
Sesampainya di depan pintu, Riska segera membuka pintu kamar ini. Terlihat kamar tidur yang tertata sangat sapi juga bersih menyambut Joo Zon-jun. Tidak hanya rapi dan bersih, tapi kamar ini terbilang cukup luas.
Di dalam kamar Joo Zon-jun melihat sekeliling nya yang terlihat sangat bersih."Zon-jun suka?".
Mengangguk ."Hem, iya, Zon-jun suka Tante."
"Kamar Tante ada di sebelah, jika butuh apa-apa kamu datang saja ke sana."Kata Riska ."...Joo Zon-jun berani kan?".
"Berani, Zon-jun kan putra Dr. Jee Ghie-hye."Joo Zon-jun sembaring terkekeh renyah .
Riska yang gemas langsung mengacak-acak surai rambut Joo Zon-jun. Ia melakukan seperti bagian jika ia gemas melihat adiknya yang super banyak tingkah.
++++++++
++++++++++++
Osaka
Pukul 11.49 Siang
Rabu.
Matahari yang tertutup awan tipis sudah di atas ubun-ubun kepala. Namun dua pemuda ini masih setia berselimut tebal di dalam kamarnya masing-masing.
Keduanya terlihat sangat lelah sekali, sampai wajah tertidur keduanya terlihat sangat memenangkan, damai.
Nathan dan Kenji, dua pemuda yang sangat lelap berselancar dalam dunia fantasi.
Nathan dan Kenji pulang larut malam sekali kemarin. Membuat keduanya tidak bisa bangun pagi. Dan syukurlah hari ini sekolah masih diliburkan.
Sampai di tengah hari. Sayup-sayup Nathan buka kelopak matanya, ia berbalik menatap lama langit-langit kamar. Menguap sekali sembaring mengusap kasar wajah. Sudah setengah sadar ,Nathan bangkit untuk duduk mengumpulkan setengah nyawa yang belum terkumpul.
Menggaruk-garuk rambut yang sudah cukup panjang. Bersamaan dengan itu ponselnya berbunyi. Nathan ambil benda pipih yang tergeletak di samping bantal. Ia geser gagang telepon yang bergetar ini.
Tersambung.
*Pagi, kak Riska." Sapa suara sumringah Nathan di seberang sini.
Terdengar nada suara datar dari Riska di seberang sana .
*Sudah siang, dik. Kamu baru bangun?".
*Hehehe... Iya, kak." Nada suara cengengesan.
*Masih libur sekolah?".
*Masih, tapi kak Riska jelas tidak bisa ke sini?".
*Kenapa tidak bisa?".
*Salju turun lebat di sini, saya dengar bandara penerbangan banyak yang di tutup."
*Itu penerbangan Osaka, penerbangan Tokyo masih di buka."
*Tokyo tidak turun salju?".
*Tidak."
*.....Cepat bangun, cuci muka ,masak ,dan makan."
*Siyap, bos."
*Dan iya mulai besok kakak tidak akan tinggal sendirian di sini, kamu tidak terlalu khawatir lagi."
*Eh!? kak Riska akan tinggal sama siapa?Sama pacar atau suami kakak, kak Riska nikah diam-diam di belakang Nathan."Caracas Nathan tidak memberi waktu untuk kakak nya membalas pertanyaan awalnya.
*Tidak, dik."
*Terus sama siapa?".
*Anak teman kakak, dokter Jee Ghie-hye. Dia kan punya putra kecil, putra kecilnya akan di titipkan ke kakak."
*Kenapa tidak di titipkan ke penitipan anak saja .Kenapa harus kakak?".Nada bicara tak suka Nathan .
*Kalau kakak bisa, kenapa harus ke panti penitipan anak, dik. Lagian dia anaknya baik, dia juga berhak bahagia seperti anak-anak lain nya."
*....Dr. Ghie-hye akan bercerita dengan istri ,putranya akan menjadi korban broker home .Karena pertengkaran yang berujung perceraian kedua orang tua nya, jika di titipkan ke panti penitipan yang belum tentu dia akan mendapatkan banyak teman. Sedangkan bersama kakak, kakak bisa membuatnya mengerti sedikit ,agar tidak berimbas kehancuran pada masa depannya."
