My Salvador

My Salvador
Eps.249



Hiruk pikuk kota yang ramai dengan perjalanan kaki,"Awas!!".Jovan yang tiba-tiba muncul entah dari mana, ia tiba-tiba berlari ke arah Nathan mendorong tubuh Nathan sekuat mungkin menjauh dari jalanan ini. Sementara dirinya yang tidak sempat ikut menyusul brekk....Tubuh Jovan terpental dan melayang tinggi sebelum akhirnya berakhir jatuh ke jalanan beraspal ini.


Maksud Jovan kecelakaan atau apa kenapa?Tepat siang hari di jalanan kota Osaka. Terjadi kecelakaan tunggal. Seorang pengendara truk yang mengalami rem belong hilang kendali dan menabrak penyebrangan jalan.


Semua penyebrangan jalan berhasil menghindar dan hanya beberapa saja yang mengalami luka lecet. Sayangnya kecelakaan itu mengerut nyawa kobar. Dan truk itu baru berhenti saat menabrak kuat tiang listrik sampai patah.


Nathan bangkit dari tempat ia terjatuh, tubuh bergetar takut, ia berjalan memastikan bahwa suara tadi bukan milik teman, dan yang menolong dirinya bukanlah teman nya. Menghampiri korban yang telah menyelamatkan nyawa nya.


Keyakinan Nathan langsung runtuh saat ia melihat sendiri siapa seseorang yang telah menyelamatkan nyawanya. Seseorang itu adalah sahabat nya sendiri Jovan.


Tanpa rasa jijik dengan banyak darah yang mengalir. Nathan langsung mendekati Jovan membangun sedikit tubuh Jovan.


"Lu kenapa ada di sini anjing?Lu jadi....astaga!!".Manik mata yang mulai berair berkaca-kaca.


Terluka parah tidak membuat Jovan memudarkan senyum hangatnya,"Urusan kerja be**go, pengiriman barang."


"CK lu mah Jov."Nathan mulai kesulitan mengendalikan air matanya.


Jovan batuk-batuk darah membuat Nathan semakin panik,"Tolong panggil kan ambulan, tolong panggil kan ambulan."Minta Nathan pada mereka yang menonton di sekitar kecelakaan.


"Ambulan sudah dalam perjalanan."Saut salah satu seseorang di sana.


"Bertahanlah Jov ambulan akan segera datang."Kata Nathan pada Jovan.


"Tidak bisa Nat."Jovan meringis kesakitan,"sakit."Ucapnya mulai terdengar lirih.


"Ayolah Jov. Aku mohon bertahan lah sedikit lagi. Gue hutang nyawa sama lu."


"Tidak,"Mengatur nafasnya yang mulai terengah-engah,"Tolong kata pada Fadil. Aku siap menggantikan Abang mu, dia akan faham maksud nya."


"Dan sampaikan, Abang titip mama dan papa."


"Cik sampaikan sendiri."Kesal Nathan mendengar nada bicara putus asa Jovan.


Susah payah menyungging senyum hangat,"Assalamualaikum bro, selam...".Kedua kelopak mata ini berlahan-lahan terpejam, tubuh yang sedikit kejang menahan sakit berangsur-angsur terdiam. Ternyata Jovan telah beristirahat lebih dulu sebelum ambulan datang. Bukan beristirahat sebentar akan tetapi selamanya.


Menggoyang pelan tubuh Jovan,"Jov, Jovan, CK bodoh cepat bagun bang**sat ambulan datang. Gue tidak akan membalas salam lu sebelum lu bangun".Ucap Nathan dengan keinginan kuatnya kalau Jovan masih baik-baik saja.


Ambulan yang sudah datang langsung menangani dua korban parah kecelakaan. Jovan langsung di angkut ke dalam ambulan karena keadaan yang sangat kritis. Iya, Jovan masih baik-baik saja. Petugas kesehatan bilang jika Jovan sedang kritis.


Namun seperti di awal, supir truk sudah tiada. Nathan yang melihat wajah supir truk itu terdiam cukup lama di sana. Sampai ingatan itu kembali jika supir truk yang wajahnya sangat tidak asing untuk itu adalah Reojin.


Tidak ingin terlalu ambil pusing. Nathan yang sudah menelepon supir. Supir yang sudah siap mengantarkan ke rumah sakit ke tempat di mana Jovan di rawat.


Sampai di sana. Nathan berusaha untuk tetap tenang, walau ia mondar-mandir di ruang gawat darurat Jovan. Tepat di saat lampu gawat darurat mati, hati Nathan semakin berdetak cepat.


Dokter yang menangani Jovan berjalan keluar ruangan gawat darurat,"Bagaimana Dok, semua baik-baik saja, teman saya baik-baik saja?".Tanya Nathan beruntun cemas.


"Maafkan kami tuan kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Akan tetapi luka akib....".Menunggu penyelesaian ucapan dokter ini. Nathan langsung menyelonong masuk begitu saja ke dalam ruangan.


Menggenggam kedua bahu Jovan dengan harapan sahabat hanya bercanda dan membuka kedua kelopak matanya kembali,"Jov bangun, anjing lu Jov. Gue punya utang nyawa sama lu gue harus balas bagaimana jika lu tidak bangun."


"Bangun Jov, Jov bangun. Gue tidak punya siapa-siapa lagi, bangun. Kalau lu bangun gue tidak akan marah saat lu tiba-tiba nguras tabungan gue. Gue janji Jov, bangun. Nanti Fadil gimana Jov, gimana gue ngejelasin ke Fadil."Meracau tanpa ada respon dari raut wajah damai pucat Jovan yang terbaring tidak bernyawa lagi.


