
Sya menunduk di tempatnya saat mendengar Radit yang memanggil namanya, dia tidak tau harus melakukan apa. Apa dia harus maju ke depan sekarang?
" Sayang, kamu kesini sendiri atau aku yang akan menjemput kesana? " Suara Radit terdengar lembut.
Sya segera menyadari jika ucapan Radit itu terdapat sedikit ancaman untuknya yang nantinya justru akan membuat Radit bertindak nekat.
" Sya, cepet maju sana. Itu Pak Direktur udah natep kesini terus, gue nggak tahan ngeliatnya pengen gue karungin bawa pulang. " Ujar Dian seraya menyenggol-nyenggol lengan Sya.
Akhirnya Sya beranjak dari duduknya, kemudian secara perlahan melangkah ke depan dimana Radit berdiri di sebuah podium. Sya hanya memfokuskan pandangannya ke depan tanpa sedikitpun melirik karyawan lain, dia masih belum bisa melakukannya. Ada berbagai pikiran negatif yang tiba-tiba saja muncul di kepalanya. Salah satunya mengenai pandangan karyawan lain kepadanya setelah mengetahui status hubungannya dengan Radit.
Berbeda dengan Sya, Radit justru menatap setiap langkah demi langkah Sya dengan pandangan memujanya. Dia selalu mensyukuri setiap mengingat jika Sya adalah pendamping hidupnya sekarang ini, yang Radit harapkan akan selalu bersamanya hingga ajal memisahkan mereka.
Radit maju ke depan menyambut datangnya sangat istri. Di raihnya tangan Sya kemudian menempatkannya di samping dirinya, tentu saja tanpa melepaskan genggaman tangannya.
" Jangan tundukkan kepalamu sayang, kamu adalah ratu didalam hatiku. Tunjukkan kepada mereka jika kamu adalah pemilik raga dan hatiku. " Bisik Radit lirih di telinga Sya. Namun meski begitu Sya masih bisa mendengarnya.
Sya mengangkat kepalanya, dia menatap Radit kemudian tatapannya beralih kepada karyawan yang berkumpul. Kemudian dia menyunggingkan senyumnya sedikit.
" Jangan tersenyum, aku tidak suka ada laki-laki lain yang melihat senyuman kamu sayang. " Bisik Radit lagi. Hal ini membuat Sya langsung menatap Radit kesal.
Radit seketika tertawa kecil melihat wajah kesal Sya. Tanpa mereka sadari lagi-lagi itu membuat semua orang terkejut dengan apa yang Radit lakukan.
Dan beberapa saat kemudian Radit menyadari apa yang dia perbuat, segera saja di kembali menormalkan ekspresi wajahnya.
" Ekhmm... Ya, Maureen adalah istri saya. Kita sudah menjalin hubungan kurang lebih 6 bulan dan baru 2 minggu kemarin kita resmi menikah di Jogja. Maaf karena saya tidak bisa mengundang kalian semua di pernikahan saya dan Maureen. " Ujar Radit kepada semua karyawannya.
" Sebenarnya saya tidak mau mempublikasikan status pernikahan saya dan Maureen karena permintaan istri saya ini. Tapi berhubung banyak laki-laki disini yang mempunyai perasaan lebih terhadapnya, jadi maafkan saya karena saya harus mematahkan hati kalian semua. " Tambah Radit dengan suara dinginnya. Radit menatap beberapa laki-laki yang dia ketahui menyukai Sya, dan bahkan Sya pun tidak tau siapa saja orangnya.
Setelah pengumuman mengenai status pernikahan Radit dan Sya, saat ini Sya kembali ke ruangan kerjanya. Dan benar tebakannya terjadi perubahan besar dari karyawan lain saat bertemu dengannya. Semua mendudukkan kepala saat berpapasan dengannya, bahkan ada beberapa juga yang memanggilnya dengan sebutan Ibu. Sya benar-benar merasa tidak nyaman.
" Kalian jangan ikut-ikutan panggil aku Ibu ya, nggak enak banget rasanya di panggil begitu. " Ujar Sya kepada Dian, Leo, dan Tio.
" Nggak lah, lo kan bukan Ibu gue. " Jawab Leo seraya tertawa.
" Tapi seneng deh karena lo yang jadi istri Pak Radit, coba aja kalo kalo orang lain. Gue yakin dia bakal semena-mena sama karyawan lain. " Ujar Dian.
