My Salvador

My Salvador
Eps.230



Dua hari setelah malam itu. Nathan dan Noemi sudah mulai mempersiapkan pernikahan mereka. Seperti mencari gedung, gaun, dlll.


Sayangnya dari semua itu. Nathan hanya bisa menemani Noemi mencari gaun saja. Sementara yang lain Nathan menyerahkan semuanya kepada kakaknya. Karena pekerjaan kantor nya benar-benar tidak memberikan Nathan waktu istirahat.


Walaupun Ezawa sudah membantu Nathan sampai mengabaikan beberapa usahanya demi membantu Nathan.


Alhasil Jovan yang kebetulan perusahaan nya masih terikat kontrak dengan perusahaan Nathan pun. Ikut turun tangan membantu sahabat nya. Membuat usaha Nathan dan Ezawa sedikit lebih ringan.


Next....


"Anjing Jovan gue depresi. Keluar Jov, Ken nanti malam."Nathan yang mengacak-acak surai rambut nya.


Keduanya yang tengah sibuk di dekat Sova untuk mengerjakan beberapa berkas. Langsung menengok ke arah Nathan bersamaan,"Tidak!!".Ucap keduanya bersamaan.


"Kenapa?Gue beneran butuh hiburan. Ayo keluar lah."Nathan yang masih memaksa. Sementara kedua pria ini sudah trauma dengan kejadian wahana malam itu.


"Gue ada acara."Jovan yang bergegas membereskan peralatan kantornya,"Gue duluan Nat besok gue kesini lagi."Berlalu meninggalkan ruang kerja Nathan.


Kenji yang juga sudah siap untuk pulang,"Gue boleh pulang kan?", Tersenyum semanis mungkin,"Bini gue ngajak dinner."


"CK banyak alasan ngomong ajak tidak mau main."Yang di balas senyum Kenji.


Berucap datar,"Pergi-pergi sana, jangan lupa selesai berkas tadi, atur jadwal buat besok meeting, dan jangan lupa setor file keuangan."


"Siap bos, Permisi."Kenji berlalu meninggalkan ruang kerja pribadi Nathan.


Meninggalkan Nathan seorang diri duduk di kursi kebesaran nya.


Next....


Nathan sudah dalam perjalanan kembali pulang ke rumah. Tepat jam 10 malam ia sampai di kediaman rumah karena jadwal kantor hari ini tidak terlalu padat seperti hari-hari kemarin.


Ia langsung melangkah masuk ke dalam liv rumah untuk pergi ke lantai empat kamar tidurnya.


Tidak pergi ke lantai empat. Nathan justru menekan ke lantai atas rumah nya. entah apa yang akan ia lakukan di atas dengan suasana sedingin ini.


Sesampainya di atas. Nathan langsung rebahan di kursi panjang kayu yang ternyata tersedia di atas. Di sana ia rebahan dan memejamkan kedua kelopak matanya. Dengan sesekali membuka mata untuk melihat indahnya langit cerah malam hari yang di penuhi kelap-kelip titik kecil bercahaya.


Next....


"Setelah ini aku akan menjadi kepala keluarga seperti ayah,"Tertawa kecil,"Aku berharap bisa ada waktu mengobrol bersama ayah."Batin Nathan fokus mempersiapkan langit-langit penuh bintang ini tanpa memperdulikan dengan hawa dingin menusuk kulit malam.


Nathan tersenyum kembali sebelum akhirnya benar-benar memejamkan kedua kelopak matanya.


+++


Dari kejauhan Noemi yang baru saja naik dengan merangkul selimut tebal dengan kedua tangannya,"Benar kata kak Riska."Gumamnya melihat Nathan yang tengah tidur di kursi panjang kayu.


Noemi melangkah berlahan agar tidak sampai membangunkan Nathan yang sudah tertidur pulas.


Ia menyelimuti tubuh Nathan dengan selimut yang ia bawa. Sebelum akhirnya ia berlalu meninggalkan Nathan.


"Tunggu."Suara Nathan yang tiba-tiba menghentikan langkah kaki Noemi.


Kembali berpaling ke arah sumber suara. Nathan yang sudah duduk dengan benar,"Kenapa buru-buru?".


Menunjukan langit,"Sudah malam, waktunya istirahat."


Melihat jam arloji di tangan kirinya,"Masih jam 10.30."


"Masih sore, duduk sini bentar."Nathan melepas selimut yang menutupi sebagian tubuhnya,"Pakek ini jika takut dingin."


Lelah melihat kecanggungan Noemi yang padahal sebentar lagi akan menjadi istri nya. Nathan menarik pergelangan tangan Noemi untuk menyuruh nya duduk di samping nya. Tidak lupa ia juga menyelimuti tubuh Noemi dengan selimut tadi.


"Sudah sampai mana persiapan nya?".


"Hampir selesai, gedungnya juga sudah dapat."Kata Noemi,"Bolehkah saya meminta akadnya di lakukan di masjid Darussalam."Minta Noemi.


"Boleh."


Menatap Nathan dengan senyum sumringah,"Terimakasih, saya pikir kamu tidak akan mengizinkan karena kemarin katanya kak Riska melakukan akan nikah nya di rumah ini. Atas keinginan kamu".


"Lohh kak Riska cerita apa saja."Batin Nathan bergumam sembaring menyungging senyum tipis.


"Dan bolehkan saya minta satu permintaan lagi?".


"Apa?".


"Boleh tidak setelah menikah nanti kamu mengajak saja ke makam ayah dan bunda kamu, saya juga ingin kamu mengantar saya ke makam kakak ku."


Nathan terdiam sejenak. Dengan tatapan mata yang sulit untuk di mengerti Noemi,"Boleh."Balasnya sekali lagi singkat padat.


"Terima kasih, maaf banyak permintaan."


"Hemm..... sepertinya itu semua tidak akan gratis."


"Harus bayar."Fokus Noemi pada Nathan.


"Bukan."Nathan yang di susul tawa ringannya,"Kamu harus....,"Noemi yang semakin dalam menatap kedua manik mata lekat ini. Sampai Nathan menyungging senyum hangat tipis nya.


"Eh!Apa?".


"Hhhhahh....".Nathan yang tertawa renyah.


"Saya ingin kamu membuatkan saya sup daging sapi setiap hari dan salat buah favorit saya. Kak Riska pasti tau."


"Hanya itu?".


"Iya."


Masih fokus pada lawan bicaranya yang sudah berpaling ke arah lain,"Mengharapkan apa?".


"Tidak ada."


"Lebih baik kamu istirahat sekarang di luar semakin dingin."Kata Nathan.


"Kamu juga tidak istirahat besok kan masih kekantor?".


"Saya akan istirahat di sini."Balas Nathan,"Sana masuk nanti sakit."


Noemi beranjak dari tempat duduknya. Tak lupa ia memberikan selimut tadi kepada Nathan.


"Selamat malam."Ucap Noemi sebelum berlalu pergi meninggalkan Nathan.


"Have a good rest dear."Ucap Nathan yang masih dapat di dengar jelas Noemi yang belum jauh dari tempat duduk Nathan.


Noemi sempat menghentikan langkah kakinya sejenak. Sebelum akhirnya ia berlalu mempercepat langkahnya kembali turun ke lantai bawah rumah.


Sementara Nathan mengatur posisi rebahan nya kembali. Dengan bibir tersenyum tipis hangat.