
Setelah tangisan Sya reda dan juga mulai tenang, Radit kembali menjalankan mobilnya. Radit tidak tau kenapa Sya bisa sampai berpikir kalau dirinya memiliki selingkuhan. Padahal memikirkan wanita lain atau bahkan memiliki niatan untuk selingkuh saja Radit tidak pernah. Kehadiran Sya di hidupnya adalah suatu hal yang luar biasa, dan Radit tidak ingin menukarnya dengan yang lainnya.
" Kalau kamu capek tidur dulu aja sayang." Ujar Radit kepada Sya.
Sya hanya menganggukan kepalanya tapi tidak juga memejakan matanya untuk tidur, dia masih merasa sangat bersalah karena sudah menuduh Radit selingkuh. Hormon kehamilannya benar-benar mengejutkan.
"Udah jangan dipikirkan, aku nggak marah sama kamu sayang. Aku tau kalau mood kamu lagi enggak bagus karena kelelahan sehabis naik pesawat." Ujar Radit menenangkan Sya. Radit sadar kalau istrinya itu sedang merasa sangat bersalah kepadanya.
"Mas beneran enggak marah?" Tanya Sya masih tidak percaya dengan ucaapan Radit.
"Iya sayang, aku enggak marah kok." Jawab Radit seraya menampilkan senyum lembutnya. Dam akhirnya Sya percaya, perlahan wajah Sya kembali santai seperti semula. Perubahan yang sangat drastis bukan?
Melihat Sya yang sudah kembali seperti semula Radit merasa lega.
Tidak sampai 10 menit kemudian Radit dan Sya sudah sampai di rumah mereka. Radit lebih dulu membukakan pintu untuk Sya dan membantunya untk keluar dari mobil sebelum dia membawa Kendra yang tertidur nyenyak ke dalam gendongannya.
Begitu pintu rumah terbuka dan masuk kedalam rumah, Sya terkejut bukan main melihat bungkusan paket-paket yang masih belum dibuka memenuhi ruang keluarga. Seingat Sya dia tidak melakukan belanja online lagi sejak tragedi uang 16 juta yang melayang begitu saja, Sya masih trauma untuk membuka aplikasi belanja online tersebut.
Sya menatap Radit yang sekarang sedang tersenyum kearahnya.
"Mas...." Ujar Sya menatap Radit seolah meminta penjelasan dari laki-laki tersebut.
"Sebentar ya, aku nidurin Kendra ke kamarnya dulu. Janji habis itu aku akan jelasin semuanya." Jawab Radit seraya membawa Kendra naik ke lantai 2 dimana kamarnya berada.
Sya memilih untuk mendudukan dirinya di sofa yang masih memiliki space kosong, Menatap hamparan paket yang memiliki berbagai ukuran. Sebenarnya ini semua isinya apa, Sya sudah sangat penasaran. Tapi meski begitu dia tetap harus menunggu Radit kembali terlebih dahulu.
Beberapa saat kemudian Radit turun kebawah. Senyum masih mengembang di bibirnya.
"Jadi sekarang jelasin, ini sebenarnya paket-paket isi apa Mas?" Tanya Sya kepada Radit. Sya tidak bisa menebak apa isinya karena semua berlapis buble wrap berwarna hitam.
"Buka aja dulu, nanti kamu juga akan tau isinya sayang." Ujar Radit kepada Sya.Laki-laki itu tampaknya tidak ingin memberitau Sya sedikitpun.
Radit bahkan sudah mempersiapkan gunting untuk membantu Sya agar lebih mudah saat membuka paket-paket tersebut.
Sya meraih gunting dari tangan Radit dan mengambil bungkusan paket yang terkecil. Dengan hati-hati Sya membuka bungkusannya. Ternyata beberapa pasang kaos kaki dan kaos tangan bayi dalam berbagai warna dan motif. Sya mengerutkan dahinya seraya menatap Radit yang masih tersenyum.
"Ini maksudnya apa Mas?" Tanya Sya masih tidak paham dengan paket-paket ini.
Meskipun masih belum paham, tapi Sya menerima bungkusan paket lain yang Radit berikan kepadanya.
