
Osaka
Pukul 01.59 Malam
Selasa
Sebentar lagi akan berganti hari, membuat malam semakin larut. Namun pemuda pemberani ini tetap melangkah kakinya. Menerabas dingin nya malam seorang diri hanya untuk menemui seseorang yang belum ia ketahui sama sekali.
Hidup memerah sudah terlihat dari raut wajah pemuda ini. Sampai di langkahnya terhenti di belakang kerumunan yang tengah berbaris rapi. Di lah Nathan memperlambat langkahnya menerabas barisan ini.
"Bukakan jalan untuk tamu kita."Suara salah seseorang yang belum diri di barisan paling depan.
Semua pemuda ini berpaling melihat ke belakang .Di tempat Nathan berdiri. Barisan di depannya langsung terbuka lebar.
Melihat itu Nathan masih terlihat tenang, tak ada guratan takut di ekspresi wajah nya. Bahkan saat ia mulai melangkah kakinya masuk ke dalam jalan di antara barisan pemuda-pemuda ini. Karena Nathan sudah mendukung ini dari awal, menduga bahwa surat itu pasti ada hubungannya dengan Hanaki dan Monsutafaia .
Semua pemuda dalam barisan ini menatap tajam ,dingin, dan datar kepada Nathan yang mulai berjalan maju. Seakan tatap itu sangat ingin sekali segera meremukkan tulang-tulang Nathan.
Tidak merasa nervous atau apa. Nathan tetap berjalan teneng di antara barisan ini. Sampai nya ia di depan barisan. Ia langsung di sambut oleh Hanaki.
Entah memiliki masalah apa Hanaki dengan Nathan yang jelas. Hanaki terlihat sangat tidak menyukai kehadiran Nathan.
++++++
Pukul 02.22 Tengah malam lewat.
Tidak datang seorang diri .Hiroyuki dan Ryo sudah hampir sampai di tempat Nathan bersama anggota-anggota Hiryonji yang lain.
Hiroyuki dan Ryo mengendarai motor. Dengan Hiroyuki yang di bonceng Ryo mengunakan motor yang biasa Hiroyuki gunakan .Hiroyuki yang di bonceng Ryo terus di sibukkan dengan layar ponselnya. Sampai tidak menyadari ia akan segera sampai di tempat Nathan.
Dalam fokusnya pada layar ponsel, ia mengumpat."Sial, sulit sekali menghubungi Hanaki akhir-akhir ini."
Tetap fokus mengendarai motor ini. Ryo berucap dengan enteng."Mungkin dia sibuk."
"....Cepat matikan ponsel mu, kita akan segera sampai. Nathan sangat membutuhkan kita di sana."Menambah kecepatan motornya.
"Hem."Balas Hiroyuki
++++
Di jam yang sama akan tetapi berlainan tempat .Kenji masih berada dalam bus umum. Bus yang masih beroperasi malam ini .Hanam ,dan Benji berada dalam satu bus bersama dengan Kenji .
Hanam dan Benji tetap terlihat tenang dalam bus yang masih berjalan. Sementara Kenji, entah kerasukan apa. Kenji terlihat sangat emosional, ia terlihat ingat ingin sekali marah dan marah. Entah kepada siapa. Namun itu ia lampiaskan kekesalan nya kepada bus ini.
Contohnya saat ini. Saat bus yang ia naiki ini sembaring tadi tidak kunjung sampai di tempat Nathan. "Bang**sat, bus ini lelet sekali."
"Apa tidak bisa di percepat."
"GAS LAGI PAK."Suruh nya dengan nada suara tinggi kepada supir bus ini.
Sementara sang supir yang tengah terfokus mengendarai bus ini."Sudah kecepatan maksimal ,mas. Kalau di gas lagi bahaya sudah malam ,jalanan masih licit karena salju."Balas supir bus dengan sopan.
"Huh sial."Umpatnya.
