Baby... I Love You

Baby... I Love You
Menyatakan perasaan



Setelah dari pagi hingga sore Sya berada dirumah Mama Riana, akhirnya Kendra membolehkan dia untuk pulang. Hampir satu jam lamanya Sya membujuk Kendra, namun penolakan lah yang dia dapatkan. Kendra masih tidak ingin ditinggalkan olehnya. Pada akhirnya Sya mengeluarkan jurus terakhirnya untuk membujuk Kendra.


" Nanti malem kita video call deh, terus besok Kendra ke kantor aja, kita main bareng kalau pekerjaan Dunda udah selesai. Gimana? " Sya harap-harap cemas mendengar jawaban dari Kendra.


" Kendla bisa lihat Dunia ditepon Ayah? " Tanya Kendra tidak yakin. Pasalnya sejak Radit menolak untuk menelfon Sya dia menjadi tidak percaya lagi kepada Ayahnya. Dalam fikirannya Radit pasti akan menolak jika disuruh menghubungi Sya.


Mungkin Kendra tidak tau jika alasan Radit menolak menelfon Sya itu karena sedang patah hati (walau Radit tidak mengakuinya) karena melihat story WA Sya sedang bersama seorang laki-laki muda dan tampan yang ternyata adalah kakaknya Sya, yaitu Fardan. Kalau sampai Kendra tau pasti Radit akan sangat malu. Mau ditaruh dimana wajah penuh wibawanya itu.


Sya diam saja tidak tau harus menjawab apa, dia sendiri tidak yakin berani menelfon Radit terlebih dahulu. Rasanya sangat malas untuk berurusan dengan laki-laki mood swing itu, apa yang dilakukan akan selalu terlihat salah dimata Radit. Dan Sya tidak suka itu.


" Ayah, boleh nanti malam Kendla teponan sama Dunda? " Tanya Kendra kepada Radit yang sedang berpura-pura tidak mendengarkan percakapan Sya dan Kendra. Radit sendiri sebenarnya masih ingin Sya ada disini, sehingga dia tidak mencoba membatu Sya untuk membujuk Kendra. Entah kenapa Radit merasa jika Sya adalah sosok yang dia butuhkan. Dan Radit benci mengakuinya jika dialah yang membutuhkan Sya.


" Hmmm. " Jawab Radit hanya bergumam. Dan Kendra membuat kesimpulan bahwa itu adalah sebuah penolakan dari Radit.


" Tuhh, kata Ayah tidak boyeh. " Jawab Kendra tanpa semangat.


Ini kenapa yang gede jadi ikutan kaya anak kecil begini sih. Sya baru sadar jika Radit terkadang bertingkah lebih kekanakan dibandingkan Kendra. Kemana perginya wajah dingin, suara tegas, tatapan tajam dan kewibawaan yang setiap hari dia tampilkan dihadapan karyawannya?


" Pak... " Ujar Sya kepada Radit.


" Hmm.. Kenapa? " Tanya Radit berpura-pura tidak tahu.


" Boleh ya... " Jawab Sya menampilkan wajah memelasnya.


" Boleh apa? Bicara yang jelas Maureen. Saya tidak tau maksud perkataan kamu jika hanya berbicara sepotong-sepotong seperti itu. " Jawab Radit dengan wajah santainya. Radit kembali melanjutkan permainan gamenya yang tadi sempat tertunda.


" Saya mau pulang dulu. Tapi Kendra nggak ngebolehin. Dia minta syarat agar saya bisa pulang. Dan syaratnya itu Kendra minta nanti malam kita video callan. Boleh ya Kendra video call sama saya pake HP bapak. " Ujar Sya menjelaskan kepada Radit.


" Ooo gitu. Boleh, asal kamu yang telfon terlebih dulu. Saya tidak mau kalau saya yang harus menelfon kamu. " Jawab Radit cuek. Dalam hati dia merasa jual mahal sekali, padahal dia sendiri senang kalau harus menghubungi Sya.


" Iya, nanti saya yang telfon terlebih dahulu. " Jawab Sya pasrah.


Pada akhirnya setelah berpamitan kepada Papa Riyan dan Mama Riana, Sya langsung diantar pulang oleh Radit. Namun mines dengan Kendra karena bocah kecil itu harus mandi sore terlebih dahulu.


Didalam mobil, Sya dan Radit tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Hanya ada suara musik dari Radio yang sengaja Radit nyalakan. Dan tepat sekali lagu yang berputar adalah lagu milik Y**ovie&Nuno* yang berjudul Janji Suci*.


Seketika suasana menjadi lebih hening.


" Maureen, apa yang kamu pikirkan tentang saya? " Tanya Radit tiba-tiba.


" Maksud Pak Radit? " Sya justru bertanya balik karena memang tidak tau maksud pertanyaan yang Radit berikan.


