
Tangan bergetar Kenji berlahan-lahan membuka resleting koper besar ini. Belahan-lahan sampai koper ini terbuka lebar."Hah!?".Kenji tersentak terduduk lemas kebelakang.
Mulutnya langsung mual seketika, ia mencoba untuk bangkit kembali. Akan tetapi tubuh nya sangat lemas, kakinya pun bergetar hebat.
Menyadari itu Nathan segera membantu Kenji dengan sisi keberanian Nathan mencoba membantu Kenji untuk bangkit kembali.
Dengan di papah Nathan. Kenji masih mendekap mulutnya dengan tangan kiri yang terbebas.
Kedua pemuda ini syok, takut, bercampur menjadi satu. Keduanya melihat jazad wanita ini tertelungkup penuh luka dan darah dalam koper besar yang terbuka lebar ini.
Yang berarti wanita di depan keduanya adalah sebuah arwah. Wanita ini bukan manusia lagi.
Namun tidak, baik jazad juga koper ini berlahan-lahan lenyap dari hadapan Nathan dan Kenji. Manik mata yang sama-sama membulat sempurna. Keduanya langsung berpaling menatap wanita di bawah pohon, saat koper dan jazad wanita ini tiba-tiba lenyap.
Wanita ini membalikan badannya menatap kedua pemuda syok berat ini dengan senyum manis dalam raut wajah pucatnya."Arigato, kalian mau membebaskan saya. Jazad saya sudah lama di ketemukan, di makamkan. Namun jiwa saya tidak pernah bebas, karena koper itu mengunci jiwa saya."Kembali tersenyum manis."Sayonara ,Arigatogozaimashita. Nathan ,Kenji, Arigato."Ucap terakhir wanita ini sebelum tubuhnya lenyap termakan butiran-butiran cahaya terang kecil.
Kenji yang masih mual segera membungkuk badannya, ia muntah kan semua iri perutnya .Menyadari itu Nathan segera mengelus lembut tengkuk leher Kenji .
Perlu kali tahu, jika Kenji akan mual saat melihat darah yang banyak. Seperti tubuh wanita tadi yang penuh luka juga darah yang memenuhi tubuhnya .Membuat Kenji sangat mual .
+++++++
Pukul. 02.00 Malam .
Senin
Setelah banyaknya hambatan di jalan, akhirnya sampailah keduanya di rumah. Nathan segera masuk ke dalam rumah sembaring bergumam."Assalamu'alaikum."Suara kecil yang selalu Nathan ucapkan .
Kenji yang sudah terbiasa mendengar itu, hanya terdiam sembaring terus melangkah masuk meninggalkan Nathan yang sibuk mengunci pintu depan rumah .
Kenji yang sudah tidak mengenakan mantel hangat langsung tepar di atas kasur lantai. Di ruang keluarga.
Yang sesaat kemudian di susul oleh Nathan .Nathan yang langsung tepar di samping Kenji tempat kasur lantainya berada .
"Remuk semua."Gumam Nathan yang tengkurap menahan sakit di seluruh tubuhnya.
Kenji yang sudah tidur terlentang."Diem cerewet!".Umpat ketus Kenji. Yang sebenarnya menahan rasa meriang di seluruh tubuhnya.
Namun sesaat kemudian keduanya sudah tidak bernyawa. Baik Nathan dan Kenji sudah berselancar di dunia fantasi masing-masing.
Saking lelapnya Nathan dalam dunia fantasi nya. Ia sampai tidak sadar, jika kedua kaki Kenji menindih punggungnya. Yang sudah dapat di jelaskan, jika nanti pagi akan terjadi masalah besar.
++++++
+++++++++
Pukul. 08.10 Pagi menjelang siang.
Senin.
Kenji sudah terbangun, dirinya yang sudah terduduk dengan tatapan kosong, khas orang bangun tidur yang tengah mengumpulkan nyawa.
Sementara Nathan, ia tiba-tiba bangun dengan berteriak histeris."Aaaaa......".Tepat di saat dia duduk."Aarrhhh.....". Teriak histeris itu berganti menjadi suara merintih kesakitan yang membuat ia kembali tidur terlentang.
