
Menggenggam erat tangan lemah seseorang yang sudah di anggap seperti keluarga nya sendiri sejak awal datang ke Korsel. Itu yang tengah Jovan lakukan selama beberapa hari ini.
Iya, sudah hampir tiga Minggu sejak kejadian memilukan itu. Nathan satu-satunya korban selamat dari ledakan luar biasa dashyat kapal. Belum ada perkembangan untuk siuman sama sama sekali. Nathan masih setiap memejamkan kedua kelopak matanya.
Sementara tiga Minggu itu lah selepas menyelesaikan pekerjaan nya. Jovan selalu mampir ke kamar rawat Nathan di RS. Ia selalu datang untuk menemani sahabatnya setiap malam.
Jovan ikut sedih di kala Nathan bukan sekedar sahabat dekat akan tetapi ia sudah seperti saudara untuk nya. Tempatnya untuk pulang sewaktu kedua orang tuanya menelantarkan nya, bukan menelantarkan akan tetapi mengabaikan nya. Nathan tempat nya pulang, dan Nathan lah seseorang yang selalu ada untuk nya.
"Cepat bangun bro. Yohan sendirian di rumah. Lu tidak kasihan apa sama Yohan. Di sama seperti lu bro, lu harus bangun jangan biarkan di sendiri bro. Lu mau dia jadi anak nakal kayak gue, makannya lu harus bangun bro kalau tidak mau."
"Lu harus ngomel Yohan biar tidak kayak gue Gedhe nya. Nakal."Tersenyum menahan tawa yang menyakiti kan,"Bangun anjing lu buat gue nangis muluk bang***sat."Kesal Jovan yang tidak mendapatkan respon dari Nathan,"CK gue janji gak bakal ngutang lagi ke elu. Lu harus bangun."
"Jovan."Seru Kenji tiba-tiba membuat Jovan sedikit kaget. Dan lekas menghapus air matanya.
"Lu bisa pulang ke rumah Nathan malam ini?Gue ingin lu bujuk Yohan. Anak itu tidak mau makan sejak tadi pagi."
"Yohan tau?".
"Ikatan batin tidak bisa berbohong."
"Hmm."
"Gue yang akan menginap di sini."
Jovan yang masih terfokus pada lawan bicara,"Ada istri gue di sana."
"Maksud gue, gue....".
"Tenang aja lu kan sahabat Nathan tidak mungkin lu melakukan nya."
"Baiklah, gue akan pergi sekarang. Jika....,"Menjedah kalimat nya,"....Gue duluan."
"Iya hati-hati."
Next......
Selama di Korsel Jovan memang tinggal di kediaman keluarga Salvador. Akan tetapi ia jarang berlama-lama di rumah karena urusan pekerjaan yang tidak bisa ia tinggalkan.
Dan di malam ini. Demi Yohan Jovan akan beristirahat di rumah keluarga Salvador. Ceklek.....Salah seorang pembantu rumah membukakan pintu rumah,"Kata Nyonya langsung ke kamar Yohan Tuan."
"Iya."Jovan berlalu naik mengunakan Liv rumah.
Setibanya di depan kamar Yohan. Jovan membuka belahan-lahan pintu kamar ini.
"Yohan ada di balkon."Kata Kalisa menaruh mempan makanan yang masih utuh di atas meja,"Bujuk Yohan agar masuk, sekalian bujuk dia agar makan."
"Iya."
"Aku ada di kamar sebelah menemani putra ku, jika kau butuh bantuan panggil saja."Kalisa berlalu pergi untuk melihat putranya yang ia tinggalkan tidur sendirian di kamar.
Jovan berlalu pergi ke balkon. Ia dudukkan pantatnya di samping Yohan.
"Kenapa tidak mau makan?".Tanya basa basi Jovan.
Yohan memang masih seumuran Iyan anak Kenji, akan tetapi Yohan jauh lebih memilih pemikiran sedikit dewasa dari Iyan.
"Ayah dan Bunda kamu tidak pernah mengajar tata karma yang tidak baik, bukan."
"Aku tida..mau makan."Suara kecil Yohan terdengar,"Aku baru mau makan kala..kalau ayah dan bunda ikut, makan bersama. Om, Nathan juga."
"Bagaimana kalau kita buat perjanjian."Kata Jovan berganti posisi jongkok di depan Yohan,"Yohan harus makan hari ini, dan besok om akan ajak Yohan bertemu dengan Om Nathan."
Yohan yang sudah fokus pada lawan bicara,"Ayah, Bunda."
"Kalau itu biar om Nathan yang ajak."Kata Jovan,"Yohan mau makan sekarang?".
Menggeleng,"Tidak, Yohan mau bunda, Ayah. Bunda janji bakal jemput Yohan kemalin. Tapi, unda tidak jemput Yohan. Ayah juga tidak pulang. Meleka kemana Om?".Yohan terisak menangis.
Jovan yang masih berjongkok di depan Yohan,"Bunda sama Ayah Yohan ada di tempat yang istimewa indah. Dan Yohan harus kesannya bersama om Nathan."
Menghapus air matanya sendiri,"Om Nathan tidak pulang sejak kemarin."
"Kan om Jovan sudah janji besok bakal ajak Yohan bertemu Om Nathan kalau Yohan mau makan sekarang. Soalnya kalau Yohan sampai sakit, Yohan tidak bisa bertemu dengan Om Nathan ataupun ayah dan bunda."
"Besok beneran ketemu om Nathan?".
"Iya."Mengelus lembut surai rambut Yohan,"Sekarang ayo masuk, Yohan harus makan Tante Kalisa tadi bawa makanan apa?".
