
" Ayah, besok kita main ke tempat Dunda ya. " Ujar Kendra kepada Radit. Saat ini Kendra sudah bersiap untuk tidur. Dia sudah merebahkan kepalanya didada sangat Ayah seraya menyedot susu strawberry favoritnya.
" Besok kan Ayah masih harus kerja." Ujar Radit memberi alasan. Radit sedang berusaha untuk menidurkan Kendra secepatnya. Satu minggu kemarin sebenarnya pekerjaan Radit tidak terlalu banyak, tidak membuatnya terlalu sibuk seperti biasa. Namun entah mengapa Radit merasa sangat lelah ditubuh dan pikirannya.
" Kendla ikut ke kantol." Jawab Kendra kekeh dengan keinginannya.
" Emang Kendra besok nggak mau main ke rumah Oma sama Opa? Mumpung Opa masih dirumah. Nanti kalo tiba-tiba Opa keluar kota lagi gimana coba?" Ujar Radit berusaha mengalihkan perhatian Kendra agar jangan dulu bertemu dengan Sya. Biarlah mereka berjalan masing-masing seperti dulu sebelum ada masalah ini. Radit tidak ingin Kendra berharap kepada sesuatu yang tidak pasti. Sesuatu yang saat ini masih sulit untuk Radit penuhi, menjadikan Sya sebagai Bunda untuk Kendra.
Kendra yang mendengar ucapan Ayahnya terlihat diam seperti sedang menimbang sesuatu.
" Oke... Kita tepon Dunda saja sekalang. Kasih tau Dunda kalo Opa sudah puyang dali Bali. Opa bawa oleh-oleh banyak, Kendla suka. Nanti Kendla bagi buat Dunda. " Ujar Kendra dengan semangat 45, bocah laki-laki itu langsung bangun dari posisi rebahan nya dan terduduk disamping Radit.
Masih pukul 8 malam, Radit rasa Sya belum tidur. Masih kategori sore untuk ukuran orang dewasa seperti mereka.
" Oke, mari kita telfon Bunda Maureen." Radit meraih ponselnya yang dia letakan diatas nakas samping tempat tidur. Sebenarnya Radit ingin menolak permintaan Kendra, tapi melihat wajah polosnya yang seperti sangat berharap itu membuatnya tidak tega untuk menolak.
Bunda Maureen
Tolong angkat telfon saya. Kendra ingin bicara sama kamu."
Terlebih dahulu Radit mengirimkan pesan kepada Sya.
Melihat pesannya sudah dibaca oleh Sya, tanpa menunggu gadis itu membalasnya, Radit langsung menyentuh tombol calling.
Tut...
Dalam dering pertama panggilan telfonnya sudah diangkat oleh Sya. Radit sangat tidak menyangka jika gadis itu akan menuruti permintaannya. Segera Radit hidupkan los speaker agar dia juga bisa mendengar pembicaraan antara Kendra dan Sya.
" Hallo, Assalamu'alaikum ganteng.".Terdengar suara lembut dari Sya.
" Waikumsalam Dunda. Dunda lagi apa? Dunda sudah maem? Kendla sudah maem tadi sama Ayam goleng kakek. Selarang Kendla sedang mimik susu stlobeli. " Pertanyaan beruntun yang Kendra ajukan pada Sya dengan suara lucunya membuat Sya terkekeh geli disebrang sana. Begitu pula dengan Radit, dia merasa Kendra sangat ekspresif setiap kali putranya itu berinteraksi dengan Sya.
" Oo ya? Kok Tante Dunda nggak diajak maem ditempat Ayam goreng kakek sih? Tante Dunda belum maem nih, laper." Ujar Sya menggoda Kendra dengan nada suara yang sengaja dia buat agar terdengar sedih.
" Kendla maem dilumah kok, nggak ditempat ayam goleng kakek. Tadi ayam goleng kakeknya diantel pake sepeda motol. " Kendra menyangkal pernyataan Sya tentang dirinya yang makan di tempat Ayam goreng kakek.
Mungkin yang dimaksud Kendra dengan diantar menggunakan sepeda motor adalah delivery order, pikir Sya.
Radit yang mendengar pembicaraan antara Kendra dan Sya hanya bisa tersenyum kecil disudut bibirnya.
" Kendra kok belum bobok sih? " Tanya Sya kepada. Kendra.