*Baiklah, jika ada apa-apa kak Riska lekas hubungi Nathan ."
*Iya, sana mandi ."
*Iya."
Panggilan di akhir Riska sepihak dari seberang sana.
Sudah mengakhiri panggilan telepon dari kakaknya. Nathan segera bangkit turun dari atas tempat tidur. Ia berjalan berlahan masuk kedalam kamar mandi yang tersedia di dalam kamar nya.
Beberapa menit kemudian Nathan keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah berbeda .Kali ini ia mengenakan baju lengan panjang oblong abu-abu polos, dan celana coklat panjang.
Selesai mengecas ponselnya, ia langsung beranjak keluar kamar. Nathan lirik sekilas pintu kamar Kenji yang masih tertutup rapat. Tidak memiliki maksud membangun Kenji, ia langsung berjalan menuruni tangga rumah.
Di lain bawah. Nathan pergi ke dapur untuk melakukan kegiatan biasa yang ia lakukan .Membuat masakan kalori makanan untuk cacing-cacing perutnya.
++++
Pukul. 13.34
Duduk santai sembaring memainkan MOS laptop nya di ruang keluarga. Nathan tengah mempelajari beberapa materi pelajaran secara online.
Sudah satu jam Nathan membaca dokumen materi dalam penyimpanan dokumen laptop nya. Dan selama itu juga ia tidak ada maksud sama sekali membangun Kenji .
Kenji yang masih terkapar menjadi bangkai di atas tempat tidur .
Di tengah fokus-fokus nya membaca."Kira-kira seperti apa anak kecil itu. Hemm... Yasudahlah semoga anak itu tidak merepotkan kak Riska."Gumamnya penasaran dengan putra kecil Jee Ghie-hye.
Nathan seakan melupakan Kenji. Sampai jam 14 siang tiba, langkah kaki pelan malas masuk ke ruang keluarga dimana Nathan tengah fokus belajar.
Tanpa melihat kedatangan Kenji."Kalau makan panaskan makanan tadi masih enak."Kata Nathan tanpa berpaling sedikit pun.
"Hem."Dehem Kenji mengacak-acak rambut basahnya sembaring berlalu pergi dari ruang keluarga.
++++++++
Pukul. 20.29
Langit gelap telah tiba. Cahaya-cahaya kecil penerangan mulai menyalah di beberapa tempat .Malam yang dingin ini, masih ada beberapa orang yang berlalu-lalang melakukan aktivitas nya. Dari mulai berangkat kerja malam ataupun pulang kerja.
Salju turun dengan normal, tidak seperti hari-hari kemarin yang turun disertai badai angin. Walaupun gitu tumpukan, gundukan salju tebal masih menutupi beberapa tempat di daerah ini.
Di tengah malam yang dingin ini, kedua pemuda yang tinggal satu rumah ini. Tengah terduduk santai di kamar masing-masing sembaring fokusnya yang membaca buku materi pelajaran sekolah .
Sudah beberapa hari ini sekolah libur, akan tetapi keduanya tetap rajin beribadah. Terutama dengan Nathan. Sudah beberapa tahun setelah lulus SMP ,ia banyak berubah.
Nathan banyak merubah sifat berandal ugal-ugalan nya, menjadi pribadi yang lebih baik. Iya, walaupun terkadang dirinya masih sedikit melakukan hal yang di larang kakaknya.
Semacam berkelahi. Namanya juga laki-laki berusaha sekuat apapun untuk menghindar ,tangan gatel nya tetap saja meronta-ronta, jika terpanggil dengan kejadian di depan mata yang di luar ekspektasi.
Kita tepis semua keburukan dan kenakalan Nathan di masa lalu. Nathan yang emang pada dasarnya sudah cerdas dan pintar, mulai memunculkan keistimewaan kerja otaknya. Memang cerdas, tapi Nathan lebih suka terlihat biasa saja di depan orang banyak .
