
Osaka
Pukul. 05.10 Pagi
Kamis
Hari Rabu telah berganti menjadi hari Kamis .Pagi ini lebih istimewa dari pagi-pagi biasanya. Kenapa?Karena pagi ini, salju mulai berguguran di daerah ini .
Sesosok pemuda dengan pakaian yang sama seperti semalam, yang masih melekat pada tubuhnya. Pemuda itu tengah terdiam di teras belakang rumahnya. Perhatian pemuda ini menatap kearah atas di mana setitik kecil putih berasal.
Tangan kanannya terentang untuk menjadi tempat mendarat setitik kecil putih ini."Iittss...dingin."Gumam pemuda ini tersenyum manis.
"Masuk, nak Nathan. Nanti masuk angin."Suara nenek Suki yang baru saja datang ke dapur.
Secepat Nathan membalikan badannya, untuk melihat sang sumber suara yang sudah duduk di dalam sana. Melempar senyum tipisnya sekilas ,sebelum ia berjalan masuk ke dalam menghampiri nenek Suki .
Nenek Suki yang sudah duduk di kursi yang tersedia di dapur ini ."Eh, kamu sudah masak."Ucap Nenek Suki melihat beberapa menu makan pagi di depannya."....Kalau gitu Obaa-san kalah telat lagi ,bangun paginya ."Sambungnya menyungging senyum manis.
Nathan tertawa renyah."Heheh....Tinggal di bawa-bawa ke ruang makan saja, Obaa-san."Kata Nathan yang tengah mematikan kompor .
"Itu apa?".Nenek Suki melihat panci kecil yang masih ada di atas kompor.
"Ini sup ikan. Saya tahu di luar sangat dingin, jadi saya buat sup ikan bukan penghangat ."
"Kamu ini sebenarnya bangun jam berapa, nak .Sampai bisa menyiapkan semua ini."Kata Nenek Suki terlihat sangat kagum dengan rajinnya Nathan, sebagai seorang laki-laki yang sangat pandai mengurus dapur .
Nathan yang mendengar itu hanya terkekeh kecil.Sebelum di susul dengan berkata."Kalau gitu saya naik dulu, Obaa-san. Untuk sup nya birkan saja di sini, nanti di panaskan lagi. "
"Iya, tapi yang ini Obaa-san bawa ke meja makan ya."
"Iya."Nathan yang sudah berjalan jauh dari dapur .
Nenek Suki bangkit dari tempat duduknya. Sembaring menatap beberapa piring makanan di atas meja ."Hem..semoga akhirnya cerita mu berakhir bahagia, nak Nathan."Gumamnya.
+++++++
Pukul. 05.39 Pagi .
Nathan segera membangunkan Kenji yang masih menjadi bangkai di atas tempat tidur. Nathan yang sudah di dekat tempat tidur, menyanggah dagunya dengan tangan kanan. Senyum jahil terlihat mengerikan, ia perlihatkan di sana .
"Hemm....terlalu baik jika membangunkan dengan cara baik-baik."Gumamnya .
Mengambil ancang-ancang untuk melompat setinggi mungkin."BANGUN KENJI!!!".Suara lantang Nathan sebelum tubuhnya mendarat tepat di atas tempat tidur .
Bugg.....Sampai tempat tidur ini tergoncang hebat.
"GEMPA .....OSAKA GEMPAAAA!!!!". Teriak-teriak panik Kenji ,dengan ekspresi wajah yang sangat mendukung .
Kedua mata belok, rambut acak-acakan, bibi memerah sidik bengkak ,khas orang bangun tidur .Menjadi sangat kocak, dengan ekspresi wajah panik .
Nathan yang melihat itu langsung tertawa sejadi-jadinya. Bahkan tubuhnya sampai terjatuh dari atas tempat tidur, karena saking parahnya menertawakan Kenji .
Baru menyadari dirinya di kerjain Nathan. Kenji langsung memasang wajah datar, sembaring mengacak-acak rambut kepala.
Dan tanpa bermaksud membalas, Kenji bangkit dari tempat tidur. "Gue mandi duluan."Ucapnya melesat cepat masuk ke dalam kamar mandi .
