My Salvador

My Salvador
Eps.245



"Hiiiaaaa.......".Bala bantuan datang membantu Ezawa yang sudah sangat kewalahan. Ezawa jelas kewalahan dengan keadaan fisik yang sudah terluka parah sejak tadi. Jelas Tidak mungkin untuk memilih kekuatan ekstra untuk melawan mereka yang keroyokan dengan tenang strong.


Memompa tubuh Ezawa yang sudah akan tumbang,"Maaf terlambat Tuan."


"Kau urus di luar aku akan masuk ke dalam."Ezawa berlalu pergi dengan menggenggam lengan kanannya yang terdapat luka sobek kan pisau di sana. Membuat kemeja yang penuh bercak darah ini semakin kacau.


Nathan lebih kuat lagi mendorong,"Tidak akan ku biarkan manusia salah faham seperti mu tetap hidup!!!".


Berbalik mendorong tidak kala kuat,"Iya, aku sadar aku salah faham, dan aku tidak bisa menerima nya. Aku tidak mau menerima kenyataan kalau keluarga ku lenyap karena keluarga mu."


"CK."Nathan yang masih sekuat tenaga menahan dorongan dari Byung Choon.


Bruk...pyarr...... Memukul kepala belakang Byung Choon dengan guci keramik sampai guci itu hancur.


Byung Choon berpaling sebelum akhirnya tubuh nya tumbang. Nathan langsung melangkah memeluk erat tubuh bergetar ketakutan Riska.


"Yohan, Yohan baik-baik saja kan, Yohan baik-baik saja kan?". Berlinang air mata. Di keadaan nya yang kacau Riska masih sangat mencemaskan keadaan putra sulung nya.


"Yohan di tempat yang aman."Kata Ezawa yang baru ikut bergabung.


"Tuan Xin-ki kapalnya."Ujar salah satu anak buah Jen Xin-ki.


Fokus Jen Xin-ki langsung melihat ke arah pelabuhan kapal. Kapal yang Ezawa masuki tadi mulai berlayar menjauh dari pelabuhan.


"Cepat sewa kapal."Perintah Jen Xin-ki tegas pada salah satu anak buahnya,"Dan cepat panggil bantuan."


"Kak."Seru Nathan,"Kapalnya bergerak."Nathan yang menyadari goyang kecil dari kapal besar ini.


"Benar."Byung Choon yang sekarat berusaha kembali bangkit dari tempat nya tersungkur,"Dan Dom."


Bomm....Krrekk......Salah satu ruangan di kapal ini meledak ledakan yang kuat dapat Nathan, Ezawa, dan Riska dengar jelas.


"Apa rencana mu bang***sat!?".Geram Ezawa menatap tajam pria kacau di depan.


"Meledak kapal ini."


Melihat ketiga target hendak berlari keluar,"Woy!!".Teriak Byung Choon dengan sisa tenaga,"Percuma kalian lari semua pintu keluar kapal ini sudah tertutup. Kalian semua akan pergi ke neraka bersama ku."Nada suara tinggi Byung Choon yang tidak di hiraukan oleh Ezawa yang terus menarik pergelangan tangan Riska untuk secepatnya berlari keluar dari sini.


Sayangnya benar kata Byung Choon semua pintu keluar telah di tutup dari luar rapat. Dan mustahil untuk di buka hanya dengan di dobrakan sekalipun. Nathan, Ezawa, dan Riska juga sudah mulai lelah setelah berlarian ke sana kemari mencari jalan keluar yang ternyata buntu semua.


Ledakan-ledakan Bom juga mulai berkumandang. Dan tengah lari mecari jalan keluar Riska hampir saja meledak karena Bom jika saja Ezawa tidak sigap menarik tubuh Riska untuk menjauh cepat.


Riska baik-baik saja tapi Lengan tangan Ezawa mengalami luka bakar. Sementara Nathan, karena menghindar dari ledakan keningnya sampai membentur dinding cukup kuat sampai mengalirkan merah pekat di sana.


"Ezawa kita masih bisa ketemu Yohan kan?".Riska yang sudah di ambang putus asa.


Ezawa berpaling fokusnya menatap dalam mata mata teduh itu, lantas ia menyungging senyum hangatnya,"Aku akan membawa mu bertemu dengan Yohan."


Riska yang masih terduduk di temani oleh Nathan di tengah kobaran api yang mulai menjalar kemana-mana. Ia tiba-tiba mencengkeram kepalanya,"Kak Riska kenapa?". Nathan panik melihat keadaan kakaknya seperti ini semakin khawatir dan panik.


