
Gaun putih dengan motif elegan mulai terlihat saat kedua pintu kupu-kupu besar ini terbuka. Mempersilakan sesosok wanita cantik yang menyungging senyum manis untuk mulai melangkahkan kakinya berjalan seorang diri di atas karpet merah untuk mendatangi sesosok pria berjas putih yang tengah menunggu kehadirannya.
Iringan musik romansa terdengar merdu mengiringi acara ini. Semua tamu undangan berdiri untuk melihat ataupun sekedar mengabadikan.
"Manis."Satu kata yang terucap dari Nathan untuk mengungkapkan penampilan Noemi hari ini.
Singkat pelan namun masih bisa Noemi dengar dengan jelas. Di sisi lain, Jovan yang ikut menyaksikan tanpa ia sadari dirinya menitihkan bui bening. Yang memiliki dua makna. Antara bahagia juga kesedihan. Sedih mengingat momen yang seharusnya berjalan lancar justru hancur di tengah jalan.
Di situ entah karena terlalu merindukan atau memang masih mengharapkan kehadirannya. Jovan melihat jelas calon istri tengah berdiri di barisan depan nya dengan menyungging senyum hangat yang selalu di berikan untuk nya,"Kamu juga berhak bahagia, carilah pengganti ku mas."Ucap Sekar sebelum lenyap bersamaan dengan suara tepukan tangan dari para tamu undangan.
Menepuk bahu Jovan,"It's okay?".Tanya Kevin yang memahami betul apa yang tengah di rasakan sahabat. Dengan hanya menatap kedua mata yang tidak dapat berbohong itu.
Mengangguk,"Hem, I'm fine,"Menjedah ucapannya,"I'm happy this moment, akhirnya dia mendapatkan kebahagiaan nya."Jovan yang menyungging senyum yang sangat manis melihat sahabatnya telah mendapatkan kebahagiaan nya.
Kembali menepuk bahu Jovan,"Nathan beruntung punya sahabat kayak lu."Kata Kevin.
Terkekeh kecil,"Gue dan Nathan juga beruntung punya Mak kayak lu."
"CK mata"*""*mu."Umpat Kevin sebelum akhirnya ikut tertawa renyah bersama Jovan.
Next.....
Sejak acara tadi. Nathan hanya duduk diam di samping Noemi dan hanya berdiri untuk memberikan salam kepada para undangan yang mengucapkan selamat.
Namun Nathan terlihat sangat kesal. Bukan hanya kesal tapi sudah sangat. Karena apa? Karena para ceguk sahabat lucknud nya tengah mengiming-imingi dirinya dengan berbagai hidangan makanan enak-enak di bawah sana. Tidak terkecuali Jovan rival setara tingkat kakapnya.
Shett....Menangkan satu suapan daging bakar,"Uhh....mantap."Didukung dengan ekspresi wajah julid meledek Nathan yang tidak dapat bergerak dengan bebas karena ini acara yang harus menjaga kewarasan nya. hehe...
Sampai sebuah tangan menggenggam tangan nya. Nathan menengok ke arah Noemi,"Turun saja mas, sambut mereka."
"Tidak."Balas singkat Nathan.
Mendengar balasan itu Noemi hanya terdiam sembaring mengerakkan kakinya yang terlihat sudah sangat tidak nyaman mengenakan sepatu hak tinggi ini. Lantas Nathan tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya.
Melihat itu Noemi hanya diam saja, tanpa menghentikan Nathan yang meninggalkan seorang diri di atas sini.
Namun sesaat kemudian Nathan kembali dengan sepasang sandal di tangannya kanannya nya. Ia berjongkok di depan Noemi membuka sedikit bawah gaun yang Noemi kenakan untuk melepas sepatu hak tinggi yang Noemi kenakan. Sebelum ia ganti memakaikan sandal ini.