Mengehentikan tawanya."Okeh! Pakai air hangat ,Ken. Di luar sudah turun salju."Kata Nathan mencoba bangkit dengan kaki lemas nya .
Memperlihatkan bagian kepalanya saja di ambang pintu masuk kamar mandi."Ha! Serius!?".
Nathan yang tengah terduduk di piring tempat tidur ."Iya, be**go. Kalau tidak percaya lihat balkon."Ucap Nathan tanpa berpaling menatap lawan bicaranya. Nathan fokus memijat kedua kakinya, yang sedikit mati rasa .Efek tertawa tidak kenal rem .
Kenji yang penasaran akhirnya membuka kembali pintu kamar mandi. Dengan kaki jengkal panjang, ia berjalan cepat menghampiri balkon kamar Nathan. Kenji buka gorden pintu kaca ini dengan cepat."Wahh!! Iya ,Nat .Salju sudah turun lagi .Tebel!."Memperlihatkan ekspresi sumringah. Yang akhirnya berubah cepat menjadi masam."....Bakal dingin banget!". Sambungnya dengan nada suara malas .
Sudah merasa lebih baik dengan kedua kakinya. Nathan mencoba untuk bangkit dan menggerak-gerakkan kedua kakinya dengan sedikit meloncat-loncat ringan.
Menghentikan olahraga ringannya."Lu....".Ucap Nathan terhenti .Di kala manik hitam lekat menatap pemandangan yang tidak seharusnya ia lihat di depan sana .
Kalian tahu Kenji. Pemuda ini masih berdiri di depan pintu kaca balkon Nathan yang dalam keadaan terkunci. Dengan keadaan tanpa mengenakan baju.
Iya, di dalam kamar mandi tadi Kenji sudah melepas bajunya dan hendak masuk ke dalam tempat mandi .Tapi karena ucapan Nathan, Kenji jadi kembali keluar untuk memastikan ucapan Nathan.
Menatap datar."Baju lu mana?".Nada tegas bertanya Nathan.
Masih di posisi yang sama."Dalam kamar mandi."
"Umm!".
Melintas ide jahil lagi."...GUE MANDI DULUAN."Nathan melesat secepat kilat masuk ke dalam kamar mandi .
Kenji yang mendengar itu segera berpaling, juga berlari secepat mungkin menyusul Nathan. Namun sayangnya, ia terlambat. Nathan sudah lebih cepat masuk ke dalam kamar mandi lebih dulu.
Mengendor-gendor pintu kamar ganti yang satu ruangan dengan kamar mandi.
Brakkk....Barkk.."Buka, baka!Gue bisa masuk angin gue".Ucap Kenji yang masih berusaha membuka pintu yang sudah terkunci dari dalam ini .
Dengan enteng Nathan, berkata."Sudah terlanjur masuk, sulit keluar."
Masih berdiri di depan pintu yang tertutup rapat ini."Pliss, Nat .Gue duluan, gue kedinginan O'on."
"JANGAN BANYAK NGELES, DI DALAM KAMAR GUE ADA PENGHANGAT RUANGAN. LU TIDAK LIHAT."Sedikit berteriak. Nathan yang sudah memulai ritual mandi nya .
Mengangkat tangan mengepal kuat nya."Lihat nanti, Kecipir kering."Geram Kenji.
Mengingat-ingat kalimat yang baru saja terucap."Tunggu, ko kecipir kering!". Ujarnya mengacak-acak rambut frustasi.
Sampai sebuah suara mengagetkan nya."Loh ,Kenji. Kenapa tidak pakaian baju?".Suara berat yang tidak asing didengar telinga Kenji.
"Otou-san."Serunya .
Yoshi melangkah masuk ke dalam, ia taruh dua kantung kertas berisikan pesanan putranya."Muka kamu kenapa?".Yoshi yang langsung menggenggam wajah penuh plester luka putra tunggalnya.
Membuat Kenji sedikit meringis menahan sakit."Iiss...".
Berganti menatap serius putranya, dengan tatapan penuh rasa kekhawatiran."Kenapa, Ken?".Suara tegas itu mulai terdengar.
