
Welcome Indonesia. Akhirnya setelah penantian menempuh perjalanan panjang. Kedua pasang ini telah tiba di Indonesia. Sesampainya pesawat mendarat dengan baik.
Nathan langsung di sambut oleh supir baru rumah, dan Panji,"Maaf ngerepotin."Ucap Nathan pada Panji.
Yang di susul dengan supir baru menyerahkan kunci mobil pribadi majikan,"Sangat merepotkan untuk mu, tapi tidak untuk nya."Panji tersenyum ramah menyambut Noemi.
"Selamat datang di Indonesia Nyonya."Sambut Panji,"Mampirlah ke rumah, istri saya sangat jago membuat masakan enak."
Tersenyum hangat di susul berkata,"Tentu, terima kasih hadiah pernikahan nya."
"Ahh itu istri saya yang buat, saya tidak berbuat apapun."
"Hallo Mbak, mas Panji mau otw ke....".Hanya gertakan namun Panji langsung berpaling ke arah sumber suara,"Permisi Nyonya."Berlalu saat berhenti di samping Nathan,"Hilih cemburu sama mas sendiri."Gumam Panji tepat du sampai Nathan.
Membulat manik mata menatap kepergian Panji yang masuk ke dalam mobilnya sendiri bersama supir pribadi nya.
"Mas."
"Ha?".Nathan berpaling ke arah sumber suara dengan fokus yang sama melotot.
Noemi tertunduk menghindar dari tatapan itu,"Saya memutuskan....memanggil...kamu mas."Ucapan terpotong nada rendah yang Noemi katakan.
"Hmm."Balas Nathan,"Ayo pergi bandara ini bukan milik ku."Di susul tawa ringannya.
Nathan memasukkan barang-barang nya ke dalam bagasi mobil, sebelum akhirnya tancap gas meninggalkan bandara bersama istri nya.
"Bapak tadi siapa?".
"Dia supir rumah."
"Ko pulang sama Kak Panji, kenapa tidak sama kita sekalian."
Masih fokus menyetir mobil,"Kamu cerewet sekali ternyata."Di susul berpaling sekilas menyungging senyum tipis.
Next....
Mobil warna hitam ini memasuki pekarangan villa yang jarak tempuh nya lumayan jauh dari pusat Kota. Membuat suasana asri lingkungan villa ini sangat terasa menenangkan sekali.
Noemi sudah beranjak turun dari dalam mobil, melihat sekeliling nya yang sangat indah, tanaman-tanaman indah yang terawat dengan baik, pemandangan pegunungan dari kejauhan yang dapat di lihat Noemi walaupun tertutup kabut tipis.
"Ayo masuk."Teriak Nathan yang sudah ada di teras Villa dengan membawa barang-barang miliknya dan istrinya.
Next.....
Nathan tengah berbelanja kebutuhan rumah di supermarket terdekat daerah ini, ia meninggalkan Noemi di Villa seorang diri. Di kala saat pergi Noemi tertidur pulas dan Nathan tidak memiliki niatan untuk menganggu waktu istirahat istrinya.
Sayangnya waktu ia tengah mengantri di meja kasir untuk melakukan pembayaran, hujan turun dengan deras mengguyur daerah ini.
Alhasil selepas melakukan pembayaran Nathan yang sudah ada di teras supermarket langsung berlari di tengah guyuran hujan ke arah parkiran mobil.
Baru saja masuk ke dalam mobil, ia yang sibuk meletakan kantung belanjaan di kursi samping nya duduk. Tiba-tiba Grudd....Ctatt..... Gemuruh geledek menyambar membuat suara sangat keras,"Anjing, astagfirullah."Ujar kaget Nathan mengelus dada.
Menyalahkan mesin mobil,"Harus lekas pulang Noemi akan khawatir."Batin Nathan tancap gas keluar dari parkiran mobil.
Next....
Sesampainya di villa. Selesai mengunci pintu villa kembali. Nathan yang baru masuk langsung melepaskan sepatunya di depan pintu dan berganti dengan sandal selop.
Melihat sekeliling ruangan villa yang masih gelap membuat Nathan terlihat sedikit khawatir. Toh tadi dia pergi sore, dia bahkan meninggalkan pesan chat di ponsel istri berpamitan pergi belanjaan yang mungkin akan pulang sedikit malam karena supermarket lumayan jauh dari Villa.
Namun saat ia pulang, villa masih dalam keadaan gelap gulita. Nathan langsung menaruh barang belanjaan nya di atas meja ruang tamu. Dan langsung melangkahkan kakinya cepat menaiki tangga untuk pergi ke lantai atas di mana kamar nya dan Noemi berada.
