
Masih di Italia
"Di mana saya?Apakah kakak benar-benar menjual saya?Apakah itu benar?Saya....saya akan jadi wanita murahan hiks....hiks....hiks....".Ucapan dan suara isak tangis Noemi berhasil membangunkan pemuda yang baru saja bisa tidur di jam 5 pagi tadi.
Nathan terduduk di Sova panjang tempatnya tidur."Oi, bisakah kau kecilkan suara tangis mu saya baru saja tidur."Kata Nathan membuat Noemi langsung terbangun dari tempat tidurnya.
Masih dengan mata bengkak."Tuan."Noemi langsung buru-buru bangun dari tempat tidur. Brugk....,"Au....".Rintih Noemi.
Nathan yang entah sejak kapan berjalan mendekati Noemi. Nathan tiba-tiba sudah ada di depan Noemi."Kau sangat merepotkan."Ucap Nathan mengangkat tubuh Noemi ke dalam pelukannya. Menaruh Noemi kembali ke atas tempat tidur lalu duduk di samping Noemi."Kaki mu tergilir, luka-luka di wajah mu juga belum pulih. Kau istirahat saja di sini, saya akan suruh pembantu lain untuk mengantarkan kau makanan."
"Tapi saya...kakak saya....".Noemi menundukkan pandangan.
"CK. Baji***ngan seperti dia masih kau sebut sebagai kakak. Dia bahkan tega meninggalkan kau sendirian dalam keadaan terluka parah. Dan kau masih menyebutnya sebagai kakak."
Masih dengan pandangan tertunduk."Dia memang sering bersikap kasar dengan saya, tapi hanya dia satu-satunya keluarga yang saya punya."
Bangkit dari tempat duduknya."Kau istirahat saja di sini jangan melakukan apapun. Saya tidak menerima penolakan, jika saya sampai melihat kau melakukan sesuatu. Lihat apa yang bisa saya lakukan."Kata Nathan berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
Beberapa menit kemudian Nathan keluar dengan pakaian kantor rapi. Sibuk mengenakan jam tangan silver favorit nya. Di susul mengambil tas kerja yang tergeletak sebelum akhirnya berlalu pergi meninggalkan kamar pribadi.
Meninggalkan Noemi yang masih terduduk terpaku terheran-heran memperhatikan sikap misterius Nathan. Majikannya.
next....
"Bibi."Panggil Nathan pada pembantu yang paling tua(kepala pembantu).
Berjalan mendekat."Bi nanti tolong bawakan makanan untuk Noemi. Jangan biarkan dia keluar mengambil apa-apa sendiri."
"Baik tuan."
Nathan berlalu pergi untuk berangkat kekantor.
+++++
Seperti biasa jam sebelas malam Nathan sudah dalam perjalanan pulang ke villa. Di dalam mobil yang di kendarai rekan Edoardo, supir mobil Nathan.
"Maaf tuan. Bukankah itu kakak Noemi."Tebak Rekan Edoardo yang tanpa sengaja atensi matanya melihat sesuatu di luar mobil.
"Hem."Nathan sebenarnya sudah tau namun bersikap Bodoamat.
Melihat sikap majikan nya. Supir ini tetap melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sama.
Sesaat kemudian. Sesampainya di bandara villa. Nathan yang masih duduk di kursi tengah penumpang."Jemput Kakak Noemi, hubungi saya jika kau sudah menemukan nya."
"Baik tuan. "
Nathan beranjak keluar mobil. Berlalu masuk ke dalam villa.
Next......
"Bi."
"Masih tuan."
"Dia tidak keluar kamar selama saya pergi?".
"Tidak tuan, saya sudah meminta Nona Noemi untuk istirahat sepanjang hari ini."
"Bagus."Dengan sudut bibir tersenyum miring tipis. Nathan berlalu dengan berkata."Suruh pembantu E datang ke kamar saya?".
Mendengar itu senior pembantu yang menundukkan pandangan membulatkan manik ke dua matanya. Di susul nada suara rendah."Baik Tuan."
Next.....
Ceklek.....Nathan melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar. Di dalam kamar yang masih gelap gulita ini. Nathan tidak mendapati keberadaan Noemi di dalam ruangan kamar ini.
Namun Nathan dapat melihat jelas saat gorden kamarnya terhempas oleh angin sore. Hempasan gorden menampakkan sosok Noemi duduk seorang diri membelakangi Nathan di balkon kamar tidur Nathan.
Menyodorkan tisu."Hapus air mata mu."Kata Nathan kepada Noemi yang sebenarnya tengah menangis sendirian di balkon kamar Nathan.
Malu ragu-ragu Noemi langsung mengambil tisu itu untuk menghapus air matanya.
"Kau belum mandi?".
"Hem?".Sembaring membulatkan manik mata nya menatap Nathan.
Nathan yang masih menyungging ekspresi datar."Sudah sore dan kau belum mandi ."
"Umm....baik tuan ."Noemi berusaha bangkit dari tempat duduknya,"Shitt....". Rintihan singkat membuat Noemi kembali duduk.
Nathan melihat kaki Noemi yang semakin bengkak bukan semakin membaik,"CK kau harus lebih berani membela diri mu sendiri, dasar bodoh."Kata Nathan langsung menggendong Noemi.
"Tu-tunggu Tuan."
Nathan masuk ke dalam kamar mandi mendudukkan Noemi di samping bak mandi. Ia berlalu dan kembali lagi dengan membawa lipatan pakaian di tangannya.
Nathan mendorong kursi duduk bundar di dekat ruang ganti. Menaruh kursi itu di dekat Noemi. Tidak lupa dengan peralatan mandi lainnya.
Fokus pada Noemi yang sejak tadi memperhatikan dirinya."Mandilah jika sudah selesai panggil saya."Nathan berlalu meninggalkan Noemi.
Nathan duduk di bawah lemari pakaian. Berjongkok di sana, dengan pandangan terangkat ke atas. Hembusan nafas kasar terdengar lelah Nathan lontarkan.
Next......
Brugk......Nathan bergegas masuk ke dalam kamar mandi."Kenapa tidak panggil saya?".Nada suara marah Nathan di susul menggendong Noemi keluar dari dalam kamar mandi.
Sudah mendudukkan Noemi di atas tempat tidur. Nathan yang tengah berjongkok di depan Noemi,"Ayo ke dokter."Ajak Nathan beranjak mengenakan jas kerja nya kembali sebelum kembali menggendong Noemi keluar kamar.
"Pak Edoardo siapkan mobil."Nathan yang berpapasan dengan Edoardo di lantai bawah.
Next......