Kenji memaksa tertawa canggung, tanpa menatap berani menatap manik hitam menakutkan ayahnya."Cuma luka seperti dulu, Otuo-san."
Setelah mengucapkan kalimat itu, tidak terdengar suara apapun dari ayahnya yang masih berdiri di depan nya. Yang membuat Kenji memberanikan diri untuk mendongak menatap raut wajah ayahnya.
Bersamaan dengan itu, sebuah tangan lebar ,besar .Menyentuh pucuk ubun-ubun kepalanya."Lain kali hati-hati, Kenji. Jangan sampai terluka seperti ini lagi, Otou-san tidak suka melihat kamu terluka."
Masih menatap manik mata ayahnya yang berbinar."Ot-Otou-san tidak marah?".Tanya Kenji dengan nada suara pelannya .
Yoshi menyungging senyum hangatnya."Tidak! Kamu pasti berpikir kalau Otuo-san akan melarang kamu berkelahi lagi."Kenji mengangguk ."...Otou-san sudah pernah mengurung kamu agar kamu tidak ikut-ikutan berkelahi, tapi nyatanya kamu tetap pergi dengan segala cara untuk keluar."
"Eh! Otou-san tahu."Batin Kenji menatap lekat manik mata sang ayah .
"Mata ayah memang sibuk melihat pekerjaan, tapi bukan berarti mata ayah tidak memperhatikan keseharian apa saja yang kamu lakukan, Kenji."Kata Yoshi ."....Kamu juga sudah dewasa, Otou-san harap kamu mulai berpikir lebih dewasa mulai sekarang. Dan mulai mengurangi kegiatan berkelahi-berkelahi, bermain-mainnya ."
Kenji tersenyum canggung."Ehmm....Seperti acara main-main akan berlanjut, dan mungkin saya akan pensiun saat kelas 12 ."
Memukul pelan dada kiri sang anak."Dasar brandal!".
"Aaa....Otou-san, sakit."Kenji meringis sembaring mengelus lembut dadanya.
Yoshi mengelus lembut pucuk rambut kepala putranya kembali ."Otou-san berangkat kerja dulu ,dan iya...Sebelum saya ma....". Memotong kalimat yang belum terselesaikan ayahnya."....Maaf saya tidak bisa cepat pulang hari ini ."Kata Kenji yang sudah hampir hafal dengan kalimat-kalimat yang biasanya Yoshi ucapkan.
Yoshi yang mendengar itu menyungging senyum tipisnya, sembaring menatap dalam manik hitam putranya.
"Otou-san tidak berangkat?".
"Iya, saya akan berangkat. Setelah puas menatap wajah tampan putra Otou-san yang ternyata sudah dewasa ini."Kata Yoshi yang masih terdiam di sana .Manik matanya memperhatikan Kenji yang sudah pergi dari hadapan nya ,untuk membuka isi tas yang Yoshi bawakan tadi .
Masih di posisi yang sama."Kamu mau di bawakan apa?".
"Tidak mau apa-apa, saya hanya mau ayah pulang cepat dengan keadaan selamat."Kata Kenji di susul senyum hangatnya.
Yoshi mengangguk ringan, dengan menampilkan senyum tipis."Ayah pergi, jangan diri kalian berdua. Jangan bertengkar-tengkar ."
Kenji membalas dengan mengacungkan jari jempol nya .
Kembali tersenyum tipis, sebelum beranjak pergi dari sana. Pergi meninggalkan kamar Nathan .
Sesaat setelah kepergian Yoshi. Nathan keluar dari dalam kamar mandi dengan seragam sekolah, juga jaket hitam khasnya yang sudah ia kenakan dengan baik dan rapi. "Mandi, Ken."Ucapnya .
"Hem."Dehem Kenji sembaring beranjak dari tempat duduknya. Dengan membawa seragam sekolah musim dingin yang ayahnya bawakan tadi.
Sembaring menunggu Kenji selesai mandi. Nathan mencari kesibukan lain, yaitu membersihkan dan merapi tempat tidurnya yang berantakan.