" Jangan ngomong gitu Di, belum tentu aku malah lebih baik dari mereka. " Ujar Sya menyanggah ucapan Dian.
" Emang iya kok, lo nggak liat kalo hampir semua karyawan cewek disini tuh sok kecentilan banget sama Pak Radit karena tau dia itu duda. " Ujar Dian berapi-api.
Sya hanya tertawa kecil mendengar ucapan Dian.
" Termasuk lo kan. " Ujar Leo menanggapi ucapan Dian.
" Itu dulu waktu belum tau kalo Pak Radit pacaran sama Sya, kalo sekarang kan enggak. Lagian gue cuma suka, tapi nggak pernah kecentilan kok. " Ujar Dian tidak terima dengan tuduhan yang Leo berikan.
" Udah-udah, sekarang balik kerja lagi. " Ujar Tio dengan suara datar.
Sya, Dian, dan Leo pun menuruti ucapan Tio. Mereka segera kembali ke Kurikulum masing-masing untuk melanjutkan pekerjaan yang tadi sempat tertunda.
" Santai aja, gue udah ikhlasin dia kok. " Jawab Tio seraya tersenyum kecut.
......~~~......
10 menit lagi jam istirahat. Sekarang Sya tidak bisa berkumpul bersama teman-temannya seperti dulu sebelum menikah. Sekarang tanggung jawabnya adalah melayani Radit, suaminya.
Sya sedikit melemaskan otot-otot di tubuhnya yang terasa kaku karena sedari tadi hanya duduk.
Ceklek....
Kedatangan Radit yang tanpa pemberitahuan itu membuat semua yang ada di ruangan itu terkejut, begitu juga dengan Sya.
" Haiii... " Ucap Radit tanpa merasa bersalah, dia hanya menatap Sya tanpa peduli dengan keadaan sekitar.
" Astagfirullah Mas, kalo masuk itu ketuk pintu dulu, ucapin salam juga. Bikin kaget tau. " Ujar Sya kepada Radit.
" Maaf aku lupa, ayo sekarang waktunya makan siang kan? " Ucap Radit dengan santainya.
Sya melirik kearah jam di tangannya.
" Kayaknya masih kurang 5 menit lagi deh. " Ucap Sya memberitahu Radit.
" Nggak papa, nggak akan ada yang ngelarang kalo aku bawa kamu keluar kantor kapanpun. " Ucap Radit masih santai. Tapi tatapannya saat ini sedang beradu dengan Tio. Mereka saling menatap seolah sedang terjadi pertarungan tak kasat mata diantara mereka. Dan Sya langsung saja menyadari apa yang sedang terjadi itu.
" Ya udah ayo. " Ujar Sya kepada Radit. Dan itu berhasil membuat tatapan Radit kembali beralih kepadanya.
" Rambutnya jangan di iket sayang. " Ujar Radit tiba-tiba, dia segera membuka ikatan rambut Sya dan menyisir rambut halus itu dengan jari-jari tangannya.
Sedangkan Sya yang tidak tau harus bereaksi seperti apa hanya membiarkan tingkah laku Radit itu tanpa memprotesnya.
" Ekhemm, aku pergi duluan ya. Dahhh.... " Ujar Sya kepada teman-temannya seraya menarik tangan Radit agar segera keluar dari ruang kerjanya.
Di ruangan itu semua masih terdiam sejak kedatangan Radit ke ruang kerja mereka.
" Nggak nyangka, Pak Radit yang segitu dingin, cuek, dan menakutkan itu pawangnya Sya, cewek yang bahkan nggak ada tampang galaknya sama sekali. " Ujar Leo seraya menggelengkan kepalanya.
" Pak Radit so sweet ya, di luar dingin kayak kulkas 3 pintu, tapi begitu sama Sya sikapnya bikin melting. " Tambah Dian.
" Kalo gue seganteng dan sekaya Pak Radit bakal gue pacarin cewek cantik di kantor ini satu persatu. " Jawab Leo tidak masuk akal.
" Pletak.... " Dengan keras Dian menyentil kepala Leo. " Dasar playboy. " Ucap Dian seraya keluar dari ruangan itu untuk mencari Prita agar bisa makan siang bersama.
" Dasar cewek bar-bar. " Teriak Leo seraya mengusap dahinya yang terasa perih.
Sedangkan Tio hanya diam menatap pintu sejak Radit dan Sya keluar dari ruangan itu.