
" Kenapa harus pesen hotel sih, kan disini juga masih ada kamar Mbak. Nanti biar Radit tidur di kamarnya Fardan sama Kendra, atau nggak Kendra tidur sama Sya. Toh Fardan nya juga lagi nggak ada di rumah. " Ujar Mama Farida kepada Mama Riana.
Keluarga Radit sedang berniat untuk menginap di hotel saja karena takut merepotkan jika harus bermalam disini. Biar pun mereka sahabat, tetap saja perasaan tidak enak itu ada.
" Aku nggak enak Far, nanti malah ngrepotin kamu. " Ujar Mama Riana memberikan alasan.
" Ngrepotin apaan sih Mbak... Yah nihh Mbak Farida nggak mau nginep sini. Katanya takut ngrepotin kita. " Ujar Mama Farida menggunakan jurus terakhirnya dengan mengadu kepada Ayah Dodi.
" Lo mau nginep di hotel? Kebanyakan duit lo ya? Udahlah nginep sini aja, ngapain buang-buang duit cuma buat tidur doang. " Ujar Ayah Dodi kepada Papa Riyan. Mereka sedang ada diruang tengah. Sedangkan para istri sedang ada di meja makan menikmati waktu kebersamaan mereka.
" Bukan kebanyakan duit, tapi kan gue nggak enak kalo numpang di rumah lo. " Jawab Papa Riyan santai.
" Alah, biasanya aja kita saling numpang di kosan masing-masing. Udahlah nginep sini aja. " Ujar Ayah Dodi.
" Ya udahlah kalo lo maksa, gue bisa apa. " Ujar Papa Riyan seraya tertawa kecil.
Jadi masalah penginapan sudah diputuskan. Keluarga Radit akan menginap di rumah Sya selama mereka ada di Jogja.
Meninggalkan para orang tua yang sedang terlibat berbagai perbincangan. Saat ini Sya dan Kendra sedang ada di halaman belakang, mereka sedang memberi makan ikan peliharaan Ayah Dodi. Sedangkan Radit sedang duduk di gazebo sibuk dengan laptopnya. Ternyata walaupun sudah coba Radit selesaikan pekerjaannya sebelum mereka ke Jogja, ternyata masih ada saja pekerjaan susulan yang harus dia selesaikan.
" Bunda, ini namanya ikan apa? " Tanya Kendra kepada Sya.
" Namanya ikan Mas sayang. " Jawab Sya seraya tersenyum lembut.
" Oo ikan Mas. "
Sya melihat kearah Radit, terlihat laki-laki itu sangat lelah. Sya menjadi kasihan melihatnya, dimanapun Radit terlihat selalu sibuk. Padahal Sya tau jika beberapa hari kemarin Radit selalu begadang demi menyelesaikan pekerjaannya agar bisa bersantai saat libur. Nyatanya itu sulit dilakukan oleh seorang Direktur.
Sya mencoba untuk menghampiri Radit setelah memastikan jika Kendra aman dalam jangkauannya.
" Mas banyak banget ya pekerjaannya? " Tanya Sya kepada Radit.
Radit mendongakkan kepalanya ke arah Sya, kemudian tersenyum sambil menatapnya.
" Enggak, ini udah mau selesai kok. Kamu khawarir ya sama aku? " Tanya balik Radit.
Bisa-bisanya Radit mengggombalinya setelah kejadian sate taichan itu. Ingin sekali Sya berteriak ke Radit kalau yang Radit lakukan itu tidak baik untuk hatinya yang sedang mencoba menata ulang agar tidak terlalu berantakan.
Sya menghembuskan nafasnya secara perlahan untuk mengontrol raut wajahnya agar tidak terlihat marah dan salah tingkah.
" Nggak biasa aja tuh. Oo iya aku mau ke dapur. Mas mau sekalian aku buatin minum? " Tanya Sya mengalihkan pembicaraan mereka.
" Boleh, tolong buatin aku kopi sama kalau ada cemilan ya, aku agak laper soalnya. " Ujar Radit seraya tersenyum.
" Aku nawarinnya minuman, kenapa Mas ngelunjak jadi nambah minta cemilan juga? " Ujar Sya dengan wajah pura-pura sinisnya.
" Ayolah Maureen, kamu tega sama aku? Aku laper. " Ujar Radit menampilkan wajah memohonnya yang membuat Sya tertawa kecil.
" Haha.. Iya iya. Ya udah aku ke dalam dulu. Tolong Kendra diliatin juga, takutnya nanti main terlalu deket kolam ikan. " Ujar Sya kepada Radit. Sya beranjak dari duduknya untuk mengambilkan permintaan Radit.