Di masa lalu Nathan tidak terlalu suka menjadi pusat perhatian, begitu juga di masa sekarang .Alhasil ia memilih untuk menjadi seorang yang biasa saja, walau sulit .
Tentu sulit untuk Nathan yang terlahir dari keluarga Sultan yang membawa visual sempurna bentuk wajahnya. Yang akhirnya ia menjadi pusat perhatian oleh beberapa wanita. Tapi syukurnya di sekolah barunya ini Nathan tidak terlalu terkenal .Hanya beberapa saja sering memperhatikan dirinya, seakan Nathan adalah barang bagus yang akan mereka beli .Pikir Nathan saat melihat mereka.
Kembali ke dirinya yang kini rebahan cantik di samping meja ruang keluarga. Fokus melihatnya layar ponsel yang tengah ia genggam .Ngontak-arik layar benda pipih ini untuk menjadi pemenang game yang tengah ia mainkan.
Sampai dirinya tidak menyadari kehadiran Kenji sembaring tadi bolak-balik keluar masuk ruang tamu untuk mencari sesuatu.
Entah apa yang sedang dia cari, yang jelas Kenji terlihat kebingungan harus mencari di mana lagi .Karena sudah hampir ke, entah ke berapa kalinya ia mencari benda hilang itu di sini tapi tidak kunjung ketemu .
Mematikan layar ponselnya, Nathan mengemas semua materi pelajaran nya. Ia bawa semua dalam genggaman nya keluar dari ruang keluarga.
Di bawah tangga rumah. Nathan yang ingin naik ke atas menghentikan langkahnya, fokusnya melihat gelagat aneh Kenji."Ngapain, bodoh?".
Masih sibuk mengacak-acak Sova ruang tengah."Gelang warna hitam gue hilang."Kata Kenji.
"Jatuh di tempat kemarin mungkin."Balas enteng Nathan berjalan naik tangga .
"NANI!!??".Teriak Kenji memandang tajam Nathan yang menaiki tangga.
Secepat mungkin Kenji mengejar Nathan .Bukan menghampiri Nathan, ia justru berlalu melewati Nathan dan masuk ke dalam kamar nya .
Nathan masih terdiam di sana, sembaring memperhatikan Kenji. Tidak butuh waktu lama Kenji kembali keluar dengan pakaian hangat yang sudah ia kenakan.
Melihat itu Nathan segera bertanya."Mau kemana?".
"Cari gelang."Balasnya cuek tanpa menghentikan langkahnya.
Nathan bergegas ikut bersiap untuk menyusul Kenji yang akan keluar seorang diri hari yang mulai gelap .
+++++++
Pukul. 20.54
Di depan stasiun kereta Kenji dan Nathan yang masih mengantri untuk bergiliran masuk ke dalam."Lu mau ke daerah Hoshi?".
"Hem."Dehem Kenji tanpa menatap lawan bicaranya.
"Tapi bagaimana jika gelang lu jatuh di tempat tadi malam bukan di daerah Hoshi."
"Cari di dua tempat."Balas dingin Kenji .
++++++++
Pukul. 22.01 Malam
Rabu
Kenji dan Nathan berdiri di dalam kereta di depan pintu otomatis kereta. Keduanya berdiri di sana agar dapat keluar lebih cepat, jika kereta sudah sampai di daerah Hoshi.
Sesampainya di sana. Kenji langsung berjalan lebih dulu meninggalkan Nathan yang berjalan mengikutinya.
Malam ini adalah malam terburuk bagi Kenji yang kehilangan gelang sederhana satu-satunya peninggalan pemberian almarhum ibu nya.
Kenji sudah mencari di sekeliling kuil kemarin, ia juga sudah mencari di tempat makan kemarin .Bahkan di tempat pesta kembang api pun ia datangi. Namun nihil, ia tidak menemukan tanda-tanda gelangnya berada di sana.
Akhirnya dengan ekspresi lesung Kenji kembali ke stasiun kereta untuk pulang. Ia pulang dengan tangan kosong tanpa membawa kembali gelang warna hitam nya .