" Ini Kendla sudah mau bobok, bental lagi." Ujar Kendra kepada Sya.
" Sekarang bobok deh, Tante Dunda nyanyiin mau nggak? " Ujar Sya menawarkan diri untuk menyanyikan lagu agar Kendra bisa cepat tidur.
" Bental Dunda, Kendla pipis dulu.".Kendra langsung turun dari tempat tidur dan berlari kearah kamar mandi. Ponselnya dia letakan secara sembarang.
Radit yang melihat ponsel itu masih terhubung dengan Sya hanya menatapnya tanpa berniat mengeluarkan suara untuk sekedar menyapa Sya sampai Kendra kembali kekamar.
" Sudah pipis Dunda." Ujar Kendra kembali mengambil ponsel milik Radit yang tergeletak. Radit langsung menyusunkan bantal di sebelahnya untuk Kendra tidur. Kendra langsung merebahkan kembali badannya.
" Wah pinternya, Kendra sekarang mau Tante Dunda nyanyiin lagu apa? " Tanya Sya kepada Kendra.
" Telselah Dunda." Jawab Kendra singkat. Karena sebenarnya sedari tadi Kendra sudah menahan kantuknya. Hanya saja karena ingin mendengar suara Sya, Kendra menolak untuk tidur.
Bunda... ( Melly Goeslaw )
Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Kupandangi semua gambar diri
Pikirku pun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku
Kata mereka diriku selalu dimanja
Kata mereka diriku selalu ditimang
Nada-nada yang indah
Selalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya
Tangan halus dan suci
Telah mengangkat tubuh ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan
Kata mereka diriku selalu dimanja
Kata mereka diriku selalu ditimang
Oh, bunda ada dan tiada
Dirimu 'kan selalu…
Radit ikut serta menghayati lagu yang Sya nyanyikan. Suara Sya yang lembut membuat Radit merasa nyaman.
" Kendra sudah tidur." Ujar Radit kepada Sya.
" Kalau begitu saya matikan ya Pak." Kali ini nada bicara Sya tidak lagi sinis seperti biasanya.
" Sebentar, bisa kita ngobrol sebentar? " Tanya Radit dengan suara penuh harap.
" Boleh, Bapak mau bicara apa?." Jawab Sya singkat.
" Terimakasih, kamu sudah menyayangi Kendra. Dan Maafkan saya karena sudah bersikap seperti laki-laki brengsek. Kamu sudah membuat Kendra bahagia, tapi saya justru dengan brengseknya melakukan hal bodoh yang sudah pasti telah menyakiti perasaan kamu." Ujar Radit dengan suara lirih.
" Tidak apa-apa Pak, saya sudah memaafkan Pak Radit. Hanya saja, lain kali jika memang bapak menginginkan seorang wanita untuk menjadi ibu untuk Kendra nantinya. Hilangkan rasa trauma anda terlebih dahulu. Sudah pasti itu akan mempengaruhi hubungan Pak Radit dengan pasangan masa depan Anda nantinya. Ikhlaskan semua Pak. Dengan Anda ikhlas menerima masa lalu, hidup Anda kedepannya akan terasa lebih mudah. Dan satu lagi, jangan pernah membandingkan sifat manusia satu dengan yang lainnya. Semua manusia memiliki sifat dan sikap berbeda-beda, bahkan walaupun mereka merupakan saudara kembar. Begitu pula dengan saya dan almarhumah istri Anda." Nada bicara Sya memang halus, namun entah kenapa dapat menusuk tepat di jantungnya. Dan Radit tidak menyela sedikitpun ucapan Sya.
" Kalau begitu saya saya tutup ya Pak, saya udah ngantuk soalnya." Ujar Sya menyadarkan Radit dari lamunannya.
" Besok saya tugas ke Semarang." Ujar Radit tiba-tiba.
" Iya, lalu? Ada apa?" Sya bingung dengan maksud dari ucapan Radit. Apa hubungannya dengan dirinya jika Radit tugas ke Semarang.
" Tidak ada. Hanya saja sebelum saya berangkat. Saya ingin meminta sesuatu ke kamu." Jawab Radit.
" Apa yang bisa saya berikan kepada Anda Pak? " Tanya Sya semakin bingung.
" Bisakah mulai sekarang kita menjadi teman? "