
Sejak menikah dengan Sya, Radit menjadi lebih terbiasa jajan di pinggir jalan seperti ini. Padahal tadinya Radit sama sekali tidak pernah membeli di tempat seperti ini.
"Makan disini aja atau di rumah yank?" Tanya Radit kepada Sya.
"Disini aja Mas. Tapi sekalian pesenin buat orang rumah Mas." Ujar Sya kepada Radit.
Radit menganggukkan kepalanya. Dia melakukan apa yang istrinya itu minta.
Untung saja saat Sya dan Radit datang kesini tempatnya sedang tidak terlalu ramai. Jadi pastinya mereka tidak perlu menunggu terlalu lama.
Radit dan Sya duduk saling berhadapan di sebelah pojok.
"Sekarang udah nggak marah lagi kan sayang?" Tanya Radit kepada Sya.
"Sebenarnya masih, tapi udah nggak kayak tadi sih. Udah mendingan marahnya." Jawab Sya seraya tersenyum manis.
"Maaf ya, aku nggak bermaksud ngekang kamu. Tapi untuk kali ini, turuti ya ucapan aku." Ujar Radit seraya menggenggam tangan Sya.
"Aku akan selalu menuruti ucapan kamu Mas. Tapi aku juga butuh penjelasan kenapa aku harus melakukan itu." Ujar Sya.
"Baiklah, nanti akan aku jelaskan." Jawab Radit seraya mencium tangan Sya.
Sya dan Radit menikmati makanan mereka. Raut wajah bahagia terpancar jelas di wajah keduanya.
"Mau langsung pulang atau jalan-jalan dulu? Mumpung besok Mas libur kan. Lagian buat apa kita pulang cepet-cepet, toh lagi nggak bisa bikin dedek kan." Ujar Radit kepada Sya. Mendengar itu Sya benar-benar terkejut, bisa-bisanya di tempat umum seperti ini suaminya mengatakan itu. Bagaimana kalau nanti ada yang mendengarnya, dikira mereka adalah pasangan mesum lagi.
"Mulutnya kalau ngomong suka nggak dijaga, pengen aku kucir jadinya." Ujar Sya kepada Radit.
Radit justru tertawa senang melihat ekspresi kesal Sya. Sudah lama dia tidak mengerjai istrinya itu.
"Apa sih sayang, kan aku bener. Kamu lagi halangan kan? Ya jadinya kita nggak bisa bikin dedek."
Sya memutar bola matanya.
"Sok-sokan bikin dedek, nanti kalau dedeknya jadi nangis."
Lagi-lagi Radit tertawa mendengar sindiran istrinya itu.
"Ya jangan dijadiin sekarang dong sayank. Kan yang Mas maksud cuma bikinnya."
"Tau ah males ngomong sama Mas Radit."
"Kok jadi ngambek lagi sih? Gimana mau jalan-jalan dulu enggak?" Ujar Radit kepada Sya.
"Nanti kalau anak-anak bangun terus rewel gimana Mas?" Sya tidak terbiasa meninggalkan anak-anaknya dalam waktu lama. Sejak dia menikah dengan Radit, Kendra selalu bersamanya, begitu pula saat baby Rendra sudah lahir. Mereka bertiga selalu bersama. Berbeda dengan Radit yang kadang-kadang harus keluar kota untuk mengerjakan projek.
"Kalau mereka rewel pasti Mbak Tinah hubungin kita. Kamu tenang aja yank." Ujar Radit menenangkan.
Radit ingin menghabiskan quality time bersama Sya. Jarang-jarang kan mereka melakukannya. Apalagi sejak baby Rendra lahir.
"Ayok, kita keliling aja deh." Jawab Sya pada akhirnya.
Namun keliling yang dimaksud Sya adalah melakukan kuliner malam. Entah apa saja yang sudah mereka beli. Sya bahkan sudah menenteng lebih dari 5 kantung plastik berisi makanan. Ada martabak, Tahu Aci, Sate, gorengan dan beberapa lagi yang Sya sampai lupa namanya.
"Udah cukup belum yank? Atau masih mau cari lagi?" Tanya Radit kepada Sya.
