Baby... I Love You

Baby... I Love You
Gombalan



Sya keluar dari kamar yang ditempati oleh Radit sembari memegang dadanya. Tidak, dia tidak boleh terbawa perasaan dengan ucapan Radit. Radit baru bangun tidur, itu berarti nyawanya belum sepenuhnya kembali. Mungkin laki-laki itu masih ngigo. Begitu pikir Sya.


Buru-buru Sya beranjak dari depan pintu itu untuk naik ke lantai atas, membangunkan Kendra. Baru saja akan melangkahkan kaki...


" Dek, nak Raditnya sudah dibangunin? " Tanya Mama Farida yang tiba-tiba muncul dari dalam dapur.


" Udah Ma, bentar lagi juga paling Mas Radit keluar. Ya udah adek mau bangunin Kendra dulu. " Jawab Sya cepat, kemudian dia langsung berlalu dari hadapan Mamanya itu.


Sesampainya di kamar, Sya melihat Kendra masih tidur dengan nyenyak. Tidak tega rasanya untuk membangunkan balita itu. Namun ini sudah waktunya makan siang. Sya mencoba untuk mendekati Kendra, dielus nya kepala bocah itu.


" Kendra sayang, bangun yuk. Udah waktunya maem loh. Kendra nggak laper emangnya? " Ujar Sya berbicara pelan di telinga Kendra.


Dan sepertinya Kendra mendengar suara Sya, perlahan matanya terbuka. Ternyata membangunkan Kendra tidak sesusah saat membangunkan Radit.


" Hmmm... 5 menit lagi Bunda. " Kembali Kendra memejamkan matanya.


Sekarang Sya larat, membangunkan Kendra sama susahnya dengan membangunkan Radit. Memang benar-benar Ayah dan anak yang sangat kompak.


" Ayo dong, Bunda udah laper nih. Kendra udah ditungguin sama Oma loh di bawah. " Ujar Sya kepada Kendra.


" Bental Bunda.... " Kendra tetap memejamkan matanya.


" Ya udah, berarti nanti nggak Bunda ajak jalan-jalan yah. " Ujar Sya menggoda Kendra.


" Kemana? " Tanya Kendra dengan mata yang langsung terbuka.


" Rahasia dong. Kalau Kendra bobok terus nanti nggak jadi ikut Bunda tapi ya. " Ujar Sya beranjak dari ranjang berpura-pura seolah akan keluar.


" Ikutt.... " Kendra langsung bangun dari tidurnya. " Gendong. " Ujar Kendra seraya merentangkan tangannya kearah Sya.


Sya yang melihatnya langsung tertawa, dengan wajah yang masih mengantuk Kendra terlihat menggemaskan. Dia berusaha sangat keras untuk membuka matanya yang sepertinya masih ingin terpejam.


Langsung saja Sya meraih Kendra kedalam gendongannya.


" Uluh uluh... Anak bayi minta gendong. " Ujar Sya kepada Kendra.


" No, Kendla bukan bayi. Kendla itu Abang. " Ujar Kendra tidak terima.


" Iya iya,, Abang bayi. " Sya masih saja menggoda Kendra.


" Abang besal Bunda, kalo bayi itu kecil. " Kendra mendebat ucapan Sya.


" Iya iya, Abang besal yang tidak sebesal Bunda. " Ujar Sya tertawa.


Kendra yang mendengar ucapan Sya hanya bisa cemberut. Memang benar jika dia tidak sebesar Bunda Sya, jadi Kendra hanya bisa menerima fakta ini.


Kendra meletakkan kepalanya ke bahu Sya dengan nyaman.


" Jangan bobok lagi loh. " Ujar Sya mengingatkan.


" Hmmmm.... " Kendra hanya menjawab seperti sapi, sama dengan yang sering Radit lakukan.


Sya turun untuk menunju ruang makan. Disana sudah ada Radit, Papa Riyan dan juga Ayah Dodi. Mereka entah sedang membicarakan apa.


" Cucu Opa udah bangun ya, sini sayang. " Ujar Papa Riyan begitu melihat Sya turun dengan Kendra yang ada di gendongannya.


Kendra hanya menoleh sebentar tanpa menyahuti ucapan Opanya itu. Wajahnya memang terlihat masih mengantuk. Dengan sigap Radit langsung menuju kearah Sya.


" Sini sama Ayah, kamu udah makin berat. Kasian Bundanya, badannya aja kecil. " Ujar Radit kepada Kendra.


" No, badan Bunda lebih besal dali Kendra. " Kendra ingat percakapan dengan Sya tadi yang berkata jika badannya lebih besar dari Kendra.


" Hahaha... " Terdengar tawa dari Papa Riyan dan Ayah Dodi.