Tidak perlu membutuhkan waktu lama untuk dirinya membereskan kerusuhan ini. Karena belum beberapa menit, tempat tidur dan benda-benda yang berserakan sudah tertata dengan rapih kembali di tempatnya .
Bersamaan dengan selesai nya itu. Kenichi kecil yang baru sampai di ambang pintu masuk kamar Nathan. Mengetuk pintu kamar yang terbuka ini berlahan. Tokk....Tokk....
Nathan yang mendengar itu segera berpaling kearah sumber suara."Kenichi! Ada apa?".
"Obaa-chan ingin Nathan Onii-san, Kenji Onii-san turun untuk makan pagi ."Kata Kenichi.
"Oh, sebentar lagi kami akan turun."
Memanggil Kenichi agar mendekat padanya."Kenichi sini, duduk sini sama Onii-san .Sambil kita nunggu teman Onii-san selesai mandi ."
Kenichi mengangguk ringan, mengikuti keinginan Nathan yang menyuruhnya untuk duduk di atas tempat tidur .
Duduk di samping Nathan membuat Kenichi yang biasa usil menjadi terdiam. Entah karena takut ,atau kah canggung .Yang jelas Kenichi hanya terdiam dengan perhatian nya yang terus melihat lantai kamar ini .
Menepuk bahu Kenichi."Kenapa diam saja?".Tanya Nathan.
Menatap manik hitam lekat Nathan."Karena tidak topik yang diobrolkan."
"Ceritanya butuh topik pembicaraan."
"Nanti sekolah diantar, Hiroyuki Onii-chan?".
"Iya."
".......Nanti Obaa-san mau bicara sesuatu sama ,Onii-san".Lanjut Kenichi menyampaikan sesuatu.
Mengerut keningnya."Hem..Mau bicara apa dengan saya."
"Entah."Balas Kenichi dengan mengedipkan bahunya .
Nathan yang melihat itu merawat bibir dengan posisi sedikit maju ."Okaa-san keadaan kesehatannya sudah baik?".Kembali bertanya.
"Udah."
"...... Besok sudah di perbolehkan pulang."Sambungnya.
"Hem."
Slerekk......suara pintu kamar mandi yang terbuka .Terlihat di sana Kenji sudah keluar dengan seragam sekolah nya. Juga jaket abu-abu polos tanpa resleting jaket di tertutup .
Kenji berjalan menghampiri kedua orang yang tengah asik mengobrol ini. Ia melewati kedua orang ini, ia memilih untuk merapikan tas sekolah .Sesudah itu, Kenji baru berucap."Ayo turun."Ajaknya .
"Hem."Dehem Nathan mengambil tas ransel sekolah nya.
Nathan dan Kenichi berjalan di belakang Kenji yang sudah jalan lebih dulu keluar kamar.
+++++++
Pukul. 06.23 pagi
Selesai melaksanakan sarapan pagi bersama-sama tadi. Kini Nathan dan Kenji sudah dalam perjalanan berangkat ke sekolah.
Posisi kedua pemuda ini sudah ada di dalam kereta listrik bawah tanah. Keduanya tengah berdiri di antara Benji.
Iya, saat ini Benji sudah ada bersama Nathan dan Kenji. Nathan yang berdiri di samping kanan Benji ,dan Kenji yang berdiri di samping kiri Benji.
Ketiganya berdiri di dalam kereta yang sudah memulai perjalanan. Keduanya berdiri karena saat pertama kali masuk. Di dalam kereta hanya tersisa satu kursi penumpang. Agar adil, sama-sama capek berdiri, akhirnya ketiga kedua pemuda ini memilih untuk berdiri saja bersama .
Suhu hari ini lebih dingin dari suhu pagi sebelum .Memang sebelumnya suhu dingin sudah melanda ,akan tetapi suhu dingin di hari ini sudah berbeda dari suhu dingin di pagi-pagi biasanya .Kenapa? Karena hari ini salju pertama musim dingin sudah turun .
