
Sya duduk di teras depan rumah dimana tempat itulah yang paling sepi saat ini. Begitupula dengan Radit yang ikut duduk di samping Sya.
" Jadi apa yang mau Mas jelasin ke aku? " Tanya Sya dengan tenang.
" Tapi aku mohon kamu jangan marah. Jangan juga tinggalin aku karena aku pasti tidak akan pernah ngelepas kamu. " Jawab Radit dengan suara dalam namun masih ada sedikit nada memohon di dalamnya.
" Tergantung. " Jawab Sya pendek.
" Kok tergantung sih sayang. Jangan gitu dong. " Ujar Radit merajuk.
" Mas, ini bukan saatnya buat kamu merajuk. Sekarang jelasin. Apa yang perlu aku tau dari kamu. " Rupanya Sya memang sedang dalam mode serius saat ini. Tidak ada celah untuk Radit mengajak Sya bercanda.
" Iya aku jelasin. " Seketika nada suara Radit langsung serius.
Sya diam sebagai tanda jika Radit bisa mulai untuk menjelaskan.
" Dulu saat awal SMA aku merupakan anak laki-laki cupu, begitu kata teman-teman aku dulu hanya karena aku nggak ngerokok. Awalnya aku biasa saja dan nggak peduli sama omongan mereka. Karena menurut aku rokok nggak akan membuat laki-laki menjadi lebih keren. Mereka selalu bilang hidupku terlalu lurus untuk ukuran anak orang kaya. Karena di kalangan kami dunia malam itu sangatlah wajar apalagi saat itu kita sudah usia lebih dari 17 tahun. Wajar bagi mereka belum tentu wajar bagi aku karena orang tuaku tidak pernah mengajarkan kami untuk hidup liar seperti itu. " Radit terdiam sejenak untuk menggali lagi memori masa lalunya. Sedangkan Sya masih setia mendengarkan cerita Radit dalam diam.
" Sampai akhirnya aku kenal sama gadis cantik dan lemah lembut, hanya sekedar kenal karena kita pernah satu organisasi, dia salah satu primadona sekolah. Hampir semua laki-laki di sekolah aku menyukai dia. Pada awalnya aku tidak tertarik karena fokusku saat itu hanya sekolah. " Ucapan Radit terjeda beberapa saat. " Namun tiba-tiba saja dia mendekati aku. Dan entah bagaimana kita bisa menjadi semakin dekat sampai akhirnya kita memutuskan untuk pacaran, ya gadis itu adalah Audrey, Bunda kandungnya Kendra. " Radit merasa berat saat mengatakan jika Audrey adalah Bundanya Kendra. Tapi mau bagaimana lagi, itu memang fakta yang harus Radit terima. Biar bagaimana pun mereka pernah menghabiskan masa lalu bersama. Meskipun pada akhirnya dia menjadi sosok yang terhianati.
" Awal kita pacaran, Audrey selalu menawari aku rokok setiap kita kumpul bersama teman-temannya yang ternyata baru aku tau mereka adalah remaja dengan kehidupan yang bebas. Kata Audrey aku akan semakin terlihat keren jika aku merokok. Tentu saja egoku langsung melambung saat mendapat pujian dari gadis yang aku sukai. Dan ya, karena terlalu sering di tawari rokok, pada akhirnya aku memutuskan untuk merokok. Dan fakta yang aku tau setelah aku merokok, ternyata Audrey juga perokok. Awalnya aku terkejut, namun saat melihat teman-teman perempuannya yang juga merokok pada akhirnya aku merasa bahwa itu bukanlah hal yang aneh. Apalagi saat aku tau ternyata Audrey dari keluarga broken home. Aku selalu memaklumi semua tingkah lakunya dengan alasan dia butuh menyalurkan emosinya."
" Sampai akhirnya aku tidak hanya menjadi perokok namun juga peminum. Aku sering pergi ke Club bersama Audrey ataupun bersama teman-teman yang lain. Kehidupan kita begitu liar, namun satu hal yang aku syukuri, selama kita berpacaran aku tidak pernah berlaku sampai terlalu jauh. Mungkin gaya pacaran kita cukup liar, tapi tidak sampai bersetubuh sampai kita menikah. " Ucapan Radit ini membuat Sya langsung bergidik ngeri membayangkan betapa masa muda Radit sangatlah menakutkan.
" Aku tidak tau apakah selama ini aku memang mencintai Audrey atau tidak. Selama 10 tahun menjalin hubungan dengannya sampai akhirnya kita memutuskan untuk menikah, aku tidak pernah membatasi pergaulannya. Karena aku pun sama dengannya. Hanya saja kita saling berkomitmen untuk tidak ada orang ketiga di antara kita. "
" Apa Mama dan Papa setuju dengan pernikahan Mas? " Sya tidak bisa menahan diri untuk tidak menanyakan pertanyaan ini kepada Radit.
" Mereka setuju. Karena Mama dan Papa tidak pernah memberatkan aku mengenai tipe wanita yang akan aku nikahi. Menurut mereka apapun pilihanku, maka itulah yang akan menjadi tanggung jawabku seumur hidup. Ditambah yang mereka tau Audrey adalah gadis baik-baik. Mereka tidak tau kalau aku dan Audrey sering merokok dan minum bersama. "
Sya terdiam mendengar jawaban dari Radit. Dia tidak tau harus menjawab apa.
