Baby... I Love You

Baby... I Love You
Hukuman menanti



Sesampainya di kantor Radit, suami Sya itu memang masih ada di ruang rapat. Jadi Kendra dan Sya memutuskan untuk menunggunya di ruangan Radit seperti yang laki-laki itu perintahkan tadi.


"Abang laper enggak?" Tanya Sya kepada Kendra.


"Enggak Bunda, Abang kan tadi bawa bekel dali lumah, kan Bunda sendili yang kasih ke Abang." Jawab Kendra dengan polos, ya dia memang sudah makan siang dengan bekal yang Sya buatkan tadi pagi.


"Iya ya, Bunda lupa." Jawab Sya seraya tersenyum. "Ooo iya, Bunda kan tadi beli beberapa jajan, Abang mau enggak?" Sya meraih paperbag yang ada disampingnya. Terdapat beberapa makanan yang dia beli tadi. Ada corndog, dimsum, milkshake rasa strawbery dan mangga, dan juga segelas capuccino dingin yang akan Sya berikan untuk Radit.


"Abang mau yang ini." Kata Kendra menunjuk corndog yang sepertinya menarik perhatiannya.


"Oke, kalo gitu Bunda panasin di mocrowave dulu ya." Ujar Sya seraya beranjak dari duduknya. Hanya 1 menit saja, tidak lama.


Sya membuka saos sambal dan mayonies untuk di oleskan disekelliling corndognya.


"Bunda, Abang enggak mau pake yang putih-putih itu." Ujar Kendra kepada Sya.


Ya, Kendra memang tidak menyukai rasa dari mayonies, katanya asam dan seperti rasa saos basi.


"Tapi saos sambalnya pake nggak Bang?" Tanya Sya kepada Kendra.


Kendra menganggukan kepalanya. Sekarang ini Kendra sudah mulai belajar untuk makan pedas meskipun masih dalam tahap saos sambal yang tidak terlalu pedas, tapi bagi Sya itu cukup bagus. Sya dan Radit sebenarnya tidak pernah meminta untuk Kendra mau makan pedas, tapi bocah itu ingin mencobanya sendiri.


Setelah menghabiskan 1 corndog, mata Kendra mulai sayu. Bocah tampan itu sepertinya sudah mulai mengantuk. Sya membawa Kendra ke kamar yang ada di ruangan Radit untuk menidurkannya. Tadinya Sya berniat untuk tidak tidur dan menunggu Radit sampai selesai rapat.Tapi seperti biasa, jika dia sudah menghirup aroma bantal, maka rasa kantuk sudah tidak bisa di tahannya lagi. Sya tertidur dengan Kendra yang ada di pelukannya.


...~~~...


Radit menyelesaikan rapatnya setelah 2 jam. Buru-buru dia kembali ke ruangannya untuk menemui wanita pujaannya dan juga bocah kecil kesayangannya.


Setibanya di ruang kerjanya, Radit melihat meja di ruangannya terdapat beberapa bungkus makanan yang sedikit berantkan. Melihat itu semua Radit sama sekali tidak marah.


Sekarang dia tau dimana orang-orang tersayangnya itu berada. Radit memutuskan untuk ke kamar, dan seperti dugaanya, Sya dan Kendra sedang tertidur dengan pulas di ranjang bersprei putih itu.


Tanpa membangunkan keduanya, Radit memutuskan untuk bergabung dengan Sya dan juga Kendra. Rasanya tubuh Radit juga sangat lelah setelah otak dan raganya bekerja sedari tadi. Masih pukul setengah 3, setidaknya dengan tidur siang 1 jam akan membuatnya kembali fresh lagi nanti.


Tidak lama setelah Radit merebahkan tubuhnya, matanya langsung terpejam dan raganya ikut bergabung ke alam mimpi bersama Sya dan Kendra yang sudah lebih dulu.


... ~~~...


Radit terbangun setelah merasakan beban berat yang menimpa tubuhnya. Dan juga sebuah kecupan di kedua matanya yang mau tidak mau berhasil membuatnya terbangun dari tidurnya.


Terlihat Kendra yang sedang duduk diatas perut Radit.


"Ayahhh, udah sole, ayo bangun." Ujar Kendra kepada Radit.


"Abang udah bangun dari kapan?" Tanya Radit seraya mengusap wajahnya untuk menghilangkan kantuknya.


