
Osaka
Pukul 21.28 Malam
Selasa
Masih di hari yang sama. Sesuai rutinitas kedua pemuda ini. Di dalam bilik kamarnya masing-masing, keduanya tengah bergelut dengan tugas-tugas sekolah mereka.
Sementara di kesibukan ini. Nathan yang meja belajarnya menghadap langsung ke arah jendela balkon rumahnya. Jendela yang sedikit terbuka untuk membiarkan angin dingin malam ini menerpa wajahnya. Membiarkan tubuh ini di terpa angin sepoi-sepoi dinginnya malam yang menusuk kulit.
Tampa mengalihkan perhatian melihat luar, ia tetap terfokus pada soal-soal yang rumit ini .Matematika .Soal kelemahan terbesar Nathan.
Jadi bisa di bayangkan, jika angin dingin menusuk kulit ini dapat menghangatkan isi kepalanya yang hampir meledak.
Sebelum mengerjakan ini. Nathan bermaksud untuk meminta bantuan Lingga atau Kevin mengerjakan soal-soal ini. Namun ia bertekad menyelesaikan sendiri soal-soal ini seorang diri .Membuat dirinya harus bergelut disini ,mungkin sampai menjelang tengah malam nanti.
+++++++
Di jam yang sama akan tetapi berlainan tempat .Seorang pemuda dengan mantel hangat nya, tengah berjalan menyusuri jalanan setapak di atas jembatan yang penuh dengan lalu lalang pejalan kaki.
Sesosok pemuda itu adalah Hanam. Haman baru saja pulang dari tempat kerjanya. Hari ini ia pulang seorang diri. Karena Takumi mendadak ada urusan meeting penting yang harus ia hadiri malam ini juga.
Meeting yang seharusnya di hadiri bersama dengan Hanam. Akan tetapi, Hanam yang tiba-tiba kurang enak badan memutuskan untuk pulang lebih awal .Dan menyerahkan pertemuan meeting tadi dengan Takumi.
Dan di sinilah Hanam. Berjalan seorang diri di tengah keramaian pejalan kaki. Hanam melangkah santai memecah jalanan ini, agar tubuh yang mulai tak bertenaga ini lekas sampai di rumah.
Mungkin karena ia kurang istirahat dengan baik beberapa hari ini. Akibat dari urusan sekolah juga urusan kerjaan nya yang menumpuk, di tambah kemarin harus mengantar Nathan ke Tokyo .Membuatnya kurang istirahat.
Angin malam berhembus tenang. Namun tidak dengan hawa dingin nya. Hawa dingin sangat menusuk kulit. Menusuk mantel hangat yang tengah Hanam lakukan.
Masih dengan langkah santai nya."Badan panas campur dingin."Gumam Hanam tersenyum kecut.
++++++
Tiba di gang rumah nya. Hanam menghembuskan nafas yang berasap-asap. Hembusan nafas lelah lebihnya melihat pemandangan yang sangat tidak enak untuk di lihat di depannya.
Seorang pemuda dengan jaket hitam tengah menunggu Hanam di perempat gang biasa Benji menunggu Nathan.
Pemuda yang bersandar di dinding gang itu ,berkata."Nathan dalam masalah besar."Berdiri menghadap Hanam."Geng Monsutafaia bergabung dengan CB.....".Menjeda kalimatnya."...untuk menghancurkan Nathan."
Hanam yang masih berdiri di posisi yang sama."Kenapa lu memberitahu gue, bukankah lu ketua Monsutafaia?".
"Dulu. Sekarang gue tidak mengikuti ataupun berpihak kepada siapapun."
Berjalan melewati Hanam."Gue hanya ingin membantu Nathan, sesuai perjanjian gue dan dia kemarin."Suara berat Pemuda ini sebelum berjalan menjauh dari Hanam.
Hanam terdiam sesaat. Sebelum akhirnya ia melanjutkan perjalanan nya kembali.
++++++
Pukul 23.59 Menjelang tengah malam.
Yang di tunggu-tunggu oleh Nathan telah tiba .Nathan segera berkemas sebelum akhirnya melanjutkan ritual akhir untuk tidur.
Namun di tengah sibuknya ia membereskan buku-buku yang berserakan di atas meja belajarnya. Tiba-tiba pintu kamar miliknya di ketuk dari luar. Tokk....tok...."Nat, lu sudah tidur?".Suara Kenji di luar pintu kamar nya.
"Masuk."Suruhannya tanpa melihat pintu kamar miliknya yang mulai terbuka berlahan dari depan.
Kenji melangkah masuk mendekati Nathan yang di sibukkan di meja belajarnya."Paket Data lu mati?".
Tanpa melihat lawan bicaranya."Hem."
"....Dia berpesan untuk lu, supaya lu lebih hati-hati lagi beberapa hari ini. karena Geng Monsutafaia bersekutu dengan geng CB ."
