
Masih di Seoul
Tiga hari berikutnya. Hari-hari Nathan sudah kembali seperti semula. Kak Riska dan suaminya Ezawa sudah kembali dari bulan madu. Namun sayangnya, tepat di hari itu Nathan yang sudah ngebet banget mewanti-wanti kakak nya untuk membuatkannya makanan yang enak-enak favorit nya harus hangus seketika. Semangatnya seketika luntur .
Kenapa?Karena ia harus dinas kerja ke Italia. Dan itu tidak dua hari atau dua Minggu. Melainkan satu bulan Nathan akan dinas kerja di sana.
+++++++
+++++++++++
Italia.
Dua hari di Italia. Di ruang kerja pribadi villa rumah nya. Nathan yang tengah sibuk menata berkas-berkas kerjanya. Di hampir oleh seorang pembantu perempuan yang ia suruh membuat coffee sebelumnya.
"Permisi tuan."
"Taruh saja di atas meja."Ucap Nathan tanpa berpaling ke arah sumber suara.
Nathan yang sudah fokus pada pembantu."Tunggu....Kesini sebentar."Suruh Nathan.
Pembantu perempuan ini hanya mengangguk ringan, di susul menuruti perintah Tuannya.
"Tunggu awas....".Brugkk..... Pembantu perempuan ini tersungkur karena menghindari pecahan keramik. Nathan cekatan memompa tubuh pembantu ini membuat ia ikut terjatuh bersama,"Kau baik-baik saja?".Tanya Nathan yang tubuhnya masih tertindih pembantu ini.
"Baik tuan, maaf, maafkan saya."Pembantu ini buru-buru kembali bangun .
Nathan yang sudah kembali berdiri,"Seharusnya saya yang minta maaf. Saya tadi mau menyuruh mu membereskan kekacauan ini, tapi saya lupa memberitahu mu kalau kekacauan itu pecahan keramik."Kata Nathan,"Untung kamu tidak terluka."Di susul tawa ringannya.
Namun pembantu ini melihat jelas jika Nathan lah yang terluka karena nya,"Pinggang tuan."Ucap pembantu ini fokus pada bercak merah pekat di pinggang sampai perut Nathan.
"Saya akan ambil kotak obat."Pembantu ini bergegas pergi.
Sementara Nathan mencoba melihat luka di punggung nya. Kesulitan Nathan akhirnya melepas kemeja putih yang ia kenakan."Sial, makin penuh tato alami gue."Gumamnya meneliti setiap tato alami tubuhnya alias bekas luka yang terlukis di tubuhnya bertambah kembali.
Menutup mukanya dengan kotak obat yang ia bawa."Tuan."
"Langsung obati saja."Ucap enteng Nathan tanpa perduli dengan bentuk tubuhnya yang terekspos.
Baru menyadari situasi nya .Nathan melangkahkan mendekati pembantu ini. Sementara pembantu ini mengambil langkah mundur. Nathan dengan cekatan menarik paksa pergelangan tangan pembantu ini untuk masuk ke dalam ruangan. Di susul dengan Nathan menutup pintu ruangan ini rapat-rapat."Cepat obati tidak akan ada yang lihat."Kata Nathan berlalu duduk di Sova yang tersedia di ruangan ini.
Merasa takut, tapi ini juga sudah menjadi tugasnya, juga tanggung jawab nya yang sudah membuat majikannya terluka.
Sesaat kemudian setelah menahan rasa perih beberapa waktu."Sudah selesai?".
"Sudah tuan."
Beranjak dari tempat duduknya."Terima kasih dan bereskan pecahan keramik itu."
Berpaling ke arah pembantu."Jangan lupa hati-hati membereskan nya."Pesan Nathan sebelum berlalu pergi masuk ke dalam ruangan lain yang ada di dalam ruangan ini.
Sesaat kemudian Nathan sudah keluar dari dalam ruangan dengan pakaian yang sudah berbeda. Ia buru-buru mengambil berkas kerja, sebelum buru-buru berjalan cepat keluar ruangan.
Next.....
Malam Harinya. Tepat pukul 11 malam. Nathan yang baru sampai di Villa langsung melangkah masuk ke dalam Liv untuk pergi ke kamar pribadi nya.
Tepat tengah malam. Nathan berjalan-jalan yang tidak bisa tidur. Dengan celana kolor panjang selutut, kaos biru oblong. Nathan berjalan-jalan berkeliling villa yang kebetulan baik dalam maupun luar villa sangat luas. Sangat cukup membuat untuk membuat tubuh lelah.
"Berkeliling pak?".
"Iya tuan."
"Tuan kenapa belum istirahat?".
"Saya ingin ikut berkeliling."Nathan mendahului Edoardo.
"Tuan."
"Saya bosan biarkan saja berkelili......."Memotong ucapan Nathan,"...Ke arah sana Tuan."
"Oh."Berputar arah jalan.
Next.....
"Lepas kak."Berusaha membebaskan diri dari cengkeraman kuat kakak laki-lakinya."Saya tidak akan memberikan kakak uang, kakak harus kerja bukan berjudi."
"Setiap uang yang saya berikan selalu kakak habiskan untuk....".Pakk....Satu tamparan keras mendarat tepat di pipi mulus perempuan muda ini.
"Berani kamu menentang perintah kakak."Pakk....Bukk......Bukk....Bukan lagi tamparan melainkan pukulan kerah yang ia layangkan,"Rasakan itu."
"SEHARUSNYA KAU BALAS BUDI KEPADA KAKAK MU YANG SUDAH MERAWAT MU WANITA MURAHAN."
Menangis tersedu-sedu menahan sakit yang sangat luar biasa mendengar ucapan kasar sang kakak, sangat terluka yang bisa ia lakukan. Sembaring memegangi pipi memerah bengkak nya.
"Seharusnya kau mati."Sett.... Menggenggam kuat pergelangan tangan pemuda ini."Mau uang berapa?".Tanya Nathan menatap datar pria di depannya yang bahkan mulutnya menyengat alkohol.
Menepis kasar tangan Nathan."CK siapa kau jangan ikut campur urusan gue."
"Majikan adik mu."
"Pantas!....Berikan gue 40 miliar."
"Pak Edoardo."
"Iya tuan?".
"Ambil kertas cek di kerja saya."
"Baik tuan."Edoardo berlalu meninggalkan tempat ini.
Sesaat kemudian. Nathan menulis nominal yang akan ia berikan kepada pria ini."Ambil ini dengan satu syarat. Jangan pernah kau menganggu adik mu lagi."
"Jika sampai terjadi, mati adalah cara mudah untuk mu mengembalikan uang ku."Ancam Nathan.
"Okay, Okay."Sembaring sumringah menggenggam kertas cek. Pria ini berlalu pergi begitu saja mengabaikan adik perempuan nya yang masih terpaku terduduk di paving dengan tatapan kosong dan air mata yang tetap mengalir deras membasahi pipi memerah memarnya.
Perempuan muda ini adalah pembantu yang tadi bermasalah dengan Nathan. Bivatigirni Noemi Nama pembantu muda itu.
"Noemi."Panggil Nathan berdiri tepat di depan Noemi."Kau sudah aman sekarang, cepat bangun dan obati luka-luka mu."
Noemi yang awalnya terdiam semakin tersedu-sedu menangis sampai tertelungkup, sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.
"Hy Noemi, Noemi bangun, Noemi."Namun nihil karena Noemi sudah pingsan.