
Sya dan Fardan sudah sampai di Mall. Tujuan awal yang tadinya adalah untuk mencari makan berubah menjadi belanja terlebih dahulu. Saat ini Sya ada di store komestik untuk membeli beberapa produk skincarenya yang sudah mau habis. Dengan sangat sabar Fardan mengikuti langkah Sya yang sedang mencoba beberapa tester make up dan skincare.
" Adek jadinya beli yang mana? " Tanya Fardan yang melihat Sya seperti sedang bingung mengambil keputusan.
" Yang ini atau ini ya Mas? Adek biasanya pake yang ini. Tapi kayaknya pengen coba yang ini deh." Ujar Sya memperlihatkan barang yang dia inginkan.
" Kalau udah cocok yang itu jangan ganti-ganti dek. Nanti kalau kulit kamu kenapa- napa gimana? " Ujar Fardan memberikan pendapatnya.
" Iya juga ya mas, nanti kalo nggak cocok malah jadi mubazir, ya udah deh adek ambil yang ini aja kayak biasa." Akhirnya Sya mengambil produk yang memang biasa dia pakai.
Satu jam berlalu Sya memilih untuk membeli serum wajah, lipstik, parfum, dan juga masker.
" Udah ini aja? Nggak ada yang kurang? " Tanya Fardan kepada Sya.
" Udah Mas, udah cukup." Jawab Sya.
Mereka berdua berjalan menuju kasir. Setelah meletakkan barang yang akan dibayar, Sya mundur kebelakang mempersilahkan Fardan untuk membayar.
" Totalnya 437 ribu Pak." Ujar petugas kasir itu.
Dibelakang Sya memfoto Fardan dan mengunggahnya di story WhatsApp dengan caption Sayang Mas🤗. Sya tidak sadar jika akibat dari storynya di Bandara membuat seseorang murka, ditambah dia mengunggahnya lagi dengan caption yang juga membuat seseorang yang tidak tau akan menjadi salah paham.
Setelah membayar belanjaan Sya. Fardan dan Sya memutuskan untuk mencari makan terlebih dahulu.
" Makan apa dek? " Tanya Fardan kepada Sya yang ada disampingnya menggandeng tangan dia.
" Ramen ya." Jawab Sya penuh harap.
" Pedes itu, nanti sakit perut. Yang lain ajalah." Ujar Fardan menolak permintaan Sya.
" Ya udahlah terserah Mas aja." Jawab Sya ngambek.
" Makan sushi aja gimana? Adek suka sushi kan? " Fardan tau jika Sya sangat menyukai sushi makanya dia menawarkan menu itu kepadanya.
" Iya, makan sushi aja." Jawab Sya dengan ceria.
Sangat mudah bukan membujuk seorang Sya? Fardan menyukai keceriaan dan kemanjaan adiknya itu. Walaupun kadang dia sendiri heran diusianya yang sudah 23 tahun, Sya masih seperti anak kecil jika bersama dengannya dan orang tua mereka. Namun Fardan tidak keberatan dengan sikap itu, dia merasa senang jika selama ini Sya selalu bergantung padanya, itu berarti Sya membutuhkan dia dihidupnya.
Mungkin juga karena terbiasa dimanja juga olehnya dan orang tua mereka karena Sya anak perempuaa paling kecil. Selain manja, sikapnya juga mandiri, namun kemandiriannya ini sempat diragukan oleh Mama mereka. Dan ya, Sya tetap bisa membuktikan jika dia bisa mandiri dan juga jaga diri, terbukti dengan berhasilnya Sya kuliah jauh dari mereka dengan hasil cumlaude dan harus kos seorang diri. Ini adalah sesuatu yang membuat Fardan bangga kepada adik kecilnya yang sudah tidak kecil ini. Dia selalu percaya jika dibalik sifat manjanya ini, Sya adalah perempuan yang kuat.
Sembari menunggu pesanannya datang, Sya bermain dengan ponselnya. Tadi Mama Riana mengirim pesan bertanya mengenai foto yang dia post saat di Bandara . Padahal sudah jelas Mama Riana bilang kalau mereka mirip, tapi kenapa malah mengira kalau mereka adalah sepasang kekasih. Sya tidak dapat membayangkan jika Fardan adalah kekasihnya.
