
Di usia Kendra yang ke 17 tahun, Rendra 13 tahun, dan Sandra 9 tahun. Alhamdulillah Sya dan Radit kembali di anugrah dengan kehamilan anak ke 4 mereka. Tentu saja semua itu di sambut baik ke tiga anak mereka. Terlebih Sandra, dia berharap kalau bayi yang ada di dalam kandungan Sya itu adalah perempuan agar dirinya bisa memiliki teman.
Tapi sayang, karena kondisi kandungan Sya yang lemah di usia janin yang masih 2 bulan Sya dan Radit harus merelakan calon anak mereka. Mungkin Tuhan memang lebih sayang kepada calon anak mereka.
Dan karena keguguran Sya ini membuat Radit menjadi sangat trauma. Bagaimana tidak? Sya kembali mengalami pendarahan seperti saat hamil Rendra dulu. Bahkan ini membuat Sya tidak sadarkan hampir 1 minggu lamanya karena kehilangan banyak darah.
Karena kejadian inilah Radit memutuskan untuk tidak lagi memiliki anak. Radit tidak mau Sya hamil lagi dan membuatnya nyawanya terancam seperti ini. Dan pada akhirnya Radit memilih untuk menjalani vasektomi agar dia benar-benar tidak bisa menghamili Sya lagi.
Keputusan ini juga sudah Radit dan Sya bicarakan. Meski pada awalnya Sya merasa sangat keberatan Radit melakukan itu. Akhirnya setelah dengan bujuk rayu yang panjang di lakukan oleh Radit membuat Sya luluh juga. Radit benar-benar memohon kepada Sya.
Mendengar kabar bahwa Sya keguguran bagaimana reaksi anak-anak mereka? Tentu saja sedih. Hanya saja disini Sandra lah yang paling sedih. Karena bagaimana pun dia sangat ingin memiliki seorang adik. Kendra dan Rendra? Ke dua remaja laki-laki itu lebih tegar mendengar Bunda mereka keguguran.
Tapi meski begitu Sandra, Kendra, dan Rendra tetap bersyukur karena Bunda mereka masih selamat setelah kejadian ini. Meski tetap ingin memiliki adik tapi Sandra tidak pernah mengatakan kepada Sya dan Radit lagi. Karena Sandra tau Ayahnya sudah tidak ingin menambah anak setelah kejadian ini.
Seperti saat ini setelah Sya pulang dari rumah sakit Sandra selalu menempel dengan sang Bunda. Melihat Bundanya terus memejamkan matanya selama 1 minggu membuat Sandra benar-benar takut kehilangan Sya. Di tambah Sya membutuhkan waktu tambahan untuk pemulihan selama 1 minggu juga di rumah sakit.
"Bunda udah baik-baik aja kan? Ada yang sakit nggak? Kalau ada sakit bilang ya sama adek. Nanti adek panggilin Ayah." Ujar Sandra kepada Sya.
Sya tersenyum mendengar betapa perhatian putri bungsunya ini. Tapi bukan berarti Kendra dan Rendra tidak perhatian, ke dua putranya itu sangat-sangat perhatian kepada Sya. Hanya saja cara mereka menunjukkan berbeda dengan Sandra. Karena bagaimana pun keduanya sudah menjadi seorang remaja. Jadi mungkin agak sedikit malu kalau harus menempel seperti yang Sandra lakukan saat ini.
"Enggak dek, Bunda udah sehat kok. Sekarang adek bobok ya." Ujar Sya seraya mengusap-usap rambut panjang Sandra.
Sudah 2 malam ini Sandra selalu tidur bersama Sya. Radit? Ayah dengan 3 anak itu harus mengalah dengan tidur sofa besar yang memang ada di kamar mereka.
Ranjang di kamar Radit dan Sya sebenarnya tidak sempit, hanya saja kalau di pakai tidur dengan 3 orang agak sedikit tidak leluasa untuk bergerak. Dan Radit tidak ingin membuat tidur Sandra dan Sya menjadi tidak nyaman.
Setiap malam sebelum tidur, maka Kendra dan Rendra akan masuk ke kamar orang tua mereka untuk sekedar mencium kening Sya. Karena biasanya Sya akan memasuki kamar anak-anaknya dan menciumi mereka satu persatu. Tapi karena saat ini kondisi Sya sedang tidak memungkinkan, jadi ke dua putranya itu yang datang menghampirinya. Sungguh manis bukan? Ya, Sya dan Radit merasa begitu beruntung karena mempunyai anak-anak yang manis.