Mungkin tadi malam lah, saat semua orang terlelap dalam alam mimpi. Salju pertama musim dingin berguguran. Itu dapat di tebak, benar. Karena saat ini sebagian tempat di daerah ini sudah di penuhi gundukan putih. Terutama di piring jalan.
Semua orang di pagi hari ini, telah mengenakan pakaian hangat yang tebal. Untuk apalagi kalau bukan untuk melindungi suhu tubuh agar tetap hangat dari hawa luar yang sedingin es ini .
Beberapa menit kemudian. Kereta telah berhenti ,ketiga pemuda ini bersiap untuk segera berangkat keluar dari dalam kereta.
Berhasil keluar dari keramaian di dalam stasiun kereta .Kini ketiga pemuda ini sudah melanjutkan perjalanan kembali, yaitu dengan berjalan berangkat ke SMA Sanshain yang jaraknya hanya tinggal beberapa meter lagi. Mungkin beberapa menit kemudian ketiga pemuda ini sudah sampai di SMA Sanshain.
Sepanjang perjalanan, ketiga pemuda ini sama-sama hening. Mungkin mulut ketiga pemuda ini sudah membeku karena suhu dingin ini.
Walaupun pakaian sudah dobel tiga lapis. Yang terdiri dari kemeja panjang putih, dasi, jas hitam ,juga jaket ,untuk pakaian yang Kenji dan Nathan kenakan. Karena duanya anak MIPA yang sudah jelas pakaian yang di kenakan akan sama .Sedangkan untuk Benji, terdiri dari tiga lapis juga, dari mulai kemeja panjang putih, dasi ,cardingan abu-abu pelet putih panjang, di tambah dengan jaket tipis polos berwarna biru muda.
Dan untuk warna celana panjang ketiganya, jangan tanya lagi. Karena warna celana semua siswa sama saja .
Okeh lanjut...
Ketiga pemuda ini telah sampai di depan sekolah SMA Sanshain. Ketiganya langsung melangkah masuk bersamaan. Namun langkah kaki ketiganya harus terhenti oleh suara lantang Ryo yang tiba-tiba terdengar memanggil nama Benji.
Baik Nathan, Kenji, dan Benji segera berpaling melihat sumber suara. Sumber suara yang tengah menutup pintu mobil warna hitam. Sesudah menutup pintu mobil yang mengantarnya ini, Ryo segera menghampiri ketiga sahabat nya yang tengah menunggu kedatangan di ambang pintu masuk gerbang sekolah.
"Kenapa tidak bawa sepeda?".Tanya Benji kepada Ryo yang baru sampai di dekat mereka .
"Dingin. Ayo masuk, gue tidak mau mati membeku di sini ."Ajak Ryo berjalan lebih dulu dari ketiga pemuda ini .
Di dalam gedung sekolah. Nathan dan Kenji yang sudah selesai lebih dulu berganti sepatu. Berpamitan naik ke atas lebih dulu.
Selepas kepergian Nathan dan Kenji. Benji masih ada di sana, walaupun ia sudah berganti sepatu dengan sepatu khusus sekolah. Namun Benji tetap ada di sini untuk menunggu Ryo yang sembaring tadi sangat lama sekali berganti sepatu.
Sampai akhirnya sesaat kemudian, Ryo selesai juga dengan ritual begitu sepatu lamanya. Sesudah dengan itu, Benji segera mengajak Ryo naik ke kelas mereka .
Di perjalanan ke kelas, Ryo kembali menghambat .Ryo berjalan langar lambat, bukan lambat. Tapi ia berjalan terlalu santai, membuat Benji menjadi menyimpan rasa curiga dengan sahabat satunya ini. Karena tidak seperti biasanya Ryo terlihat sangat lemah seperti ini. Biasanya Ryo lah yang paling berapi-api dan bersemangat di antara sahabat-sahabat lainnya.
Benji yang sembaring tadi mencuri perhatian sesekali untuk memperhatikan Ryo yang berjalan beriringan dengannya. Ia yang melihat Ryo terus-menerus atau berulang-ulang mengelus dada kirinya membuat Benji akhirnya membuka suara untuk langsung bertanya."Ryo, lu baik-baik saja?".Sembaring menghentikan langkahnya tepat di samping Ryo berjalan .