"Sakit."Ucap lirih Riska tetap mencengkeram kepalanya dengan kedua tangannya.


Ingat dengan kejadian beberapa tahun yang lalu,"Jangan-jangan."Ujar Nathan.


Masih terasa sakit luar biasa, Riska mendongak menatap adiknya,"Hidup kak Riska berdarah."Nathan berderai air takut khawatir cemas bercampur aduk menjadi satu.


Riska mengusap air mata itu,"Sakitnya tidak seberapa, kau tidak perlu khawatir."


"Tidak seberapa apanya hidung kak Riska berdarah, lihat darahnya tidak mau berhenti."Nathan meninggikan nada bicara,"Aku takut kak."Tertunduk.


Mengelus lembut Surai rambut adiknya yang acak-acakan,"Semua akan baik-baik dik. Bolehkah kakak minta tolong berikan ini pada Yohan."


Nathan berusaha menahan tangisnya akan tetapi sulit, ia tidak bisa menahan air mata yang terus mengalir deras membasahi pipinya.


Riska memberikan sebuah kalung pada Nathan,"Berikan pada Yohan."


"Tidak-tidak kak Riska harus memberikan nya sendiri."


"Tidak bisa Nathan."Timpal Ezawa yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang Nathan,"Kami tidak bisa memberikan nya."


"Tidak-tidak kalian harus keluar dari sini bersama ku, aku tidak mau keluar sendiri. Aku tidak mau kehilangan keluarga ku lagi."


"Kau sayang anak ku kan?".Tanya Ezawa,"Sayangi anak ku gantikan posisi ku sebagai ayahnya."Ezawa yang sejak tadi membawa beberapa lembar selimut basah mulai menyelimuti tubuh Nathan dengan selimut basah itu,"Aku akan memastikan kau keluar dari sini dengan selamat."


Riska kembali memberikan kalung tadi kepada Nathan, isak tangis pecah di sini air mata mengalir deras bak mata air terjun. Bommm.....Krekkkek......Salah satu ruangan di belakang Ezawa meledak hancur lebur.


Tinggal yang terakhir Riska menutupi kepala Nathan dengan selimut tebal basah ini,"Adik kakak adalah pria yang kuat dan selamanya akan menjadi adik terbaik kakak. Putra sulung kakak percaya kamu bisa mendidik nya menjadi anak yang baik. Masih ingat pesan, kakak jangan pilih-pilih makanan, kata kan itu juga pada Yohan."


"Dan jangan pernah permainkan hati wanita, katakan itu pada Yohan. Jangan didik dia menjadi Playboy seperti mu."


Tertawa kecil,"Hahah....Kakak sangat cerewet seperti bisa."Riska yang langsung menutup semua rapat kepala Nathan dengan selimut tebal ini.


Jika saja selimut tebal ini masih tersisa banyak mungkin kejadiannya tidak seperti ini, sayangnya hampir semua ruangan sudah hancur di bakar si jago merah. Bahkan sampai ada ruangan yang sudah tidak bisa di lewati sama sekali. Alhasil dengan tiga lembar selimut ini Riska dan Ezawa berharap bisa melindungi Nathan dari kobaran api yang membakar dan ledakan.


Bomm.......Krrekk......Bomm.....Dalam dekapan tubuh yang terbalut seperti kepompong ia menggenggam kuat sisi-sisi selimut ini. Air mata yang tetap mengalir deras membasahi pipi tanpa Isak tangis, mendengarkan suara kakak perempuan di luar sana yang berlahan-lahan mulai samar tidak terdengar.


Ia sadar betul tubuhnya terlempar, dan ia rasakan sakit luar biasa saat ledakan terakhir terbesar terjadi. Sakit karena tubuhnya seperti di tekan, oleh sesuatu yang keras.


Selimut yang ia kenakan berlahan-lahan melonggar. Nathan melepaskan genggaman tangan membuat selimut-selimut ini menjauh dari nya.


Tubuh Nathan memberat tertarik ke dasar air laut. Mata yang masih terbuka lebar tanpa sengaja melihat dua sosok yang tidak seharusnya ia lihat dalam keadaan seperti itu.


Tidak ada perlawanan untuk Nathan berenang ke permukaan, ia hanya terdiam menikmati dinginnya air laut yang menarik tubuh ke dasar laut dalam,"Ini akhirnya, aku sendirian lagi."Batin Nathan setengah keadaan yang hilang.