"Maksudnya?".Nathan menatap serius lawan bicaranya.
Belum juga Kenji berucap. Piyarr......Suara jendela kaca balkon kamar Nathan tiba-tiba pecah .Serpihan-serpihan kaca-kaca itu berloncatan kemana-mana ,baik Nathan ataupun Kenji langsung membungkuk untuk menghindari serpihan pecahan kaca yang berterbangan.
Nathan segera berpaling melihat jendela kamarnya yang pecah. Ia lihat kaca yang sudah hancur itu .Nathan berjalan lebih mendekat untuk melihat apakah sang pelaku masih ada di bawah sana .Namun saat sudah melihat keluar jendela, ia sudah tidak melihat seorang pun di bawah jalanan di luaran sana.
"Nat."Panggilan Kenji memegang sebuah kertas yang membungkus batu.
Nathan berpaling, beranjak mendekati Kenji. Kedua pemuda ini fokus membaca isi tulisan yang tertulis di kertas ini .
Watashi no iitai koto o shiritai nara, Hinode bichi in kite kudasai
Jika ingin tau apa yang gue maksud, datanglah ke Pantai Hinode.
Asoka ni iru, Chikushou
Berada di sana, bang**sat .
"Ayo berangkat."Ajak Nathan langsung melesat mengambil jaketnya nya .
Memperhatikan itu."O'on, lu cari mati?".Lototan mata Kenji.
Tidak memperdulikan itu. Nathan yang sudah mengenakan jaket nya."Tidak ikut, terserah."Berlalu keluar dari bilik kamarnya.
"Kalau bukan cebong, tidak mungkin cari-cari masalah."Ujar Kenji mengikuti langkah Nathan.
Saat Kenji baru turun ke lantai satu rumah, ia sudah tidak mendapati kehadiran Nathan di sana.
Melihat itu Kenji hanya mendengus kesal sembaring berjalan ke arah pintu keluar. Ia yang mulai mengenakan mantel hangat untuk mendabel jaket yang ia kenakan."Harus cepat nyusul cebong ,sebelum masalah besar lain timbul."Gumamnya bergegas.
Di sisi lain. Nathan sudah dalam perjalanan ke pantai Hinode. Yang berada di daerah Oka Olly tempat video vila kemarin berdiri.
Nathan jalan seorang diri, ia meninggalkan Kenji seorang diri di rumah. Entah apa isi pikiran Nathan ,sampai seberani ini langsung melesat menemui seseorang ini seorang diri.
Apakah ia tidak memiliki pemikiran negatif sedikit pun? Semacam pemikiran akan mendapatkan nya ia masalah besar saat sudah sampai di sana. Yang jelas Nathan seperti tidak memikirkan itu, atau ia memang tidak perduli dengan itu.
Nathan yang tetap melangkah kan kakinya .Batinnya berucap."Akan ku selesai hari ini .Kekacauan baji**ngan ini."
Bisa di bilang. Di tengah malam ini. Di bawah dinginnya malam ini .Nathan, pemuda tanpa rasa takut ini pergi seorang diri memenuhi isi surat dari seseorang yang bahkan tidak ia ketahui dari siapa .Hanya untuk menyelesaikan semua kekacauan di malam ini juga.
Suhu udara malam yang sangat dingin, tidak menyurutkan niat pemuda ini untuk terus melangkah maju. Melanjutkan perjalanannya yang masih cukup jauh untuk ia sampai di tempat pertemuan.
Di sisi lain. Kenji tengah terdiam di perempat gang perumahan elit untuk menunggu Benji juga Hanam.
Tidak perlu waktu lama, karena sesaat nya. Baik Benji ataupun Hanam sudah dapat ia lihat. Kedua pemuda dengan usia yang terpaut tiga tahun berjalan beriringan mendekati Kenji.
"Nathan jadi berangkat ke sana?".Tanya Hanam yang terlihat khawatir.
"Sudah bang."Kenji melihat lawan bicaranya .Sebelum berpaling ke arah lain dengan ekspresi kesalnya."Cebong memang ceroboh ,dasar O'on."Umpat kekesalannya kepada Nathan yang tetap pergi seorang diri ke sana tanpa menunggu dirinya.
"Sudahlah, ayo jalan. Kita harus secepatnya menyusul Nathan."Ajak Benji memecah keheningan sesaat ini.".... Hiroyuki dan Ryo sudah meluncur ke sana."Kata Benji mematikan layar ponselnya, sebelum ia masukkan ke dalam saku jaket nya.
Tanpa berbasa-basi lagi ketiganya langsung melesat berjalan kaki ke sana. Ke Pantai Hinode tempat Nathan akan melakukan pertemuan nya dengan seseorang pengiriman surat misterius tadi.