" Ada lagi yang mau kamu tanyakan? " Tanya Radit kepada Sya dengan suara lembutnya.
" Enggak, Mas bisa lanjutin ceritanya. " Jawab Sya lirih.
Sya dapat merasakan bagaimana perasaan bahagia seorang Radit pada saat itu.
" Saat Audrey hamil, aku merasa kalau hidupku menjadi sangat sempurna, aku memiliki seorang istri dan akan memiliki bayi kecil. Sampai akhirnya Kendra lahir setelah 9 bulan dalam kandungan. Audrey terlihat bahagia pada awal kelahiran anak kita. Namun setelah seminggu kelahiran Kendra, Audrey mulai menolak untuk menyusui bayi kami. Dia beralasan jika Asinya tidak keluar karena dia setres hingga akhirnya Kendra kita beri susu formula. Setelah 40 hari kelahiran Kendra, Audrey menjadi sering keluar rumah dengan alasan refresing agar tidak terkena baby blues. Aku tentu saja mengijinkannya. Aku tidak ingin Audrey merasa tertekan. Namun beberapa bulan setelah itu, kebiasaan Audrey tidak pernah berubah. Dia selalu keluar rumah setiap aku sudah berangkat kerja dan pulang sebelum aku di rumah. Sampai akhirnya aku melihat dia di sebuah hotel bersama seorang laki-laki yang tidak aku kenal. Aku mengikuti mereka, dan ya, Audrey mengakui jika dia memang bersama selingkuhannya. Dia muak hidup bersama aku karena merasa kebebasannya menjadi terkekang. Apalagi sejak hamil dan kelahiran Kendra. " Ada rasa sakit yang luar biasa saat Radit menceritakannya.
" Ditambah aku selalu sibuk di kantor dan kurang perhatian pada Audrey, itu yang dia katakan. Saat itu perusahaan hampir bangkrut karena ternyata ada penghianat di dalam perusahaan. Tentu saja aku harus lebih fokus pada perusahaan demi membantu Papa. "
" Hingga akhirnya aku memutuskan untuk bercerai dengannya, dan secara mengejutkan juga Audrey bilang dia tidak menginginkan hak asuh Kendra jatuh kepadanya. Dia tidak ingin mengurus Kendra. Dan beberapa bulan setelah kita bercerai, aku mendapat kabar jika Audrey meninggal karena kecelakaan bersama laki-laki yang dulu merupakan selingkuhannya. Sejak saat itu, kebiasaan aku merokok dan minum alkohol mulai kembali lagi. Tidak setiap hari, hanya saat aku sedang kehilangan kendali. "
" Mas masih belum terima dengan penghianatan yang dilakukan Mbak Audrey? " Tanya Sya dengan lirih.
" Aku terima, karena mungkin memang kesalahan pada awalnya ada di aku. Aku hanya merasa sakit karena dia menolak Kendra. Bahkan menolak untuk menyusui bayi kecil kami. " Radit benar-benar sedih mengingat memori saat Kendra bayi, bagaimana dia menangis kehausan namun Audrey tetap tidak memberikan Asinya dan justru memberikan susu formula. Dan bagaimana Kendra yang selalu di urus oleh Mbok Inah karena Audrey yang selalu pergi keluar rumah.
" Kamu masih mau nerima aku setelah mendengar masa lalu aku kan sayang? " Tanya Radit dengan suara sedihnya. Sebenarnya dia berat harus menceritakan ini semua kepada orang lain. Bahkan keluarganya sendiri tidak tau bagaimana cerita yang sebenar-benarnya.
" Asal Mas berjanji untuk berubah menjadi lebih baik. Ini semua demi kebaikan Mas juga. Ikhlaskan semua yang udah terjadi di masa lalu. Mungkin ini memang takdir dari Allah SWT agar Mas bisa mengambil hikmah dari kejadian ini. " Sya mencoba untuk menenangkan Radit. Ini bukan alasan yang membuatnya harus membenci Radit. Justru Radit adalah seseorang yang sedang membutuhkan bahu untuk bersandar dan meluapkan emosinya yang selama ini selalu dia salurkan hanya melalui alkohol.
" Jangan tinggalin aku. " Ujar Radit menatap Sya dalam namun justru terlihat sosok rapuh di mata Sya.
" Enggak Mas. "
Masa lalu biarlah menjadikan masa lalu. Buat Sya yang terpenting adalah sekarang. Jika Radit bisa berubah menjadi lebih baik. Kenapa dia harus menolaknya?
" I Love You. " Ujar Radit lirih.
Radit dan Sya saling bertatap dalam diam. Radit merasa lega sudah berbagi rahasianya kepada gadis yang dia cintai. Sedangkan Sya bahagia karena Radit mau terbuka dan percaya kepadanya.
" Ekhem... Ini ada apa? Kok saling tatap romantis gitu? Siang-siang juga. Bikin cuaca jadi terasa tambah panas aja. " Ujar Rida berdiri di depan pintu.
" Kamu ganggu tau nggak. " Jawab Radit dengan ketus.
" Hahaha, iya deh iya yang mau pacaran. Aku mah apa atuh. " Rida berlalu dari hadapan Sya dan juga Radit.
Setelah itu Sya hanya tersenyum lembut seraya menatap Radit yang membuat duda itu menjadi salah tingkah. Karena tanpa sadar saat bercerita Radit meneteskan air matanya.