" Jelas, dari bibit unggul soalnya. " Jawab Papa Riyan dengan kenarsisannya.


" Benar-benar lo ya, dari dulu tingkat ke PDannya nggak berubah. " Ujar Ayah Dodi tertawa.


" Iya lah, kalo dulu gue nggak PD, nggak akan mungkin gue bisa dapetin Riana. "


Ya, Mama Riana dulu sewaktu muda sangat kalem dan pendiam. Hingga setiap lelaki yang menyukainya akan mundur secara teratur. Ditambah juga Ayah Mama Riana terkenal sangat galak. Entah beruntung atau apa hingga Papa Riyan bisa mendapatkan Mama Riana sebagai istrinya.


" Hahah.. Bener banget lo. "


" Ini pada ngobrol apa sih? " Tanya Mama Riana yang baru muncul dari dapur.


" Masa lalu. " Jawab Papa Riyan pendek.


Mama Riana hanya menggelengkan kepalanya dan duduk di sebelah suaminya itu.


Sya dan Radit juga sudah duduk bersebelahan dengan Kendra yang duduk di pangkuan Sya. Kendra menolak untuk duduk bersama Radit.


" Mama kamu kemana dek? " Tanya Ayah Dodi kepada Sya.


" Nggak tau, masih di dapur kali. Adek belum liat Mama. " Jawab Sya.


" Iya Mas, Farida masih di dapur. " Ujar Mama Riana menimpali.


Tidak lama kemudian Mama Farida datang dengan membawa sekeranjang buah-buahan.


" Wahhh, udah pada kumpul ternyata. Maaf ya lama, abis nyuci buah soalnya. " Ujar Mama Farida tersenyum.


Setelah itu mereka langsung makan siang bersama. Kali ini Kendra meminta untuk makan sendiri dengan alasan dia sudah besar.


Suasana makan hening karena memang Papa Riyan dan Ayah Dodi tidak suka sambil bercerita. Barulah setelah selesai makan mereka saling membuka pembicaraan.


" Jadi Radit sekarang nerusin perusahaan Papa ya? " Tanya Ayah Dodi kepada Radit.


" Iya Om, kasian Papa kalo nggak ada yang bantuin. Sudah tua soalnya, tenaganya udah habis buat urusan dunia. Sekarang waktunya santai sama keluarga. " Ujar Radit. Ada unsur meledek Papa Riyan di dalamnya.


" Enak aja kalo ngomong, Papa nggak setua itu sampai nggak punya tenaga buat ngurusin perusahaan lagi. Toh Papa baru rehat dari kantor karena Mama kamu yang minta. " Ujar Papa Riyan memberikan alasan.


Ya, sejak bisnis terakhirnya di Bali 2 bulan lalu Papa Riyan memutuskan untuk rehat dari kantor. Karena memang Mama Riana yang meminta, dengan alasan dia kesepian karena ditinggal-tinggal ke luar kota terus. Tidak sepenuhnya langsung lepas tangan begitu saja kepada perusahaan, sesekali Papa Riyan juga masih ke kantor. Tapi sudah tidak lagi keluar kota.


" Hahaha... " Jawaban Papa Riyan ini disambut tawa oleh Ayah Dodi dan Radit. Sedangkan Sya, Mama Riana dan Mama Farida hanya tersenyum geli. Beda lagi dengan Kendra yang masih fokus dengan buah jeruk di tangannya.


" Pasti kamu sibuk banget ya sekarang. " Ujar Ayah Dodi lagi.


" Alhamdulillah masih di beri kesibukan. " Jawab Radit kalem.


" Om sendiri sekarang sibuk apa? " Tanya Radit kepada Ayah Dodi.


" Biasa, masih ngajar mahasiswa aja kayak dulu. " Ujar Ayah Dodi tersenyum.


" Pantesan Om kelihatan awet muda ya, soalnya ketemunya anak muda terus. " Ujar Radit tertawa kecil.


" Semakin kesini anak mudanya semakin susah diatur. Om jadi sering pusing nih. " Ujar Ayah Dodi memijat kepalanya.


" Yang sabar ya Om. Tapi Om pusing begitu tetap aja keliatan awet muda kok. " Ternyata gombalan Radit ini tidak hanya dia lakukan kepada Sya, namun di terapkan juga kepada Ayah nya.


" Kamu ini bisa aja. " Ujar Ayah Dodi tertawa kecil.


" Jangan dengerin Radit Dod, dia itu emang pinter ngerayu. Makanya putrimu aja bisa sampe jatuh cinta sama Radit. " Ujar Papa Riyan menyeletuk.


Ucapan Papa Riyan ini membuat Sya dan Radit langsung menampilkan wajah canggung seketika. Dan itu semua tidak ada yang menyadarinya.