Baby... I Love You

Baby... I Love You
Ibu pengganti



" Tidak Pak. Saya yakin juga bapak tidak akan mau. Dan lagi, saya hanya punya bubur ayam satu porsi. Saya tidak mau mengambil resiko dengan berbasa-basi menawarkannya. Bagaimana jika bapak bilang mau? Lalu saya makan apa nanti? " Jawab Sya santai.


Radit yang mendengar jawaban dari Sya seketika merasa spechles.


" Perlu saya ingatkan kalau saya masih atasan kamu saat ini? " Ujar Radit dengan suara datar.


" Astagfirullah, saya lupa Pak. Maaf, lagian bapak kalau mau tengil jangan di kantor. Saya kan jadi bingung gimana harus bersikap." Ujar Sya dengan suara lirih.


" Ternyata anak ini harus digertak terlebih dahulu agar bisa lebih kalem." Ujar Radit dalam hati.


" Pak Radit sudah sarapan? Maaf saya cuma bawa bubur satu porsi. Lain kali saya bawakan juga buat Bapak." Sya merasa sedikit tidak enak karena telah bersikap kurang sopan kepada atasannya itu. Tapi ya gimana, direkturnya itu seperti selalu memancing emosinya untuk naik kepermukaan.


" Tidak usah. Kamu habiskan saja sarapannya." Radit duduk bersandar dengan tangan yang terlipat didada dan mata yang tertuju lurus pada Sya.


Sya memakan bubur dengan canggung tidak sesantai tadi saat dia lupa jika yang ada di hadapannya saat ini adalah direkturnya.


" Pak, saya boleh minta tolong tidak? Jangan liatin saya begitu, saya merasa tidak nyaman." Ujar Sya lirih.


" Kenapa? Bukankah tadi saja kamu bisa bersikap dengan sangat tidak sopan walaupun saya melihatnya. Lalu kenapa sekarang begitu? " Jawab Radit dengan nada bicara seolah mengejek Sya.


Sya yang mendengar kata-kata Radit berusaha menahan dirinya agar lebih sabar. Sya tidak mau hanya karena pembahasan sepele seperti ini membuat dia harus dipecat secara tidak hormat. Padahal baru 3 minggu dia bekerja.


" Pak, tolong jangan memancing saya. Pak Radit tau sendiri kalau saya tipe wanita yang tidak bisa ditantang. Saya sudah berusaha untuk selalu bersikap sopan karena Pak Radit atasan saya. Dan juga ini masih ada di area kantor." Ujar Sya seraya memaksakan senyumnya.


" Bukankah kamu masih gadis? " Radit justru berbicara melenceng dari arah pembicaraan awal mereka.


" Ha? Maksudnya gimana? Ya saya memang gadis, wanita, perempuan, cewek atau apapun itu sebutannya. Saya tidak pernah merubah gender menjadi seorang pria." Sya bingung mendengar pertanyaan dari Radit. Ini maksudnya apa? Kenapa dirinya gagal paham?


Radit yang melihat ekspresi kebingungan dari wajah Sya tertawa terbahak-bahak.


" Hahahaha.... "


" Pak Radit kenapa? Pak? Kesambet? Jangan gitu dong Pak, saya takut beneran." Ya. Sya memang takut melihat Radit yang menurutnya tertawa sendiri tanpa sebab. Sya menjadi trauma setelah dulu teman kelasnya sewaktu SMA tiba-tiba tertawa sendiri, dan ternyata dia kesurupan hantu penunggu sekolah mereka.


" Kamu ya, lulusan cumlaude tapi tetep aja kosong otaknya. Itu dosen kamu bener kan ngasih nilainya sampai kamu bisa cumlaude gitu?." Ujar Radit seraya berhenti tertawa.


"Apaan sih. " Sya memilih untuk menghabiskan bubur ayamnya yang sudah dingin dibandingkan menanggapi perkataan Radit.


Sedangkan Radit hanya menggelengkan kepalanya dengan senyuman mengejek yang terpatri di wajahnya.


Tidak lama setelahnya, Sya sudah menghabiskan bubur ayam miliknya.


" Jadi apa yang ingin Pak Radit bicarakan dengan saya? 15 menit lagi jam kantor akan segera dimulai. Saya tidak mau jika nanti sampai ada gosip jika ada yang melihat saya keluar dari ruangan Pak Radit sepagi ini" Tanya Sya penasaran sekaligus mengingatkan Radit yang sedari tadi terdiam menatapnya namun hanya seperti pandangan kosong.


