Baby... I Love You

Baby... I Love You
Berandal



" Kenalin aku Jero." Ujar Jero langsung mengulurkan tangannya kearah Sya.


" Sya." Jawab Sya pendek. Jero tersenyum saat melihat dengan dekat wajah Sya, sangat imut seperti gadis SMA.


" Udah-udah. Kenalannya cukup sampai disini." Ujar Mama Riana tertawa kecil. Dalam hati sebenarnya dia tidak ingin kalau sampai Sya benar-benar bersama Jero nantinya. Entah fikiran darimana padahal Sya dan Jero saja baru berkenalan hari ini. Dia tetap ingin Sya menjadi menantunya, walaupun memang dia tetap tidak bisa memaksakan kehendaknya.


" Kalau foto bareng boleh nggak Tan, sekali ini aja." Ujar Jero membujuk Mama Riana. Dan ya, sekali lagi lengan Jero disikut oleh Mama Ana.


" Kamu ini, udah diberi tahu kalau Sya udah punya calon, masih aja dipepet." Ujar Mama Ana sebal.


Sya yang memang tidak mengerti apa-apa hanya tersenyum saja. Sedangkan Mama Riana sedang berpikir.


" Kalau Sya dan Jero berfoto bersama pasti Radit akan percaya jika dia benar-benar berniat menjodohkan Sya dengan anak temannya." Ujar Mama Riana dalam hati.


" Nggak papa, sini Tante yang fotoin." Ujar Mama Riana tersenyum.


" Tuh boleh kok Ma sama calon mertuanya. Lagian aku nggak bakal ngrebut perempuan yang udah punya calon suami. Kecuali kalau memang perempuannya yang mau." Jawab Jero seraya tertawa.


" Boleh nggak aku foto bareng sama kamu? " Tanya Jero kepada Sya.


" Boleh, kenapa nggak." Jawab Sya seraya tersenyum. Memangnya apa yang salah jika hanya foto bareng. Toh dia tidak punya pasangan. Tidak ada hati yang harus dia jaga.


Jero memposisikan diri untuk berdiri disebelah Sya. Namun sebelum itu...


" Dunda... Kendla ikut foto juga sama Om." Ujar Kendra menarik celana Sya.


" Boleh dong sayang sini Tante gendong." Sya meraih Kendra dalam gendongan lengannya.


Satu... Dua... Tiga... Cekrekkk


" Makasih ya Tante Ri. Nanti kirim aja ke whatsapp Mama aku." Ujar Jero tersenyum.


" Iya nanti Tante kirim." Jawab Mama Riana tersenyum.


Mereka akhirnya berpamitan untuk pulang dengan jemputan masing-masing. Seperti Mama Riana yang memang dijemput oleh Pak Agus.


" Menurut kamu Jero gimana? " Tanya Mama Riana. Saat ini Kendra sudah tertidur di pangkuan Sya.


" Gimana apanya Ma? " Tanya Sya bingung.


" Kamu tertarik nggak sama Jero? "


" Tertarik? Nggak sih biasa aja. Kita aja baru kenal tadi belum tau satu sama lain. Gimana mau tertarik coba. Mungkin kalau hanya untuk sekedar teman tidak apa-apa." Jawab Sya yang mulai paham dengan arah pembicaraan yang dibangun oleh Mama Riana.


" Alhamdulillah, Radit masih ada kesempatan." Ujar Mama Riana senang.


" Maksudnya gimana sih Ma? Sya kok nggak paham ya. Pak Radit ada kesempatan apa? " Tanya Sya bingung.


" Bukan apa-apa. Makasih ya kamu sudah mau nemenin Mama arisan dan juga jagain Kendra. Maaf sudah merepotkan kamu." Ujar Mama Riana tersenyum.


" Sama-sama Ma. Sya juga nggak ngerasa direpotin kok, Sya seneng malah libur kerja bisa jalan-jalan begini. Biasanya cuma ngedekem dikosan aja." Jawab Sya tersenyum juga.


Setelah mengantarkan Sya pulang kekosan. Mama Riana langsung pulang kerumahnya. Saat ini Kendra sudah terbangun dan tadi Sya sempat berpamitan dengannya, sehingga Kendra tidak akan rewel nantinya.


" Ayah... Kendla pulang" Teriak Kendra begitu masuk kedalam rumah.


" Oo Iya, lupa Oma. Asmikum semua." Teriak Kendra sekali lagi.