Kenji yang sudah terfokus memperhatikan Nathan."Lu kenapa, bodoh!?". Ekspresi kaget Kenji menatap tajam Nathan .
Nathan yang masih tidur terlentang mengelus pinggang dengan ekspresi meringis menahan sakit."Sakit, punggung gue sakit."
"Mungkin lu kemarin malam kena pukul di punggung?".
"Tidak."Masih meringis kesakitan."..... Mungkin salah posisi tidur."Lanjutnya.
Mendengar kalimat sambung Nathan Kenji terdiam."Salah gue lagi sepertinya? Gue kalau tidur suka numpang-numpangkan kaki di atas guling ,karena tidak ada guling. Astaga!!".Batin Kenji sembaring mengacak-acak rambut berantakan nya .
Nathan yang memperhatikan tingkah aneh Kenji."Lu kenapa, kecipir?".
"Sepertinya sakit punggung lu, karena gue."
Menjinjing sebelah alisnya menatap gelagat aneh Kenji. Penuh penuntutan penjelasan.
Tanpa menatap manik hitam lekat Nathan."Jadi gini. Gue kalau tidur kaki gue suka cari tempat buat di tindih. Biasanya gue tindih guling, tapi karena di sini tidak ada guling. Jadi gomen'nasai ,Nat."Menatap Nathan dengan senyum semanis mungkin.
"AAAAA.......".Nathan langsung berteriak menatap tajam Kenji."....Gue gimana sekolah nya? Ini sakit sekali buat duduk".Sambungnya marah-marah dengan menangis seperti bayi.
Memainkan layar ponselnya."Tenang Nat, sekolah masih libur. Di sini bilang sekolah akan di mulai hari ini, dan masuk hari Senin."
"Yokatta."Nathan menangis haru. Lebay memang tapi di posisi sakit punggung yang kambuh, dia bisa apa.
Beralih menatap tajam Kenji sekilas."Ambil air hangat sama handuk kecil."Suruh Nathan.
"Buat apa?".
"PUNGGUNG GUE, BE**GO!".Kesal Nathan .
Tidak bertanya-tanya lagi. Kenji segera melesat pergi dari ruang keluarga ini, toh ini juga salahnya jadi mau tidak mau ia harus tanggung jawab. Melihat kepergian Kenji, Nathan berusaha untuk duduk. Sedikit meringis menahan sakit, tapi Nathan tetap memaksa untuk duduk.
Berhasil duduk, Nathan elus-elus lembut punggung nyerinya ini."Jatuhnya sudah lama, tapi cidera sakit ini masih saja sering kambuh. Mana sakit sekali!!".Gumamnya meringis menahan sakit.
+++++
Sesaat kemudian Kenji datang dengan membawa baskom kecil berisikan air hangat dan handuk kecil. Kenji menaruh itu di dekat Nathan duduk.
Nathan memasukkan handuk kering ini ke dalam baskom air hangat. Sudah basah ia angkat dan peras sampai tidak ada airnya. Masih sedikit basah Nathan bawa handuk ini dalam genggaman nya .Nathan angkat keatas kaos panjang yang ia pakek ,sampai memperlihatkan punggungnya .Sudah itu, ia kembali tengkurap dan meletakkan handuk setengah basah tadi di atas punggung nya.
Rasa hangat nyaman dapat ia rasakan, rasa sakit nya juga sedikit mereda, jika sudah di kompres dengan air hangat seperti ini.
Menyadari Kenji masih memperhatikan dirinya."Lu jangan lihat gue terus, be**go. Pergi sana!Buat makanan, gue lapar."
Kenji mengerutkan keningnya."Lu babu gue!?".
Menoleh menatap datar Kenji."Gue sakit kayak gini gara-gara lu, dan lu tidak mau tanggung jawab."Berpaling kearah lain."...Gue akan bilang ke Oji-san."
"LU NGANCEM GUE SEKARANG."Kenji mengangkat kepalan tangannya hendak memukul kepala Nathan. Namun ia urungkan."Iiimmm......".Geramnya langsung beranjak pergi dari ruangan ini.
Tidak perlu dengan amarah membara Kenji Nathan tetap santuy di posisi tidur tengkurap nya ,ia juga sesekali bangun untuk menghangatkan handuk ini lagi.