"Udah dali tadi sama Bunda." Jawba Kendra.


Radit menolehkan kepalanya ke samping dimana Sya tadi tertidur tepat di sebelahnya. Sekarang ranjang di sampingnya itu sudah kosong menyisakan bekas tidur yang terlihat berantakan.


"Terus sekarang Bunda dimana Bang?" Tanya Radit kepada Kendra.


"Bunda lagi ke kamal mandi lagi cuci muka." Jawab Kenddra.


Setelah mendengar itu Radit beranjak dari ranjang mebawa Kendra ke dalam gendongnnya.


Begitu keluar kamar Radit mendapati Sya yang sedang berdiri di depan microwave.


"Lagi manasin dimsum Mas, aku laper soalnya." Jawab Sya seraya tersenyum.


Radit berjalan menghampiri Sya setelah memberikan IPad kepada Kendra untuk menonton film kesukaannya.


Dan ya, kesempatan ini Radit gunakan untuk sedikit bermesraan dengan Sya. Radit memeluk Sya dari belakang, mengusap perut besar yang saat ini sedang berisi janin, mengecup puncak kepala Sya.


"Aku kangen sama kamu." Ujar Radit kepada Sya.


"Iiihh Mas, nanti diliat Kendra loh, lepasin dulu. Ini dimsumnya udah selesain dipanasinnya." Ujar Sya kepada Radit.


"Jawab dulu dong, kamu kangen enggak sama aku." Ujar Radit menolak untuk melepaskan pelukannya dari tubuh Sya.


"Enggak." Jawab Sya singkat.


"Kok gitu sih, ya udah aku enggak mau lepasin pelukan aku dari kamu." Ujar Radit kepada Sya.


"Tadi katanya aku disuruh jawab, ya kan udah aku jawab Mas." Ujar Sya kepada Radit.


"Tapi kamu jawabnya enggak kangen, kan enggak boleh gitu. Kalau aku kangen ya kamu juga harus kangen juga sayang." Ya sekarang ini Radit sedang dalam mode manja dan bucin kepada Sya.


Mendengar ucapan Radit itu Sya langsung tertawa kecil, kenapa Radit jadi seperti Kendra saat ini.


"Kamu kan enggak bilang aku harus kangen sama kamu juga Mas." Jawab Sya memberikan pembelaan diri, yang tentu saja tiidak akan diterima oleh Radit.


"Kamu mah enggak peka, jahat sama aku." Jawab Radit seraya menenggelamkan wajahnya di belakang leher Sya yang saat ini rambutnya sedang digulung keatas.


"Ayahhh...." Terdengar suara Kendra yang memanggil Radit.


"Iya, kenapa Bnag?" Jawab Radit tanpa melepaskan pelukaannya.


"Boleh minta susu stlobeli? Abangg haus pengen susu." UJar Kendra.


"Iya sebentar." Jawab Radit.


" Udah ambilin dulu susu buat Abang, Mas." Ujar Sya kepada Radit.


"Inget ya sayang, urusan kita belum selesai. Kamu masih belum mendapatkan hukuman setelah tadi pergi tanpa minta izin dulu ke aku." Bisik Radit di telinga Sya.


Sya yang mendengarnya langsung bergidik ngeri, kenapa Radit jadi menyeramkan seperti ini.


"Kan tadi di jalan udah minta izin Mas." Jawab Sya memberikan alasan lagi.


"Minta izin itu sebelum kamu pergi, bukan malah udah di jalan sayang. Kalau tadi itu aku terpaksa memberikan kamu izin." Ujar Radit seraya tersenyum penuh kemenangan.


" Ayahh... Susunya udah belum." Tanya Kendra kepada Radit.


"Iya ini lagi Ayah ambilin Bang. Kamu mau yang dingin dari kulkas apa mau diangetin dulu?" Jawab Radit sekaligus bertanya kepada Kendra.


" Yang dingin aja Yah." Jawab Kendra.


"Inget, hukuman kamu sudah menunggu di rumah." Ujar Radit berbisik di telinga Sya, kemudian mencium sebelah pipinya.


Radit melepaskan pelukannya dari tubuh Sya untuk mengambil susu miliki Kendra yang memang selalu Radit sediakan di kulkasnya.