Baby... I Love You

Baby... I Love You
Kedatangan Dani



Hari kedua Radit di rumah saja pasca kecelakaan kecil yang menimpanya, seperti kemarin Radit menghabiskan waktunya dengan bermanja ria dengan Sya. Karena jika sudah sembuh dan kembali bekerja maka hak milik atas istrinya itu akan jatuh kepada putranya, siapa lagi kalau bukan Kendra.


"Mas hari ini pengen makan apa? Biar aku masakin." Tanya Sya kepada Radit yang saat ini sedang merebahkan kepalanya di pangkuan Sya. Tidak ada hentinya Radit menciumi perut Sya.


"Yang ada aja sayang, kamu nggak usah capek-capek. Cukup disini aja temenin aku." Jawab Radit masih tetap menciumi perut Sya yang membuat istrinya itu sedikit merasa geli.


"Beneran nggak pengen aku masakin?" Tanya Sya memastikan. Sya mengusap rambut Radit yang sepertinya sudah mulai memanjang itu. Seingatnya dia menemani Radit memangkas rambutnya baru 2 bulan yang lalu, dan sekarang sudah mulai panjang saja.


"Iya sayang beneran. Emang Mbok Inah masak apa?" Tanya Radit kepada Sya.


"Apa ya, bentar deh aku liat dulu." Sya berniat untuk ke dapur, namun lagi-lagi dilarang oleh suaminya yang sedang sangat manja itu.


"Nanti aja yank, masih pengen ciumin dedek." Ujar Radit seraya menampilkan wajah tidak berdosanya.


Lagi-lagi yang Sya lakukan tentu saja menuruti ucapan sang suami.


"Mas, besok kalau udah sembuh ini rambutnya di potong ya." Ujar Sya kepada Radit. "Ini masih sakit enggak?" Tanya Sya seraya mengusap dahi Radit yang masih tertempel perban.


Radit mendongakkan kepalanya menatap kearah wajah Sya. Kemudian senyumnya tersungging di wajah tampannya.


"Udah enggak kok yank, kamu nggak usah khawatir. Paling juga lusa udah boleh di lepas perbannya." Ujar Radit menenangkan Sya.


Sya menganggukan kepalanya.


"Ya udah ayo makan dulu, udah siang Mas kamu kan harus minum obatnya." Ujar Sya kepada Radit.


Radit melihat kearah dinding dimana jam terpasang. Sudah hampir jam 1, dan dia melupakan kalau Sya juga harus makan.


"Ayo..." Ujar Radit seraya beranjak dari pangkuan Sya. Kemudian dia menuntun Sya untuk ke meja makan.


Hari ini Mbok Inah masak ayam kecap yang merupakan favorit Radit.


Sya dan Radit makan siang dengan hening. Meskipun tidak ada Kendra disini tapi peraturan tidak berbicara selama makan akan tetap berlaku.


Dan baru saja Sya dan Radit menghabiskan makanannya, tiba-tiba Mbak Tinah datang menghampiri mereka.


"Permisi Pak Radit, ada tamu di depan. Katanya temennya Pak Radit." Ujar Mbak Tinah menyampaikan pesannya.


" Siapa Mbak, laki-laki atau perempuan?" Tanya Radit kepada Mbak Inah.


"Laki-laki Pak, kalau tidak salah namanya Pak Dani." Jawab Mbak Tinah.


Sya menatap kearah Radit, pasalnya dia belum mengenal banyak teman Radit.


"Siapa Mas?" Tanya Sya kepada Radit.


"Temen SMA sekaligus temen bisnis aku waktu kemarin aku meeting sebelum kecelakaan itu." Ujar Radit menjelaskan.


Radit dan Sya berjalan menuju ruang tamu. Terlihat seorang laki-laki tampan dan gagah duduk di sofa sedang menatap sebuah foto pernikahan yang terpasang di dinding. Dapat Sya rasakan kalau aura yang terpancar dari Dani lebih kelam dari yang pernah Sya rasakan saat pertama kali bertemu dengan Radit.


" Hey Dan, sorry lama. Lo tumben mampir kesini." Ujar Radit yang langsung membuat fokus Dani dari foto itu langsung teralihkan.


