
Indonesia
Pukul. 08.30 Siang
Rabu
Sang surya berlahan-lahan mulai naik lebih tinggi lagi untuk melakukan tugasnya .Yang sudah jelas ,pertanda hari semakin siang dan panas tentunya.
Baru selesai mencuci muka dan membereskan tempat tidur .Tanpa mandi lebih dulu .Nathan sudah melangkah turun ke lantai bawah rumah dengan menggunakan Liv rumah.
Bisa di bilang penampilan rambut pemuda ini masi acak-acakan. Walaupun wajah sudah bersih dari bekas cerita fantasi tidur .Tetap saja Surai rambut acak-acakan menjelaskan bahwa Nathan belum mandi .
"Oh!Mas Panji ."Baru keluar dari Liv Nathan langsung mendekati ruang tamu."Pasti di suruh kak Riska."Tebaknya .
"Ya begitulah. Kakak mu bahkan sampai mau membeli saya .Hanya untuk kamu ."
"What??".Duduk di sova tunggal ruang tamu .
"Tapi tidak jadi .Emas menolak tapi tetap mau mengawasi kamu."
"Ya kenapa tidak di tolak ."
Wajah datar serius."Mengusir!?".
Buru-buru beranjak dari tempat duduknya."Aduh laparnya."Dengan mengelus perut ratanya Nathan berlalu meninggalkan ruang tamu.
Atensi masih fokus menatap kepergian Nathan."Nathan takut juga sama mas Panji ."
++++++
Ingin ke ruang makan .Namun Nathan justru mampir lebih dahulu ke dapur .Di mana ada Bu Rani yang tengah sibuk mencuci wadah kotor.
"Bi."
"Astagfirullah."Terlalu terkejut bi Rani hampir refleks melempar piring dalam genggaman ini .
Khawatir dengan Bu Rani."Bibi kenapa?".
"Kaget den. Suara Den Nathan menggema ."
Memeriksa nada suara nya."H?Suara kayak gini ."Nathan mengelus-elus lehernya.
Mengelap tangannya dengan lap kering."Aden mau di buatkan minuman apa?".
"Kopi susu bi . Seperti biasa jangan terlalu manis ."Nathan berlalu meninggalkan dapur .
Di ruang makan Nathan mulai melakukan rutinitas mengisi perut .Ia menikmati menu sarapan paginya dengan santai sembaring menunggu kopi susu buatan Bi Rani datang .
Terlihat santai diluar ,tapi tidak di dalam .Karena batin Nathan saat ini sedang berpikir keras untuk mencari cara kabur dari rumah tanpa di ketahui Panji .
Next...
Selang beberapa menit. Bi Rani datang membawa secangkir kopi. Ia meletakkan cangkir berisikan kopi susu ini di atas meja makan dekat Nathan duduk .
"Bi, kak Riska sudah berangkat?".
"Sudah den."
"Bibi kembali ke belakang. Kalau but....".Memotong ucapan bi Rani."...Saya akan ambil sendiri dan saya tidak ingin terlalu merepotkan bibi."
Bi Rani tersenyum hangat ."Baiklah, permisi."
++++++
Di jam sama .Namun berlainan tempat.
"Dok .Apakah tidak boleh jika ikatan ini di lepaskan?".Tanya Dania kepada dokter Feri .Dokter sepesial organ dalam dalam dan gangguan mental (Psikiater).
Dr. Feri yang baru selesai memeriksa kondisi Asta ."Kondisi kesehatannya sudah jauh lebih baik .Tapi tetap saja besok kamu harus tetap melakukan transfusi darah."
"Pengikat ini juga sudah boleh di lepaskan .Pesan saya hanya satu untuk Asta .Kamu harus bisa berdamai dengan diri kamu sendiri. Maafkan diri kamu ,jangan terlalu memaksa diri untuk sesuatu yang bukan tugas kamu .Dan mulai lah terbuka ,berceritalah sedikit demi sedikit kepada seseorang yang kamu percaya. Jangan terlalu banyak menekankan semua sendirian. Kamu harus menyakinkan diri kamu .Kamu tidak sendirian, banyak orang yang perduli dengan kamu ."
Setelah berbicara panjang lebar tanpa ada respon dari Asta yang hanya diam saja. Dr. Feri berlalu meninggalkan kamar rawat inap Asta .
Dania mulai melepas sabuk yang melilit tubuh Asta satu persatu. "Setelah ini kamu makan ,ibu akan suapi. Biar putra ibu yang ganteng ini lekas sembuh."
Dengan telaten dan penuh kesabaran. Dania mulai menaikkan tempat tidur pesakitan ini .Agar Asta dapat duduk .
Iya, karena sudah lebih tiga hari ini Asta tidak makan dengan baik membuat tubuh menjadi lemah. Fisiknya terlihat semakin kurus .
Next...
Sudah mendudukkan Asta .Dania mulai mengambil bubur buatan nya .Ia mengambil satu suapan untuk Asta telan .
Dania sudah menyodorkan satu sendok bubur di depan mulut Asta yang masih menutup rapat .Lantas Dania menaruh kembali sendok itu di dalam mangkuk."Ayo makan nak .Jangan menyiksa diri kamu seperti ini .Ibu...". Memotong ucapan Dania .Untuk pertama kalinya Asta membuka suara."...Saya akan makan sendiri."
+++
Beberapa menit setelah selesai makan .Asta justru memuntahkan semua isi perutnya. Dania memijat punggung Asta berlahan. Tanpa rasa jijik .Dania membawa muntahan itu ke toilet untuk ia bersihkan.
Dania kembali ke Asta .Menuangkan air hangat untuk Asta minum.
"Setelah minum obat .Kamu istirahat supaya jauh lebih baik ."Dania memperlakukan Asta sebaik mungkin.