Tepat jam 10 Radit masuk ke kamar dan mendapati Sya dan Sandra sudah tertidur. Setelah mencium kening Sandra, kemudian Radit beralih ke sisi ranjang di sebelah Sya. Di ciuminya kening, hidung, pipi, dan bibir Sya. Hal ini membuat tidur Sya sedikit terusik dan dengan perlahan membuka matanya.
"Maaf, Mas ganggu tidur kamu ya?" Tanya Radit dengan lembut.
Dengan pelan Sya menggelengkan kepalanya seraya tersenyum.
"Enggak Mas." Jawab Sya.
"Ya udah tidur lagi ya." Ujar Radit seraya mengusap puncak kepala Sya.
"Mas nggak tidur sini di sebelah aku? Ini masih luas loh." Ujar Sya seraya menepuk sisi ranjang.
"Enggak sayang, nanti kamu sama Sandra kesempitan kalau Mas ikut tidur disini. Udah sekarang tidur ya." Radit terus mengusap puncak kepala Sya agar istrinya itu cepat tertidur.
Radit menatap Sya yang mulai memejamkan mata. Masih terbayang jelas bagaimana lagi-lagi darah mengalir dari paha Sya. karena kondisi janin dan Sya yang sama-sama lemah inilah yang mungkin membuat pendarahan sulit di hentikan saat itu.
Melihat kondisi Sya yang seperti itu membuat Radit benar-benar kalut. Bahkan sampai terucap sumpah bahwa dia tidak akan lagi membuat Sya hamil dan Radit mantap menjalani vasektomi.
Untung saja ada ketiga anak-anaknya yang selalu membuat Radit kuat. Entah apa yang akan terjadi kalau tidak ada anak-anaknya.
Tidak apa-apa kalau dia tidak lagi memiliki anak, yang penting Sya selalu bersamanya.
Setelah puas menatap Sya yang tertidur, barulah Radit beranjak ke sofa yang letaknya berhadapan dengan posisi tidur Sya. Meski pencahayaan temaram, tapi Radit masih bisa dengan jelas melihat wajah Sya.
Hampir sebulan setelah kejadian itu, kondisi Sya sudah kembali sehat seperti semula. Tapi meski begitu sebenarnya Sya adalah orang yang paling sedih. Tentu saja, dia adalah seorang ibu yang kehilangan calon anaknya. Kesedihannya tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
"Bunda, Abang punya hadiah buat Bunda." Kendra yang baru saja pulang sekolah langsung menghampiri Sya yang sedang duduk di ruang keluarga bersama Sandra dan Rendra.
"Mas juga punya hadiah buat Bunda." Tambah Rendra yang kemudian juga berlari ke kamarnya untuk mengambil hadiah yang sudah di belinya.
"Hadiah apa Bang?" Tanya Sya kepada Kendra.
"Rahasia, nanti dulu tunggu adek-adek Bund." Jawab Kendra seraya tersenyum manis.
Tidak lama kemudian Sandra dan Rendra turun bersama membawa sesuatu yang mereka sembunyikan di belakang tubuh mereka.
Kemudian Kendra, Rendra, dan Sandra berdiri di depan Sya yang duduk di sofa.
"Sekarang Bunda tutup matanya." Ujar Kendra kepada Sya.
Sya melakukan perintah putranya itu.
1
2
3
"Tara.... " Ucap Kendra, Rendra, dan Sandra serempak.
Sya membuka matanya. Di depannya ke 3 anaknya itu membawa masing-masing kotak perhiasan. Sandra dengan sebuah cincin, Rendra dengan gelang, dan Kendra membawa sebuah cincin. Semua ini mereka beli dengan hasil uang tabungan mereka.
"Ini buat Bunda?" Tanya Sya dengan mata berkaca-kaca.
"Iya, ini hadiah buat Bunda."
"Terima kasih sayang-sayangnya Bunda." Ujar Sya seraya mencium satu persatu kening anak-anaknya.
Satu persatu dimulai dari Sandra memasangkan cincin di jari Sya, Rendra memasangkan gelang di pergelangan tangan, dan Kendra memasangkan kalungnya.