
Italia
Sesuai dengan ajakan Nathan semalam. Pagi-pagi sekali Noemi ikut bersama Nathan pergi ke tempat yang akan Nathan tujuh.
Next......
Kamar Mayat, kenapa kesini?Baca Noemi dalam hati. Berjalan mengikuti Nathan masuk ke dalam nya.
"Dia kakak mu."Kata Nathan.
Fokus Noemi langsung tertuju pada Nathan. Di susul fokusnya kembali ke peti mati di depannya. Noemi berjalan berlahan mendekati peti mati ini. Melihat dari kaca peti mati yang menampakkan wajah kakak laki-laki yang sudah terpejam damai.
Di sini lah tangis Noemi pecah. Kerena mata nya tidak salah memilih kalau itu memang kakak laki-lakinya. Ia menangis sejadinya merangkul peti jenazah kakak nya."Kak.....maaf kak maaf maaf karena Noemi dilahirkan karena Noemi ayah dan ibu meninggal, maaf kak. Kakak boleh bangun, Noemi akan mengikuti semua keinginan kakak. Noemi mau kakak jual terserah kakak, asal kakak bangun.......Maafkan Noemi karena telah lahir kak maafkan Noemi."
Setiap kata yang Noemi ucapan membuat hati kecil bergetar rapuh. Lantas ia segera menjauhkan Noemi dari peti jenazah kakak Noemi.
Menenangkan Noemi di luar kamar jenazah, sembaring menunggu persiapan terakhir. Yaitu pemakaman jenazah kakak Noemi.
Next.....
Merangkul kedua bahu letih ini."Ayo pulang, lain waktu ayo kembali ke sini."Tutur kata Nathan rendah.
Tidak mendapatkan balasan apapun. Nathan justru merasakan tubuh Noemi yang semakin kehilangan keseimbangan sebelum akhirnya pingsan ke dalam pelukannya.
Next.....
Kembali Villa .Noemi yang belum siuman tengah berbaring di tempat tidurnya. Dengan seorang Dokter yang tengah memeriksa keadaan nya.
"Semuanya baik. Nyonya hanya mengalami syok berat ."
"Mungkin karena kematian kakak nya."
"Jika karena itu Nyonya membutuhkan dukungan yang spesial dari Tuan dan orang-orang terdekatnya."Kata Dokter ini."Baiklah permisi Tuan ."
"Iya".Beralih fokus pada Edoardo,"Antar Dokter keluar."
"Baik Tuan."
Menyisakan Nathan bibi kepala pembantu dan rekan-rekan pembantu yang lain.
"Kakak....kakak saya di mana?Saya harus memberikan dia uang, hutangnya harus ia bayar. Dia bisa di hajar jika tidak saya beri uang."Noemi yang baru siuman namun sudah bersikap panik khawatir.
Bahkan ucapan Nathan tidak Noemi dengar sama sekali."NOEMI."Tegas Nathan dengan suara beratnya yang terkesan membentak. Agar Noemi berhenti berbicara meracau.
Nathan duduk di samping tempat duduk tepat di depan Noemi. Ia merangkul tubuh syok Noemi mengelus lembut punggung Noemi."Menangis lah."Kata-kata sederhana Nathan membuat Noemi sedikit lebih tenang berganti dengan suara Isak tangis Noemi saja yang menggenggam.
Tangan lain Nathan menginstruksikan menyuruh pembantu yang lain untuk keluar meninggalkan kamar Noemi.
++++++
+++++++++++
Satu Minggu berikutnya. Noemi yang sudah lebih baik mulai melakukan kegiatannya seperti semula seperti membereskan perabotan rumah.
Namun baru juga ingin mengepel lantai. Pembantu E menghampiri dirinya Brukk....Ember berisikan air pel tumpah kemana-mana. Noemi langsung terfokus pada sang tersangka."Kak kenapa?".
"Kenapa iya?Iya karena hobby."Balas enteng pembantu E.
Noemi menghembuskan nafas kasar. Sebelum akhirnya ia membungkuk untuk mengambil ember yang tumpah. Namun tiba-tiba."Aaa.....".
Noemi kaget dengan yang Nathan lakukan sekarang. Nathan menarik kuat Surai rambut pembantu E sampai tubuh tertarik paksa."Dia memang pantas mendapatkan perlakuan ini."Nathan melepas kasar genggaman tangannya.
"Pak Edoardo." Panggil Nathan .
"Bawa dia ke gudang."Ucapnya singkat sebelum berlalu pergi .
Pembantu E di tarik paksa oleh Edoardo untuk ikut bersamanya. Sementara Noemi yang kebingungan memilih berlari menyusul Nathan.
"Tuan, Tuan."Panggil Noemi berlari menyusul Nathan di tangga Villa .
Nathan menghentikan langkahnya. Fokus pada manik mata lawan bicaranya,"Tuan tolong hentikan Tuan Edoardo membawa kakak E. Dia tidak salah apa-apa. Saya....". Memotong ucapan Noemi yang belum terselesaikan,"......Kalau dia tidak salah kenapa dia ingin menarik rambut mu?".Nada suara dingin Nathan.
Noemi terdiam. Sementara Nathan memilih berlalu pergi melanjutkan langkah kakinya yang sempat tertunda.
Next.......
"Siapakah penerbangan ke Korsel."Suruh Nathan kepada Edoardo.
"Baik Tuan."Edoardo berlalu pergi meninggalkan Nathan yang tengah duduk seorang diri di Sova ruang tamu.
Noemi yang tiba-tiba sudah duduk di lantai tepat di depan Nathan duduk."Tuan Nathan tolong maafkan Kakak E. Saya memohon kepada Tuan."
"Dia ada di dapur."
"Benarkah Tuan?".
"Hemm."
"Tunggu."Menghentikan pergerakan Noemi yang ingin segera memeriksakan dapur,"Kau harus ikut bersama saya besok."
"Kemana?".
"Kau lupa dengan ajakan saya waktu itu."Nathan menatap lurus manik mata Noemi.
"Tapi Tuan saya ti......".Tidak melanjutkan ucapannya.
"Berkemas lah kakak saya ingin bertemu dengan mu."Nathan beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Noemi.
"Tunggu Tuan."Noemi yang sudah berdiri dengan benar,"Boleh sebelum pergi saya pergi ke makam kakak."
"Iya."Balas Nathan sebelum melanjutkan langkah kakinya.
Next......
Di dapur. Noemi yang baru datang langsung di sambut oleh pembantu E. Dengan bertekuk lutut di depan Noemi,"Maafkan saya, Maafkan karena saya sering melukai mu."Kata Pembantu ini meminta maaf dengan sangat tulus.
Noemi membantu pembantu E untuk kembali berdiri dengan benar,"Saya sudah memaafkan kakak. Kakak tidak di sakiti kan?".
Pembantu E membalas dengan gelengan ringan."Tidak."
"Syukurlah. Maaf karena saya kakak jadi kena marah Tuan Nathan."
"Kamu sangat baik Noemi kamu memang berhak bahagia."Kata pembantu E,"Saya mendengar dari Edoardo kalau kamu akan di ajak Tuan Nathan ikut bersamanya. Terima lah ajakan itu, saya percaya Tuan Nathan juga orang baik yang tepat untuk menjaga mu."
Noemi berpaling melihat pembantu yang lain. Yang mengangguk kepala menyetujui perkataan pembantu E.