Radit yang sedang merokok di balkon kamarnya tidak mendengar suara teriakan dari Kendra. Ya, saat ini pikirannya terasa sangat kalut. Hanya karena Sya, Radit menjadi kehilangan kendali atas kontrol dirinya. Ingin rasanya Radit menghampiri Sya saat ini. Tapi jika dia lakukan saat ini, apa yang akan dia berikan sebagai alasan.


" Ayah... Buka pintuna, Kendla sudah pulang. " Teriakan dan gedoran pintu yang dilakukan oleh Kendra mengagetkan Radit dari lamunannya.


" Sebentar Ayah sedang dikamar mandi." Teriak Radit dari dalam. Radit segera membuang putung rokoknya dan menyemprotkan parfum sebanyak mungkin sampai aroma asap rokok tidak lagi tercium. Hal ini selalu terjadi setiap kali dia kepergok Kendra saat sedang merokok.


Ceklek...


" Kendra dari mana nak." Tanya Radit setelah membuka pintu kamarnya.


Kendra berjalan masuk dan membaringkan tubuhnya ke atas ranjang bersprei hitam itu.



" Kendla abis main sama Oma sama Dunda. Kendla tadi main ke mall telus ke tempat teman Oma. Tadi Kendla dan Dunda poto-poto sama Om Jelo." Ujar Kendra bercerita kegiatannya selama dia keluar rumah bersama dengan Oma nya.


Yang tertangkap oleh pendengaran Radit hanya saat Kendra dan Sya berfoto bersama Om Jero.


" Om Jero siapa? " Tanya Radit penasaran.


" Itu lho, Om yang ganteng. Tapi masih ganteng Kendla. " Jawab Kendra.


Mana tau Radit tentang Om Jero itu. Dia saja tidak pernah mempunyai teman atau apapun itu yang bernama Jero.


" Ayah, Kendla antuk. Puk-puk." Ujar Kendra seraya membalikkan tubuhnya tengkurap.


Radit mendekat dan melakukan permintaan putranya itu.


Tidak sampai 15 menit Kendra pun tertidur. Setelah menyelimutinya dan menyalakan AC, Radit turun kebawah. Diruang keluarga terlihat Mamanya sedang tersenyum sendiri menatap ponselnya.


" Baru pulang Ma." Sapa Radit yang Mama Riana tau hanya sekedar basa-basi.


" Iya ini. Ternyata seru ya jalan sama Sya. Lihat cocok nggak Sya sama Jero? " Ujar Mama Riana memperlihatkan foto Sya dan Jero yang tadi dia ambil kepada Radit. " Menurut Mama Jero anaknya baik, dia juga sudah cukup mapan untuk menghidupi anak gadis orang." Ujar Mama Riana.


Radit memperhatikan foto tersebut dengan fokus.


" Tidak cocok. Dia terlihat seperti laki-laki berandal." Jawab Radit cuek.


" Berandal? Bagian mana dari Jero yang kamu sebut berandal? " Ujar Mama Riana heran.


" Feeling saja sebagai sesama laki-laki." Jawab Radit.


" Jadi lebih berandal mana dari kamu yang selama ini suka meminum alkohol dan juga merokok. Kamu pikir Mama tidak tau kalau kamu sering merokok dibalkon kamar. " Pada akhirnya Mama Riana bisa mengeluarkan unek-uneknya yang selama ini sudah terpendam cukup lama.


Radit yang mendengar pernyataan Mama Riana terlihat sangat terkejut.


" Kenapa? Kamu kaget kalau selama ini ternyata Mama tau kamu suka minum alkohol dan merokok? " Ujar Mama Riana kepada Radit.


" Sejak kapan Mama tau? " Tanya Radit berusaha untuk tenang.


" Sejak istri kamu meninggal. Mama tau semuanya. Mama juga tau bagaimana penghianat yang sudah Audrey lakukan kepada kamu. Dia tega berselingkuh dari kamu dan meninggalkan baby Kendra yang saat itu masih membutuhkan asi. Jangan sekali-kali kamu meremehkan feeling seorang Ibu, dari awal Mama tidak pernah menyetujui pernikahan kalian. Dan karena kamu mencintainya, Mama memilih untuk tetap mendukung keputusanmu. Ini juga yang menjadi penyebab selama ini Mama ingin kamu memiliki istri lagi. Mama tidak mau kamu trauma dan menganggap jika semua wanita sama."