Di dalam kereta Kenji nampak terlihat diam terduduk di kursi panjang kereta yang kosong .Nathan yang duduk di sebelahnya pun di abaikan sembaring tadi kehadiran nya.
Sampai akhirnya Nathan membuka suara."Kita cari di tempat kemarin, di pohon itu sama di tempat gue berkelahi dengan sosok bertopeng. Mungkin saja gelang lu jatuh di sana."Antusias Nathan mencoba menghibur Kenji.
Menatap lesung manik mata Nathan dalam."Sekarang turun salju akan sulit mencari gelang gue."
"......Gelang itu pemberian terakhir Okaa-san."
Nathan yang sudah terfokus menatap lawan bicaranya."Barang berharga itu mudah di carinya ,walaupun hilang di tempat yang mustahil di ketemukan kembali."Kata Nathan .
+++++
Pukul. 23.30 Malam
Setelah menempuh perjalanan lumayan lama akhirnya keduanya kembali sampai di daerah Hinode. Daerah sekitar perumahan elit berdiri .Nathan langsung mengajarkan Kenji menyusuri jalanan kemarin malam mereka lalui saat mengejar sosok misterius bertopeng.
Sudah hampir sampai di pohon kemarin, tapi keduanya masih belum mendapatkan apa yang keduanya cari-cari.
Kenji yang tengah berjalan beriringan dengan Nathan."Kemana gelang itu pergi?."Ucapnya entah bertanya kepada siapa.
Nathan yang sudah menggigil kedinginan merespon Kenji dengan berdehem suara beratnya."Hem."
Sampai berdiri di bawah pohon kemarin malam keduanya masih sama, belum mendapatkan apa-apa.
Di tengah keduanya yang tengah berkeliling mencari gelang Kenji. Tiba-tiba saja ada bola salju kecil terlempar kepada keduanya bersamaan.
****Plakk****.....Baik Nathan dan Kenji segera berbalik badan sampai kedua saling menatap tajam.
"Lu kenapa o'on, gue sudah bela-belain keluar dingin-dingin demi membantu lu. Lu malah kayak gini."Bentak Nathan tersulut emosi.
Kenji menjinjing alisnya."Bukannya lu yang mulai duluan, o'on."
Nathan terdiam mengerutkan keningnya. Begitu juga Kenji yang langsung mengatupkan kedua tangannya, ia cengkraman kedua lengannya bersamaan. Seperti orang yang tengah menggigil kedinginan.
Nathan memutar bola matanya melihat sekeliling .Sampai sebuah bola salju kembali terlempar mengenai lengan kanan dari arah lain .Bola itu bukan berasal dari arah Kenji berdiri.
Berlahan-lahan keduanya menengok ke arah bola salju itu di lempar. Terlihat di sana seorang anak kecil yang tengah tertawa-tawa melihat ekspresi wajah Nathan dan Kenji."Hhhhh.....Onii-san ini kenapa?".Ucap sang anak cowok kecil ini.
Kenji menatap tajam dengan menunjukkan kepalan tangannya."DASAR ANAK LAKNAT!!".Geramnya sedikit meninggikan nada suaranya.
Kenji ingin mengejar tapi langsung di hentikan oleh Nathan yang menggenggam pergelangan tangannya."AWAS KAU!!".
Melihat itu."Tangkap kalau bisa!!!".Ledek anak cowok ini berlari menjauh.
Menepis tangan Nathan dengan kasar."LU KENAPA PEGANG-PEGANG GUE BE**GO!".Bentak Kenji kesal.
"Lu tidak lihat anak cowok tadi siapa?".
"Emang siapa dia, dia adalah anak laknat yang harus di ajarin sopan santun."Kenji dengan ekspresi wajah kesalnya.
Nathan menatap datar manik hitam pemuda di depannya ini."Kalau gitu kejar saja, kalau lu mau di remukkan Mika."
Kenji langsung terdiam."NANI, dia adik Mika!?".
"LU LUPA ATAU PURA-PURA BE**GO ,O'ON?."Nathan menatap datar.
"Dia adik ketiga Mika, kalau tidak salah."Katanya."....Intinya dia punya tiga adik cowok."Lanjutnya berlalu pergi dari sana meninggalkan Kenji.