" Kamu tenang saja. Tidak akan ada yang berani menggosipkan saya. Dan lagian saya sudah meminta Andre secara pribadi menghubungi atasan kamu, Pak Sean." Jawab Radit santai.


Sya hanya mengangguk mendengar perkataan Radit.


" Jadi ada apa? " Tanya Sya lagi.


" Saya serius ingin melamar kamu." Ujar Radit dengan suara rendahnya yang terdengar lebih berwibawa saat menyampaikannya.


" Maksud Pak Radit gimana? " Tanya Sya masih tenang.


" Saya ingin kamu menjadi istri saya. Saya serius dengan niat saya untuk menikahi kamu." Jawab Radit seraya menatap mata Sya.


Sya terdiam cukup lama.


" Atas dasar apa Pak Radit ingin menikahi saya? Sedangkan kita saja tidak terlalu saling mengenal. Saya hanya tau jika Anda adalah atasan saya saat ini. Ayah dari seorang anak laki-laki bernama Kendra yang tiba-tiba memanggil saya dengan sebutan Bunda. Dan juga seorang single parent. Bahkan saya lebih dekat dengan putra Anda dibandingkan Anda sendiri. Hanya itu yang saya ketahui tentang Anda." Sya berkata dengan santai dan tidak meninggalkan kesan bahwa dia sedang gugup saat ini.


" Seperti yang kamu katakan barusan. Kita tidak saling mengenal. Kamu lebih tau tentang saya dari pada saya tau tentang kamu. Bahkan mungkin saya tidak tau apapun tentang kamu." Ujar Radit pelan namun tegas.


" Jadi? " Tanya Sya memastikan.


" Saya ingin kamu menjadi Bunda untuk Kendra karena memang Kendra yang memilihnya sendiri." Jawab Radit.


" Jadi tidak akan ada cinta diantara kita? " Tanya Sya lagi.


" Tidak. Hanya untuk menjadi ibu pengganti saja."


" Bagaimana jika saya tidak sebaik yang terlihat? " Ujar Sya dingin.


" Saya yakin kamu menyayangi Kendra." Jawab Radit dengan lantang.


" Apakah dengan saya menyayangi Kendra membuat saya harus menjadi Bunda untuknya? Mungkin saya terlihat seperti menyayangi Kendra, tapi itu hanya sebatas terlihat oleh mata. Bagaimana jika sebenarnya ternyata saya itu orang jahat yang berpura-pura baik dan berniat mencelakai Kendra dan mengambil harta Anda." Ujar Sya masih dengan nada bicaranya yang dingin.


" Haha... Kenapa kamu seperti disinetron-sinetron Indonesia." Ujar Radit tertawa canggung.


" Saya serius Pak. " Jawab Sya datar.


" Saya percaya kamu orang baik." Ujar Radit.


" Dan saya justru percaya jika Anda bukan orang baik." Jawab Sya.


Radit yang mendengar pernyataan Sya langsung terkejut. Apa maksud pernyataan gadis di depannya ini?


" Maksud kamu apa Maureen? " Tanya Radit dengan suara yang terdengar meninggi.


" Anda ingin membuat putra Anda bahagia. Namun Anda melupakan perasaan orang lain, yaitu saya. Sekarang saya tanya, dan jawab dengan jujur. Siapa wanita yang mau menikah hanya untuk dijadikan sebagai ibu pengganti? Menikah tanpa adanya cinta diantara dua manusia. Lalu tujuan dari pernikahan ini nantinya untuk apa? " Ujar Sya dengan wajah memerah seperti menahan emosi.


Wajah Radit seketika pias mendengar jawaban Sya yang terasa menikam jantungnya.


" Maksud saya bukan begitu." Ujar Radit tergagap.


" Tidak apa-apa. Saya mengerti kalau bapak ingin membahagiakan Kendra. Tapi maaf, sepertinya saya tidak bisa menjadi ibu pengganti untuknya. Saya permisi dulu Pak, jam kerja sudah dimulai sejak tadi. Dan terimakasih karena sudah memperbolehkan saya sarapan disini." Sya langsung beranjak dari duduknya dan melangkah keluar dari ruangan Radit tanpa menunggu jawaban laki-laki tersebut.