++++++
Pukul. 08.46 pagi menjelang siang
Kenji kembali lagi ke ruang keluarga. Ruang keluarga yang sudah tertata rapi kembali.
Nathan yang sudah mendingan langsung bergerak merapikan ruangan ini. Jadi saat Kenji kembali ruangan ini sudah tertata seperti semula. Dua kasur lantai yang sudah terlipat rapi di samping bawah Sova panjang .
Kenji menaruh bawaan nya di atas meja. Sup tahu panas buatan. Sudah menaruh ini, ia kembali berlalu mengambil dua mangkuk nasi dan peralatan makan .
Memperhatikan Kenji sembaring tadi. Nathan berucap."Cuma ini!?".
"Cuma bisa masak ini, kalau lu tidak mau yasudah ,gue makan sendiri."Ketus Kenji .
"Belum di jawab jangan nyerocos saja ,sini..".Nathan mengambil ali mengambil makanan ini lebih dulu.
Keduanya akur sampai makan pagi ini selesai .Selayaknya adik dan kakak, keduanya benar-benar sangat akur. Saling membagi tugas membereskan berkas makan. Dari Nathan yang mencuci wada kotor, dan Kenji yang mengembalikan dua tumpu kasur lantai yang sudah terlipat rapi ini pada tempat.
Lalu Kenji yang menyapu lantai ruang keluarga .Dan Nathan yang membuang sampah dapur yang sudah penuh .
Selesai dengan kesibukan membereskan rumah ,keduanya langsung menghempaskan tubuh letih ini di atas Sova ruang tamu .Keringan yang bercucuran di mana-mana membuat keduanya terlalu malas untuk bergerak .Keduanya sibuk mengeringkan pakaian sedikit basa mereka, karena air keringat.
Selang beberapa waktu kemudian. Nathan beranjak lebih dulu dari tempat duduknya. Ia berjalan naik ke lantai atas dengan mulut membisu tanpa mengatakan sepatah-kata pun .Yang kemudian di susul oleh Kenji, ikut naik ke lantai atas .
+++++++++
Pukul. 10.25 Siang
Setelah sekian lama di dalam kamar, akhirnya Nathan keluar kamar. Nathan turun ke lantai bawah, di mana Kenji sudah duduk santai membaca komik dalam genggaman tangannya.
Kenji yang fokus-fokus nya membaca, tiba-tiba atensi berpaling terfokus pada Nathan yang berpakaian rapi.
Mengenakan jeans hitam panjang, kemeja kotak-kotak lengan panjang, sarung tangan hangat hitam, dan jaket biru polos. Pakaian yang sudah Nathan kenakan dengan rapi. Sudah rapi dan wangi Nathan berjalan mendekati pintu depan rumahnya.
Melihat itu Kenji segera berucap."Kemana ,Cebong?".
"Jemput Kalisa."Nathan yang sibuk mengenakan mantel hangat.
Kenji yang sudah berdiri tegak."MAKSUD LU?".
Tersenyum jahil."Idih.. cemburu."
"HAH!?".
"Lu suka Kalisa, jujur saja kecipir. Gue sudah tahu semuanya."Goda Nathan kepada Kenji yang gelagat salah tingkah.
"Gu-gue serius, Nat. Lu mau kemana?".Kenji dengan nada gugup nya.
"Keluar bentar, ada urusan."
Berlari menghentikan langkah Nathan secepat mungkin."Tunggu-tunggu gue ikut, lu lupa apa sama kejadian semalam. Lu masih saja berani keluar sendiri, gue ikut. Ada apa-apa gue yang kena imbasnya."Celoteh Kenji .
Menatap jahil."Paling juga lu yang takut gue tinggal sendirian."
"Su-sudah tahu tanya."Kenji yang keduanya telinganya memerah .
Nathan yang melihat itu."Hhh....telinga lu ke bakar."Tawa jahilnya meledak .
Meninggalkan Nathan yang masih terbahak-bahak di depan pintu depan."An**jir lu, Kecipir kering .Perut gue keram."Nathan menerima imbas karma karena ulah kejahilannya sendiri. Kejahilan yang ia tahu jika Dau telinga Kenji akan memerah jika sedang berbohong atau malu.