" Mas, tau nggak? adek kan posting foto kita yang ada di Bandara, Masa Mas dikira pacar adek coba. " Ujar Sya seraya tertawa.
" Siapa yang bilang? Perasaan setiap orang yang liat kita secara langsung selalu bilang kalau kita mirip banget. Dan mereka langsung bisa menebak kalau kita kakak adek." Ujar Fardan heran.
" Bunda? Kok bisa sih? Emang Mamanya ngebolehin dia panggil adek Bunda? " Tanya Fardan heran.
" Kendra itu udah nggak punya Bunda Mas, aku aja awalnya kaget waktu dia panggil adek Bunda." Ujar Sya menceritakan perihal Kendra kepada Kakaknya itu.
" Berarti duda dong bosnya adek? " Tanya Fardan.
" Heem. " Jawab Sya pendek.
" Tapi dia nggak pernah ngapa-ngapain adek kan? " Ujar Fardan khawatir. Dia tidak bisa membayangkan adiknya yang manja itu akan menjalin hubungan dengan seorang duda dan suatu saat menjadi seorang ibu sambung. Bukan tidak boleh, hanya saja... ahh entahlah, Fardan tidak bisa memikirkan lebih jauh lagi.
" Enggaklah, emang mau ngapain dia." Jawab Sya cepat.
" Dia suka sama adek? "
" Enggak sih, biasa aja. Kita kayak karyawan dan atasan aja nggak deket sama sekali. Cuma ya adek deket sama Kendra terus sama Mamanya Pak Radit. Bahkan minta adek buat panggil dia Mama juga." Sya sengaja tidak menceritakan bagaimana Radit pernah membuatnya sakit hati dan juga saat Radit melamarnya hanya untuk menjadikan dia sebagai ibu sambung untuk Kendra.
" Jadi adek panggil Mamanya bos adek Mama terus anaknya Pak bos manggil adek Bunda gitu? " Tanya Fardan.
" Ya gitu Mas. "
Setelah pembahasan itu tidak lama kemudian pesanan mereka datang. Dengan raut wajah yang bahagia Sya langsung menyantap sushi didepannya itu.
.
.
.
" Ayah... tepon Dunda yuk, Kendla kangen tau. Udah lama nggak ketemu Dunda. " Ujar Kendra merengek disamping Radit.
" Nanti saja, Bunda sedang sibuk." Jawab Radit cuek.
Mama Riana yang melihatnya menggelengkan kepalanya geram dengan sikap Radit. Biasanya semarah apapun Radit, dia pasti tidak menunjukkannya didepan Kendra.
Kendra yang mendengar jawaban Ayahnya seperti marah itu langsung terdiam, matanya berkaca-kaca.
" Sini sama Oma, kita telfon Bunda." Ujar Mama Riana kepada Kendra.
" Ma, biarinlah, jangan terlalu membiasakan Kendra bergantung sama orang asing. Maureen juga pasti punya kesibukan sendiri. Radit jadi tidak enak kalau kita jadi terlalu sering mengganggu waktunya hanya karena Kendra. Lagian nanti Kendra jadi terlalu berharap kalo Maureen akan menjadi Bunda seutuhnya buat dia. Padahal itu tidak akan terjadi." Ujar Radit kepada Mamanya. Setelah tadi dia melihat postingan Sya yang kedua, dia semakin yakin jika itu adalah kekasih Sya. Mana mungkin seseorang yang bukan siapa-siapa mau membelanjakan skincare kepada seorang perempuan.
" Memang kenapa? Sya juga tidak pernah keberatan kok setiap Mama atau Kendra telfon. Kamu aja yang pikirannya selalu nethink. Makanya kalo apa-apa tuh dicari dulu kebenarannya. Jangan asal berasumsi. Dan juga kalau kamu patah hati itu jangan malah dilampiasin ke Kendra. Emang Kendra tau apa soal patah hati kamu itu. Patah hati sih boleh, tapi otak mesti harus jalan." Ujar Mama Riana ketus.