Ceklek.....,"Noemi."Panggil Nathan rendah, ia yang sudah di dalam kamar akan tetapi tidak mendapati keberadaan Noemi di dalam kamar. Rasa cemas mulai menyerang dirinya, ia berpaling ke arah sekitar. Dan fokus langsung tertuju pada sudut ruangan kamar ini.
Memegang kedua bahu Noemi,"Are you okay?Ada apa kenapa di sini?".
Noemi tak bergeming tubuhnya bergetar ketakutan, dia sangat ketakutan. Keadaan sangat kacau.
Tidak mau bertanya lagi. Nathan merangkul Noemi ke dalam pelukannya,"Tenang Noemi, saya sudah pulang, maaf karena meninggalkan kamu sendirian. Maafkan saya".Kata Nathan pada Noemi.
Noemi berangsur-angsur tenang.
Next....
Kini Noemi sudah duduk di tepi tempat tidur. Nathan menuangkan segelas air putih untuk Noemi,"Minum."
Noemi menegak habis air putih itu, seakan-akan dirinya terlihat sangat haus.
"Tadi kamu kenapa?".Tanya Nathan membuat Noemi kembali ketakutan.
Menyadari itu Nathan kembali merangkul Noemi ke dalam pelukannya,"Tidak perlu seceria sekarang, lebih baik kamu beristirahat."
Noemi yang masih merangkul erat pinggang Nathan,"Jangan tinggalkan saya seperti tadi, saya tidak mau di rumah sendirian saat hujan. Saya tidak mau di tinggalkan di luar sendirian saat hujan, saya takut, saya takut petir, saya takut."Noemi meracau bersamaan dengan isak tangis nya.
Nathan yang masih merangkul istrinya merasakan betul rasa ketakutan luar biasa yang di rasakan istrinya. Dari sentuhan pelukan kulit tubuh istrinya yang sangat dingin.
"Masa lalu kamu terlalu berat."Batin Nathan berucap di barengi dengan mengelus lembut punggung istrinya.
+++++++
+++++++++++
Pagi-pagi buta Nathan di buat khawatir oleh tidak adanya kehadiran istrinya di samping tempatnya tidur. Ia langsung loncat dari tempat tidur berjalan cepat turun ke lantai bawah.
Wajar Nathan khawatir berlebihan, di kala melihat kejadian semalam. Saat Noemi sangat ketakutan.
"Mas."Panggil Noemi yang kedua tangan tengah menggenggam mangkuk besar,"Baru saja mau saya bangun, eh!Sudah bangun duluan."Katanya menaruh sup dalam mangkuk ini atas meja makan .
Nathan mendekat,"Duduk mas sarapan, tinggal saya ambil nasi nya bentar."
Menggenggam pergelangan Noemi untuk menghentikan pergerakan nya,"Tunggu."
"Duduklah."Suruh Nathan pada Noemi,"Duduk."
Noemi duduk di salah satu kursi. Nathan menarik salah satu kursi dan duduk di tepat di depannya,"Jawab jujur pertanyaan saya."Yang di respon anggukan kepala ringan dari Noemi.
Fokus menatap lekat manik mata lawan bicara,"Kamu memiliki trauma?".
Noemi terdiam cukup lama, ia tidak merespon apapun. Pandangan matanya pun berangsur-angsur menurun.
Menggenggam tangan kanan Noemi dengan kedua tangan nya,"Jawab jujur Noemi. Saya suami kamu, saya berhak tau apa yang kamu alami. Entah kamu memiliki sakit parah yang kamu sembunyikan ataupun apa yang menganggu pikiran mu."
"Saya lebih suka mengetahui yang sebenarnya dan menerima apapun yang sudah terjadi, dari pada tidak mengetahui apapun dan menyesal di akhir. Karena saya ingin melindungi diri kamu sepenuh nya."
Noemi masih bergeming. Namun atensi kedua matanya sudah terfokus pada Nathan.
Di sisi ia menyungging senyum tipis yang di susul berkata,"Saya baik-baik."
"Saya hanya memiliki trauma kecil. Saya takut petir. Karena sewaktu saya masih kecil kakak laki-laki saya tanpa sengaja tidak memberikan saya masuk ke dalam rumah saat badan hujan petir menyerang."
"Terbuat dari apa hati mu, apa yang di lakukan kakak mu pasti di sengaja. Namun kau bilang tidak sengaja. Segitu menghormatinya kau dengan manusia biadap itu."Batin Nathan berucap dengan fokus menatap lekat lawan bicaranya.
"Ayo sarapan."Beranjak dari tempat duduknya,"Saya akan kembali degan nasinya."Noemi berlalu ke dapur.