Menatap kepergian Nathan."Nat gelang gue!?".
"Gelang lu pasti ada di rumah."Kata santai Nathan tetap melanjutkan langkahnya untuk berlalu pergi dari sana .
Kenji mendengus kesal sembaring mengikuti Nathan yang sudah jauh dari jaraknya berjalan.
++++++
Pukul. 00.00 Malam
Kenji yang baru saja menyadari sesuatu langsung mendorong kuat bahu Nathan. Sampai Nathan hampir terjungkal ke depan sakit kuatnya dorong Kenji.
Tidak meminta maaf Kenji justru berucap."AJI**M NAT!Anak tadi bukan adik Mika anjing. Maksud lu...". Menghentikan ucapan untuk mengambil nafas."....Lu belum tahu kalau adik ke dua Mika sudah wafat. Yang berarti Mika hanya memiliki dua adik sekarang. Adiknya Dino, dan adiknya yang ketiga yang paling kecil."Jelasnya panjang lebar.
"Ar-ar-artinya itu tadi...".Nathan berlari secepat mungkin meninggalkan Kenji."HANTU.......".Teriaknya sembaring terus berlari.
Kenji yang jadi ikut berlari menyusul Nathan yang sudah sangat jauh darinya."NAT, TUNGGU GUE O'ON."Teriaknya.
+++
Kenji terus berlari mengejar Nathan yang sangat jauh dari jarak pandangannya. Di tengah cepatnya ia berlari untuk menyusul Nathan di depan .Tiba-tiba saja ada karung hitam yang menutup kepalanya, sebelum akhirnya ia di buat pingsan oleh seseorang ini.
Sementara Nathan yang sudah sampai di perempat gang rumah nya menghentikan langkahnya untuk mengembalikan nafas tidak teratur nya.
Di tengah kegiatan nya Nathan berucap."Ken gue capek sekali, nanti pesan makanan online saja ya .Atau langsung tidur saja, hemat uang."Di kalimat akhir Nathan yang tidak mendengar ada sahutan segera menengok ke belakang."Ken, lahh masak dia ketinggalan di sana."Ucapnya.
Nathan yang kesal sendiri mengacak-acak rambut klimis frustasi nya."Aaahh.....". Bergumam kesal .Nathan berjalan kembali ke jalan awal tadi untuk menyusul Kenji.
Sudah sangat jauh Nathan berjalan, dan hampir sampai kembali ke titik keduanya berpisah. Namun Nathan belum menemukan tanda-tanda keberadaan Kenji.
Hal itu membuat Nathan semakin kesal juga khawatir dengan keadaan Kenji. Ia kembali berjalan kaki kembali, sembaring mencari keberadaan Kenji.
Namun sampai di depan rumahnya. Nathan belum melihat tanda-tanda keberadaan Kenji, karena posisi keadaan rumah saat itu masih sunyi sepi .Pintu depan rumahnya pun masih terkunci rapat, karena kunci nya masih ada bersamanya.
Semakin khawatir dengan keadaan Kenji. Nathan bergegas kembali keluar rumah untuk mencari keberadaan Kenji kembali.
Nathan lihat jam yang tertera di layar atas ponselnya, jika sudah pukul 00.59. Yang sedikit lagi akan pukul satu malam. Itu membuat Nathan kesulitan karena dirinya yang tidak bisa meminta bantu siapa-siapa untuk mencari keberadaan Kenji .Siapa yang bangun tengah malam seperti ini ,jelas tidak ada.
Tidak ingin terlalu ribet-ribet dan susah-susah mencari bantuan yang membuatnya mengulur waktu dan membuang-buang waktu untuk mencari keberadaan Kenji.
Nathan mencari di arah gang yang bertolak belakang dari gang jalan yang awal dirinya dan Kenji lewati. Ia melakukan itu karena bisa saja Kenji salah mengambil jalan dan tersesat.
Namun lagi-lagi usahanya nihil. Hampir keluar dari wilayah daerah Hinode, ia masih belum melihat tanda-tanda keberadaan Kenji.