Yohan menggeleng ringan,"Om tetap di sini."
"Iya, biar besok bisa langsung berangkat ketemu om Nathan."Jovan beranjak dari tempat nya berjongkok. Mengendong tubuh Yohan masuk ke dalam rumah.
"Aku bisa makan sendiri."Kata Yohan. Jovan hanya tersenyum tipis sembaring menata nampan makanan itu menaruh nampan makanan itu di depan Yohan agar mudah untuk memakannya.
"Mau sembaring lihat acara televisi?".Tanya Jovan yang di balas gelengan ringan dari Yohan.
"Om."Seru Yohan pada Jovan yang masih setia menemani.
"Om Nathan sebenarnya ada di mana?".
"Om Nathan sedang beristirahat."
Yohan yang sudah terfokus pada lawan bicara,"Di mana, tidak beristirahat dengan Ayah dan Bunda?Kalau iya nanti om Nathan tidak akan kembali seperti ayah dan bunda."
Jovan terdiam sejenak. Bingung harus berbohong bagaimana lagi agar Yohan tidak sedih. Yohan terlalu dini untuk mendengarkan cerita yang sebenarnya terjadi.
"Om."Menarik pergelangan tangan Jovan.
"Kamu harus segera makan dan istirahat katanya besok mau ikut om ketemu om Nathan."
"Udah selesai."
"Makanannya masih utuh."
"Tapi Yohan udah kenyang, udah makan tiga sendok."
"Baiklah ayo cuci kaki dan tangan sebelum istirahat."
Mengangguk ringan beranjak dari tempat duduknya. Berjalan ke kamar mandi, dan Jovan mengikuti dari belakang.
"Om."Seru Yohan menghentikan langkahnya berpaling mendongak melihat Jovan.
"Om tunggu aja di luar aku tidak bakal jatuh, ayah bilang kamar mandi ini tidak akan melukai ku."Kata Yohan membuat atensi Jovan melihat sekeliling yang memang tertata sangat rapi. Dan sangat aman untuk kamar mandi anak-anak.
"Baiklah om tunggu di luar."Jovan berlalu meninggalkan kamar mandi.
Next....
Keesokan paginya. Suasana yang sangat mendukung untuk memulai beraktivitas baru di hari baru. Langit biru yang membentang luas di luaran sana. Berhasil menarik sudut bibir pria kecil ini. Yohan mengintip suasana luar dari balik pintu kaca balkon kamarnya. Tanpa ada niat membuka langsung gorden besar ini. Karena ia tidak memiliki niat untuk membangunkan Jovan dari tempat istirahat nya.
Teringat dengan janji kemarin. Langkah kecil Yohan berjalan mendekati sisi lain tempat tidurnya. Ia jinjing kedua telapak kakinya untuk menyamakan tinggi tempat tidurnya. Kurang lebih agar bisa melihat wajah damai Jovan yang terlelap dalam mimpi.
Menekan-nekan pipi Jovan dengan jari kecil nya,"Om, Om bangun, Om."Panggil-panggil Yohan beberapa kali dengan nada suara kecil nya.
Ceklek.....Pintu kamar berlahan-lahan terbuka menampilkan sosok laki-laki yang lebih kecil dari Yohan,"Ohan mama unggu di bawah."
"Kamu ko naik sendiri?".Tanya Yohan yang mengerti betul sangat berbahaya bukan jika seorang anak kecil naik Liv ataupun tangga rumah seorang diri.
"Atu dali tadi ada di atas, mama yang tulun ke bawah. Mama bilang atu tulun aja ama sama Ohan ."Suara lucu Ian yang masih kesulitan mengucapkan beberapa kalimat.
Fokus pada Jovan yang masih tertidur,"Om Jovan masih tidur."Kata Yohan.
Ian melangkah kan kaki kecil yang sesekali goyang akan tetapi tetap ia jaga keseimbangan dengan baik. Sampai di samping tempat tidur Ian berusaha merangkak naik ke atas tempat tidur. Melihat kesulitan nya Ian. Yohan segera membantu Ian untuk naik.
Berhasil sampai di atas tempat tidur. Iyan berusaha untuk berdiri di atas tempat tidur. Ia berhasil berdiri setelah susah payah. Lalu ia mengambil ancang-ancang yang membuat Yohan berkata,"Iyan tida.....".
"Hooaa.....". Brugk......,"Aakk....".Jovan langsung terbangun paksa mata nya langsung membulat sempurna merasakan betapa beratnya beda yang menimpa punggung nya.
"Uh kan om Ovan bangun."Kata Ian tanpa rasa bersalah.
"Anak mu berusaha membunuh ku."Batin Jovan menderita.
Next....
Beberapa menit kemudian. Akhirnya Jovan sudah siap dengan pakaian kerja nya. Setelan jas rapi. Begitu juga dengan Yohan yang sudah berganti pakaian.
Jovan mengendong Ian, sementara tangan kanannya terbebas mengandeng tangan Yohan. Ia membawa dua anak tadi ke lantai bawah rumah. Lebih tempat ke ruang makan untuk sarapan.
Selepas sarapan. Kalisa memberikan kotak makan pada Jovan. Nitip untuk bekal suaminya.
"Ma, Ian boleh ikut kan?".Tanya Ian pada sang mama .
"Tidak boleh nanti ngerepotin."
"Kan di ana ada ayah, Iyan ikut ayah. Janji tak nelepotin."
Menyelah ucapan Kalisa,"Biarkan Ian ikut Lisa."
Menghela nafas singkat,"Jangan nakal di sana jangan ngerepotin om Jovan."
Mengangguk,"Iya, iya, Ian janji."