
Tiga hari berikutnya Riska dan bayi nya sudah di perbolehkan pulang. Karena keadaan bayi dan ibunya berkembang sangat sehat sepanjang pemeriksaan membuat Riska dan bayi di perbolehkan pulang lebih cepat. Dan melanjutkan perawatan jalan.
Dan belum beberapa hari setelah kepulangan Riska ke rumah. Riska langsung mendudukkan Ezawa dan Nathan di ruang tengah tidak lupa dengan Noemi juga. Hanya Kakek Mamoto yang tidak ada karena Kakek Mamoto tengah sibuk dengan cucu pertama nya.
Gelagat sedikit canggung,"Ada apa kak, seharusnya kak Riska masih harus istirahat. Benar kan Ezawa?".
Namun kata-kata manis itu tidak merubah ekspresi serius datar Riska,"Bagaimana rencana?Sudah dari mana rencana?Aku tidak ingin nyawa anak ku terancam".
"Nyawa mu yang terancam."Timpal Ezawa.
"Aku tidak perduli, anak ku lebih penting".Tegas Riska yang tidak dapat di ubah lagi perkataan nya.
Serius layaknya suami yang bijak,"Dia juga anak ku, dan kau juga istri ku. Tidak akan ku biarkan kalian berdua terluka."
"Aku akan selesai secepatnya".Beranjak dari tempat duduknya,"Lebih baik kalian berdua istirahat, kau juga Riska."Tegas Ezawa.
Ezawa mendekati Riska mengulurkan tangannya membantu Riska beranjak dari tempat duduknya,"Bagaimana....".
"Sudah diam."Ezawa menuntut Riska agar lekas jalan.
Fokus pada Nathan,"Mas."Seru Noemi .
"Hmm?".
"Sebenarnya ada apa mas, semua baik-baik saja kan?".
"Semua baik-baik saja?".Di susul senyum tipis nya,"Ayo tidur atau besok kau tidak akan bangun membuatkan ku sarapan."
"Bukankah mas yang selalu bangun kesiangan."Timbal balik Noemi.
"Tidak."Nathan mendekat dan langsung menggendong Noemi,"Mas, Mas."Ujar kaget Noemi.
"Hmm?".
"Turunkan nanti ada yang lihat."Kata Noemi fokus pada manik mata hitam lekat itu.
Tidak perduli dengan Nathan tepat berlalu pergi meninggalkan ruang tengah. Tepat di depan Liv,"Ups."Ujar Kakek Mamoto yang ingin keluar dari dalam Liv,"Permisi sebentar yang tua ini ingin lewat."Kakek Mamoto berlalu dengan senyum tipis masih tertarik.
Nathan berlalu masuk ke dalam Liv, dan Noemi menutupi wajahnya untuk menutupi malu luar biasa nya.
++++++++
++++++++++++++
Nathan mengambil pulang kerja lebih awal,"Noemi."Panggil Nathan pada Noemi yang sejak tadi sore terus saja melamun, di tambah dengan raut wajah yang sangat pucat sejak pagi hari.
Noemi yang tengah duduk seorang diri di balkon kamar, berpaling dan beranjak dari tempat duduknya.
Melangkah mendekati istrinya,"Kak Riska bilang kamu.....,"Belum juga menyelesaikan ucapannya. Tubuh Noemi tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan tumbang dalam pelukan Nathan.
"Noemi."
"Pusing."Lirih Noemi yang masih memiliki sedikit kesadaran.
"Noemi kenapa?".Cemas Riska bergegas menghampiri Nathan.
"Aku akan bawa Noemi ke rumah sakit."Nathan mempercepat langkahnya.
"Hati-hati."Riska yang masih terlihat cemas.
Kakek Mamoto,"Noemi kenapa?".
"Sakit sejak tadi pagi saya tawar untuk pergi ke rumah sakit tidak mau."Kata Riska,"Kakek sudah minum obat?".
"Hemm.....Kau tidak ada bedanya dengan Ezawa."Kakek Mamoto berlalu pergi meninggalkan Riska. Lelah karena terlalu di khawatir berlebihan olah cucu dan menantunya.
Next..
"Bagaimana dok?".
"Nyonya Noemi hanya lelehan. Karena di usia kandungan yang masih muda harus banyak-banyak beristirahat dan tidak boleh terlalu banyak melakukan kegiatan".Jelas Dokter ini.
"Maksud dokter istri ku hamil?".
Mengangguk ringan,"Iya Tuan, apakah tuan belum mengetahui nya."
Menggeleng ringan,"Tidak, istri saya tidak menunjukkan tanda-tanda sedang hamil."
Tersenyum tipis,"Saya akan menuliskan beberapa resep vitamin, dan saran saya di dampingi dengan minum susu ibu hamil."
"Baik Dok."
"Nyonya Noemi sudah di perbolehkan pulang dan beristirahat di rumah."
Next.....
Nathan kembali ke ruang rawat Noemi. Untuk menjemput Noemi yang sudah siap untuk kembali pulang. Perawatan yang tengah mendampingi Noemi pun berpamitan berlalu pergi dari sana.
Ia dan Noemi langsung kembali pulang ke rumah. Dan Nathan masih merahasiakan tentang kehamilan Noemi, ia tidak memiliki niat untuk memberitahu Noemi terlebih dahulu.
Sampai di dalam perjalanan pulang.
"Mas."
"Hmm."
"Aku sakit apa mas, tidak parah kan sakitnya?".
Nathan yang fokus menyetir mobil,"Tidak."
"Terus dokter nya tadi bilang apa?".
"Kau tidak terlihat sakit."
"He?".