Dan suasana hening ruangan ini ."Besok anda tidak perlu datang lagi ke sini .Berharap saya sembuh adalah sesuatu yang mustahil. Saya tidak ingin merusak keyakinan anda .Tapi memang mustahil untuk saya sembuh."Kata Asta tanpa melihat lawan bicaranya secara langsung.
Terdiam sejenak. Dania yang sudah duduk di kursi samping pesakitan."Ibu tidak akan meninggalkan kamu .Ibu hanya akan pergi jika kamu sudah sembuh ."
Menepis kasar tangan Dania yang ingin menyentuh tangannya. Plakk...".SAYA BILANG PERGI ,KENAPA ANDA JADI SOK BAIK SEPERTI INI."
"BERSIKAP BAIK PUN TIDAK AKAN MERUBAH SIFAT ANDA YANG EGOIS."Brugkk....Bogem mentah mendarat tepat di pipi Asta .
Dengan penuh amarah ."LU TIDAK NGERTI SOPAN SANTUN. DIA IBU KANDUNG LU ."Nada suara tegas Yudha .
"Jihh... seorang ibu tidak mungkin tega memberikan anaknya kepada iblis."
"Setiap malam saya ketakutan. Tapi iblis itu semakin hari semakin menyiksa saya .Pukulan ,cacian menjadi makanan keseharian saya...Saya menerima semuanya ,tapi melihat bunda ikut di sakit....". Menjedah ucapannya. Asta menurunkan perhatian nya."...Kalian tidak akan faham apa yang saya rasakan."
Yudha hendak angkat bicara .Namun Dania menghentikannya ,ia yang sudah menggenggam lengan putra pertama nya ."Sudah Cukup Yudha ,ini memang salah ibu ."
"Ibu."Yudha yang fokus menatap sepasang manik mata seduh ini ."Tidak semua salah ibu .Ibu sudah cukup mengalah mengemis meminta maaf .Kepada dia yang tidak pernah mengerti arti menghargai kebaikan orang ."
"Yudha."Seru Dania dengan nada suara tenangnya ."Lebih baik pulang saja dan istirahat .Sejak kemarin kamu di sini ,ingat kesehatan mu."
"Tidak."Tidak bermaksud membantah. Tapi Yudha sangat kesal dengan sikap Asta .
Di suasana dingin ini .Asta yang awalnya terdiam cuek dengan tatapan tajam Yudha .Tiba-tiba menjadi merintis menahan sakit di perutnya.
Asta mencengkram kuat perut ratanya ."Sial...sakit ini...sial....".Tidak hanya mencengkram tapi Asta juga memukul-mukul perutnya.
Dania berusaha menenangkan Asta .Kurang lebih menghentikan tindakan yang di lakukan Asta yang dapat merugikan dirinya. Akan tetapi Asta justru menepis kasar uluran tangan Dania .Bahkan saking kasarnya .Dania sampai tertampar oleh punggung tangan Asta ,cukup kuat .
Namun itu tidak hentikan tindakan Dania untuk menenangkan Asta .Agar berhenti menyakitkan dirinya sendiri.
Yudha semakin geram dengan sikap Asta. Di tambah lagi saat ia melihat ibunya di tampar oleh Asta .Ia segera beranjak menekan kasar tombol darurat di atas ranjang pesakitan Asta .
Tenaga yang jauh lebih kuat dari Asta yang kehilangan kekuatan. Dengan satu tangan Yudha menarik paksa kedua tangan Asta ke atas tanpa memperdulikan infus di tangan Asta yang mulai mengeluarkan darah .Dan tangan yang terbebas Yudha gunakan untuk memaksakan Asta untuk berbaring."Diam Asta."Suara tegas Yudha .
Asta semakin meronta ."LU MANA NGERTI YANG GUE RASAKAN."
"LEPAS BANG**SAT."
Bersamaan dengan itu Dr. Feri masuk ke ruang rawat inap Asta .Dokter segera memberikan obat pereda rasa sakit untuk Asta .
Asta jauh lebih tenang .Walaupun rasa sakit yang ia rasakan masih dapat ia rasakan .
"Jalan satu-satunya. Asta harus secepatnya melakukan operasi donor ginjal."Ucap Dr. Feri .
"Tidak akan pernah ada operasi. Saya tidak akan pernah melakukan nya ."Tegas Asta dengan sisa tenaganya.
+++++++
Pukul. 10.00
"Lu mau kemana?".Kenji yang tengah di balkon kamar tidur Nathan.
Nathan sibuk memakai jaket dan topi warna hitam yang ia kenakan. "Loncat."
"Hem?".
"Gue mau pergi ke Rumah Sakit ."
"Terus mas Panji .Dia tidak ikut?".
Memutar manik mata malas menatap Kenji ."Lu pura be**go atau sudah tol**ol ,kecipir kering."
"Dahlan gue mau pergi."Nathan bersiap turun dari lantai tiga rumah nya .
"Gue ikut."
"Terserah. Asal jangan nyusahin gue."
Nathan dan Kenji berhasil turun dengan selamat dari lantai tiga balkon kamar tidur Nathan. Tidak perlu menunggu lama ,saat sudah turun .Nathan langsung melakukan langkah selanjutnya. Ia pergi ke semak-semak tubuh dedaunan di samping rumah nya. Di sana Nathan akan meloncati dinding tinggi yang menjulang mengelilingi rumah nya .
Iya, Nathan bermaksud keluar diam-diam dari rumah tanpa sepengetahuan Panji .
Sementara Panji yang masih duduk di tempat yang sama .Memijat pelipis."Adik mu benar-benar keras kepala Nona Riska ."Panji bersikap sesabar mungkin menghadapi sikap Nathan yang sangat sulit di atur.