++++++
Sesaat kemudian, keduanya sudah ada di luar rumah. Kini keduanya tengah berjalan kaki ke stasiun kereta bawah tanah.
Suhu di luar sangat dingin, tapi tetap saja tidak menyulutkan semangat beberapa orang-orang yang masih sanggup beraktivitas di luar rumah .Semacam keluar untuk berangkat kerja ,ataupun sekedar jalan-jalan menikmati akhir tahun.
Duduk tenang di kursi pajang dalam kereta yang tengah berjalan, itu yang tengah kedua pemuda ini lakukan.
Melihat tujuan kereta ini tadi."Tujuan kemana?".Tanya Kenji yang belum mengetahui tujuan Nathan.
"Jalan-jalan, daerah Hoshi."Nathan tanpa memalingkan perhatian dari lembaran buku novel yang ia genggam.
"Nani!? Lu bilang tadi akan keluar bentar, kalau tujuan lu ke Hoshi pasti lama. Apalagi buat jalan-jalan, bisa nanti malam lu baru pulang."Kenji berucap dengan mulut mengembung-gembung.".....Lu bakal meninggalkan gue seorang diri sendirian di dalam rumah lu."Sambungnya.
Tanpa mengalihkan perhatian nya."Mau nya gitu ,tapi lu ikut."Ucap entang Nathan."Gue bosen di rumah. Dan kata Oji-san, di sana suasananya sangat bagus sekali. Soalnya ada perayaan tahun baru. Ditambah di sana tidak ada salju, hanya suhunya yang dingin."Kata Nathan menatap naik hitam Kenji datar.
Mendengar itu Kenji mendengus kesal ,memalingkan perhatian nya melihat lainya .Sementara Nathan lanjut membaca buku novelnya kembali sembaring menunggu perjalanan panjangnya untuk sampai di daerah Hoshi.
Lama hening sampai Kenji membuka suara lagi."Sebenarnya Hinode juga jarang turun salju ,karena masih berdekatan dengan kota Osaka yang jarang turun salju. Tapi entah kenapa?Bulan ini baik Osaka ataupun Hinode turun salju sangat tebal sekali."Gumam Kenji.
"Karena ada gue, gue kan raja es, es, es, es...".Nathan yang mulai dengan tingkah julid nya kembali.
*Oya, perlu kalian tahu. Daerah Hinode adalah daerah perumahan elit tempat kediaman rumah Nathan berdiri di Osaka.*
"Ngelantur, Cebong cerewet."Umpat Kenji menjinjing senyum miring .
"Rumah lu emang tidak tertutup salju?".
"Tak, rumah gue cukup jauh dari kota dan daerah Hinode .Jauh dari rumah lu!!".Ketus Kenji menekan kalimat akhir, seakan menyimpan dendam .
*Memang bisa disebut jauh jarak rumah Nathan dan rumah Kenji .Kenji tinggal di daerah Kaze .Daerah yang terkenal dengan hembusan angin menenangkan nya.
Daerah Kaze jaraknya cukup jauh dari daerah Hinode. Yang membuat Kenji harus naik kereta terlebih dahulu, jika ingin pergi ke rumah Nathan .Harus di tempuh dengan sepeda angin atau motor pun bisa, toh jalanan beraspal nya sudah nyaman untuk di lalui. Jika mau cepatnya ,naik kereta.
Okeh lanjut....
"Ho'o."Nathan yang fokus memainkan layar ponselnya. Yang sempat bergetar.
+++++++
Pukul. 13.00 Siang
Tepat jam satu siang. Nathan dan Kenji sampai di daerah Hoshi. Daerah yang dingin tanpa salju ,daerah yang hanya terkena imbas suhu dingin musim dingin saja.
Nathan dan Kenji bersiap untuk beranjak turun dari dalam kereta. Di luar kereta keduanya segera melanjutkan perjalanan keluar dari stasiun.
Di luar stasiun. Nathan dan Kenji langsung di sambut oleh salju tipis, saking tipisnya sampai masih bisa menampakkan tanah tempat butir putih kecil jatuh(Gradasi coklat putih).