Berdehem kesal."Ehmm..Lu di mana o'on?."Geramnya menahan hawa dingin yang semakin menusuk kulit.
Sementara di sini Nathan kebingungan mencari keberadaan Kenji. Di lain tempat, di mana Kenji tengah di sekap di sebuah ruangan kamar dengan kedua tangan dan kaki yang sudah terikat kuat.
Belahan-lahan tubuh yang tergeletak di lantai ini membuka kelopak matanya. Sayup-sayup Kenji lihat sekeliling nya, sekeliling nya yang seperti sebuah kamar tidur yang luas dan mewah.
"Gue di mana ini, an**jir ini tangan dan kaki kenapa!?".Ucapnya mencoba melepas ikatan tali yang melilit kedua pergelangan tangannya.
Kenji yang sibuk melepaskan ikatan tali ini, tiba-tiba pintu kamar belahan di buka dari luar. Dari balik pintu itu masuklah seorang pria dewasa, berperawakan seperti berumuran 40th keatas .Namun tidak ada bekas kerutan tua di raut wajah pria dewasa ini.
Pria ini berdiri tepat di depan Kenji yang terduduk tersandar di bawah kasur.
Kenji mendongak untuk menatap pria ini dingin."APA MAU LU? Lepaskan gue dari sini!!".Bentak Kenji kesal.
Pria ini membungkuk di depan Kenji dan mencengkram paksa dagu Kenji untuk mendongak paksa menatap manik matanya. Pria ini tersenyum sinis."Hem...barang yang bagus."Ucap pria ini berlalu pergi meninggalkan Kenji.
"OI ANJING LEPASKAN GUE!!".
"TULI LU!!".
"WOYYY!!!".
Teriak-teriak kesal Kenji yang tidak di gubris sama sekali oleh pria sedingin es ini.
Lama Kenji merenung juga sesekali berusaha melepaskan diri. Namun lagi-lagi nihil, sampai tiba-tiba pintu kamar ini kembali di buka di luar.
Kali ini bukan pria tadi yang masuk, melainkan seorang wanita dewasa berpakaian seksi yang masuk ke dalam kamar.
Kenji yang memiliki sifat sebelas dua belas dengan Nathan hanya terdiam dengan ekspresi wajah datar dinginnya. Ia tidak tertarik sama sekali dengan wanita dewasa berpakaian seksi ini.
Kenji justru masih sempat mengumpat dengan berkata."Masih bagusan Kalisa, lu sudah jadi barang bekas."
Karena sudah terbiasa mendapatkan hina itu atau pura-pura tidak mendengar. Wanita ini justru masih bersikap santai sembaring mendekati Kenji.
"Oh ayolah Nat, sampai lu tidak datang tepat waktu menyelamatkan gue. Akan ku remukkan punggung mu."Umpat Batin Kenji menatap tajam manik mata wanita yang duduk di depannya ini.
Wanita ini luas paha Kenji lembut."Onii-san tidak tertarik dengan ku?".Pertanyaan yang membuat ekspresi wajah Kenji semakin datar.
Semakin lama tangan jahil wanita ini semakin naik ,tangan kecil mungil ini bahkan berhasil membuka kancing kemeja Kenji.
Menyadari itu Kenji segera mendorong kasar tubuh wanita ini dengan kaki terikat nya agar menjauhi nya."Minggir bodoh!."Ucap Kenji berharap wanita ini bisa mengerti dan menjauhi nya.
Namun tidak, wanita ini semakin menjadi-jadi .Dengan kedua tangan dan kaki yang masih terikat Kenji menjadi sangat kerepotan menghindari wanita ini.
Kening Kenji bahkan sampai terpenting lantai cukup kuat sampai meninggalkan bekas memar merah di sana. Karena usahanya untuk menghindari wanita yang kehabisan akal ini.
Mengangkat kedua kakinya tepat di depan wanita ini."STOPP!!!".Tegasnya.
"MAU LU APA O'ON?".Tanya Kenji.
"Memiliki mu."Balas wanita ini dengan suara lembutnya.