
"Bang."Panggil Fadil pada kakak laki-laki nya, Jovan.
"Hmm."Jovan yang sibuk memasang sepatu kerja di ruang tamu.
Fadi yang masih berdiri di dekat Sova,"Jangan pergi sekarang bang."
"Hm."
"Abang lupa besok ada acara apa?".
"Iya".
"Hem."
"Emang ada acara apa besok?".
"Dahlah."Fadil berlalu pergi tanpa memberitahu terlebih dahulu kejelasan acara besok.
Melihat kepergian adiknya, Mama Tian yang baru datang ke ruang tamu berkata,"Lupa lagi?".
"Emang ada acara apa besok?".
Duduk di Sova tunggu depan Jovan,"Turnamen silat antar sekolah Kota."
"Astaga lupa Ma."Menepuk keningnya sendiri. Jovan lekas beranjak dari tempat duduknya, berlari menyusul adiknya yang berjalan keluar rumah.
Sayangnya di luar rumah Jovan sudah tidak menemukan keberadaan Fadil lagi.
"Pak."Panggil Jovan pada tukang kebun rumah nya,"Fadil tadi keluar?".
"Iya mas."
Jovan kembali ke dalam rumah,"Fadil tadi mau kemana Ma?".
"Tidak tau."Nyonya rumah yang sibuk membaca buku majalah.
"Ma ayolah beberapa jam lagi Jovan harus ke bandara."
"Mama tidak tau Jovan."
"Ke rumah kakek dan nenek kah."
"Kakek dan nenek kan ikut ayah kamu hari ini."
"Kemana?".
"Kontrol."
"Terus Fadil kemana?".
"Mana mama tau mama tidak pernah remaja."
"Mama."
"Jovan."
"Itss...mama dahlah."Ia berlalu pergi meninggalkan rumah. Tancap gas mengendarai moto milik kang tukang kebun rumah. Bisa di bilang Jovan pinjam motor kang tukang kebun.
Sampai di satu, dua, tiga, sampai empat tempat biasa anak-anak tongkrongan berada Jovan tetap tidak mendapati keberadaan adiknya.
Di saat ia ingin pergi meninggalkan tempat tongkrongan terakhir. Salah seorang pemuda menghampiri Jovan.
"Mas Jovan."Panggil pemuda ini berjalan mendekat.
"Mas cari Fadil."
"Iya."
"Fadil ada di tempat latihan, tadi aku ketemu dia di sana."
"Thanks."Jovan langsung berlaku pergi dari sana.
Ia yang sudah mengetahui tempat latihan silat adiknya. Jovan dengan kecepatan tinggi motor untuk mengejar waktu karena beberapa jam lagi ia harus segera berangkat ke bandara.
Sampai di pintu utama masuknya ke area latihan. Jovan menyenderkan telapak tangannya di dinding sembaring mengatur nafas nya lelah setelah berlarian,"Waduh beneran tua gue."Batinnya yang sadar akan dirinya yang semakin bertambah umur semakin tua.
"Dil, mas lu."Kata pelatih Fadil memberitahu.
Fadil bersikap acuh, ia masih terlihat kesal dengan sikap kakaknya yang banyak berubah beberapa hari ini. Bahkan semakin cuek dengan keluarga karena terlalu sibuk dengan pekerjaan dan urusan nya sendiri.
"Fadil."Panggil Jovan yang tidak di gubris oleh Fadil yang sibuk beradu duwel dengan rekannya untuk mempersiapkan pertandingan nya besok.
Tapp....Flepp.....Jovan menggenggam serangan Fadil. Menarik tangan itu sama terpelintir ke belakang punggung,"Kalau di panggil minimal di jawab."
Menyeret keluar area,"Mana sopan santun lu, minggir"Marah Jovan.
Jovan menyeret Fadil keluar are mendudukkan Fadil di salah satu kursi penonton. Di sini Jovan yang sudah duduk di samping Fadil baru membuka obrolan lagi.
"Maaf soal yang tadi Abang benar-benar lupa."Kata Jovan yang tidak di gubris oleh Fadil,"Abang tidak bisa datang ke pertandingan, sebagai gantinya kamu bisa meminta apapun."
"Apapun?".Fadil langsung terfokus pada lawan bicara.
"Iya."
"Baiklah aku akan memenangkan pertandingan besok. Saat aku menang besok. Keinginan ku adalah aku ingin duwel dengan Abang, dan jika aku menang Abang harus ajak kami sekeluarga berlibur. Dann....jika Abang sampai melupakan perjanjian ini aku tidak akan pernah mau mengobrol dengan Abang lagi."
"Baiklah."
"Setuju."
"Iya, Abang setuju."Kata Jovan,"Tapi kenapa tidak langsung berlibur saja satu keluarga. Kenapa harus bertele-tele".
"Hem."Menampilkan ekspresi wajah datar,"Untung adik ku."
"Hahhhahh......".