Dani tersenyum kecil melihat Radit yang dengan posesifnya merangkul pinggang wanita yang saat ini terlihat sedang hamil. Dani menatap sekilas kearah wanita disamping Radit yang tersenyum ramah kepadanya. Dani merasa jika wanita itu sangat cocok disandingkan dengan Radit. Bukan karena wanita itu sangat cantik bukan, tapi karena wanita itu terlihat begitu pengertian dan sabar menghadapi tingkah Radit yang Dani tau kadang masih seenaknya sendiri.


"Iya, gue denger sehabis kita ketemu kemarin lo kecelakaan. Dan karena gue ada waktu luang ya gue sempetin mampir kesini." Jawab Dani.


Memang benar, Dani ke rumah Radit setelah tadi dia ke kantor Radit dan di beri tau oleh asisten laki-laki di depannya itu kalau bosnya tidak masuk karena habis kecelakaan.


"Cuma kecelakaan kecil Dan." Jawab Radit santai.


"Kecelakaan kecil karena lo cuma nabrak pohon bukan masuk jurang ya?" Tanya Radit santai.


Radit hanya tertawa kecil mendengar kalimat sarkas yang Dani keluarkan. Ini sudah menjadi hal yang biasa dalam pertemanan mereka sejak SMA. Selain Radit, Dani memang terkenal sebagai Prince Ice. Mungkin itulah yang membuat mereka klop satu sama lain.


"Btw lo nggak ada niatan buat ngenalin istri cantik lo ke gue?" Tanya Dani kepada Radit dengan begitu santai. Jika kalian berpikir kalau Dani tertarik dengan istri sahabatnya itu, maka jawabannya iya. Tapi bukan berarti dia ingin merebutnya dari tangan Radit. Tidak, itu tidak akan pernah terjadi. Dani tidak akan bersikap serendah itu. Dia tau sekali bagaimana rasanya sesuatu yang merupakan miliknya itu diambil oleh orang lain. Dan Dani tidak akan pernah melakukan itu.


"Jangan berani-beraninya lo goda istri gue Dan. Dia cuma milik gue seorang." Ujar Radit dengan suara dinginnya. Entah kenapa dia selalu merasa tidak suka jika ada lawan jenis yang memuji kecantikan Sya.


"Haha... Lihat kan, suami kamu ini memang sangat posesif." Ujar Dani kepada Sya. Dan Sya hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Dani. Memang apalagi yang bisa dia lakukan disaat suaminya itu sedang dalam mode cemburu kan?


"Nggak usah mikir macem-macem. Lo sendiri tau gue nggak berniat buat suka sama cewek apalagi sampe nikah." Ujar Dani dengan nada datarnya. Hal ini tentu saja membuat Sya langsung tercengang di tempatnya. Apa laki-laki di depannya ini seorang penyuka sesama jenis? Gay?


Sedangkan Radit hanya mendengus pelan.


"Tetep aja lo puji istri gue, dan gue nggak suka." Ujar Radit kepada Dani.


"Dasar gila." Ucap Dani santai.


" Kenalin ini istri gue, namanya Maureen Calisya Putri, lo bisa panggil dia Sya." Ujar Radit memperkenalkan Sya kepada Dani. "Dan sayang, ini Dani sahabat dar aku SMA." Ujar Radit kepada Sya.


Dani mengulurkan tangannya ke arah Sya. Dengan ragu-ragu Sya menyambutnya.


" Kenalin aku Dani, sahabat satu-satunya suami posesif kamu. Senang berkenalan dengan kamu Maureen." Ujar Dani kepada Sya.


" Jangan panggil istri gue Maureen, itu panggilan spesial milik gue." Ujar Radit menginterupsi. Namun di abaikan oleh Dani yang tetap santai menunggu uluran tangan Sya.


"Aku Sya kak, istrinya Mas Radit." Ujar Sya seraya tersenyum kecil.


"Ooo iya, sekedar informasi aja, aku nggak berniat suka sama cewek tapi bukan berarti aku suka sama cowok ya." Ujar Dani seraya tersenyum. Tadi saat dia mengatakan kalau dirinya tidak suka kepada perempuan, dapat Dani lihat ekspresi terkejut di wajah Sya.


Sya tersenyum canggung mendengar ucapan Dani itu. Apa raut wajahnya terlihat begitu jelas seolah menggambarkan semua isi di dalam pikirannya?