Ryo menatap manik mata Benji sekilas."Tanya apaan lu, tentu saja gue baik-baik saja. Lu pikir gue sakit."Ucap Ryo sedikit meninggikan nada suara yang terdengar bergetar .
"Oh."Benji yang masih terfokus meneliti gerak gerik Ryo yang sedikit berbeda dari biasanya.
Ryo yang menyadari itu, secepat menarik pergelangan tangan Benji dengan kasar."Cepat jalan, Baka!".
+++++++
Pukul. 08.35 Menjelang siang
Masih dalam jam pelajaran, akan tetapi Nathan tidak fokus sama sekali dengan materi yang tengah di jelaskan didepan sana.
Perhatian terus saja tertarik melihat keluar jendela kelasnya. Walaupun di luar sana hanya warna putih saja yang mendominasi dalam perhatiannya. Tetap saja, seperti ada yang sangat menarik di luar sana. Apakah Nathan tertarik untuk bermain salju. Tidak! Seperti bukan itu yang menarik perhatiannya.
Dan jangan lupa. Hari ini Hiroyuki belum masuk sekolah. Karena hari ini adalah hari dimana ibunya sudah di perbolehkan untuk pulang dari rumah sakit. Jadi Hiroyuki di hari ini akan sibuk membantu ibunya berkemas pulang.
Di tambah dengan ia yang akan menjemput neneknya di rumah Nathan. Iya, tadi pagi. Nenek Suki memberitahu Nathan atau kurang lebih berpamitan untuk pulang siang nanti. Karena saat siang, jam kepulangannya. Nathan jelas belum pulang sekolah. Jadi di waktu makan pagi tadi nenek Suki berpamitan kepada Nathan atas kepulangannya ke rumah Hiroyuki nanti siang.
Karena keadaan kakinya yang belum pulih dengan baik, nenek Suki akan tinggal di rumah apartemen milik Hiroyuki cucunya. Bersama dengan ibu Hiroyuki dan kedua adik kembarnya juga. Karena itu juga, Nathan menyuruh nenek Suki untuk tetap membawa tongkat bantu berjalan ini tetap bersama nenek Suki. Nathan ingin tongkat itu tetap nenek Suki pakaian sampai kaki cedera nenek Suki benar-benar sembuh.
Kembali ke sekarang. Di mana Nathan masih di posisi melamun memperhatikan luar jendela kelasnya yang tertutup rapat.
Dekkk...Kenji menendang meja Nathan, agar Nathan berhenti melamun .
Menyadari pergerakan dari mejanya, Nathan langsung berpaling malas menatap sang pembuat goncangan."Nani?".
"Lihat depan."Balas Kenji dengan nada suara pelannya .
Nathan berpaling melihat ke depan. Dimana pak guru fisika sudah berdiri mematung menatap dirinya dengan tajam di depan sana.
Melihat yang di tatapan sudah merasa."Maju, Tuan Nathan."Suruh seperti nada menggertak pak Fisika.
Tidak merasa takut atas hukuman yang di berikan .Nathan justru membuang nafas kesalnya ,ia beranjak dengan ekspresi wajah yang teramat sangat tidak mood.
Beberapa sepasang mata mulai memperhatikan dirinya. Bahkan sampai di dekat pak Fisika."Pelajaran apa saja yang sudah saya jelaskan tadi, coba kamu jelaskan kembali. Saya ingin mendengarkannya langsung dari mulut kamu."Suruh Pak Fisik .
Nathan berpaling sekilas melihat kearah papan tulis yang terdapat beberapa coretan tulis judul bab di sana. Dengan judul bab,"Suhu Dan Kalor ".
Dengan tenang Nathan menjelaskan semua tentang materi bab ini. Tanpa bergetar takut ataupun bergetar takut salah pengucapan.
Materi yang Nathan ucapkan atau jelaskan dengan singkat, yaitu:
*Suhu adalah suatu besaran yang menyatakan ukuran derajat panas atau dinginnya suatu benda. Untuk mengetahui dengan pasti dingin atau panasnya suatu benda, kita memerlukan suatu besaran yang dapat diukur dengan alat ukur.