Benji tetap terdiam tidak memperdulikan Kenji .Diam sembaring memperhatikan luar jendela bus yang sunyi sepi. Hanya beberapa penerapan lampu jalanan saja yang ia lihat di luar sana.
Hanam berusaha menghubungi seseorang di seberang sana. Sampai panggilan itu tersambung.
*Taku, lu susah sekali di telefon."Suara lantang Hanaki.
*Gue baru sampai rumah, bang**sat." Gegas Takumi di seberang sana.
Mendengar itu Hanam terkekeh kecil.
*Heheh....maaf. Yasudah lu istirahat saja .Gue cuma mau minta nomor Genki ."
*Buat apa?Nathan ada masalah dengan Genki."
*Tidak."
*....Gue mau menyatukan kita untuk membantu Nathan yang melawan geng Monsutafaia dan CB sendirian."
*NANTI?".
Di seberang sini Benji segera menjauhkan ponselnya dari telinga, karena suara menggema Takumi di seberang sana.
*Iya, cepat kirim nomer Genki."
*Gue akan jemput dia, nomernya hilang."
*Kalau gitu susul gue di Pantai Hinode."
*Ya."
Panggilan di akhir sepihak oleh Hanam.
Benji yang duduk tidak terlalu jauh dari Hanam ,bertanya."Bang Hanam kenal Genki?".
"Ya."
"Hem."Merubah posisi semulanya. Melihat jalanan di luar jendela bus.
++++++
Pukul 02.24 Tengah malam lewat.
Semilir angin sepoi-sepoi malam pantai ini berhembus. Membuat beberapa surai rambut pemuda-pemuda ini bergerak mengikuti arah angin. Begitu juga dengan selempang yang di kenakan anggota Monsutafaia. Ikut terbang mengikuti arah angin bertiup.
Semakin malam, tidak hanya angin sepoi-sepoi pantai saja yang menyambut mereka. Akan tetapi angin dingin pun ikut bercampur di sana. Menjadi satu kesatuan yang membuat ketegangan di sana semakin memanas.
Baik Nathan ataupun ketua dari dua belah pihak geng ini menatap nya dalam diam nan mematikan .Di situlah. Tanpa basa-basi, Hanaki langsung berlari mendekat dan melayangkan bogem mentah pada pipi Nathan. Brugkk......Wajah Nathan di paksa menengok .Saking kuatnya tinjuan Hanaki .
Nathan terpejam sesaat untuk merasakan nyeri di pipi kanannya. Ia elus lembut pipi ini, sembaring membenarkan posisi awalnya .Nathan melihat Hanaki yang berdiri di depannya, dengan senyum miring.
Salah seorang kapten CB ingin menghentikan .Namun dengan cepat Ketua CB mengangkat tangan kanannya untuk menghentikan. Membuat kapten ini mengurungkan niatnya.
Keduanya sama-sama diam. Namun Hanaki menatap begitu dingin kepada Nathan, sorot mata bak seekor elang merah. Berbeda dengan Nathan yang membalas tatapan itu dengan tenang.
Sampai akhirnya Nathan membuka suara."Apa maksud mengkhianati geng lu sendiri?Juga kenapa lu sangat membenci gue?".
"Karena lu!". Menunjuk Nathan dengan jari kekesalannya."...Gue hampir saja berhasil membunuh lu, tapi karena lu di bantu Hanam .SEMUA JADI BERANTAKAN!Kenji jadi berpihak sama lu. Dia jadi membantu lu bukan gue....".Menjedah kalimat untuk kembali melihat Nathan dengan sorot elangnya."......Dan semua sahabat gue berpihak sama lu, mereka jadi melupakan dendam gue sama keluarga lu. Lu dan keluarga lu lebih rendah dari seorang kriminal .AYAH LU!!". Meninggikan nada bicaranya di akhir kalimat.
