa Sya untuk bercerita. Biarlah menjadi privasi Sya saja.


" Cieee, Tio perhatian banget deh. " Ujar Dian tersenyum penuh arti.


Ucapan Dian ini tidak mendapat tanggapan berarti dari Sya dan Tio. Tio tetep pada wajah lempengnya menatap kearah Sya dengan pandangan yang sulit diartikan.


" Udah kok Mas. Mas Tio sendiri udah makan, makan pake apa tadi? Eehh tadi kalian semua makan apa? Ada menu baru nggak di cafetaria kantor? " Sya bertanya balik kepada Tio, namun juga langsung mengalihkan pembicaraan kepada Dian. Sungguh pertanyaan tidak jelas memang.


" Aku juga udah kok. " Jawab Tio


" Ada, rujak buah. Enak banget tau Sya. Kapan-kapan lo beli deh. Seger dimakan panas-panas begini. " Sungguh Sya menjadi menyesal menanyakan ini kepada Dian. Sya jadi pengen rujak buah. Setelah tadi makan seafood kayaknya enak deh makan rujak buah.


" Aku pengen. " Ujar Sya dengan wajah mupengnya.


" Muka lo Sya, tolong kondisikan. " Dian tertawa melihat ekspresi wajah Sya yang terlihat lucu itu.


" Nanti aku beliin ya. " Tiba-tiba Tio menyambung pembicaraan Sya dan Dian. Sya pikir Tio sudah fokus lagi dengan pekerjaannya. Nggak taunya sedang mendengarkan pembicaraan mereka.


" Eehh nggak usah Mas, nanti aku beli sendiri aja. Nanti malah ngrepotin Mas Tio. " Jawab Sya dengan tidak enak. Pasalnya di ruangan ini yang paling Sya hormati adalah Tio, biar bagaimana pun Tio lah yang paling senior, aura kewibawaannyaa juga tidak main-main. Tipe laki-laki cool seperti Radit. Eehh kenapa jadi bawa-bawa Radit ya Sya?


Tidak ada jawaban lagi dari Tio. Laki-laki itu hanya mengulum senyumnya dan fokus kepada pekerjaannya lagi. Sedangkan Dian sekarang sedang memainkan alisnya menggoda Sya yang hanya dibalas kerutan dahi olehnya. Bukannya Sya tidak sadar kalo Tio memiliki perasaan kepadanya. Hanya saja, kalian sudah tau jawabannya bukan?


Untung saja saat ini Leo sedang bersama Pak Sean di ruangan beliau. Kalau sampai ada Leo mungkin Sya akan menjadi bahan candaan laki-laki itu untuk menggodanya.


" Yo, kalo beli rujak buah, gue sekalian ya. " Ujar Dian kepada Tio. Sebenarnya Dian berniat untuk menggoda Sya.


" Oke. " Jawaban yang sangat singkat bukan.


Setelahnya mereka kembali fokus dengan pekerjaan masing-masing.


.


.


Di ruangannya, saat ini Radit sedang mengerjakan beberapa berkas. Ada juga Andre dan Lisa yang tengah mendiskusikan bahan rapat untuk besok dengan kolega dari Jepara.


" Pak, perusahaan dari Jepara sudah mengirimkan beberapa contoh design yang mungkin bisa cocok dengan standar pemasaran saat ini. " Ujar Andre kepada Radit.


" Kirim saja contoh design itu ke email saya." Jawab Radit pendek.


" Oo iya Pak, rapat akan dijadwalkan besok pukul 9. Apa bapak ada kepentingan pribadi yang mengharuskan saya mengatur jadwal lain? " Tanya Lisa kepada Radit.


" Tidak ada. Jam 9 saja tidak apa-apa. "


" Hhmmm. "


Sangat berbeda bukan bagaimana sifat Radit saat bersama Sya dan saat bersama yang lainnya. Sifat hangatnya entah menguap kemana. Yang ada hanya sikap dingin dan tegasnya.


" Sudah saya kirimkan ke email Pak. " Ujar Andre kepada Radit.


" Oke. "


Andre kembali fokus dengan pekerjaannya yang lain. Kenapa tidak kembali ke ruangannya? Jawabannya karena Radit menyuruhnya untuk mengerjakan disini agar mempermudah komunikasi mereka.


Saat sedang mengerjakan tugasnya tiba-tiba wajah Sya terlintas di kepala Radit. Seketika itu pula dia menghentikan pekerjaannya.


" Ndre. " Panggil Radit tiba-tiba.


" Kenapa Pak? " Andre menolehkan kepalanya ke arah Radit yang terlihat akan berbicara sesuatu. Dan dapat Andre tebak ini bukan tentang masalah pekerjaan.


" Saya sudah jadian dengan Maureen. " Ujar Radit yang tentu saja membuat Andre terkejut.


" Kok mbak Sya mau sih Pak? " Andre memang sengaja tidak menutupi rasa terkejutnya. Biarlah Radit melihat reaksi terjujurnya.


" Maksud kamu apa? Kamu berharap Maureen menolak saya? " Ujar Radit tidak terima. Bagaimana bisa Andre berbicara seperti itu kepadanya, bukannya memberikan ucapan selamat. Ini malah ucapan penuh rasa heran karena dia diterima oleh Sya.


" Bukan begitu Pak. Saya tidak ada maksud apa-apa. Hanya saja, kalo saya menjadi Mbak Sya, saya tidak akan pernah mau menerima Pak Radit. " Jawab Andre dengan beraninya. Apa dia tidak takut kalau tiba-tiba dipecat oleh Radit? Tentu tidak, Andre percaya jika Radit itu orang yang sangat profesional. Tidak mungkin dia memecatnya hanya karena masalah pribadi yang bahkan sangat sepele. Hanya masalah perbedaan pendapat bukan?


" Dan untung saja kamu bukan Maureen. " Jawab Radit dengan sinis. " Memang apa alasannya sampai kamu berpikir Maureen tidak mau menerima saya?" Ingin tidak mempertanyakan pernyataan Andre, namun Radit merasa sangat penasaran. Andre adalah orang yang penuh logika, jadi Radit sangat ingin mendengar alasan darinya.


" Awal pertemuan kalian saja sudah sangat tidak menyenangkan. Ditambah dengan betapa kurang ajarnya Anda saat meminta Mbak Sya menjadi ibu sambung untuk Kendra. Anda tidak pernah menghargai perasaan Mbak Sya sebagai seorang perempuan. " Jawab Andre dengan tenang.


Ucapan Andre ini memang benar. Tapi tentu saja Radit tidak akan menerimanya mentah-mentah seperti ini.


" Itu kan dulu. Sekarang saya benar-benar mencintai Maureen. Dan lagi, setiap orang mempunyai kesempatan kedua kan? " Ujar Radit dengan bangga.


" Baguslah kalo Pak Radit memang benar-benar mencintai Mbak Sya. " Jawab Andre dengan santai.


" Kamu kenapa sebegitunya sama Maureen. Kamu suka sama dia? Jangan berani-berani ya. Sekarang dia milik saya. " Ujar Radit dengan tegas.


" Dulu hampir suka sama Mbak Sya. Lagian siapa laki-laki yang nggak suka sama cewek secantik dan sebaik Mbak Sya. Kalau tidak keduluan Pak Radit mungkin Mbak Sya akan menjadi milik saya. " Jawab Andre dengan berani.


" Andre.. Kamu tuh ya, bener-bener... "


.


.


.