"Waaww benar, salju tidak terlalu tebal bahkan tidak terlihat ada salju."Nathan yang melepas mantel hangat, juga sarung tangan hangat yang ia masukkan ke dalam saku mantel. Sampai hanya menyisakan jaket sebagai pelindung tubuh dari suhu udara dingin ini.
Mantel hangat Nathan, ia sampirkan di tas selempang yang ia bawa. Begitu juga Kenji yang mengikatkan mantel hangat ini di pinggang rampingnya.
Nathan dan Kenji berlanjut, berjalan santai melewati jalan setapak pejalan kaki. Layaknya dua pemuda yang tengah melakukan touring berjalan santai.
"Dimana gedung Hanabi raito, kecipir?".Nathan berjalan beriringan dengan Kenji.
"Tidak lihat kuil nya dulu?".Kenji bertanya balik.
"Hem, terserah lu. Yang penting bangus, tidak ya gue tinggal lu disini."Kata Nathan .
Mengerut keningnya."Tinggal aja, gue ada u....".Kenji merogoh-rogoh saku celana ,jaket ,mantel, yang kosong."Gue tidak bawa uang sepeser pun!".Ujarnya membulatkan manik hitam matanya sempurna.
Menahan tawa."Makannya jangan ceroboh ,bodoh!".Tegur Nathan ."Ayo lanjut, lu jadi pemandu wisata gue."Nathan mengambil kesempatan dalam keputusan Kenji.
"Dame, dame, dame."Kenji yang menolak keras.
"Lu mau gue tinggal di sini tanpa uang."Ancam Nathan.
Kenji sudah ingin mengepal Nathan yang menjengkelkan ini. Namun lagi-lagi di urungkan."Okeh, okeh, ayo."Kenji memilih mengalah dari pada harus di sini tanpa bisa pulang tanpa uang. Minta bantu ayahnya juga percuma, toh ayahnya sedang tidak ada Osaka melainkan di Tokyo .
+++++
Sepanjang perjalanan di penuhi dengan hiasan natal aksesoris cantik-cantik dan indah-indah ,besar kecil terhias dengan sangat cantik pohon natal ini.
Toko-toko makan, aksesoris yang ramai dengan pengunjung, jalanan yang ramai dengan perjalan kaki santai.
Berfoto bersama mengabadikan momen kebahagiaan, itu yang banyak orang-orang berlibur menikmati akhir tahun juga malam natal di tempat wisata ini.
Tanpa terasa Nathan menyungging senyum tipis memperhatikan betapa gembiranya mereka menikmati suasana libur akhir tahun.
Sampai langkah terakhir di tempat kuil kuno Jepang yang atapnya tertutup salju tipis ,taman-taman depan yang juga berhias salju tipis. Terlihat sangat cantik sekali.
Nathan mengikuti langkah Kenji yang mengajak berkeliling."Pelan kecipir, jalan lu. Sampai cepat gue tinggal nanti."
Kenji sudah pelan. Yang emang pada dasarnya Nathan saja yang jalannya terlalu lelet. Alhasil."Ihhh....".Geram Kenji berusaha untuk tetap sabar menghadapi si tukang buat emosi.
Di pertengahan jalan. Nathan menyuruh Kenji untuk berhenti sejenak. Untuk apa? Untuk menunggu Nathan yang akan memotret kelompok rusa yang tengah berteduh dibawah bangun terbuka kuil (berbentuk pintu depan atap).
Melihat itu ada rasa suka melihat sekelompok rusa juga rasa kesal pada Nathan. Meringis jahil."Lihat ini."Kenji berlari secepat mungkin kearah kelompok beberapa rusa ini. Membuat rusa-rusa ini berhamburan.
Nathan yang baru mendapatkan satu foto .Langsung menatap tajam Kenji yang berlarian di antara rusa-rusa yang berhamburan.
"KECIPIR KERING!!!". Nathan meninggikan nada suaranya. Mengepalkan kedua tangan siap menghajar Kenji.
Memilih itu Kenji segera lari secepat mungkin .Nathan semakin kesal ,ia semakin mengejar Kenji yang berlari di depannya .Menyadari itu, Kenji segera naik tangga taman ini.
Berhasil menarik kupluk jaket Kenji. Nathan segera mendekap Kenji dalam ketiaknya."Cebong, oke, oke, gomen, cebong, ketiak lu bau!!".Oceh Kenji berusaha melepaskan diri dari kuncian pergerakan Nathan.