"Ayah lu meninggalkan ayah gue saat segerombolan Mafia mengepungnya. Membuat ayah gue mati, MATI KARENA AYAH LU YANG PENGECUT ITU."Mendengar itu Nathan mengeratkan kepalan kedua tangannya .Namun segera ia lepaskan kembali setelah ia berusaha mengontrol emosi nya yang hampir saja mengendalikan diri nya.
Mencengkram kuat kera baju Nathan sampai tubuh Nathan sedikit terangkat paksa. Memaksa Nathan menatap manik tajam di depannya ini."Lu pantas mati ,BAJI***NGAN."Geramnya kembali memukul Nathan .
Memukul lebih keras lagi di perut Nathan, sebelum berganti ke wajah Nathan berkali-kali. Sampai Nathan tersungkur. Penuh luka memar di wajahnya.
Di tempat jatuhnya Nathan terdiam sejenak mengatur nafasnya. Karena entah apa yang Nathan pikirkan? Dia tidak melawan Hanaki sedikit .Nathan seakan pasrah mendapatkan pukulan terus-menerus dari Hanaki .
"Dia akan mati, jika terus seperti ini."Chiko yang terlihat sangat tertarik dengan pertengkaran ini.
Berhasil kembali bangkit. Nathan masih sempat-sempatnya tersenyum miring."Lu tersulut emosi?".Merubah ekspresi dari sedikit ukiran senyum tipis menjadi datar."Besar juga, nyali lu."Suara berat mengerikan nya.
Chiko yang biasanya menjadi anggota yang paling dingin. Tiba-tiba sangat bersemangat dan berenergi."Gue tidak bisa menjamin Hanaki akan baik-baik melawan bocah tengil itu."
Mencekam kuat kepalan kedua telapak tangannya ."Lu bilang!Semua penyebab kematian ayah lu adalah ayah gue."Dengan perhatian tertunduk."Lu pikir, hanya lu seorang Yang Paling Menderita KARENA TIDAK PUNYA AYAH."Nathan semakin meninggikan nada bicaranya. Di akhir kalimat Nathan mengangkat perhatian.
Kini manik hitam lekat tajam nya terfokus kepada Hanaki. Di situlah tanpa basa-basi, Nathan melesat cepat. Melompat dan memutar kaki kanannya sampai membentur tepat di pelipis kepala Hanaki .Yang membuat Hanaki langsung tersungkur ke atas pasir pantai ini.
Nathan kembali berdiri mendekati Hanaki yang terkapar. Di situ Nathan menatap datar tanpa ekspresi Hanaki yang berusaha menyembunyikan rasa sakit.
Perlu kalian tahu, di posisi ini. Nathan lah yang paling banyak mendapatkan pukulan. Bukan Hanaki yang hanya mendapatkan sekali tamparan kaki saja langsung tersungkur menahan sakit serangan Nathan. Seorang pemuda yang tidak memperlihatkan ekspresi kesakitan sama sekali di guratan raut wajah. Karena Nathan tetap terlihat tenang dengan ekspresi wajah datarnya melihat Hanaki di sana.
"NATHAN".Teriak Hiroyuki di seberang sana.
Hiroyuki baru saja sampai bersama Ryo dan anggota-anggota Hiryonji yang mengikuti keduanya.
Nathan langsung menengok ke sumber suara .Namun Hiroyuki justru terdiam sesaat melihat Hanaki yang terduduk di dekat Nathan. Di tambah dengan melihat wajah Nathan yang penuh luka memar .
Melihat itu ketua CB langsung membuka suara."Kaget?".
Terfokus pada kedua pemuda, Nathan dan Hanaki."Hanaki sudah memutuskan ikut dengan kita, karena keinginan kuatnya untuk menghancurkan Nathan. Keinginan sama seperti yang kita harapkan."
"HANAKI, APA ITU BENAR?".Suara lantang Ryo menggema .
Hanaki yang sudah bangkit dari tempat jatuh .Dengan tegas ia membalas."IYA."
"......Gue ingin membunuh Nathan, gue ingin membalas dendam yang kalian abaikan."Sambungnya.