Dan kali ini bungkusan yang Sya buka adalah beberapa pasang kemeja dan celana bayi. Saat melihat salah satu motifnya, Sya tersadar akan sesuatu. Bukankah ini adalah barang-barang yang Sya simpan di keranjang aplikasi belanja onlinenya? JIka iya Sya tidak akan percaya ini. Tapi Sya harus tetap menanyakannya agar mendaptkan kepastian jawaban yang jelas.
"Kamu checkoutin barang-barang yang ada dikeranjang aplikasi belanja online aku Mas?" Tanya Sya kepada Radit.
Dan tanpa di duga Radit menganggukan kepalanya. Dia memang sempat melihat ponsel Sya setelah istrinya itu membelikan beberapa kemeja dan baju lainnya untuknya dan juga Kendra. Karena pilihan Sya bagus-bagus, maka Radit menjadi penasaran untuk membelinya lagi. Terlebih saat dia melihat keranjang milik Sya isinya pakaian bayi dan beberapa perlengkapan bayi yang lucu-lucu. Langsung saja Radit langsung mengcheckoutnya semua. Apalagi kandungan Sya sudah 7 bulan, jadi sudah boleh kan membeli perlengkapan bayi?
Sya buru-buru mengambil ponselnya, dan benar saja semua yang ada di dalam keranjang apliksi belanja onlinenya sudah kosong. Padahal seingat Sya dia mengeranjangi lebih dari 30 item barang dan harganya juga lumayan. Tapi tunggu sebentar, Sya bahkan mengeranjangi sebuah stroler bayi berwarna hitam dan itu harganya cukup mahal sekitar 8 jutaan, lalu apa Radit benat-benar membelinya?
"Kamu beli semua yang ada di keranjang aku Mas?" Tanya Sya kepada Radit.
"Iya sayamg, kenapa emang?" Jawab dan tanya Radit dengan wajah polosnya.
" Terus ini semua totalnya berapa?" Tanya Sya kepada Radit. Sya sedikit was-was saat mendengar jawaban yang akan keluar dari mulut Radit itu.
Radit tediam beberapa saat untuk mengingat kembali berapa uang yang dia habiskan untuk membeli perlengkapan baby yang sebentar lagi akan lahir ini.
"Berapa ya, kayaknya cuma 90 jutaan deh, enggak sampai 100 juta kok yank." Jawab Radit tanpa beban sedikitpun. Sya yang mendengarnya langsung terkejut bukan main. Uang 90 juta hanya untuk membeli perlengkapan bayi yang belum tentu akan dipakai sampai 1 taun itu? Sya benar-benar tidak percaya ini.
"Sampai 90 juta Mas? Emangnya kamu beli apa aja sih?" Tanya Sya masih syok.
"Ya aku cuma beli yang ada di keranjang kamu, tapi aku beli semua warnanya. Kecuali yang stroler, soalnya kalau stroler banyak-banyak baut apa juga ya kan. Jadi ya aku beli yang bermanfaat aja." Ujar Radit menjelaskan.
Sya menggelengkan kepalanya frustasi. Benar-benar Radit ini, dia memakai uang 16 juta untuk belanja yang kemarin saja sudah membuatnya trauma untuk membuka aplikasi ini, sedanngkan Radi dengan entengnya menghabiskan uang hampir 100 juta untuk belanja seperti ini. Pantas saja saat Sya membuka bungkusan kaos kaki dan setelan hampir semua warna dan motif ada disana, benar-benar pemborosan. Tadi apa katanya? Hanya beli yang bermanfaat saja dia bilang.
"Ini kalau kita belanja di pasar udah dapet sampe toko-tokonya Mas." Ujar Sya menyindir Radit.
"Mana ada 90 juta dapet toko, toko apaan itu." Ujar Radit tidak percaya.
Sya menghela nafas berat. Sulit kalau membahas hemat-menghemat dengan orang kaya, hematnya mereka adalah borosnya kita.
"Kenapa sih yank?Masih ada yang kurang yah? Tanya Radit kepada Sya.