Mengucek-ucek ubun-ubun Kenji."Mati lu Kecipir ,mati lu kecipir, ihhh....kecipir kering!!".Geram Nathan. Nathan berkelahi dengan Kenji di atas tangga taman.
Seorang anak laki-laki yang baru saja naik dengan kakaknya."Onee-chan, mereka kenapa?".Tanya anak laki-laki dalam gandeng tangan kakak perempuan nya.
Melihat tingkah dua pemuda yang tidak asing untuknya."OI! KALIAN."Suara tinggi Kazunichi Mika menatap tajam dua pemuda ini.
Melihat sumber suara Nathan menghentikan aktivitas dengan posisi yang masih mengempit kepala Kenji dalam ketiaknya. Kenji yang masih terhimpit ketiak Nathan juga terfokus melihat sumber suara.
"Kalian tidak malu di lihat orang?".Tegas Mika kepada teman sekelasnya.
Nathan melihat sekelilingnya dan langsung melepas Kenji. Senyum paksa langsung ia sungging. Sementara Kenji langsung terdiam, sembaring merasa dua daun telinga nya yang memanas.
"Dasar tidak punya pusar."Mika membela jalan dengan kasar di antara dua pemuda ini.
Nathan segera berpaling mengejar Mika."Tunggu, Mika."
Menengok malas."Nani?".
"Boleh ikut gabung keliling daerah ini?".Tanya ragu Nathan akan di setujui Mika.
Mika terdiam loading. Sang adik menarik tangannya."Onee-chan boleh ya, biar rame jalan-jalan nya?".Tanya sekecil membuat Mika tidak dapat berkata tidak.
Akhirnya ia mengangguk."Okeh, tapi jangan resek, jangan gelud, jangan banyak tingkah yang akan menyusahkan gue."
Mengacungkan jari membentuk huruf O."Okeh."Balas keduanya bersamaan .
Akhirnya Nathan dan Kenji mengikuti Mika dan adik laki-lakinya yang akan naik ke taman atas bukit ini.
Keduanya berjalan santai dalam hening. Namun yang namanya Nathan, jika baterai masih dalam keadaan penuh ya tidak akan mudah.
"Adik ini siapa namanya?".Nathan membuka percakapan.
Anak laki-laki ini menengok melihat Nathan."Kazunichi Dino, Onii-san."
*Kazunichi Dino, anak laki-laki seumur dengan si kembar Kazuo dan Kenichi.*
"Tampan, yokatta tidak mirik Onee-chan."Nathan berkata tanpa rem .
"Nat!". Seru Kenji mengangkat kedua bahunya sampai memperpendek lehernya.
Kenji melakukan itu karena Mika. Plakk....Satu pukul keras mendarat di pipi kanan Nathan.
Sudah mendapatkan puasa Mika langsung mengajak adiknya naik lebih cepat meninggalkan dua pemuda ini.
"Gue bilang juga apa."Kenji melihat lawan bicaranya.
Nathan mengelus pipi memerahnya nya."Jadi naik tidak?".Tanya Kenji .
"Cari makan, gue lapar."Nathan yang masih mengelus pipi memerah tomatnya.
"Di atas ada makanan halal kayaknya, mau coba lihat di atas atau cari di bawah?".
"Terserah lu."
"Hemmm."Kenji bersendawa melihat tangga atas dan bawah bergantian. Selesai loading."Bawah saja, di atas menyeramkan."Kata Kenji .
Kenji segera berputar jalan untuk turun ke bawah .Tidak mau repot-repot naik untuk memutar lewat tangga khusus untuk turun ke bawah. Kenji langsung saja melompati pagar pembatas dua tangga ini.
Nathan yang seharusnya menegur Kenji karena berbuat salah. Ia justru mengikuti Kenji, toh sebenarnya Nathan juga tidak mau repot-repot naik dulu sampai atas lalu berganti tangga. Lagian pagar pembatas ini tidak terlalu tinggi, jadi santai.
Di bawah tangga ini, keduanya segera berjalan keluar dari wisata kuil ini untuk pergi ke tempat di mana banyak penjual menjual makanan.