" Ehhmm.. Menurut saya Pak Radit orangnya tegas cenderung ke galak. Tapi kalau lagi sama Kendra tuh jadi kebapakan banget, atau bahkan malah jadi kenakan mirip Kendra. "Jawab Sya polos.


" Kekanakan? Kapan saya seperti itu? " Tanya Radit tersinggung.


" Dan adalah lagi, Pak Radit itu galak, udah gitu mood swing.an banget kayak cewek lagi pms. Dan bapak masih tanya kapan kekanakan? Tadi Pak tadi. Harusnya waktu saya sedang membujuk Kendra untuk meminta izin pulang tuh Pak Radit bantuin saya. Jangan malah main game terus. " Ujar Sya dengan kesal.


" Emang kalau begitu itu berarti saya kekanakan ya? " Pertanyaan Radit ini justru membuat Sya semakin kesal mengingat bagaimana tadi dia membujuk Kendra tapi Radit sendiri justru bodo amat.


" Maureen... " Panggil Radit lagi.


" Apa lagi si Pak. " Jawab Sya jutek.


" Jangan marah dong, saya tidak bermaksud untuk tidak membantu kamu. Tapi saya sendiri juga masih pengen kamu ada dirumah. Pada intinya saya ingin menjalin hubungan sama kamu. Setelah kita berteman seperti ini. Bisa kan kita naik ke tahap selanjutnya? " Tanya Radit kepada Sya. Tentu saja ini membuat Sya terkejut. Dia tidak menduga jika pertanyaan seperti ini yang akan keluar dari bibir Radit.


" Maksud Pak Radit kita pacaran? "


Untung saja kali ini Radit tidak usah menjelaskan terlalu banyak lagi kepada Sya karena ternyata gadis itu sudah memahami maksud perkataannya.


" Iya, saya pernah melakukan kesalahan dengan melamar kamu secara tiba-tiba dengan alasan yang membuat kamu merasa direndahkan. Untuk itu saya minta maaf. Dan mulai sekarang saya juga ingin kamu berikan kesempatan untuk memulai hubungan dengan benar, memulai hubungan agar ada cinta yang tumbuh diantara kita. Hubungan yang tidak hanya untuk membuat Kendra bahagia, namun juga membuat bahagia kamu dan saya. " Tatapan Radit yang begitu dalam ini membuat jantung Sya seketika berdetak lebih cepat. Sampai Sya tidak menyadari jika saat ini mobil sudah Radit hentikan dipinggir jalan raya yang tidak terlalu ramai.


" Tapi Pak.. Saya kan karyawan Pak Radit. Dan saya juga masih anak baru disini. Lalu apa yang akan dipikirkan orang-orang nantinya jika tau kalau Bapak menjalin hubungan dengan karyawan yang bahkan stastusnya hanya sebagai staf biasa. " Sya menundukan kepalanya seraya meremas jari-jarinya karena gugup.


" Dengarkan saya Maureen. " Radit memegang kedua bahu Sya seraya menyampirkan rambutnya kebelakang telinga Sya. Diangkatnya wajah Sya yang terus menunduk itu. " Lihat saya. " Sya memberanikan diri untuk menatap Radit. " Saya tidak peduli dengan omongan orang lain. Yang saya pedulikan saat ini adalah perasaan kamu dan Kendra. Saya tidak ingin menyakiti kamu lagi. Kamu tahu sendiri saya pernah gagal membina rumah tangga. Dan saya tidak ingin menjadikan ini sebagai trauma. Untuk itu saya ingin memulai bersama kamu secara perlahan sesuai dengan tahapan-tahapan yang benar. Kamu mau kan? Belajar bersama saya dan juga mengajari saya tentang arti cinta lagi. " Radit menatap Sya dengan perasaan yang tidak pasti. Ada rasa bahagia dan lega karena dia bisa meruntuhkan gengsinya untuk mengakui perasannya kepada Sya.


.


.


.


Buat yang tanya mengenai cast para tokoh, ehhmm gimana ya. Sebenarnya aku ingin membebaskan kalian dapat berimajinasi sendiri agar nantinya sesuai dengan apa yang kalian bayangkan. 😊


Tapi kalo kalian mau aku buatin castnya, bisa kok inshaAllah nanti aku cariin. 😇


Dan btw, aku ada upload cerita baru lagi judulnya Mutiara Samudera. Boleh dong kalian mampir kesana buat kasih kritik dan sarannya 💕💕 Baca dulu di sinopsisnya siapa tau kalian tertarik untuk mengikuti kisah selanjutnya. 🤗


Terimakasih buat dukungan kalian semua, tanpa kalian aku nggak akan punya motivasi untuk terus nulis seperti ini.😘💓


Terimakasih