Sebagai contoh apa yang kamu rasakan ketika kita minum es, dingin bukan, ketika kita merebus air, lama kelamaan air yang kamu rebus akan menjadi panas bukan setelah itu bisakah kita mengukur suhu?
Bisakah tangan kita digunakan untuk mengukur panas atau dinginnya suatu benda dengan tepat?
Kita tentu memerlukan cara untuk membedakan derajat panas atau dingin benda tersebut untuk itu kita perlu mengetahui cara untuk mengukur suhu secara akurat.
Itu penjelasan pengertiannya, sedangkan untuk apa saja nama-nama alat pengukurannya. Dan apa yang disebut alat pengukur suhu atau termometer.
Alat untuk mengukur suhu disebut Termometer yang pertama kali dibuat oleh Galileo Galilei (1564-1642).
Termometer ini disebut termometer udara. Termometer udara terdiri dari sebuah bola kaca yang dilengkapi dengan sebatang pipa kaca yang panjang , pipa tersebut dicelupkan kedalam cairan berwarna.
Termometer dibuat berdasarkan prinsip perubahan volume. Termometer yang tabungnya diisi dengan raksa kita sebut thermometer raksa. Termometer raksa dengan skala Celcius adalah termometer yang umum dijumpai dalam keseharian. Selain raksa terdapat pula termometer alkohol.*
"Cukup!".Mendengar itu Nathan segera menghentikan pengucapannya.
"Langsung jelaskan pada inti materinya saja."Pak Fisik yang terlihat masih belum puas dengan penjelasan Nathan barusan .
Dengan ekspresi wajah datar, Nathan mengangguk ringan sebelum memulai penjelasan berikut.
Sesaat kemudian setelah penjelasan akhirnya ini yang Nathan lakukan dengan singkat padat. Pak guru fisika ini hanya berdhem saja. Sebelum menyuruh Nathan untuk kembali duduk di bangkunya."Bagus! kamu boleh duduk. Lain kali ulangi lagi kesalahan kamu, agar saya dapat mendengarkan penjelasan materi pelajaran langsung dari kamu."
Nathan hanya terdiam, mengangguk ringan sebelum berjalan kembali duduk di bangkunya .
Tidak sampai disitu, karena kejeniusan Nathan tadi. Beberapa sepasang mata tidak henti-hentinya memperhatikan dirinya. Membuat mood Nathan semakin buruk.
Menyanggah dagunya dengan tangan kanannya. Dan fokus matanya yang sudah memperhatikan ke depan sana."Ahh sial, gue benci jadi pusat perhatian."Batin Nathan yang sangat kesal.
++++++++
Pukul. 10.30 siang
Jam makan siang tiba lebih awal dari jam makan siang biasanya. Itu karena guru-guru tiba-tiba mendapat panggilan untuk melaksanakan rapat.
Semua murid segera beristirahat makan siang .Tapi tidak dengan Nathan dan Kenji, keduanya ingin tidur di dalam kelas. Akan tetapi tidak jadi ,karena kelas ramai dengan para cewek-cewek yang memuji-muji nama Nathan juga Kenji.
Kedua pemuda yang sangat tidak suka menjadi pusat perhatian ini. Akhirnya memutuskan untuk keluar dari ruang kelas. Keduanya memilih naik ke atas gedung sekolah, bukan untuk berjemur di dalam hawa dingin melainkan untuk tidur.
Sesampainya di atap."Sial! penuh salju."Umpat Nathan .
"Ikut gue."Ajak Kenji kembali turun tangga.
Nathan hanya terdiam, sembaring mengikuti langkah kaki Kenji yang akan membawanya entah kemana .
Selang beberapa waktu kemudian, sampailah keduanya di depan pintu masuk ruang UKS.
Melihat tulis papan kecil di atas pintu."Kenapa kesini?".Tanya Nathan .
Yang di tanya justru nyelonong masuk begitu saja ke dalam UKS. Yang ternyata, di dalam sudah ada Benji dan Ryo yang tengah terbaring terlentang di atas brankar UKS.