"Tuan maaf....,"Memotong ucapan dokter ini,".....Iya, kalian bisa membawanya."Ucapan yang sangat berat untuk Nathan katakan terpaksa harus Nathan katakan.


Melihat alat-alat bantu yang sempat terpasang di tumbuh Jovan di lepas. Dan selimut putih yang di tutupkan ke seluruh tubuh Jovan. Kereta ranjang pesakitan yang di dorong keluar ruangan ini.


Masih terdiam di tempat yang sama. Nathan berkata sangat pelan,"Wallaikumsalam bro."


Next....


Kini Nathan dengan pakaian lusuh nya yang masih menyisakan bekas noda merah di sana. Ia tengah duduk di kursi panjang lobi rumah sakit, sembaring menerima panggilan telepon dari seberang sana.


*Maafkan aku Om."


*Om akan mempersiapkan pemakaman nya. Kamu bisa urus yang di sana."


*Iya om, maaf."Rasa bersalah yang teramat luar biasa hebat.


*Om tunggu."


Panggil di akhir sepihak oleh om Jeon.


"Permisi Tuan."Ucap salah seorang perawat.


"Silakan mengurus beberapa berkas surat kematian, agar jenazah dapat langsung di bawa pulang ke negaranya."


Tanpa membalas dengan ucapan. Nathan yang hanya mengangguk ringan lekas beranjak dari sana mengikuti langkah perawat ini.


Next...


Tepat di hari itu juga. Nathan tanpa istirahat langsung mengantarkan sendiri jenazah Jovan dengan menggunakan pesawat pribadi nya tebang ke Indonesia. Setelah urusan penyelesaian beberapa berkas kematian usai.


Pagi sekali hari pesawat Nathan mendarat di bandara internasional Indonesia. Di sana Nathan yang sudah menyiapkan semuanya langsung di sambut oleh Ambulan yang akan mengangkut jenazah Jovan kediaman nya.


Fadil ikut serta ada di sana bersama dengan Kevin dan Asta yang Nathan hubungi untuk ikut membantu.


Nathan tidak bisa berkata apapun pada Fadil ia hanya bisa terdiam melihat raut menahan tangis remaja ini.


"Mas Nathan baik-baik saja?".Pertanyaan yang langsung Fadil lontarkan untuk Nathan.


Nathan yang tertawa menyakitkan dalam hati,"Seharusnya kau tidak perlu mengkhawatirkan ku. Abang mu meninggal karena aku."


"Semua sudah takdir mas. Sebagi gantinya aku yang akan menggantikan bang Jovan. Aku akan merawat dan menjaga papa dan mama dengan baik di hari tuanya,"Fokus pada Nathan,"Itu kan pesan bang Jovan?".


"Iya."


"Jika yang ada di sini adalah bang Jovan. Abang pasti akan ngomong gini. Lu sahabat gue, saudara gue, musuh gue, tidak ada yang namanya utang budi, ingat itu bro."Ucapan Fadil yang membuat Nathan sedikit menyinggung senyum tipis menyakitkan.


"Ayo jalan ambulan udah gue suruh jalan duluan."Kata Kevin pada mereka berdua.


Next....


Selesainya acara pemakaman. Nathan tepat ada di sana seorang diri. Tidak ia masih bersama dengan Kevin dan Asta yang masih setia menemani sahabatnya yang lebih berduka atas kepergian Jovan. Untuk Yudha, ia tidak bisa berlama-lama karena istri yang sakit tidak bisa di tinggalkan terlalu lama.


"Ayo kembali Nat."Ajak Kevin.


"Kalian duluan aja gue ke makam keluarga gue dulu."Tanpa beranjak dari tempat nya berjongkok di samping pusaran Jovan.


"Kita tunggu di parkiran."Kata Asta berlalu menarik tangan Kevin.


"Tid...,"Memotong ucapan Kevin,"Siitt...Kita harus membiarkan dia sendirian, lebih baik di tunggu di parkiran."


Next......


Benar, selepas dari makam Jovan. Nathan berganti ke makam keluarga. Di mana istri, anaknya, bunda, ayah, kakak, dan kakak iparnya di makamkan.


Nathan berdiri di sana sembaring tertawa kecil entah apa yang lucu sampai tawa kecil nya keluar,"Hahhah....Lucu sekali."


"Saat aku masih di dalam kandungan ayah pergi, saat aku lahir bunda pergi, dan saat aku dewasa istri ku, anak ku, kakak ku, dan kakak ipar ku juga pergi. Lalu sahabat ku. Dan sebentar lagi apa?".


"Apa yang akan kau ambil lagi YaAllah, makhluk mu ini sudah hancur semuanya sudah selesai kau ambil semuanya."


Awan-awan abu-abu pekat yang menggantung di atas mulai meneteskan setitik-titik bening dan semakin banyak semakin deras. Hujan turun seakan ikut bersedih menyaksikan drama berbelit yang berakhir tidak seharusnya. Tidak hanya hujan biasa, karena petir juga ikut menyala-nyalah begitu juga dengan angin kencang yang bertiup.


Lutut Nathan tertekuk lemah membentur tanah berlumpur ini. Pandangan membungkuk tangannya mencengkram tanah berlumpur ini, ia juga memukul-mukul tanah ini. Jangan lupa dengan tangisan nya yang tidak mengeluarkan suara sama sekali. Sungguh sangat sakit sampai suara Isak tangis pun tidak dapat ia keluar kan.


Dengan di saksikan hujan badai ini Nathan mengeluarkan semua air mata kesedihan nya tanpa suara isak tangis yang menyakitkan.