" Makasih sayang. " Ujar Radit menggoda Sya.
Sya menolehkan wajahnya kearah Radit dan memelototkan matanya kepada laki-laki itu. Raut wajah Sya yang seperti ini justru membuatnya terlihat sangat imut.
" Hahaha... Iya iya. " Ujar Radit tertawa.
Sepeninggalnya Sya ke dapur, Radit tidak jadi fokus ke pekerjaan. Fokusnya sekarang adalah memperhatikan Kendra, sesuai dengan yang di perintahkan oleh Sya.
" Kendra, jangan terlalu ke pinggir kolam nak. " Ujar Radit mengingatkan Kendra.
" Iya Ayah, Kendla cuma pengen liat ikannya aja. " Jawab Kendra kepada Radit.
Setelah hampir sepuluh menit, Sya datang dengan membawa nampan berisi secangkir kopi dan beberapa toples cemilan. Dan ada satu yang langsung menarik perhatian Kendra pada saat dia tidak sengaja melihatnya, yaitu cookies coklat.
Kendra langsung berlari ke arah Sya yang bahkan belum sampai ke gazebo dimana Radit sedang duduk.
" Pelan-pelan jalannya Bang, nanti juga Bunda Maureen kesini . " Ujar Radit mengingatkan.
Seketika Kendra langsung memperlambat langkahnya dengan berjalan biasa. Sya yang melihatnya langsung tersenyum melihat betapa menurutnya Kendra kepada Radit.
" Nah, anak baik. Kita duduk disana aja yuk. Sambil makan cookie. " Ujar Sya kepada Kendra seraya menunjuk ke arah Radit yang sedang memperhatikan mereka.
" Oke Bunda. " Kendra mendahului Sya berjalan lebih dulu.
Setelahnya Kendra duduk di samping Radit. Disusunnya bantal di belakangnya punggung Kendra.
" Makasih Bunda. " Ujar Radit kepada Sya saat gadis itu memberikan secangkir kopi buatannya.
" Apaan sih Mas. " Sya lagi-lagi memelototkan matanya.
Sya tidak menanggapi ucapan Radit. Fokusnya dia alihkan kepada Kendra.
" Ini, Kendra tadi mau cookies kan? " Ujar Sya seraya memberikan satu toples cookies kepada Kendra.
" Heem, terlima kasih Bunda. " Ujar Kendra tersenyum.
" Sama-sama sayang. " Sya mengelus kepala Kendra pelan.
" Giliran aku nggak di digituin. Di jawab juga enggak. " Ujar Radit menggerutu dan masih bisa di dengar oleh Sya.
" Kamu udah besar. " Jawab Sya santai.
" Ayah, boleh pinjem iPad? Kendla mau nonton Coco Melon. " Ujar Kendra dengan tatapan memelasnya.
" Boleh, tapi 1 jam aja ya? " Ujar Radit memberikan penawaran.
" Okey Ayah. Thanks. " Jawab Kendra dengan lucu.
Setelahnya Sya memutuskan untuk bergabung dengan Kendra menonton Coco Melon karena dia pun menyukainya. Sedangkan Radit tentu saja kembali fokus kedalam dunianya yang disibukkan dengan banyak pekerjaan.
Hingga tidak terasa adzan ashar berkumandang.
" Udah dulu yuk nontonnya, Kendra mandi dulu. Udah sore soalnya. " Ujar Sya kepada Kendra.
" Nanti Bunda, 5 menit lagi. " Jawab Kendra tanpa mengalihkan perhatiannya.
" Oke, 5 menit lagi ya. " Ujar Sya.
Sya menoleh ke arah Radit. Ya, masih terlihat sibuk dengan pekerjaannya hingga tidak sadar kalau sekarang sudah waktunya sholat ashar.
" Mas... " Panggil Sya kepada Radit.
Tidak ada jawaban. Benar-benar fokus ternyata.
" Mas Radit... " Panggil Sya agak keras.
" Hhmm... Kenapa? " Ujar Radit dengan pandangan bertanya.
" Udah adzan. Waktunya sholat ashar. Kamu istirahat dulu ngerjainnya. " Ujar Sya kepada Radit.
" Oo udah ashar ya. " Radit menutup laptopnya. Tatapan beralih kepada Kendra.
" Kok nontonnya belum selesai sih, udah lebih dari satu jam loh. " Ujar Radit kepada Kendra.
Kendra hanya tersenyum menampilkan gigi susunya yang rapi itu.
" Ooo jadi kalian disini. Udah ditungguin dari tadi juga, ayo sholat jama'ah. " Ujar Mama Farida dari depan pintu dapur.