Sya tampak berfikir, dia menatap sekitar.
"Kayaknya udah deh Mas, ini pecel lele nya aja pasti udah dingin. Lagian juga udah malem." Laras melihat jam di ponselnya yang sudah menunjukkan pukul 11 malem.
Radit menganggukkan kepalanya.
"Ya udah ayo kita pulang."
Sesampainya di rumah Sya langsung memberikan makanan yang dia bawa kepada Mbok Inah dan Mbak Tinah.
"Ini tolong dibagiin sama yang lain ya Mbak." Ujar Sya kepada Mbak Tinah.
"Baik Mbak Sya. " Jawab Mbak Tinah.
"Oo iya, anak-anak enggak ada yang bangun kan Mbak?" Tanya Sya kepada Mbak Tinah.
"Tadi adek Rendra sempet bangun waktu Mbak Sya sama Mas Radit baru aja pergi, jadi saya kasih ASI yang ada di freezer pake botol Mbak." Jawab Mbak Tinah.
"Oo gitu, ya udah. Makasih ya Mbak udah jagain mereka, aku naik ke kamar dulu. Jangan lupa itu dimakan." Ujar Sya berpamitan.
Setelah memberikan itu Sya langsung menuju kamar karena Radit sudah lebih dulu masuk.
Tidak lama kemudian Radit keluar berbalut handuk.
"Mas mandi lagi?" Tanya Sya kepada Radit.
Radit tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Enggak sayang, Mas bersih-bersih doang. Dari pada ribet ya udah sekalian di lepas aja bajunya. Toh mau ganti baju lagi kan. " Jawab Radit.
Iya juga sih, Sya juga tidak mendapati tubuh Radit basah. Memang wajahnya terlihat lebih segar.
"Ya udah aku bersih-bersih dulu."
Saat Sya keluar dari kamar mandi dia mendapati Radit sedang menciumi pipi baby Rendra.
"Udah selesai? Sini sayang kita bobok." Ujar Radit beranjak dari box bayi milik baby Rendra.
Radit naik ke ranjang kemudian disusul oleh Sya.
"Mas kok nggak pake baju? Nggak dingin emangnya?" Tanya Sya kepada suaminya itu. Pasalnya saat ini Radit hanya memakai celana tidur panjang saja tanpa atasan dan membuat dada bidang laki-laki itu terekspos kemana-mana.
"Enggak, kan bisa sambil peluk kamu. Jadi nggak bakal dingin." Jawab Radit.
Radit membawa Sya ke dalam pelukannya.
"Mas... " Sya memanggil Radit yang sudah memejamkan matanya.
"Hmmm, kenapa sayang?" Tanya Radit seraya menatap Sya lembut.
"Tadi katanya Mas mau jelasin kenapa tiba-tiba jadi posesif seperti ini." Ujar Sya.
Radit tersenyum mendengar ucapan Sya.
"Mungkin ini karena Mas terlalu takut kehilangan kamu. Mas hanya ingin memastikan kamu selalu baik-baik saja. Karena kalau kamu diluar tanpa adanya Mas, Mas tidak bisa 100% menjaga kamu." Jawab Radit.
"Tapi tadi bilangnya Mas takut aku digodain laki-laki diluar sana."
"Memang iya, liat laki-laki lain natap kamu aja Mas udah nggak suka. Maka dari itu Mas tidak ingin kamu terlalu sering keluar rumah. "
"Tapi kan cuma natap Mas, mereka nggak akan ngapa-ngapain."
"Mungkin mereka nggak ngapa-ngapain kamu secara fisik. Tapi dipikiran mereka siapa yang tau coba?"
Jujur Sya tidak paham dengan ucapan Radit. Maksudnya dipikiran laki-laki lain dia bisa berbuat jahat kepada Sya?
"Aku enggak paham deh maksud Mas apa."
"Ya udah lupakan, lebih baik sekarang kita bobok aja. Udah malem." Ujar Radit semakin mengeratkan pelukannya kepada Sya.
"Tapi Mas..." Sya masih tidak puas dengan jawaban Radit.
"Bobok sayang."