Baby... I Love You

Baby... I Love You
Membujuk Kendra



" Ternyata Kendra lucu banget ya dek, Mas jadi gemes sama dia. " Ujar Fardan kepada Sya begitu sambungan mereka sudah ditutup.


" Iya kan, makanya aku dari awal ketemu sama dia tuh langsung sayang coba. Jadi pengen punya adek." Ujar Sya yang malah menghayalkan yang tidak-tidak.


" Ngawur aja kamu kalo bicara, Mama udah tua dek. Sekarang harusnya kita yang kasih cucu sama Mama dan Ayah. " Ujar Fardan tertawa kecil. Sulit rasanya saat membayangkan jika Sya akan memiliki anaknya sendiri dari seorang laki-laki yang sebelumnya tidak dia kenal. Gadis yang sedari kecil dia manja dan dia lindungi dengan sepenuh hatinya pada akhirnya nanti akan tetap menjadi milik laki-laki lain, itu berarti Fardan dan juga Ayahnya mau tidak mau harus siap. Bukan Fardan merasa tidak rela atau bagaimana, hanya saja dia takut jika nantinya adiknya ini disakiti oleh pasangannya. Meski begitu dia selalu berdoa agar Sya mendapat pasangan yang baik nantinya.


" Mas dulu dong yang nikah, Mas kan udah 28 tahun. Udah waktunya Mas membina rumah tangga. Kalau adek kan masih lama, masih muda baru 23 tahun." Jawab Sya sekaligus mengejek Fardan.


" Adek dulu yang nikah Mas nggak papa kok. " Ujar Fardan tersenyum.


" Lahh adek aja belum punya pasangan. " Jawab Sya dengan cemberut.


" Lah itu bapaknya Kendra beneran bukan pacar adek? tapi kok kayaknya kamu udah deket banget sama keluarga mereka. Sampai abang juga disuruh panggil Mama biar sama kayak kamu." Fardan menggoda Sya mengenai hubungannya dengan atasan adiknya itu.


" Iihhh, nggak mau adek sama dia. Dia tuh galak, hobinya marah-marah nggak jelas. Bisa-bisa adek darah tinggi kalo beneran sama Pak Radit. Kalo Kendra jadi anak aku sih nggak papa, tapi kalo harus nikah sama Pak Radit nggak mau pokoknya. " Ujar Sya berkata dengan wajahnya yang cemberut.


" Jangan gitu dek, nggak baik lho ngomong kayak gitu. Ya udah kita ganti topik aja. Ini setelah makan adek mau kemana lagi? " Tanya Fardan dengan lembut.


" Belanja bahan dapur aja terus kita pulang, udah capek nih adek keliling-keliling."


" Belanja bahan dapur? Emang adek masak? " Tanya Fardan heran. Setaunya Sya memang jarak masak.


" Ya beli buah, sereal, susu, sama makanan instan dong. " Jawab Sya wajah polosnya.


" Ya udah ayok. "


.


.


.


Radit sedang membujuk Kendra agar mau berbicara lagi dengannya. Tadi setelah dia menolak permintaan Kendra untuk menelfon Sya pada akhirnya membuat putra kecilnya ini ngambek dan mogok bicara kepada dirinya.


" Bang, jangan marah dong sama Ayah, tadi kan Ayah menolak karena Bunda pasti sedang sibuk." Jika sedang seperti ini Radit akan memanggil Kendra dengan sebutan Kakak, karena sudah beberapa bulan ini putranya ini ingin dipanggil seperti temannya yang baru saja memiliki adik.


" Tapi Dunda tidak sibuk. Oma saja mau tepon Dunda. Kata Oma, Ayah itu belbohong. Belbohong itu tidak baik. Kendra no bicala-bicala lagi sama Ayah. Ayah not good. " Setelah menjawab ucapan Radit, Kendra segera turun dari sofa dan duduk didepan kandang Grey.


" Ya udah Ayah minta maaf deh sama Kendra. Janji Ayah tidak akan berbohong lagi. Sekarang Kendra mau apa dari Ayah? Janji akan Ayah turuti semua permintaan Kendra." Radit mengeluarkan jurus terakhirnya agar Kendra mau memaafkan dirinya. Yang benar saja kalau dia harus dicueki anaknya ini. Dan ini pasti akan berlangsung hingga beberapa hari kedepan. Kendra akan menjadi rewel dan menolak pulang dengannya. Dia akan sangat lengket dengan Oma dan Opanya. Itu berarti dia akan terabaikan dengan sangat lama.


" Abang. " Ucap Kendra dengan tegas.


" Iya Abang. Abang mau minta apa sama Ayah? Biar Ayah belikan." Radit melarat panggilanny karena diprotes oleh Kendra.