Melirik jam arloji yang melingkar di pergelangan tangannya,"Waduh Abang harus pergi sekarang."
"iya, hati-hati di jalan."
"Langsung kabarin kalau memang."
Mengangkat jari jempolnya,"Sip."
Next......
Di cabang kantor di Jepang.
"Nona Rin."Panggil Nathan pada sekertaris.
Membungkuk memberi hormat sekilas,"Jam berapa meeting nya?".
"Jm 10, sebentar lagi tuan."
"Kalau sudah waktunya kamu datang saja ke ruangan ku."Nathan berlalu pergi kembali ke ruangannya.
"Tuan."Panggil Rin menghentikan langkah kaki Nathan,"Bekasnya."
Nathan mengambil berkas itu sebelum akhirnya berlalu pergi dari sana.
++
Nathan dan Sekertaris Nona Rin telah sampai di ruangan meeting kantornya sendiri. Di ruangan meeting Nathan telah di tunggu oleh beberapa anggota meeting lain dari perusahaan lain.
Meeting berjalan dengan baik Nathan. Selepas selesai meeting lengan Nathan tiba-tiba ada yang menggenggam. Reflek Nathan langsung menepis kasar tangan itu. Fokus tajamnya langsung melihat datar sosok wanita lancang.
Kata sesosok wanita ini,"Nathan."Masih dengan tatapan dingin dari Nathan,"Aku Zarina."
"Hmm."Dehem Nathan respon yang sangat cuek. Sebelum berlalu pergi begitu saja dari sana. Tanpa mengatakan sepatah kata pun.
+++++
++++++++
Satu Minggu setelah nya. Nathan hampir selesai menyelesaikan tugas kantor bergegas berkemas untuk keberangkatan kembali ke Korsel besok.
Sudah duduk tenang di kursi meeting kebesaran nya. Rin sekertaris yang duduk di depan tiba-tiba menghampiri dirinya.
"Maaf tuan meeting terpaksa di undur. Perusahaan YR terjadi kendala."
"Perusahaan tidak profesional. Siapa bos nya?".
"Nona Zarina."
"Zarina."Ingat Nathan terang kejadian beberapa hari kemarin.
"Antar aku ke kantornya. Aku ingin melakukan kunjungan langsung."
"Baik tuan."Nona Rin yang langsung berpamitan pergi untuk mengatur kendaraan yang akan Bos nya naiki.
Next.....
Nathan duduk di kursi tengah penumpang mobil yang dalam perjalanan ke kantor YR. Sementara Rin duduk di depan bersama supir.
Sampai di sana. Nathan langsung beranjak turun yang di ikuti oleh Nona Rin. Di dalam Nathan langsung di sambut dengan baik oleh sekertaris perusahaan ini.
"Selamat siang Tuan."
Di mendapatkan balasan Sekertaris ini langsung melanjutkan ucapnya,"Silakan Nona Zarina sudah menunggu di ruangannya."
Mempersilahkan menunjukkan jalannya. Sampai di depan ruang kerja pribadi Zarina. Sekertaris ini mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum di perbolehkan masuk.
"Selamat siang."
"Iya."Balas Nathan singkat.
"Silakan duduk tuan."Zarina yang mempersilahkan tamunya untuk duduk di Sova yang sudah tersedia.
"Nona Rin bisa tinggal kami hanya berdua saja."Minta Nathan pada Sekertaris nya.
Yang di mendapatkan balasan anggukan kepala.
"Kamu buatkan kopi Tuan Nathan."
"Baik Nona permisi." Sekertaris ini ikut berlalu meninggalkan ruang kerja pribadi Zarina. Menyisakan dua orang ini.
"Kenapa kau membawa masalah pribadi mu ke dalam kontrak kerja sama ini?".Nathan yang langsung tode poin.
"Maksud mu?".
"Aku tidak perlu menceritakan masalah pribadi keluarga mu bukan."Nathan yang selalu mudah mendapatkan informasi biodata pribadi seseorang.
"Oh! kau sudah mengetahui nya."Zarina mulai terlihat muram,"Bukan tidak profesional akan tetapi.... sekarang terserah kamu mau batalkan juga tidak papa. Aku sudah mempersiapkan resiko kebangkrutan perusahaan ku."
"Aku tidak akan membatalkan perjanjian kontrak nya. Aku akan memberimu cukup peluang banyak untuk turun tangan langsung membangun kontrak ini. Namun, jika kau gagal aku akan menarik semua donasi yang sudah aku keluar untuk mu."
"Wakti tiga bulan mungkin sudah cukup panjang."
Zarina yang masih terfokus pada lawan bicara nya,"Terimakasih, aku usahakan tidak akan mengecewakan kepercayaan yang kau berikan."
Beranjak dari tempat duduknya,"Permisi, selamat bekerja keras."Nathan mengulurkan tangan untuk mengakhiri pertemuan di hari ini.