Mendongak menatap Noemi,"Kalau gini kan enak. Kamu bisa turun dan bercengkrama dengan yang lain."Kata Nathan yang di balas anggukan ringan Noemi.
Nathan menyisihkan sepasang sepatu tadi di sisi lain. Lalu ia membantu Noemi untuk turun dan bercengkrama dengan tamu-tamu yang lain. Selama itu akhirnya ia memiliki ruang untuk mendekati para sahabat dan Noemi tengah sibuk bercengkrama dengan para undangan wanita.
Ssstt.... sembaring mengambil ali piring Jovan,"Lu tuh udah habis dua piring sekarang giliran gue."
Merebut kembali piring makanannya,"Nanti lu gemuk anjing."
"Bodoamat, lagian gue harus memanfaatkan momen makanan gratis ini."Jovan yang kembali menikmati makanan nya,"Lu tidak lihat Kevin dan Jefri."
Dua pelaku yang sibuk makanan merasa terpanggil,"Ha?".Dengan mulut yang sama-sama masih penuh dengan makanan.
Menepuk keningnya,"Aduh gue kasihan sama perut kalian setelah itu."Gumam Nathan mengetahui jelas setelah itu.
Sementara Yudha duduk tenang-tenang saja menyuap kedua putranya yang manja. Iya, entahlah karena sejak tadi kedua putra Yudha melekat pada Yudha tanpa mau di pisahkan membuat kebebasan untuk Alyah.
Next.....
Acara telah usai tamu undangan juga sudah pulang dan hanya satu keluarga ini saja tetap di sini.
Di salah satu kamar hotel gedung ini. Riska tengah sibuk membantu Noemi melepas gaun pengantin dan riasannya.
Selesai itu,"Kamu langsung istirahat saja tidak perlu menunggu adik saya."Pesan Riska.
Noemi yang awalnya hanya diam saja tidak mengucapkan apapun memberanikan diri untuk bertanya,"Sebenarnya Nathan ada urusan apa kak?".Tanya Noemi menjaga jarak pandang dengan Riska.
Melihat Noemi yang masih canggung dengan walaupun sudah menjadi adik iparnya,"Ada urusan kantor sedikit, tadi saya sudah berpesan agar dia segera kembali. Jadi jika dia kembali larut malam. Besok pagi kamu bilang ke saya biar kakak kasih pelajaran dia."Kata Riska,"Seenaknya saja meninggalkan istri sendirian."
Noemi menyungging senyum tipis,"Yasudah kamu istirahat saja, selamat malam."
"Malam."
Riska berlalu pergi meninggalkan Noemi, selepas mengunci pintu kamar Noemi memutuskan untuk langsung merebahkan diri di atas tempat tidur. Untuk mengistirahatkan tubuh setelah memakai beban gaun pengantin yang teramat lumayan berat.
Next....
Belum selesai acara tadi, Nathan, Ezawa, dan Jovan pergi meninggalkan acara. Ezawa sudah izin dengan Riska. Sehingga selepas ia memberitahu kedua pemuda ini, ia bisa langsung meninggalkan acara.
Dan di sinilah mereka bertiga. Di dalam gedung perusahaan Salvador. Di salah satu ruangan dengan beberapa bodyguard atau orang bawah Nathan dan Ezawa.
"CK jadi benar jika pria itu memiliki keturunan lain."Kesal Nathan.
"Jika benar maka keamanan mereka harus lebih di tingkatkan. Setelah mendengar cerita mu dia pasti memiliki dendam yang sangat besar pada keluarga mu."Kata Jovan menggenggam kedua tangannya. Dengan tatapan serius pada Nathan.
"Semua sudah ku atur, tidak akan ku biarkan mereka menyakiti keluarga ku."Timpal Ezawa terdengar tegas.
Menyungging senyum miring,"Hanya dengan melindungi saja tidak akan cukup."Menjedah ucapannya,"Harus ada pergerakan untuk melumpuhkannya."Lanjut Nathan.