Semenit....


Dua menit....


Tiga menit....


Kendra hanya diam saja tidak menjawab pertanyaan Radit.


" Abang... " Panggil Radit sekali lagi.


" Ihh Abang kok gitu sih jahat sama Ayah. Ini Ayah manggil lho. Ingat, tidak baik kalo tidak nurut sama orang tua. Abang mau nanti... " Belum juga Radit menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja Kendra sudah menyela ucapannya.


" Shuuttt... " Ujar Kendra berbalik seraya meletakkan jari telunjuknya kearah bibirnya sendiri yang saat ini sudah maju kedepan. " Silent pliss... Abang sedang belpikil. Ayah jangan ganggu-ganggu dulu. Abang halus konsentlasi." Ucap Kendra dengan wajahnya yang terlihat serius. Namun bagi setiap orang yang melihat wajah Kendra saat ini pasti tidak akan bisa menahan tawanya karena sangat lucu. Begitu pula dengan Radit saat ini.


" Hahaha.... " Radit tertawa dengan keras saat melihat raut wajah Kendra.


Kendra yang melihat Ayahnya justru tertawa ini langsung mencebikkan bibirnya kebawah, matanya sudah memerah akan menangis. Tiba-tiba dia berlari sambil berteriak memanggil Omanya.


" Omaa..... Ayah nakal hikss... hikss... Ayah not good hikss... Kendla tidak mau hikss..." Ujar Kendra seraya menangis.


Eehhh... " Radit menghentikan tawanya bingung saat mendengar suara Kendra yang menangis.


" Radittttt.... " Teriak Mama Riana dari dapur. " Kamu apakan lagi Kendra, kenapa dateng- dateng nangis begini." Ujar Mama Riana yang berjalan kearahnya dengan Kendra yang ada di gendongannya.


" Aku nggak ngapa-ngapain kok Ma. Ini Kendra kenapa nangis sayang? " Tanya Radit kepada Kendra.


" Ayah ngetawain Kendla. Padahal kan Kendla sedang belpikil kelas dengan pelmintaan Kendla." Jawaban lucu Kendra ini hampir membuat Radit dan Mama Riana kelepasan untuk tertawa.


" Oo gitu ya, biar nanti Oma yang jewer telinga Ayah kamu." Ujar Mama Riana berusaha terlihat marah kepada Radit.


Papa Riyan turun dari lantai 2 setelah tadi mendengar tangisan cucu kesayangannya ini.


" Ini cucu Opa kenapa nangis begini, nanti gantengnya ilang deh." Ujar Papa Riyan seraya berjalan ditangga.


" Itu si Radit." Jawab Mama Riana.


" Kamu ini udah jadi bapak kok ya sukanya ngejailin anaknya terus." Ujar Papa Riyan menggelengkan kepalanya.


" Nggak gitu Pa." Jawab Radit mengelak.


" Sini Kendra sama Opa aja, kita mancing dibelakang yuk. Biar Ayah Oma yang marahin." Ujar Papa Riyan seraya meraih Kendra kedalam gendongannya.


Mendengar kata memancing, Kendra langsung merasa bahagia, tangisnya seketika mereda.


Begitu Kendra sudah pergi bersama Opanya itu. Radit menggelengkan kepalanya heran.


" Lah orang Kendra sendiri kenapa wajahnya lucu begitu, kan aku nggak bisa nahan ketawa Ma. " Ujar Radit kepada Mama Riana.


" Udahlah, kamu ini. Mama mau lanjut masak dulu lah. " Ujar Mama Riana berjalan kearah dapur.


Sedangkan Radit kembali duduk disofa, gagal deh rencananya untuk membujuk Kendra supaya tidak marah lagi.


Namun meski begitu, Radit dapat merasakan perasaan lega saat tau ternyata laki-laki difoto itu bukan pacar Sya, melainkan kakaknya yang selama ini kerja di Bali. Untung saja dia belum sempat bertemu dengan Sya. Kalo saja dia bertemu dengan gadis itu dan dia tidak bisa mengontrol emosinya yang ternyata salah tempat, malu dong dia. Mau ditaruh dimana mukanya nanti.


Benar kata Mama Riana tadi, dia pengusaha hebat, lulusan universitas terbaik dengan predikat cumlaude. Bisa mengatasi segala permasalahan dengan kepala dingin, mencari informasi dulu sebelum bertindak. Tapi kenapa setiap permasalahannya dengan Sya dia selalu mengedepankan emosinya, otaknya entah dia simpan dimana. Tidak pernah dia mencari informasi ataupun menanyakannya terlebih dahulu kepada yang bersangkutan.


" Karena Maureen aku jadi merasa seperti orang yang tidak waras." Ujar Radit kepada dirinya.